Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Tak terbukti


__ADS_3

"Malik, kamu harus tahu kelakuan istri mu bila kamu tidak berada di rumah. Jangankan di luar di rumah saja dia sudah berani macam-macam!" suara Yusna yang tiba-tiba menghampiri Malik yang tengah bersantai namun sibuk dengan netbook nya.


"Maksud Mbak apa nih? emang kenapa dengan istri saya?" Malik mengernyitkan keningnya sambil menatap tajam pada mbaknya.


"Kamu tidak tau apa kedekatan istri dan mantannya? istri kamu dan mantannya begitu dekat. Seharusnya kamu sebagai suaminya tahu dan memberi peringatan agar istri kamu tidak berlaku semaunya saja." Tambahnya Yusna kembali.


Malik terdiam dan berusaha mendengarkan apa saja yang ingin di sampaikan oleh sang kakak tentang istrinya itu.


"Pantas gak? bila mereka berduaan di rumah ini di ruang tertutup! di saat tidak ada siapa-siapa!" Tambahnya Yusna semakin merepet saja omongannya.


"Sudah, Mbak sudah belum bicaranya dan apalagi yang ingin kau katakan?" Malik menatap lekat pada sang kakak.


"Aku cuma ingin mengingatkan saja jangan sampai kau tertipu dengan sikap lembut dan lugu nya istri mu itu. Kalau melihat seperti itu aku menjadi curiga jangan-jangan--"


"Jangan-jangan apa Mbak?" Malik pura-pura percaya saja.


"Jangan-jangan anak yang dikandung oleh Renita itu bukan anak kamu Malik. Secara kamu kurang subur dan ternyata dia hamil, kan jadi pertanyaan." Yusna makin tersenyum merasa kalau Malik akan terhasut omongannya.


"Saya merasa Mbak ini menuduh Renita berbuat yang tidak-tidak dengan mantannya. Begitu bukan?" Malik menatap ke arah sang kakak.


"Ha ... kamu sedari tadi aku ngomong tidak mengerti? aku udah bicara panjang lebar lho." Kata Yusna sambil menggelengkan kepalanya.


"Ehem. Atas dasar apa kau menuduh istri ku seperti itu? aku tahu antara istri dan mantannya gimana. Jadi Mbak tidak perlu berkata yang macam-macam tentang dia," ucap Malik.


"Aku punya bukti Malik. Dengan mata kepala ku sendiri dia berduaan, di rumah ini. Apalagi di luar." Akunya Yusna kembali.


Malik melihat kanan dan kiri. "Mbak tahu, kalau fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan? dan Mbak akan kena pasal bila di pidanakan. Karena Mbak sudah memfitnah orang."


Degh.


Yusna terdiam sesaat dan hatinya menciut tapi sudah terlanjur berkata demikian. "Tapi aku itu melihat dengan kepala sendiri."


"Melihat apa Mbak, aku punya bukti dan aku juga bisa mengecek semuanya. Di rumah ini sudah ku pasang cctv dan aku tau apa saja yang dilakukan orang-orang di rumah ini. Siapapun itu." Tambahnya Malik kembali.


Yusna tidak menjawab selain terdiam dan pikirannya melayang memikirkan perkataan dari Malik.


"Mbak ... sekali lagi jangan bicara sembarangan. Bila terdengar oleh orangnya gimana? itu Fitnah Mbak. Hati-hati," Malik mengingatkan.

__ADS_1


"Aku sangat kecewa sama Mbak yang asal bicara saja, istri ku hamil anak ku dan aku bisa pastikan itu. Jangan sembarangan!" Malik menggeleng.


"Tapi, saya ..." Yusna kekeh dengan pandangannya.


"Saya bisa buktikan kalau istri saya tidak seperti yang Mbak katakan! saya tahu lingkungan istri saya di kantor maupun di rumah dan hubungannya sama mantan suaminya itu hanya sekedar untuk silaturahmi dan mendekatkan diri dengan anaknya." Ujar Malik. "Sekali lagi jangan menyebarkan omong kosong."


Yusna mengatupkan bibirnya menetap tajam pada sang adik yang dia kira akan percaya namun ternyata justru menyerang balik dirinya yang kini malah tersudutkan dan malu yang ada.


Wanita itu beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan Malik sendiri yang memangku netbooknya.


Kemudian pandangan Malik tertuju pada kedatangan wanita yang menenteng belanjaan bersama Rendy.


Di tatapnya dengan perasaan yang berkecamuk. Jika saja setiap perkataan dari sang kakak, Yusna. Didengar oleh Renita, alangkah pedih dan sedihnya hati wanita yang menjadi istrinya tersebut. Karena Malik tidak dapat mendengar perkataan dari sang kakak waktu itu dari CCTV.


"Pah, lihat Bunda belanja banyak sekali." Suara Rendy sambil menyimpan belanjaan di meja.


"Hem, belanja apa aja tuh ..." Malik tersenyum pada keduanya.


"Yank, itu kenapa Mbak Yusna? kok wajahnya ditekuk masam begitu keluar dari sini!" tanya Renita pada sang suami yang menutup laptopnya.


"Entahlah aku nggak tahu dia kenapa, biar saja nggak usah dipikirin! biar saja dia kan biasa keluar masuk! datang tak dijemput pulang nggak diantar ibarat jelangkung he he he ...."


Semasih di luar kota pun. Malik sudah tahu gimana kegiatan di rumah, siapa saja yang datang dan apa aja yang dilakukan. Dari CCTV dia terus memantau ke adaan rumah.


menurut dia kedatangan ajam itu hal biasa Karena memang untuk bertemu dengan Rendy putranya dan itu memang sudah disetujui dia agar ayah dan anak itu tetap merasa dekat, dan hubungan antara mantan yaitu Azam dan Renita itu sudah nggak jadi masalah. Toh semuanya sudah punya jalan masing-masing dan Malik sendiri percaya sama istrinya dan juga Azam sendiri dan selama ini Mereka baik-baik aja nggak ada yang aneh-aneh.


Begitupun dengan kejadian waktu itu, ketika Renita berduaan dengan Azam dan dilihat oleh Yusna. Azam dan Renita tidak melakukannya aneh-aneh! mereka cuman duduk-duduk itu pun berjauhan tepatnya saling berhadapan dan sesekali terlihat mengobrol, juga terlihat jelas bahwa di dana juga tidak jauh dari Renita dan Azam ada asisten rumah tangga yang sesekali diajak ngobrol sama Renita.


Jadi apa masalahnya yang harus dicurigakan oleh Malik pada sang istri dan Azam? sekalipun Yusna menjelek-jelekkan nama Renita di hadapan Malik.


"Sedang mikirin apa sih?" tanya Renita sambil membereskan pakaian bersihnya ke dalam lemari.


"Ooh. Nggak mikirin apa-apa. Oh ya kapan Azam menikah sama Sophia? terus mereka juga belum datang kan berdua ke sini?" Malik mengalihkan pembicaraan dan dia tidak ingin membicarakan apa yang ada dalam pikirannya tentang tuduhan Yusna kepada Renita yang jelas-jelas tidak ada bukti apapun.


"Aku dengar sih katanya akan segera, bagaimanapun di sini adalah keluarganya Shopia. bukannya begitu?" sambungnya Renita pada sang suami.


"Iya, benar. Cuma keluarga kita yang menjadi keluarganya, ada keluarga dari mama nya tapi yang walinya adalah keluarga dari aku!" Malik membelai rambutnya Renita dengan lembut.

__ADS_1


"Oh jadi keluarga dari ayahnya adalah keluarga kamu?" tanya Renita kembali.


"Iya kita!" Malik mengangguk.


"Ooh," Renita membulatkan mulutnya.


"Sudah malam, bobo yo?" Malik sambil mengelus perut buncitnya Renita yang menyandarkan kepalanya di bahu Malik.


...----------------...


Azam tengah kedatangan Shopia ke apartemen nya bersama putranya, Genta.


"Sayang, aku masakin mie ya?" shopia beranjak dari duduknya yang barusan berdempetan dengan Azam.


"Boleh," Azam pun berdiri dan membuntuti sang pujaan hati dengan memegang tangannya.


Mereka tampak mesra bagai pasangan yang sudah halal saja.


"Mama mau kemana?" tanya Genta yang tengah bermain gadget nya.


"Mau ini, masak mie. Mau gak?" sahutnya Shopia sambil bergelayut mesra di tangan Azam.


"Mau, aku mau." Genta sambil melanjutkan mainnya.


"Hi hi hi ... iih, udah dong geli. Malu ach di lihat Genta." Lirihnya Shopia sambil mendorong wajahnya Azam dari dekat telinganya.


"Nggak lihat kok. Dia sedang asik main kok. Mana ada lihat kita!" Azam terus saja nyosor.


"Hem ..." gumamnya shopia sembari menyentuh sesuatu yang menjendol di bagian tengah Azam dengan nakalnya.


"Ach ... jangan gitu juga sayang ... nanti minta tanggung jawab gimana? emangnya kaus7 tanggung jawab." Azam menjadi bengong dan merasakan sesuatu yang meronta.


"Sorry!" gumamnya Shopia sambil menatap tujuan dan kembali dengan refleks mengusap benda mati tapi bisa hidup itu.


Azam berusaha menekan hasrat nya yang tiba-tiba mencuat ....


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2