Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Mogok


__ADS_3

"Kalau kamu mau tampar aku ... silakan, Mas. Aku nggak takut! justru akan menambah bukti bahwa kamu itu bersalah." tantangnya Renita kepada Azam sembari memberikan pipinya kepada Azam.


Namun tangan Azam yang sudah di atas angin pun turun kembali. Dia tidak jadi yang niatnya menampar pipi Renita.


"Kamu jangan macam-macam? mengatakan aku selingkuh segala, karena itu jatuhnya fitnah. Sementara tidak ada bukti, nggak ada! aku jarang di rumah karena aku sibuk dan uangnya aku tabung buat masa depan kita, bukan mencari wanita lain. Kamu jangan dengar kata orang yang belum tahu kebenarannya," ujar Azam dengan tatapan tajam.


"Aku Punya buktinya Mas!"


"Sudah malam, tidur! nanti Rendy bangun!" Azam langsung naik ke atas tempat tidur, dia tidak mau lagi debat dengan istrinya.


Renita yang tampak geram. Dia belum puas dan semua unek-unek dalam hatinya belum keluar semuanya, namun tak benar juga, kalau bertengkar otomatis dengan suara yang tinggi nanti kedengaran oleh Rendy, dia akan tahu kalau orang tuanya sedang bertengkar, justru itu jangan sampai ketahuan.


Renita buru-buru menyeka air matanya yang membasahi pipi, dia meninggalkan Azam di tempat tidur sendirian. Mulai malam ini dia akan tidur bersama Rendy atau di kamar sebelah.


Melihat istrinya pergi dari kamar tersebut, Azam hanya melihat punggungnya saja tanpa berkata apapun, apalagi melarang pergi, dia pikir paling sebentar doang Nanti juga balik lagi


Lain lagi dengannya Renita, dia pergi memang benar untuk menghindar dari Azam, dia malas untuk tidur dengan pria yang sudah mengkhianatinya itu. Kalau harus berkata kasar? dia merasa jijik.


"Nanti aku akan temukan bukti lagi, bila perlu ketangkap basah kau sama wanita tersebut." Gumamnya Renita dalam hati, sembari berjalan ke kamarnya Rendy, dia berusaha untuk mengeringkan wajahnya agar tidak sedikitpun ketara kalau sudah habis menangis.


Setelah berada di kamar Rendy, tampak Rendi terlelap dalam tidurnya lagian ... waktu baru menunjukkan pukul 00.00 malam, dengan perlahan Renita membawa langkahnya berjalan mendekati tempat tidur, tidak lupa mengunci pintu dari dalam.


Renita tatapi wajah polos itu dengan perasaan sedih. "Haruskah anak itu berpisah dari ayahnya? tapi tidak berpisah pun sudah mulai kekurangan kasih sayangnya." Gumamnya Renita mengingat hubungan hubungan dengan Azam sudah tidak harmonis lagi.


Semenjak kejadian itu! antara Renita dan Azam, semakin dingin bicara pun paling seperlunya saja.


Boro-boro mengobrol dan bercanda! sepatah dua patah pun jarang terucapkan.


Paling kalau di hadapan Rendy baru mereka pura-pura bersikap biasa saja, tapi kalau di belakang Rendy. Keduanya begitu cuek dan tidak peduli. Tapi Renita tetap melaksanakan kewajiban sebagai istri untuk menyediakan semua keperluan Azam kecuali masalah ranjang, Azam pun tidak pernah memintanya.


Beberapa hari kemudian, Renita mendapat telepon dari mertua yaitu orang tuanya Azam. Kalau hari Minggu yang akan datang akan mengadakan acara syukuran dan tentunya menyuruh mereka untuk datang.

__ADS_1


"Mas, kata ibu minggu depan ada acara syukuran dan kita diharapkan berkumpul di sana!" ucapnya Azam yang sedang duduk dengan sebuah laptop.


"Acara apa?" Tanya Azam kepada Renita dengan nada dingin.


"Mas, masa anaknya sendiri nggak tahu mau ada acara apa? masa nggak ingat nanti tanggal berapa! kan miladnya Ibu!" Renita tampak kesal.


"Oh, iya aku lupa!" gumamnya tanpa menoleh.


"Tuh, kan ... Mas sekarang itu beda ya? pada Ibu sendiri saja kamu nggak ingat! apalagi sama ibuku saking sibuknya kamu." Kata Renita menggelengkan kepalanya dengan kasar, kemudian meninggalkan Azam sendirian.


...----------------...


Suatu hari Renita bawa motornya. juga membonceng Rendy dia mau mendatangi orang tuanya Azam yang mau mengadakan syukuran untuk memperingati hari miladnya sang ibu mertua, tentunya mengundang Azam bersama keluarga ke sana.


Namun Azam bilang nanti dia akan menyusul belakangan, sehingga Renita pergi berdua saja bersama putra semata wayangnya duluan.


"Bun, kenapa Papa nggak bareng sama kita ke tempat oma dan opa?" tanya Rendy dari depan.


"Terus, kenapa kita nggak bareng Papa aja? nanti sekalian, biar Bunda nggak bawa motor sendiri," sambungnya anak itu tampak mencemaskan sang Bunda.


"Tidak apa-apa sayang, kan sudah biasa! kita sudah terbiasa berdua." Balasnya sang Bunda lagi.


Siiiiisssss ....


Tiba-tiba ban motor Renita kempes sehingga otomatis motornya pun mogok, tidak mau jalan dan gegas Renita menepikan motornya. Mana lokasinya agak jauh dari tambal ban ataupun bengkel.


"Kenapa, Bun ... motornya mogok?" tanya Rendy menatap pada Bunda nya yang sudah turun dari motor.


"Iya nih ... bannya kempes!" jawabnya Renita sambil mengecek ban depan.


"Kok bisa kempes ya, Bun? kayak balon saja, siapa yang menusuknya dengan jarum, Bun?" tanya anak itu lagi dengan polos nya.

__ADS_1


"Mungkin kena paku sayang, makanya kempes!" jelasnya sang Bunda.


"Oh ... terus siapa yang menanam paku di jalan? kalau memasang paku di jalan, nanti kan ban motor dan mobil orang pun kempes juga ya, Bun." Rendy mendongak pada ibundanya lagi.


"Entah lah sayang. Bunda nggak tahu. Mungkin paku yang terjatuh!" jawabnya Renita lirih.


Renita celingukan, siapa tahu ketemu sama orang baik atau ojek, untuk meminta tolong. Masa harus mendorong sampai menemukan tambal ban ataupun bengkel.


"Terus, kita mau gimana. Bun? apa kita mau jalan kaki aja sampai ke rumahnya Oma dan opa?" lagi-lagi pertanyaan anak itu dengan polos.


"Nggak, Bunda lagi nunggu, siapa tahu aja ada orang yang baik untuk Bunda minta tolong atau mungkin ojek." Jawabnya sang Bunda sambil Terus menoleh kanan kiri, berharap ada tukang ojek yang lewat agar dapat minta tolong untuk menambal kan ban motornya.


Namun sudah sekitar 30 menitan berdiri di sana, gak ada juga ojek yang lewat! yang ada sepertinya motor pribadi saja dan mobil-mobil mewah, sehingga pada akhirnya Renita mendorong motornya dengan Rendy yang masih berada di tas motornya tersebut.


"Tuh kan, Bun ... kasihan kan Bunda naik motor sendirian, nggak ada yang gantian. Kempes lagi bannya, coba sama papa pakai mobil, atau pakai motor juga kan bisa papa yang dorongnya, Bun!" celotehnya Rendy kembali.


Tittttt ....


Tittttt ....


Tittttt ....


Suara klakson mobil mewah yang berada di belakang motor Renita.


Membuat kepala Renita pun menoleh ke arah mobil tersebut, dan setelah Renita menoleh. Kaca mobil tersebut kaca jendela mobilnya pun turun dan terlihat ada kepala yang menyembul keluar.


Seorang pria tampan dan langsung mempersembahkan senyumnya yang manis kepada Renita.


"Motornya kenapa?" tanya pria tersebut setelah mobilnya semakin mendekat ke arah motor Renita .....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Mohon dukungannya ya Dan tolong kasih tahu kalau ada typo karena memang aku ratu typo hehehe makasih ya sebelumnya.


__ADS_2