
Renita shock dan merasa setengah tidak percaya dengan hasil testpack yang berada di tangannya. Antara rasa haru dan bahagia bercampur aduk dalam dada.
Tidak ayal kedua netra matanya pun mengeluarkan giliran air bening. Tidak henti-hentinya dia mengucap syukur dalam hati kalau memang benar ini hasilnya.
"Ya Allah ... Terima kasih atas Rahmat dan atas pemberian mu yang tiada terhingga Rendy akhirnya mempunyai adik!" Renita mendongak dengan tangan masih memegangi testpack.
Hasil testpack menunjukkan kalau dirinya positif hamil. Sungguh sesuatu yang sangat berharga untuknya, kehadirannya yang sangat dirindukan dari sejak lama pada akhirnya akan hadir juga.
Tangan kanan Renita mengelus perutnya sendiri jangan bibir yang terus tersenyum mengembang menghiasi wajahnya yang mendadak sumringah.
"Sehat-sehat ya Nak di dalam sana, jangan sampai ada halangan apapun hingga kau lahir ke dunia ini. Dapat Bunda tatap dan Bunda belai." Bibir Renita terus mengembang tiada henti-hentinya.
Posisi Renita yang masih berada di dalam kamar mandi, setelah tadi berapa saat meninggalkannya dia kembali lagi untuk melihat hasilnya.
Renita buru-buru menyimpan testpack ke dalam sakunya. Kedua kaki berjalan dengan teratur menuju ruangan nge-gym di mana Malik sedang berada di sana.
Malik yang sedang nge-gym, sebenarnya hatinya tidak tenang dia merasa risau. Gelisah, khawatir dengan keadaan sang istri yang sudah dari semalam yang katanya kepala pusing dan juga muntah-muntah.
Sesekali kepalanya Malik menggeleng, ingin membuang semua isi kepalanya dan ingin mengosongkan nya sesaat. Tanpa harus memikirkan apapun! karena bagaimanapun dia sendiri harus mengutamakan kesehatannya demi sang buah hati yang belum juga hadir di antara mereka berdua.
Detik kemudian, kepala Malik menoleh ke arah pintu! di mana terlihat sang istri datang berjalan menghampirinya. "Ada apa sayang apa ingin ke dokter sekarang?"
Namun Renita hanya menggeleng pelan sambil berdiri dengan tegak dan menggendong kedua tangannya di belakang.
"Terus! apa sudah merasa agak baikan?" tanya Malik kembali sembari menggerakkan alat olahraganya.
Lagi-lagi Renita membisu seraya mengangguk-anggukkan kepalanya, namun di bibirnya terselip sebuah senyuman yang indah.
"Alhamdulillah ... kalau begitu, tapi aku minta nanti sore kita ke dokter ya. Aku jadi khawatir!" Malik tanpa menoleh pada sang istri lagi, dia lebih fokus dengan alat olahraga nya menggerak-gerakkan tangannya dengan alat berat.
__ADS_1
Renita hanya menggeleng-gelengkan kepala. Lalu kemudian semakin mendekat lantas duduk di pangkuan sang suami hingga posisinya berhadapan.
Membuat Malik merasa heran. Mengganggu dia yang sedang berolahraga. Sehingga dia menghentikan kedua tangannya yang sedang mengangkat alat berat.
Beralih merangkul pinggangnya sang istri. Begitupun dengan Renita yang tatapannya terus fokus ke wajah Malik! pria tampan yang sedikit berbulu halus di rahangnya, yang kemudian menggerakkan kedua tangannya merangkul pundak pria tersebut.
"Ada apa Sayang, tumben-tumbenan mengganggu aktifitas aku? apa karena semalam nggak di manja. Jadi sekarang pengen dimanja gitu?" Malik menatap lekat wajah istrinya yang sekarang tidak sepucat lagi semalam.
"Semalam juga dimanja, dipeluk mesra ... namun entah kenapa akunya nggak berasa! mungkin karena kondisi tubuh aku yang merasa kurang enak badan!" ucapnya Renita dengan lirih.
"Terus sekarang gak enak badannya sudah menghilang gitu?" selidiknya Malik tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah sang istri.
"Kalau dibilang menghilang sih ... nggak, masih kerasa kok cuman berkurang saja." Jawabnya Renita yang semakin mengeratkan rangkulan kedua tangannya di leher sang suami.
"Hem, kayaknya sekarang lagi pengen di manja nih." Gumamnya Malik seraya mendekatkan wajahnya dan meraup bibir Renita dengan lahap dan penuh gairah.
Setelah beberapa saat dengan permainan itu Renita tersadar, bahwa pintu rumah tersebut tidak di tutup apalagi dikunci.
Malik yang bagaikan kerbau di cocok hidungnya menurut saja dan mengayunkan langkahnya bersama sang istri menuju kamar pribadi mereka.
Entah kenapa Renita merasa pengen banget, niatnya yang ngin menunjukkan hasil testpack harus di pending dulu karena keinginannya yang mendadak mencuat.
Cklek.
Pintu kamar di kunci oleh Malik. Sementara Renita sudah berpose menggoda di atas tempat tidur. Membuat Malik pun semakin merasakan ada dorongan yang kuat untuk mendatangi sang istri, si Joni yang sedang tidur pun mendadak bangun dan berjingkrak-jingkrak sehingga Malik pun merasa kewalahan. Namun dia harus belok dulu untuk menutup gorden.
Dan setelah itu barulah Malik mendatangi sang istri yang tampak sudah siap untuk menjadi instruktur olahraganya. Malik langsung melompat ke atas tempat tidur, mendatangi lawan mainnya yang sudah menunggu kedatangan sang perkasa.
"Tunggu aku datang sayang!" Malik kembali menyatukan benda tipis Melik mereka berdua.
__ADS_1
Sehingga darah dalam tubuhnya semakin menggolak, mendidih menjalar ke seluruh tubuh. Hasrat membuncah sampai ke ubun-ubun.
"Jangan terburu-buru juga. Santai saja ... dan aku tidak akan kemana kok, hanya untuk mu saja." Gumamnya Renita setengah berbisik tepat di telinganya Malik.
"Siapa yang terburu-buru? ini juga santai, dan aku akan melepaskan semuanya sayang. Siapa tahu satu di antara ribuan akan berkembang biak juga subur, sehingga berbuah di sana!" Malik setengah berbisik dan disertai penuh harap kalau dia akan segara dikasih momongan.
Sementara Renita tersenyum saja, bibirnya semakin mengembang mengingat ... soal itu yang ingin dia tunjukkan kepada Malik. Hasil testpack yang garis tiga yang akan menjadi kado terindah buat Malik.
Malik mulai berolahraga ke intinya. Bergerak maju mundur dengan hitungan yang teratur. Di iringi dengan degupan jantung yang berdebar kencang serta suara nafas yang tidak beraturan.
Kecupan mesra pun tidak luput yang terus mendarat di kening dan pipi nya sang istri, sesekali membelai rambutnya Renita yang indah dan kalau di luar tidak pernah lepas dengan kerudung.
Pukk!
Tangan Renita menepuk pundaknya Malik tatkala pria itu melakukan olah raga yang sedikit tidak beraturan.
Membuat Malik pun menuruti dan membuat ritme yang sangat santai dan penuh penghayatan.
Setelah puas dengan pelepasan yang begitu dahsyat dan berulang-ulang. Lelah pun datang kian mendera, keringat membasahi tubuh mereka berdua, bercucuran dan saling bertukar satu sama lainya.
Sehabis olah raga dengan kecepatan beberapa kilo meter. Membuat tubuh keduanya teramat lelah dan tubuh kekar dan besar itu pun ambruk di atas Renita yang masih berusaha mengontrol deru nafasnya, dan rasa lelah yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
Renita merangkul punggungnya Malik serta mengusapnya dengan gerakan lembut.
Cuph, cuph. Kecupan mendarat di kening dan pipi Renita sebagai ungkapan terima kasih karena sudah melakukan pelepasan bersama.
"Makasih sayang, makasih banyak. Biarpun kamu sedang kurang enak badan, tapi kamu mau berolahraga dengan ku!" ucapnya Malik seraya mendaratkan kecupan nya kembali di kening Renita.
"Hem ... aku juga sangat berterima kasih, karena aku pun merasa bahagia dengan apa yang sudah kamu berikan." Renita pun menyusut bangun setelah Malik berbaring di sampingnya.
__ADS_1
Renita memandangi ke arah sang suami yang berbaring bertelanjang dada. Dan Renita pun menarik selimut untuk menutup bagian perutnya.
Pasang netra mata Malik yang terpejam seketika terbuka merasakan pergerakan Renita. Apalagi Renita turun dari tempat tidur mengambil pakaiannya yang terlempar ke lantai. Mengambil sesuatu dari sakunya ....