
"Maksudmu apa ya bicara seperti itu? aku dan Mas Azam tidak ada hubungan apa-apa hanya sebatas mantan dan dia datang ke sini atas permintaan Abang ... agar dia dekat dengan putranya! bukan ada niatan lain dan kenapa Mbak selalu mengungkit itu?" jelasnya Renita kepada Yusna.
"Ya, ya saya ... karena mencium ada sesuatu yang mencurigakan dari kalian berdua. Mungkin kalian ingin kembali bersatu, kan bisa saja!" ucapkan Yusna sembari melipat kedua tangannya di dada.
"Astaghfirullah Mbak ... tidak pernah sedikitpun ada niat untuk itu Mbak. Lagian kalau ada niat untuk kembali sama Mas Azam, ngapain saya nikah sama Abang? picik banget ya pikiran Mbak, sudah lah nggak usah bahas tentang itu lagi, itu mamah sudah siap!" Renita sangat malas untuk membahas apa yang menjadi tuduhannya Yusna.
Kepala Renita pun mengarah pada sang ibu mertua yang baru keluar dari kamarnya, berjalan gontai menenteng tas branded-nya.
Yusna pun menoleh pada sang Bunda. "Ayo kita berangkat sekarang, kita harus berangkat sekarang sebab nanti keburu siang!" lantas Yusna menuntun tangan kanannya sang Bunda.
Renita menatap kepergian mereka berdiri sejenak. Kemudian menggelengkan kepalanya! tidak habis pikir dengan sang Kakak Ipar yang terus saja menyinggung dirinya, sementara mungkin dia tidak tahu kalau suaminya sudah berselingkuh dengan saudaranya sendiri.
"Mungkin Mbak Yusna belum tahu ya? kalau suaminya udah main sama sepupunya sendiri." Gumamnya bibi yang terdengar jelas oleh Renita.
"Em ... Mungkin belum tahu kalau sudah tahu sih nggak mungkin Adam ayem dia pasti berontak, lagian Bi ... kita tidak tahu yang sebenarnya terjadi, siapa tau mereka itu ada urusan kerjaan." tambahnya Renita sembari menoleh pada bibi Yang Sedang membereskan bekas mereka sarapan.
"Iya juga sih, tapi Bibi bukannya ngerasa prihatin sama Mbak Yusna itu. Kalau seandainya memang benar! ya anggap saja itu balasan karena mulutnya yang tidak pernah dijaga terhadap orang lain!" sambung Bibi dengan wajah datar.
"Kenapa begitu Bi ... emangnya Bibi pernah disakitin sama Mbak Yusna?" Renita penasaran.
Dan Bibi sejenak terdiam, lalu kemudian berkata. "Soal itu mah ... sudah biasa kali, kalau harus dibikin sakit hati. Wah ... sudah menumpuk, namun yang paling bikin Bibi greget dan gemas yaitu suka ngomong yang menyinggung perasaan Neng Renita! padahal 'kan Neng nggak pernah menyinggung dia--"
"Sudahlah, Bi ... aku aja nggak ada masalah kok biarkan saja nanti juga dia akan capek sendiri, apalagi dengan tak ada bukti. Mungkin dia kurang tahu dengan yang sebenarnya, ya sudah lah ... aku naik ke atas dulu, siapa tahu Alena bangun! belum dimandiin lagi!"
Kemudian Renita pergi ke kamarnya untuk melihat sang buah hati. Apa dia sudah bangun kembali atau belum, kebetulan dia belum dimandiin.
...------...
__ADS_1
Tidak lama di rumah sakit dan periksa kesehatan sang Bunda, Yusna pun langsung membawa pulang sang bunda ke rumahnya dan dia tidak mampir kembali melainkan pulang ke rumahnya sendiri.
Dan tidak lama-lama di perjalanan, Yusna langsung masuk menuju kamarnya, membereskan pakaian kotor Anto yang belum sempat dia bereskan sebelumnya.
Prekkk
Ada sebuah benda kecil dan lonjong yang terjatuh ke lantai dari saku celana suaminya.
"Eeh, apa itu yang jatuh dari saku celana mas Anto?" gumamnya Yusna menatap ke arah benda tersebut.
Yusna berjongkok mengambil benda kecil tersebut yang tiada lain sebuah lipstik berwarna merah menyala.
"Ohooo ... punya siapa ini? perasaan aku nggak punya warna lipstik kayak begini, juga bukan merek barang yang sama aku pakai. Kayaknya lebih mahal deh, tapi punya siapa dan kenapa ada di saku celana Mas Anto?" Yusna sangat merasa heran dan juga penasaran.
Lalu dengan iseng mencium bau pakaian kotornya Anto yang setelah diteliti baunya agak aneh! bukan hanya bau dari parfumnya saja tapi ada bau-bau parfum wanita yang mungkin menempel di pakaian Anto.
Yusna bukannya mencuci ataupun menyimpan di tempat pencucian! pakaian-pakaian yang ada di pelukannya itu terus saja dia cium, meyakinkan hati memantapkan perasaan kenapa baunya campur aduk antara parfum wanita dan parfum suaminya? atau hanya perasaannya saja.
Akan tetapi biarpun berkali-kali hasilnya tetap sama! bahwa memang baunya dicampur aduk. kemejanya, kaosnya. Celananya Yusna kibas-kibas! tetap aja baunya masuk ke dalam penciuman Yusna! tidak beda.
Hati Yusna terasa sakit, perih dan sesak rasanya. Kalau memang itu terjadi! sungguh dia tidak pernah menduga sebelumnya.
"Tidak mungkin dia selingkuh! tidak mungkin." Yusna menggeleng kuat rasanya tidak percaya bila suaminya macam-macam di luar.
Tetap apa dengan bukti ini? Yusna pun menggenggam lipstik yang dia dapatkan dari saku celana nya Anto. Lalu Yusna berniat untuk memata-matai suaminya mulai hari ini. Karena dia butuh kejelasan dan bertanya pun tidak mungkin akan dapat jawaban.
Pasti di tutup-tutupi dan tidak mungkin mengaku. "Oke, Mas. Aku akan turun tangan dan menyelidiki mu mulai hari ini. Yah! kalau dia nggak ada pulang dan beralasan kerja atau apa, harus aku curigai."
__ADS_1
Setelah puas melamun, Yusna pun bangkit dari duduknya menyimpan cucian ke dalam wadah yang kemudian dia bawa ke tempat pencucian, dan tentunya menyuruh Bibi sang asisten rumah untuk mencuci.
Yusna menanyakan apakah suami nya akan pulang lebih cepat atau tidak, dengan alasan dia akan memasak masakan yang disukai suaminya! tapi apa yang menjadi jawaban dari sang suami. Katanya malam ini ada urusan penting dan tidak bisa pulang secepatnya.
Membuat Yusna kembali terdiam dan dia membuat keputusan akan mendatangi kantornya dan memperhatikan suaminya dari jauh, dan sepulangnya dari kantor. anto akan pergi ke mana?
Yusna bergegas untuk bersiap-siap pergi dengan perasaan yang tidak menentu was-was bilakah kecurigaannya itu benar.
Langkahnya Yusna kian pasti menuju mobilnya. Dengan penampilan yang tidak biasanya, mengenakan kaca mata hitam dan syel di leher.
Detik kemudian mobil Yusna melaju dengan cepat menuju kantornya Anto. Namun tetap akan hati-hati dan memperhatikan dari jauh tentunya.
"Aku ingin tahu, kebenarannya seperti apa, benar kah kamu ada main dengan wanita lain. Mas? Kurang apa aku Mas." Yusna bermonolog sendiri dalam hati sambil terus melajukan mobilnya dengan cekatan.
Kemudian mobil berhenti di parkiran karyawan, tidak di parkiran kelas staf. Agar lebih luas dalam bergerak, kemudian mencari tempat agar dia bisa mengawasi suaminya di saat keluar nanti.
"Tapi mendingan diam di mobil saja lah! karena biasanya juga akan jelas terlihat jika Mas Anto keluar bersama mobilnya. Oke." Yusna mengangguk-anggukkan kepalanya. Sembari tetap berdiam diri di dalam mobilnya.
Setelah menunggu berapa lama, akhirnya kedua netra mata Yusna pun tertuju pada mobil sang suami yang keluar meninggalkan tempat tersebut! bersamaan dengan beberapa mobil staf, karena memang sudah waktunya jam pulang.
Mobil Yusna pun bergegas menyusul mobil suaminya yang entah mau kemana! sementara dia bilang tidak akan bisa pulang cepat disebabkan ada urusan penting.
"Baiklah, Mas ... permainan kita mulai dari sekarang. Apa benar kau ada main dengan wanita lain dan mengkhianati ku? kalau memang iya, lihat saja Mas pembalasan dariku! memangnya kau pikir aku wanita yang bisa diinjak-injak sama laki-laki!" monolog Yusna sambil memutar kemudi nya dan sorot mata yang terus mengincar mobil Anto, suaminya ....
.
Bersambung.
__ADS_1