
Setelah Renita beristirahat dari semenjak kedatangan ke rumah orang tuanya, menghilangkan penat dan Sheila pun sudah datang, kini mereka tengah berkumpul di ruang tengah.
Rendy tengah tiduran di pangkuan sang bunda setelah merasa capek, bermain dengan teman sebayanya anak-anak tetangga dari orang tua nya.
Renita menidurkan terlebih dahulu putranya di kamar. Beberapa saat kemudian Renita kembali menemui orang tuanya.
Renita menghela nafas dalam-dalam seraya mendudukkan bokongnya di tempat semula, kedua menik matanya mengedar melihat ke arah kedua orang tuanya dan sang adik yang seolah-olah sedang menunggu berita apa yang akan Renita ceritakan.
"Sebenarnya ... aku Aku sedang mengajukan gugatan cerai kepada Mas Azam. Dan baru hari ini aku masukkan dokumennya ke kantor agama!" ucapnya Renita dengan lirih dan kata-kata itu membuat monohok orang-orang yang berada di sana terutama sang ibu dan ayahnya.
Sang ayah berapa kali dengan pelan membaca istighfar. "Astagfirullah apa ini? menggugat cerai. Emang ada masalah apa sehingga kamu begitu cepat mengambil keputusan untuk menggugat cerai?"
"Masalahnya secara perdata tidak bisa aku ungkapkan kepada Bapak dan Ibu! cukup aku saja yang tahu dan keputusan ini, memang terlalu cepat! tapi aku yakin dan yang terbaik, lagi pula sebelum aku menemui lawyer sudah mengumpulkan data. Mas Azam sudah menalak aku sekaligus 3, bukankah ucapan itu tidak bisa memperbaiki." Renita menatap nanar pada sang ayah.
"Astagfirullah ... astagfirullah!" sang Ibu begitu kaget mendengar cerita dari sang anak yang dicerai sekaligus talak 3, yang keluar dari mulut sang mantu. "Ya Allah apa kesalahanmu nak ... sehingga Azam. Seperti itu?"
Renita menggelengkan kepalanya. Sementara Sheila, dia menatap datar pada sang kakak sudah tahu alasan sang kakak ingin bercerai.
"Yang jelas ... perasaan aku nggak berbuat kesalahan, Bu ... aku sudah berusaha sebisa mungkin agar menjadi istri yang baik yang nurut kepada suami, mungkin tetap saja mas Azam merasa kurang! sehingga dia tega melakukan itu. Maka dari itu aku ingin mencari pekerjaan untuk melanjutkan hidup ku bersama Rendy, cuman ... aku bingung siapa yang akan menjaga Rendy kalau aku kerja sementara dia pun harus sekolah!"
Dengan tidak kuasa sang Ibu menangis, tidak menyangka kalau rumah tangga anak sulungnya akan berakhir seperti ini. "Memangnya tidak bisa diperbaiki lagi rumah tangga mu nak ... bagaimana dengan nasib Rendy?"
"Yang pasti ... kalau sudah tahu tidak bisa diperbaiki lagi ... Bu. Ya tinggal bisa aja tidak bisa menjadi utuh kembali." Jelas sang suami.
__ADS_1
"Jujur, Bapak tidak percaya kenapa bisa semudah itu mengucapkan cerai? sampai satu kali ucapan tiga talak sekaligus, sungguh Bapak tidak mengira sama sekali, terus sekarang dia tinggal di mana? pulang ke tempat orang tua nya? Apa kamu yang pulang ke sini?" selidiknya sang ayah mengingat putrinya pulang tidak membawa barang-barang cuma pakaian berapa potong saja.
"Rumah yang kita tinggali memang sudah atas nama Rendy sampai saat ini aku masih tinggal di sana, sementara mas Azam nggak tahu dia tinggal di mana!" jawabnya Renita.
"Ya Allah ... kenapa nasibnya seperti ini? astagfirullah ..." sang Ibu mengelus dadanya yang terasa sesak, bagaimana pun hati seorang ibu sakit atau sedih jika mendengar rumah tangga sang anak sedang diambang kehancuran.
Renita yang menetap dengan nanar, tidak ada niat untuk mengatakan semuanya sebuah kebenaran. Tentang mantan suaminya yang telah menyelingkuhinya, karena Renita tahu mana ada orang tua yang tidak akan sakit hati, gak akan terluka bila mendengar anaknya diselingkuhi, dikhianati. Makanya dia berniat pendam sendiri tidak ingin kedua orang tuanya tahu.
"Terus bagaimana tanggapan dari orang tua Azam sendiri?" Selidik sang ayah yang merasa penasaran.
Renita menggeleng seraya berkata. "Tidak tahu, karena Reni belum ketemu beliau. Tapi Jefri yang menjadi saksinya mas Azam ceraikan aku secara lisan."
"Oh jadi Jefri yang menjadi saksinya? kalau Azam mengucapkan talak?" selidik nya sang ayah kembali dan Renita mengangguk pelan.
Kini Renita dan Sheila sedang berada di teras mencari angin setelah mengobrol dengan orang tuanya tersebut.
"Mbak, benar bukan?" Selidik sang adik yang penasaran tentang iparnya Azam.
"Benar, dan Mbak menangkap basah mereka berdua dengan Jefri." Renita menangkup wajahnya yang berderai air mata.
"Oh my good ... Kurang ajar sekali mas Azam." Sheila menggeleng pelan. Lalu merangkul bahu sang kaka yang menangis sehingga kedua bahu nya bergoyang.
"Yang sabar ya mbak ... mungkin ini petunjuk kalau dia bukan yang terbaik buat mbak, semoga saja suatu saat nanti menemukan seseorang yang lebih baik dari dia, ikhlaskan kepergian dia Mbak. Justru bersyukur karena Mbak sudah terlepas dari orang yang zalim pada Mbak." Sheila ikut sedih melihat mbak nya menangis.
__ADS_1
"Mbak ikhlas kok, yang menjadi Mbak sedihkan yaitu Rendy yang seolah tidak di anggap oleh mas Azam. Hik-hik-hik ..." Sambung nya Renita.
"Sabar ya Mbak.'' Kata Sheila lagi sambil terus merangkul dan mengusap punggung sang kakak.
Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah. Untuk beristirahat. ke kamarnya masing-masing.
Renita menatap wajah putranya yang begitu lelap, diusap dan dikecupnya! hatinya sangat mencelos, anak seusia dia ... harus mengalami perpisahan orang tuanya, bukannya Renita tidak menyesali telah menjadikan Rendy korban dalam perceraian.
Tapi dipertahankan pun tidak mungkin, apalagi Azam memang sudah mengucapkan talak padanya yang tidak bisa diperbaiki sama sekali.
Setelah sekitar 2 hari, Renita berada di tempat orang tuanya. Akhirnya dia kembali ke kota di mana dia tinggal bersama putranya.
Apalagi Rendy sudah tidak masuk sekolah alias bolos, dan kebetulan sekali ada sepupunya yang menginginkan pekerjaan. Sehingga Renita ajak ke rumahnya untuk mengasuh dan menjaga Rendy, di saat dia tidak ada karena karena ... Renita sudah mantap untuk mencari pekerjaan.
"Aku Minta doanya ya? semoga semua urusan ku dilancarkan dan di mudahkan dan ... aku juga akan mengajak Feni agar dia masuk bisa menjaga Rendy di saat aku bekerja!" ucapnya Renita kepada kedua orang tuanya.
"Ibu dan Bapak di sini hanya bisa mendoakan, semoga urusan kamu lancar di sana. Dan jangan lupa sering-sering ngabarin Ibu dan Bapak di sini ya? Dan kamu harus sabar dan kuat, demi Rendy ... demi kami juga!" sang ibu memeluk sangat erat tubuhnya Renita.
"Nanti kapan-kapan ... bapak dan ibu akan ke sana. Bapak yakin kamu pasti kuat dan bisa menghadapi semuanya!" sang Ayah pun merangkul bahu Renita sesaat sebelum dia memangku Rendy dan mengantarnya ke dalam taksi.
Beberapa saat kemudian Renita pun dan Feni memasuki taksinya menyusul Rendy yang sudah lebih dulu, lalu meminta sopir untuk jalan segera. Kebetulan waktu sudah menjelang sore ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Mohon dukungannya ya ... makasih