
Sudah seminggu dari penyelidikan pertama. Dan hampir setiap hari sedikit demi sedikit mencari kebenaran tentang suaminya yang tetap saja beralasan sibuk, sehingga jarang di rumah.
Dan Renita masih mencari waktu yang tepat untuk menangkap basah suaminya. Dia ingin mendatangi namun dengan kesan kebetulan. Tapi momen itu belum juga Renita temukan.
Kerena di rasa pencarian sudah merasa cukup! sehingga Sheila pun tidak lagi menginap di rumah Renita.
Karena tidak tahan dengan kebohongan ini. Renita mencoba 9nfin membicarakannya dengan Azam, Waktu menunjukan pukul 22.30. Dan Azam baru saja selesai mandi.
"Mas, aku ingin bicara!" ucap Renita sambil duduk di sofa yang ada di pojokan.
"Ada apa? soal uang lagi, masa sudah habis? kan baru seminggu yang lalu aku transfer." Azam menatap heran pada istrinya. Emang di pake apa?"
Bulan ini Azam memang mentransfer uang tapi tetap sama seperti bulan sebelumnya, yaitu berkurang dari dulu-dulu, Renita pun sering merajuk, itu uang kurang dan bayaran sekolah sudah mengambil dari tabungan. Azam hanya bilang, iya nanti ku tambahin.
Membuat Renita menggeleng kepala dan tidak mengerti dengan pikiran Azam.
"Mas, aku mau tanya."
"Hem ..." Azam mendudukan dirinya tidak jauh dari Renita.
"Kenapa uang yang kamu kasih itu berkurang, bukannya bertambah. Sementara kamu tahu pengeluaran kita berapa dalam sebulan, apalagi sedang banyak pembayaran di sekolah Rendy." Renita menatap tajam pada suaminya.
"Tapi cukup kan untuk sehari-hari? apa kamu kekurangan dan Rendy--"
"Jelas Mas. Kurang ... aku gak akan ngomong kalau saja cukup. Sementara kamu kerja rajin dan bahkan lupa waktu. Terus hasilnya kemana?" Renita mulai menyelidik.
Mendengar perkataan sang istri seperti itu Azam merasa dicurigai. "Terus, kamu mencurigai aku selingkuh gitu?"
__ADS_1
Degh.
"Bukannya memang seperti itu, Mas?, kamu sudah selingkuh ya? kau khianati aku! kurang perhatian mu pada ku dan Rendy, itu sudah menandakan jika kamu punya yang lain!" Renita berkata dalam hati.
"Emangnya kamu merasa seperti itu, Mas? aku gak bilang seperti lho. Aku cuma bertanya kenapa, itu saja!" jelasnya Renita dengan masih nada rendah.
"Tapi sama dengan mencurigai ku uangnya kemana? uangnya aku tabung buat masa depan kita juga. Bukan aku menghambur-hamburkan seperti kamu--"
"Apa Mas, coba sekali lagi? aku pengen mendengar sekali lagi! kamu bilang aku menghambur-hamburkan uang, Mas jelaskan? aku menghamburkan uang gimana, coba jelaskan?" Renita sangat tersinggung dengan perkataan Azam.
Azam tidak menjawab. Dia terdiam seribu kata sambil memainkan ponselnya.
"Mas pikir. Aku membeli keperluan rumah, dapur itu menghamburkan uang? keperluan anak, sekolahnya itu membuang-buang uang? boro-boro aku mengganti peralatan rumah, ke salon. Merawat diri, shoping kapan, Mas kapan? beberapa bulan ini beli baju satu stel pun tidak, Mas ..." suara Renita begitu bersemangat mengeluarkan isi hatinya.
"Buktinya uangnya di kemana kan! habis kan?" suara Azam tetap menuduh demikian seolah ingin membalikan pakta.
Azam sementara waktu hanya terdiam, sesekali melihat Renita yang tampak marah.
"Aku mau bekerja, biar tidak mengandalkan mu lagi, Mas." Pakailah uang mu sesuka hati mu dan tidak perlu pedulikan anak mu lagi, anak janda di tinggal mati itu lebih penting kan!" minta keceplosan bisa seperti itu.
Membuat kedua netra Azam melotot dia merasa ke sentil dengan omongan Renita barusan, sehingga dia langsung menyusul Renita ke tempat tidur dan menarik tangan.
"Apa maksudnya? apa maksud mu, barusan ngomong seperti itu?" Azam menatap dengan tajam ke arah Renita.
Dan Renita pun dengan berani membalas tatapan Azam. "Emangnya barusan aku bilang apa, Mas?" tanya Renita sembari mengangkat dagunya seolah mencerminkan kalau dia tidak takut dengan Azam.
"Kamu bilang, perhatikan saja anak janda yang ditinggal mati, apa maksudnya?" selidiknya Azam yang begitu dekat dengan wanita.
__ADS_1
Karena merasa terlanjur, Renita pun sudah tidak ingin pura-pura tidak tahu lagi tentang perselingkuhan suaminya. "Iya benat bukan? Mas lebih peduli dengan anak itu, anak janda yang di tinggal mati. Sementara Mas tak peduli sama sekali dengan Rendy yang jelas-jelas adalah darah daging mu, Mas anak kita."
Kedua netra Azam semakin melotot ke arah Renita dan tangannya mendorong sang istri dengan sangat kasar ke tempat tidur. Rasanya dia marah sekali dan juga merasa heran bagaimana Renita bisa tahu tentang itu.
"Kamu jangan pernah mengarang cerita ya, jangan-jangan kamu sendiri yang punya laki-laki lain, iya kan?" sergahnya Azam sambil memukul kasur.
Sejenak Renita memejamkan matanya ketika Azam memukul kasur yang ada di sampingnya. "Siapa yang mengarang cerita, Mas? tanya saja sama dirimu sendiri, apa omongan ku itu benar atau salah."
"Atas dasar apa kamu bisa ngomong seperti itu ha? yang jelas-jelas aku sibuk bekerja dan sementara kamu malah menuduh ku yang tidak-tidak, aku bekerja buat masa depan kita!" akunya Azam sambil kembali memukul kasur dengan kedua tangannya kanan kiri antara Renita.
Renita berusaha bangun! namun kakinya ditindih tubuh Azam sehingga Renita kesulitan untuk bangun.
"Kamu tidak perlu lagi mengelak, Mas. Aku tahu semuanya! kalau kamu punya wanita lain dan kamu lebih sayang anak-anak itu ketimbang anak kita!" ucapnya Renita dengan tatapan yang berkaca-kaca namun dia tidak ingin menangis di hadapan pria pengkhianat seperti Azam.
"Kenapa sekarang mulutmu jadi kurang ajar sama aku? Aku ini suami mu yang harus kau hormati, yang harus kamu percaya bukannya dicurigai--"
"Emangnya aku nggak hormat apa, Mas? kewajiban sudah aku tunaikan! menjadi istri yang baik, yang perhatian. Yang peduli dan mengurus anak, rumah. Suami Apa itu masih kurang? sehingga kamu butuh wanita lain?" Renita menjeda sejenak.
"Kamu tidak pandai merawat diri."
"Aku tak bisa merawat diri, emangnya Mas pikir semua itu nggak pakai modal dan aku bukannya nggak ingin dan aku bukannya nggak bisa kalau aku maksain, aku juga bisa! cuman aku lebih mementingkan keluargaku! anakku dan yang lebih penting lainnya." Ujarnya Renita yang membuat Azam terdiam.
"Emangnya selama ini ... aku menuntut apa, Mas? menuntut apa dari kamu? apa aku pernah minta barang yang mahal padamu, walaupun kamu mampu. Aku nggak pernah macam-macam, aku nggak pernah minta ini itu karena aku ingin kamu memikirkan masa depan kita! tapi pada kenyataan nya ... bukan untuk masa depan kita, melainkan untuk janda!"
Azam semakin marah mendengar Renita merepet seperti petasan, tangannya dia ulang ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Mohon dukungan dalam bentuk apapun Makasih.