
Kini Renita. Rendy dan juga Genta sudah berada di depan kontrakannya Sofia yang itu tempat tinggalnya Genta.
Mereka segera turun, khususnya Renita dan Rendy melepaskan pandangannya mengamati tempat tersebut. Rumah kontrakan yang sangat sederhana! jauh dari kata mewah dan dari luar pun tampak sedikit berantakan.
Ketiganya berjalan mendekati teras dan terdengar dari dalam, suara gedebak-debug dan marah-marah.
Genta membukakan pintu, lantas mengajak masuk Renita dan Rendy. Tampak seorang wanita yang terlihat kusut, lusuh. Rambut berantakan. Kulitnya pun tampak merah-merah dan juga tidak berhenti menggaruk seluruh tubuhnya.
"Shopia?" gumamnya Renita sambil berjalan menghampirinya. Merasa kaget dengan kondisi Shopia yang seperti sekarang ini.
"Begini lah kondisi Mama, Tante." Genta bersuara lirih yang di tujukan kepada Renita.
Shopia menatap tajam pada Renita sambil terus menggaruk seluruh tubuhnya. "Iih ... gatal. Hngah ... gatal ..."
"Jangan, di garuk. Kita berobat ya!" Renita mengangkat kedua tangannya memberikan isyarat agar Shopia jangan menggaruk terus.
"Ngapain kamu ke sini ha? hanya untuk menghina ku, melihat ku dengan puas. Kau ingin menghina, kan? sudah pergi dan jangan mendekati ku, aku gak butuh kalian." Shopia menunjuk tidak suka pada Renita khususnya.
"Ma, sabar dan jangan marah. Tante mau nolongin Mama dan mengajak berobat Mama. Kita tidak punya uang untuk berobat, Ma ..." Genta mendekati Mamanya yang tampak tidak suka dengan kedatangan Renita.
"Saya tidak suka sama dia, dan bohong kalau dia mau bantu berobat. Dia benci sama saya, mana mau menolong untuk berobat!" Shopia menggeleng.
"Itu tidak benar. Saya tidak pernah membenci mu, kamu saja yang selalu menjauh dari kami. Tadi putra mu datang ke rumah dan dia cerita tentang kondisi mu seperti itu, dia minta tolong! agar kami untuk membawamu ke rumah sakit, berobat."
"Buat apa kamu meminta tolong sama dia ha! saya tidak sudi, sana pergi!" Shopia melotot pada putranya dan Renita bergantian, sambil sibuk menggerakan tangannya menggaruk seluruh badan bikin Renita merasa miris melihatnya.
"Aku kesini, tulus kok buat ajak kamu berobat. Yok kita ke klinik?biar cepat sembuh. Ini tidak bisa dibiarin." Renita kembali mendekat, namun alangkah kagetnya Renita disaat Shopia melemparkan gelas ke arah nya.
Yang untung saja gak kena keburu menghindar, tubuh Renita keburu ditarik Rendy. Kalau saja tidak tepat waktu ... Pasti gelas itu mengenai kepalanya Renita.
"Mama, aku sengaja minta bantuan Tante untuk kesini bantu Mama, jangan bikin aku malu dong Ma ... siapa lagi yang akan menolong kita, Ma? tolong tolong dengarkan Genta," suara Genta dengan sangat lirih dan sedih.
__ADS_1
"Tante, Tante pasti pengen sembuh bukan, makanya Tante harus berobat dan bunda akan membantu Tante untuk berobat, tidak perlulah Tante berlaku yang macam ini kecuali kalau Tante nggak mau sehat." Rendy yang semoga itu diam akhirnya membuka suara juga.
"Seharusnya Mama meminta maaf sama Tante, bukan marah-marah kayak gini, sudah mending Tante mau menolong kita! tolong dong, Ma?" Genta kembali bicara dengan nada sedih. "Aku nggak mau mama kayak gini terus, gimana kehidupan kita ke depan, Mah? Seminggu ini aku pun sudah tidak sekolah."
Genta mengusap sudut matanya yang terdapat lelehan air bening.
"Kamu sayang, kan sama Genta! dia ... dia harus punya masa depan, kasihani dirimu dan juga anak mu! Yah kita sekarang ke klinik buat berobat, bila perlu kamu dirawat saja," suara Renita dengan pelan dan hati-hati.
Shopia tidak menjawab. Dia malah sibuk dengan menggaruk tangan dan bagian-bagian tubuh lainnya, paha bahkan ke tengahnya, membuat Genta dan Rendy merasa risih melihatnya.
"Aku tidak merasa punya masalah apapun kok, sama dia, justru dia yang telah merebut Malik dariku!" ucap Sophia dengan nada dingin.
Sementara Genta tidak mengerti dengan permasalahan yang Shopia ucapkan. Sementara yang dia tahu Malik adalah om nya.
Lain lagi dengan Rendy yang setidaknya. Dia sedikit mengerti dengan permasalahan yang dimaksud oleh Shopia.
"Gimana, Bun udahlah kita ajak ke klinik aja sekarang. Nanti keburu sore!" Ajak Rendy pada sang Bunda.
"Sudahlah, lupakan masa lalu. Sekarang yang penting gimana caranya kamu bisa sembuh dari penyakit ini, tidak perlu berpikir masa lalu atau gimana-gimana. Yah, sekarang ikut saya untuk berobat!" Renita memegang kedua bahu Shopia dan diajaknya untuk berjalan.
Sementara Rendy buka pintu untuk Sophia dan bundanya. Genta duduk di samping mamanya dan Rendy sendiri duduk sama sopir di depan.
Tidak selang lama di perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di sebuah rumah sakit besar dan langsung membawa Shopia ke dokter ahli kulit.
.
.
"Mas kenapa sih sedari kemarin wajahnya ditekuk aja. Emang ada masalah apa di kantor?" tanya Rosita kepada sang suami yang berapa hari ini tampak menunjukan wajah masam! kurang enak dipandang.
"Tidak ada apa-apa," jawabnya Azam sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
__ADS_1
"Tapi beberapa hari ini wajah mu di tekuk begitu, tidak enak di pandang, tahu ..." tambah nya sambil mengalihkan duduk ke sofa samping suaminya tersebut.
"Enggak, enggak apa-apa!" tambah Azam kembali.
Rosita menatap lekat pada suaminya. "Seandainya ... kamu ada masalah sebaiknya ngomong! jangan dipendam sendiri. Apalagi hanya menunjukkan wajah mu yang masang itu padaku!"
Azam terdiam dan seakan mengingat sesuatu yang memang mengganjal di pikirannya. Dia memang sedang ada masalah di kantor yang sangat mengganggu pikirannya sehingga terbawa ke rumah.
Dan yang paling mengganggu hati dan pikirannya adalah ... perasaannya sendiri, entah kenapa. Datangnya dari mana? tiba-tiba saja dia merasa menyesal kembali dan cemburu jika melihat Renita bersama suaminya, Malik.
"Aku sangat tidak mengerti dengan perasaanku ini, kenapa tiba-tiba rasa cemburu itu muncul! hadir menyelinap ke dalam sanubari. Setelah sekian lama perpisahan itu terjadi dan kami setiap hari pun bertemu tak ada rasa yang aneh, tapi kenapa sekarang tiba-tiba rasa itu ada lagi. Di saat aku pun sudah bahagia bersama Rosita." Batinnya Azam yang merasa bingung sendiri.
"Kamu mau kopi? aku bikinkan ya!" Rosita memegang tangan sang suami dan menatapnya penuh cinta.
Azam pun membalas tatapan itu, dan dia merasakan ketulusan hati Rosita yang menyayanginya dan juga kepada Rendy, sampai-sampai sekarang mereka berdua sudah mempunyai dua buah hati yaitu Poppy dan Syifa. "Haruskah aku bikin dia kecewa, dengan perasaan ini yang tiba-tiba datang dan menghantui jiwaku!" Dalam hati.
Rosita terheran-heran. "Kamu kenapa sih? semakin aneh deh!"
Azam menggerakkan kedua netra matanya melihat tangan Rosita yang kemudian ia elus punggungnya dengan sangat lembut. "Ya! sudah, kalau mau bikinkan kopi untuk ku bikinkan saja, tapi hati-hati ya jangan sampai melukai dirimu!"
Kedua sudut bibir Rosita menerbitkan senyuman yang indah, kemudian dia berpindah duduk ke kursi rodanya dan perlahan memajukannya ke dapur untuk membuatkan segelas kopi untuk suaminya itu.
Di saat sedang bikinkan kopi, Rosita entah melamun atau gimana, tiba-tiba air panas yang baru saja ia tuang ke dalam gelas yang dicampur kopi tersebut tumpah ke dalam pangkuannya, sehingga Rosita menjerit. "Aughhh!"
Terbayang gimana rasa panas dan sakitnya air yang mendidih pas masuk ke dalam gelas, langsung tumpah ke atas pangkuan yang kebetulan dia sedang mengenakan rok yang berbahan tipis, jelas aliran air panas tersebut langsung menelusup dan membakar ke dalam kulit paha Rosita.
Azam yang mendengar suara gebrakan gelas pecah di dapur, tersentak dan melonjak bangun dari duduknya, bergegas menghampiri sumber suara karena dia khawatir istrinya kenapa-napa, yang sebelumnya tadi bilang mau membuatkan kopi untuknya.
"Sayang ada apa?" suara Azam sambil berjalan cepat menuju dapur.
"Aughh! sakit panas, Mas. Panas," Rosita mengangkat-angkat bagian atas roknya dan ia gipas-gibaskan. Kulitnya terasa sangat panas dan perih.
__ADS_1
Setibanya di dapur azam pun kaget, panik melihat sang istri yang tampak meringis dan mengibas-ngibaskan roknya di atas ....
Bersambung.