Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Baby kecil


__ADS_3

Di saat ayahnya Renita dan Yusna beradu mulut terdengar sayup-sayup suara tangisan bayi yang tentu sumber suara itu datangnya dari kamar Malik dan wanita.


Seketika adu mulut Yusna dan ayahnya Renita berhenti dan melihat ke arah lantai atas.


Apalagi Ibu Amelia langsung beranjak dari duduknya dan dengan buru-buru berjalan mendekati anak tangga, sudah tidak sabar ingin melihat cucu yang baru saja lahir ke dunia ini.


Namun karena langkahnya terlalu terburu-buru dan tangannya yang memegangi pagar tangga meleset sehingga Ibu Amelia terjatuh! untungnya baru menapakkan kedua kakinya di tangga yang kedua.


Sehingga tidak mengalami cedera serius, hanya meringis saja merasa kesakitan di pinggang dan pinggul.


"Hati-hati dong Bu ... jangan terburu-buru juga!" kata ayahnya Renita sembari memegangi kedua bahunya Ibu Amelia dibantunya untuk berdiri.


Sementara Yusna memegang kedua tangannya sang Ibunda. "Iih Mama ini ribut banget! santai saja kali jangan terburu-buru juga!"


"Rasanya Mama sudah tidak sabar!" balasnya Bu Amelia.


"Ayo jalan, Mah ... hati-hati jalannya! kira-kira bayinya laki-laki apa perempuan ya Mah? secara kan selama ini Malik sama Renita merahasiakan gender calon bayinya itu," ajak Yusna pada mamanya.


"Aduh, pinggang Mama sakit dan pinggulnya juga sakit!" Bu Amelia meringis sambil berdiri di tempat.


"Terus gimana, Ibu mau duduk lagi di sana? mari saya antar!" tawar besannya kembali.


Namun Bu Amelia menggelengkan kepalanya, ia tetap penasaran untuk naik ke atas dan melihat cucunya yang entah pria ataupun wanita, karena Renita maupun Malik tidak mengatakan gender calon si bayi sebelumnya.


"Tidak usah besan. Saya mau ke atas saja." Bu Amelia melanjutkan langkahnya dengan pelan dan sekarang lebih hati-hati dipegang nya oleh Yusna.


Sementara besannya yaitu ayah Renita lebih dulu naik ke lantai atas.


"Selamat ya nyonya dan Tuan, bayi nya perempuan!" ucap bidan yang sedang mengurus baby nya Renita yang baru saja keluar dari rahim ibunya.


Malik dan Renita saling pandang dengan sangat lekat dan tersenyum! mereka memang sudah tahu kalau buah hatinya adalah perempuan. Karena memang sudah USG, bahwa anak mereka adalah perempuan cuman tidak mau menggembar-gemborkan.


Oleh karena ada kalanya apa yang dikatakan oleh manusia berbeda dengan kehendak Tuhan.

__ADS_1


Sehingga Renita maupun Malik sepakat untuk merahasiakan gendernya. Sampai nanti dia lahir ke dunia.


"Alhamdulillah ... lahirannya normal kan sayang! terima kasih kamu sudah memberikan putri yang cantik pada ku!" Cuph. Malik mengecup kening sang istri dengan mesra dan durasi yang lama.


"Alhamdulillah ... Yank ... ini berkat doa semuanya, sehingga aku bisa lahiran dengan normal tanpa yang namanya sesar, Yank ... sesuatu yang menakutkan untuk ku!" keringat dingin pun memang tampak bercucuran di tubuhnya dan juga wajah Renita.


"Aamiin sayang! cuph ..." Malik kembali mencium kening sang istri yang sedang memeluk putri kecilnya yang tengah ditempelkan di dada.


Dan dibiarkan untuk mencari sumber makanannya, bayi itu sangat cantik dan mirip sama Bunda juga papanya yaitu Malik, hidungnya dan bibirnya benar-benar persis seperti papanya, dan raut wajah persis bundanya.


Ibu Renita sampai sujud syukur di tempatnya. Saat-saat yang teramat menegangkan sudah lewat, yang takut gimana-gimana tentang kelahiran cucunya tersebut kini bisa bernafas lega. Renita sudah melahirkan dengan cara normal tanpa ada kendala apapun.


"Terima kasih ya Allah ... terima kasih kau sudah melancarkan lahiran anak ku!" ibundanya Renita terus bergumam sambil menatap cucunya dengan tatapan yang bahagia.


"Sayang, yah ... sekarang asi nya buat baby, Papa nggak kebagian dong!" bisiknya Malik sambil tersenyum.


Membuat tangan Renita yang masih terasa lemah mencoba mencubit pahanya Malik. "Apaan sih?"


"Jangan khawatir Tuan, nggak akan habis dan masih bisa bergantian he he he ..." timpal Bidan yang rupanya mendengar bisikan dari Malik pada Renita.


"Iya, Tuan jangan takut kehabisan! takkan ada habisnya kok apalagi masa memberi asi nya paling lama 1 tahun. Jadi akan kembali menjadi milik papanya, he he he ..." tambahnya asisten bidan.


"Ha ha ha ... Ibu bidan dua ini bisa aja!" ucap Malik sambil tertawa kecil.


"Masya Allah ... sudah lahir cucu kita Bu?" ucap sang ayah Renita sambil mendekati mereka semua.


"Iya, Pak. Alhamdulillah dan bayi nya perempuan!" Malik menjawab dengan Rasa bahagia Yang menyelimuti dadanya.


"Alhamdulillah ... perempuan! jadi satu pasang dong ya sama Rendy!" tambah ayah nya Renita mengucap syukur ke hadirat yang maha kuasa yang telah menghadirkan Putri kecil di antara keluarganya.


Kemudian bergantian menggendongnya dengan sang istri. Serta tatapan yang berbinar.


"Mana cucu ku? kok kalian sudah gendong sih, sudah cuci tangan yang bersih belum? jangan sembarangan kalau mau pegang bayi harus steril, jangan asal pegang saja!" cerocos Bu Amelia sambil minta bayi dari besannya tersebut.

__ADS_1


"Terus, Ibu ini sudah cuci tangan yang bersih atau belum?" tanya bidan yang ditujukan kepada ibu Amelia.


"Ach ... saya sudah cuci tangan pakai Sanitizer." Bu Amelia tetap menggendong cucunya! di tatapnya sembari tersenyum.


Didekati oleh Yusna, yang mengarahkan dan menatap wajah gadis kecil yang baru saja melihat indahnya dunia.


"Mirip juga wajahnya, takut tidak diakui sama Malik kali!" gumamnya Yusna tanpa suara, yang nyaris tidak terdengar oleh orang sekitar.


Kehadiran baby nya Malik ke dunia ini sangat di sambut bahagia oleh keluarga.


Tidak lama kemudian Rendy pun menghampiri dan melihat baby nya. "Wah ... baby nya cantik Bun, baby nya mirip Papa dan Bunda!"


Renita yang kini sudah berada di atas tempat tidur hanya tersenyum ke arah Rendy.


"Iya sayang, Alhamdulillah Bunda lahiran nya normal. Makasih atas doanya Rendy!" Malik mencium picuk kepala Rendy.


Kemudian anak itu mendekati bundanya. "Bunda, berarti waktu Bunda melahirkan Rendy juga gini ya Bunda? kesakitan, Bunda lemah dan Bunda berbaring seperti sekarang ini."


Renita menatap wajah putranya yang masih polos itu dan mengusap kepalanya. "Ini memang pengorbanan seorang ibu sayang!"


Bu Amelia sangat heboh dengan adanya cucu pertama dari Malik. Bahkan terdengar dia menelepon semua keluarganya dan menyampaikan berita gembira ini. Kalau dirinya sudah punya cucu dari Malik.


Dan kini kedua bidan pun sudah pulang karena lahiran Renita sudah selesai. Malik pun mengantarkannya ke depan.


Di kamar Renita, semua anggota keluarga berkumpul dan kursi sofa pun sidah dengan posisi seperti semula hingga orang-orang bisa duduk dengan santai di sana.


"Oh ini gender yang kamu tutup-tutupi, emang buat apa sih itu ditutup-tutupi. Aku kira gendernya apa, siapa tahu saja gendernya handa!" kata Yusna yang ditujukan kepada Renita.


"Astagfirullah ... Buat apa juga bilang-bilang Mbak? karena kalau sudah lahir kan ketahuan semua." Renita menatap aneh pada sang kakak ipar yang selalu pedas omongannya.


Sang ayah dari Renita hampir saja dia berkata! kalau Yusna sudah berani memfitnah adik iparnya sendiri. Namun niat itu ia urungkan sebab dia pikir lagi. Justru akan memperpanjang masalah, Tidak enak juga bila harus di ceritakan. Biar ia simpan daja sendiri.


Keluarga mengerumuni baby kecil Malik dan Renita, bak semut menemukan gula. Bibir Renita tidak berhenti tersenyum dan senyuman nya pun sangatlah mengembang ....

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2