
Selesai sarapan Mereka pun berangkat kantor sama-sama dan sekalian mengantarkan Rendy ke sekolahnya.
"Pah, aku mau mau sekolah ya?" pamitnya Rendy pada papa dan bunda nya.
“Oke, belajar yang giat ya sayang.” Malik mengantar Rendy sampai ke depan gerbang dan Renita hanya melambaikan tangan pada putranya tersebut.
Kemudian Malik kembali duduk di tempatnya dan memutar kembali kemudi nya menuju kantor tempatnya bekerja.
“Yank. Apa yang tadi Rendy ceritakan padaku mau tau gak?” gumamnya Renita sambil menatap ke arah depan di mana banyak kendaraan yang lumayan padat.
“Hem ... emang bicara apa dia?” Malik menoleh sesaat lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah jalanan.
“Em ... dia mendapat sikap yang tidak mengenakan dari Shopia dan berkata yang aku rasa tidak seharusnya dia katakan pada anak seusia Rendy,” sambungnya Renita.
Malik merasa penasaran dengan perkataan dari sang istri sehingga dia menolehkan kepalanya pada Renita. “Apa itu sayang? jangan membuat aku penasaran dong ... dia berkata apa memangnya pada Rendy?”
Renita menatap sejenak pada pria yang sedang mengemudi tersebut. “Dia bilang ... kalau dia bercerita kalau dia tidak suka bahkan benci pada aku dan Rendy karena sudah merebut kamu dari dia—“
Ckiiiiit!
Malik ngerem mendadak hingga Renita kaget bukan main, dan hampir dibuat spot jantung.
“Kamu apa-apaan sih? jantung hampir saja mau copot.” Renita mengelus dada nya yang berdebar keras.
“Apa kamu bilang tadi sayang? coba ulang lagi?” Malik menatap lekat pada istrinya itu.
Sejenak Renita mengatupkan bibirnya dan membalas tatapan Malik yang sangat meneliti. “Rendy bilang begitu pada ku tadi pagi, sesuai dengan yang di katakan oleh Shopia padanya kemarin mungkin.”
Malik menarik nafas nya kasar lantas menggeleng. “Entah gimana pikiran nya si Shopia. Ck, sudah jelas-jelas kalau aku ini kakak sepupunya dan aku walinya kalau mau. Masih saja berpikir macan itu.”
Renita pun demikian tidak habis pikir dengan sosok Shopia. Memorinya Renita kembali mengingat cerita sang adik, Sheila yang bilang kalau Shopia yang membuat ia mengalami insiden yang mengakibatkan dirinya
__ADS_1
lumpuh sementara juga. Namun Renita tidak berani untuk menceritakannya pada Malik. Risih dan khawatir sehingga ia pendam sendiri saja.
Malik kembali melajukan mobilnya. “Dia itu jelas-jelas kalau mau menikah aku lah salah satu orang yang bisa menjadi wali nya ... dia itu aku. Bisa-bisa nya bicara begitu sama Rendy.”
“Yang paling parahnya Yank ... membuat Rendy menjadi ilfil lho sama dia dan membuat Rendy tidak mau papanya menikah sama Shopia.” Renita menatap pada Malik yang kembali fokus pada tugasnya.
Lagi-lagi Malik menggeleng kasar dan mengembuskan nafasnya melalui mulut. “Terus Azam sendiri tahu atau tidak Shopia bicara seperti itu pada Rendy katanya, jadinya kurang baik bila mereka sering bertemu dan tidak baik untuk mentalnya Rendy sayang.”
“Sepertinya sih ... seperti itu, dan ... rasanya tidak perlu lah kita bicara sama mas Azam soal ini, biar dia tahu sendiri saja—“
“Lagian percuma bilang juga bila cinta sedang menyelimuti tai ayam pun pasti berasa coklat ha ha ha ...” potongnya Malik sambil tertawa.
Renita mesem mendengar ucapan dari Malik. “Bisa saja deh lagian ... kalau mereka yang terbaik insya allah Shopia akan merubah sikapnya itu.”
“Tapi rasanya ... sulit untuk berubah, kalau memang mau berubah sudah harus sedari dulu sayang ... waktu itu sudah berlalu lama. Huuh ... memang sih tuhan yang maha membolak balikan hati.” Malik membelokan mobilnya memasuki area parkiran para staf. Sebab sudah sampai di halaman kantor.
Malik turun lebih dulu lalu membukakan pintu buat sang istri dan memintanya untuk hati-hati juga menjaga kehamilannya itu. Renita meraih tangan Malik kemudian berjalan berbarengan setelah Malik mengarahkan Remote pada mobilnya yang tidak lupa menyalakan alarmnya juga.
Di koridor bertemu dengan Azam yang sudah tampak menenteng dokumen di tangannya dan berbincang dengan staf lainnya. Mengangguk hormat pada Mali dan Renita. Yang di kantor itu mereka berdua adalah atasan.
Malik maupun Renita memasuki ruangannya masing-masing dan memulai aktivitasnya di pagi ini. Renita memulai membuka laptop dan berkas yang menumpuk di meja. Namun sebelum bekerja lebih lanjut ... Renita meneguk minuman yang tersedia di meja.
“Ha ... segar nya ...” lalu Renita beranjak untuk meminta berkas dari asisten yang berad adi ruangan lain. Di luar bertemu dengan Azam yang sesaat melihat ke arah Renita dengan tatapan intens.
Renita meskipun perut buncit tampak sangat cantik, jadi teringat dulu di saat sedang mengandung oleh Rendy. Sering ia memanjakan istrinya itu, dan saat-saat yang menambah gairah untuk menjada keharmonisan rumah tangga waktu itu.
“Ya ampun ... aku mikir apa sih? gila, jangan berpikir yang tidak-tidak. Pamali, sekarang dia sudah jadi milik orang.” Gumamnya Azam sambil menghela nafas dalam-dalam. Dia sadar kalau Renita bukan lagi miliknya.
“Pak Azam, anda melamun ya? anteng begitu. Pikirin apa sih?” sapa seorang staf membuyarkan lamunan Azam yang anteng sambil memperhatikan Renita yang kini sudah tidak berada di tempat.
“Oh tidak, sorry.” Azam tersipu malu lalu mengayunkan langkahnya meninggalkan tempat barusan ia berdiri.
__ADS_1
“Huuh ... bisa-bisa nya aku mikirin dan terkenang masa lalu! yang semuanya hanya kenangan saja dan semua sudah berubah.” Monolognya dia dalam hati sambil terus berjalan memasuki ruangan pribadinya.
Kini waktu sudah menunjukan pukul empat sore dan para staf dan karyawan sudah berangsur pulang, begitupun dengan Azam yang sudah bersiap untuk pulang dan berdiri di dekat mobilnya dan mengarahkan remote nya yang kemudian dia masuk sambil memperhatikan mobil Malik yang masih terparkir cantik di tempatnya pertanda orangnya masih berada di dalam kantor.
Mobil Azam meluncur melintasi beberapa mobil di sampingnya dan dia berniat untuk menemui Shopia yang kebetulan sudah bawel menanyakan jadi atau tidaknya bertemu, ponsel azam sudah rang-ring, rang-ring telepon dari Shopia yang katanya sudah menunggu di sebuh cafe.
“Tidak tau apa, aku ini baru pulang kantor. Bawel amat sih jadi orang.” Gerutunya Azam sambil terus melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lebih kencang.
Ting!
“Sayang, aku sudah tidak saba deh, jadi kangen, apa lagi sama yang itu tuh ... yang suka hidup tiba-tiba gitu ... he he he,” pesan chat dari Shopia.
“Yang mana tuh ... kalau boleh tau?” balasnya Azam.
Ting!
“Ih ... yang itu tuh ... pengen dong ... rasain!” pesan balasan dari Shopia.
Yang membuat Azam bergidik geli dan muak. Boro-boro suka, jijik yang ada. Kepala Azam menggeleng kasar dan tidak lagi membalas isi chat nya Shopia yang terus menggugah perasaan sebagai jiwa lelakinya yang biasnya meronta.
Kini dingin tak ada gairah sama sekali. Muak dan muak dengan isi chat itu dan ingin melempar saja ponselnya jauh-jauh. Yang akhirnya dia matikan ponsel tersebut.
Mobil yang membawa Azam ke sebuah cafe akhirnya tiba juga dan dari luar pun tampak Shopia tengah duduk menunggu sambil melihat ke arah jalan. Azam turun dan sebelum membawa langkahnya untuk memasuki cafe tersebut dia mengenakan terlebih dahulu kaca mata hitamnya. Barulah membawa langkahnya masuk melintasi pintu kaca.
“Hi sayang ... kok lama sih?” Shopia berdiri dan menyambut kedatangannya Azam.
Azam duduk di seberang kursinya Shopia yang tadinya mau duduk berdampingan dengan nya. menatap ke arah Shopia yang tampak sumringah dan sesekali melihat ke arah sesuatu yang tentunya bikin otak traveling ....
.
Bersambung.
__ADS_1