
Kini Malik balik menyerang menghantam punggung orang tersebut dengan kakinya dan orang itu pun langsung tersungkur ke depan.
Dan Malik langsung memasang kura-kuda, sudah siap jika mendapat perlawanan kembali. Biarpun dia tampak meringis atas pukulan tadi lawannya.
"Ayo bangun? apa kau masih berani padaku, pengen membalas lagi, ayo ... siapa takut! pasal mu itu akan melipat ganda tahu nggak?" Teriaknya Malik.
Renita yang bersama sang ibu mertua mengikuti mereka sampai berdiri di balik pintu dan merasa ketakutan serta khawatir kepada Malik.
"Abang, hati-hati!" pekik Renita dengan suara yang bergetar. Dia sangat khawatir dengan keselamatan suaminya utu.
Untunglah datang security dan lantas menangkap orang yang bertubuh tegap dan tinggi tersebut dibawanya keluar dari teras.
"Huuh ..." Pramana membuang nafasnya dari mulut sehingga tampak menggembung.
"Abang tidak kenapa-napa kan?" tanya Renita sembari meneliti tubuh suaminya.
"Iya, Malik ... kau tidak kenapa-napa. Kami sangat khawatir ... takut kamu kenapa-napa?" kini suara sang ibunda yang langsung menghampiri, dia pun sangat was-was dengan putranya tersebut yang tampak meringis.
Pramana menggelengkan kepalanya dengan tangan memegang pelipis yang rasanya sakit dan kepala pun menjadi pusing.
"Ya ampun, pelipis Abang terluka. Kena pukulan ya?" Tangan wanita bergerak mengarah dan menyentuh pelipisnya Malik.
"Auwwwh." Desisnya Malik sembari menjauhkan kepalanya dari tangan Renita.
Kemudian mereka pun masuk dan Renita bergegas mencari obat p3K untuk mengobati pelipisnya Malik, namun sebelumnya Renita kompres terlebih dahulu dengan es batu agar mengurangi bengkak dan membiru.
"Sebenarnya ada apa sih dengan orang itu, ada masalah apa?" Selidiknya Renita sambil mengobati lukanya Malik.
Begitupun dengan sang ibunda, dia penasaran juga apa yang terjadi inti dari permasalahan yang yang sebenarnya, sehingga datangnya orang tersebut dan membuat gaduh suasana.
"Katanya sih ... dia debkolektor dan katanya Shopia punya hutang sebesar 100 juta pada dia, dan gak mau bayar! terus menunjuk agar datang padaku demi membayarkan hutangnya!"
"Ha ... Shopia mempunyai hutang sebesar 100 juta dan meminta kamu yang bayarnya, apa tidak salah?" Ibu Amelia mengerutkan keningnya dan tidak habis pikir dibuatnya.
"Ceritanya seperti itu Mah, tapi entahlah! yang aku khawatirkan ... justru mereka bersekongkol untuk meminta uang padaku! bukannya aku suudzon sih. Tapi kan kalau dipikir-pikir rasanya nggak mungkin kalau Shopia punya hutang sebesar itu," jelasnya Malik sembari menatap ke arah ibunda dan istrinya.
"Astagfirullah ... kok bisa ya kayak gitu, rasanya Mama tidak menyangka!" sang bunda menggelengkan kepalanya sungguh benar-benar dia tidak menduga kalau Shopia akan seperti itu.
__ADS_1
"Atau memang ... mungkin saja dia nggak punya uang! untuk makan sehari-hari, tempat tinggalnya, bukannya dia tidak kerja." Pada akhirnya Renita menyampaikan pendapatnya.
"Tapi ada yang bilang kalau dia sudah bekerja dan putranya ada baby sitter." Kata Malik.
"Ya sudah, lagian sudah malam istirahat sana!" lirihnya sang Ibunda sembari mengangkat dirinya dari sofa dan menyuruh Renita dan putranya untuk beristirahat.
Setelah selesai mengoleskan obat ke lukanya Malik. Mereka pun berpindah tempat dan menuju kamarnya.
Setelah berganti pakaian dengan pakaian malam. Mereka pun siap untuk tidur. Malik sudah duluan berbaring sambil memegangi pelipisnya yang masih terasa nyeri walaupun rasanya sudah sedikit berkurang.
Renita keluar dari kamar mandi dan mendekati tempat tidur, merangkak naik lalu kemudian menarik semutnya berbaring ke samping nya Malik.
"Apa masih nyeri?" tanya Renita sembari melirik ke arah Malik.
"Hem, sedikit tapi tidak terlalu sih!" Jawabnya Malik sembari merentangkan tangan yang satunya untuk memeluk sang istri.
"Sini aku tiup!" Renita pun meniup pelipis Malik yang terluka tersebut.
"Sayang acara resepsi kita sudah tidak lama lagi dan persiapannya sudah mencapai 98% tinggal menunggu waktunya saja," ucapnya Malik pada sang istri.
"Iya nih ... jadi deg-degan kayak orang yang baru menghadapinya saja!" balasnya sang istri sembari sesekali meniup luka di pelipisnya Malik.
"Biarpun sudah pengalaman ... kalau perasaannya seperti itu, ya seperti itu! nggak dapat dipungkiri," Renita mulai memejamkan kedua manik matanya.
Di bawah sinar temaram dan lampu yang remang-remang, Malik melihat kalau istrinya mulai memejamkan matanya. "Sayang apa tidak boleh semangat dulu malam ini!" suaranya sangat lirih.
"Nggak ah, lagian kamu lagi sakit istirahat aja. Sudah malam biar besok nggak kesiangan!" Renita menggeleng tanpa membuka kedua matanya.
"Tapi kalau si Joni minta gimana? dia kan tidak tahu situasi dan kondisi, kalau lagi mau ya mau!" Lirihnya kembali Malik sembari memposisikan dirinya berbaring miring menghadap pada sang istri.
Tak ayal tangannya pun bermain di puncak Himalaya yang masih tertutup awan dan juga kabut tebal.
Membuat jantung Renita berdegup sangat kencang. Bahkan rasanya pengen melompat dari tempatnya, tatkala perlahan muka mata wajah Malik sudah berada dekat.
"Hem ... Sudah pukul berapa nih sebaiknya tidur!" Tutur lembutnya Renita yang dengan halus menolak niatnya Malik.
Tetapi Malik tidak suka bila ada penolakan, dia semakin melancarkan aksinya yang ingin memanjakan si Joni yang bangun begitu saja dan malah meronta meminta keluar dari tempatnya.
__ADS_1
"Nggak bisa si Joni nggak bisa dibiarkan begitu saja! dia nggak akan bisa tidur sebelum dikasih hidangan yang lezat, jadi bagaimanapun caranya harus membuat dia kenyang dulu!" Ucapnya Malik dengan suara parau merajuk dan meminta agar wanita membuat hidangan untuk si Joni.
Hingga pada akhirnya Renita pun menuruti kemauan yang Malik untuk membuat hidangan yang lezat untuk si Joni, agar dia segera tidur! biarpun manik matanya Renita sudah tampak lelah dan sulit untuk dibukakan.
Keduanya pun saling berpelukan sangat erat dan saling mencumbu masing-masing. Sebagai hidangan pembuka.
"Sudah siap belum sayang?" Selidiknya Malik pada suami istri.
Renita mengangguk seraya berkata. "Sudah dong ... sudah siap! apakah tidak merasa kalau sudah ada makanan pembuka sedari tadi?"
Selanjutnya mereka pun langsung menikmati hidangan-hidangan yang teramat lezat. Yang intinya memanjakan si Joni, sehingga keduanya terbawa suasana.
Setelah keduanya merasa puas dan kenyang. Akhirnya mereka pun menyudahi ritual yang sangat mengasyikan tersebut, yang mulanya hanya ingin memanjakan si Joni dan pada kenyataannya semuanya mendapatkan manfaat.
Ketika datang pagi buta. Mereka pun sudah tampak segar, menyambut indahnya pagi dengan suasana yang sangat sejuk, dingin menusuk ke dalam tulang semilir anginnya pun menambah syahdu.
Embun yang bergenang di dedaunan, mulai turun! kalah dengan sinarnya matahari yang mulai memberi kehangatan, mengusir rasa dingin. Menghalau rasa malas yang ingin terus berada di dalam selimut.
"Yang mau sarapan apa?" tanya Renita setelah menyiapkan semua keperluan kerjanya.
"Roti mata sapi aja lah, yang simple dan biar kamu nggak capek!" jawabnya Malik sembari bersiap untuk olahraga sebelum nanti bersiap-siap ke kantor.
"Baiklah, kalau begitu aku mau bikinkan dulu teh hangat ya!" Renita bergegas keluar dari kamarnya.
Namun Sebelum turun ke lantai dasar, dia melihat dulu Rendy. Apa sudah bangun atau belum, dan menyuruhnya untuk mandi.
Kebetulan anak itu sudah terbangun dan bersiap untuk mandi. Renita merasa bahagia karena sebesar Rendy sudah belajar untuk mandiri.
Renita pun melanjutkan langkahnya menuju lantai dasar, untuk ke dapur membuatkan teh hangat buat sang suami.
"Pagi bi ..." sapa Renita pada bibi yang sudah mulai bergetar di dapur aja.
"Pagi juga Non." Balasnya bibi sambil tersenyum ke arah Renita.
Beberapa saat kemudian. Renita membawakan teh hangat buat suaminya ....
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen nya ya. Iya jangan lupa nanti juga sekali aku yang berjudul "Sugar Deddy &Sukma" karena ada season 2-nya makasih.