
"Sekarang kita beraktivitas kembali, jangan sedih lagi ya? nanti pulang kerja ... kita langsung ke butik saja," ucapnya Malik sembari menyudahi makannya.
Renita pun mengangguk setuju yang sesekali mendengus dan mengusap ingusnya. "Motor aku gimana?"
"Motor ... tinggalin! Biar nanti pulang aku antar aja," Malik beranjak dari duduknya.
"Terus, besok aku pergi kerja naik taksi gitu?" Renita membereskan bekas makannya.
"Nggak usah, besok pagi aku jemput! ke rumah." Malik sambil berjalan meninggalkan ruangan Renita.
Kemudian Renita memulai aktifitas lagi, walau sesekali mengingat kejadian tadi. Di kantin.
Dimana mendengar Azam menuduh dirinya yang tidak-tidak, katanya dia sudah berbuat jahat pada sharon, istrinya. Jahat dari mananya.
Hari sudah semakin sore dan waktunya pulang kerja. Malik sudah menjemput ke ruangan Renita, mengajaknya untuk pergi ke butik untuk fitting baju pengantin.
"Ayo sayang ... kita ke butik dulu." Ajak Malik yang kini berdiri di dekat pintu memandangi ke Raj Renita yang masih tampak sibuk.
"Oke, sebentar aku bereskan dulu ini meja." Renita membereskan meja kerjanya terlebih dahulu sebelum beranjak pergi.
"Ayo!" Renita menyambar tasnya yang tergeletak di meja.
"Sudah siap?" Malik menatap intens ke arah Renita yang tidak sedikitpun luput dari pandangannya.
"Sudah, apa ada yang salah ya? maklum lah ... belum mandi belum ganti baju juga!" Renita sendiri mengamati penampilan nya, takutnya ada yang memalukan Malik nantinya.
"Nggak-nggak Ada yang salah kok, "Yo kota jalan sekarang!" Malik menggeleng
Kemudian mereka berjalan keluar dari ruangan kerja Renita, menuju parkiran. Malik mengitari mobilnya dan membukakan pintu nya buat sang calon istri.
"Silakan masuk sayang!" Malik membukakan pintu agar Renita masuk ke dalam mobil.
"Makasih sayang!" Renita mesem sambil memasuki mobil Malik.
Blugh.
Malik tersenyum manis, sambil menutup pintu mobilnya lalu Malik mengitari mobil tersebut, duduk di belakang kemudi.
__ADS_1
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri begitu?" tanya Renita sambil melirik ke arah Malik yang bersiap menyalakan mesin mobilnya.
"Ah nggak, aku cuman seneng aja kamu panggil aku sayang!" Jawabnya Malik dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari bibirnya.
Renita hanya menggeleng kan kepalanya sembari melihat ke arah depan.
Mobilnya Malik melaju dengan sangat cepat ke sebuah butik, di mana dia akan memesan gaun pengantin untuk acara akad nanti dan juga resepsi.
"Jujur. Aku nggak habis pikir deh ... kok bisa-bisanya ya istrinya Mas Azam bilang aku ngapa-ngapain dia padahal jangankan ngapa-ngapain! menyentuh tangannya berjabat dengan dia aja nggak!" ucapnya Renita sambil melirik ke arah Malik yang tengah fokus menyetir mobilnya.
"Soal itu sih ... bisa aja dia membuat-buat agar orang lain percaya dan dia semakin marah sama kamu. Hubungan kalian semakin keruh, padahal seharusnya hubungan kalian itu baik-baik saja demi Rendy kok, banyak orang yang bercerai tapi mereka masih sering bersama demi memberikan kasih sayang untuk anaknya, bukan keruh seperti ini." Ujarnya Malik seraya melirik sekilas pada Renita lalu kembali melihat ke arah jalanan.
"Tapi kan ... untuk apa dibuat-buat seperti itu? biarpun Mas Azam benci sama aku, buktinya hubungan kita Emang renggang kok ... dia nggak pernah ingat sama Rendy gitu kan?" Balas Renita kembali.
Malik melirik kembali ke arah Renita dan dia siap mendengar keluh kesah dari calon istrinya tersebut.
"Tadi aku bilang sama dia, aku nggak akan permasalahkan dia yang tidak ingat dengan nafkah anaknya, di kasih syukur ... nggak juga nggak apa-apa! aku nggak akan maksa karena insya Allah aku bisa untuk menghidupi Rendy." Kata Renita lagi.
"Aku juga tidak habis pikir, sebagai ayah seharusnya dia itu bertanggung jawab, Oh iya, apa kamu di kasih uang iddah?" tanya Malik kepada Renita.
Renita menggeleng seraya berkata. "Seingat ku tidak pernah, jangankan uang iddah. Buat Rendy aja nggak tuh ... semenjak dia pergi dia nggak pernah ngasih uang."
"Asli, aku nggak pernah terima uang dari dia setelah dia pergi dari rumah, berbulan-bulan sebelumnya pun dia ngasih uang itu semakin berkurang! ketika aku tanya katanya ditabung dan mungkin kenyataannya bukan di tabung sih ... tapi di kasih ke istri baru!" Jawabnya Renita sembari menatap ke arah depan mobil.
"Hem ... Sampai segitunya ya? padahal dia itu mampu, kalau orang yang kerja serabutan dan gak ngasih itu si wajar-wajar aja! tapi ini kan lain," tambahnya Malik.
"Huuh ... Aku sih kembalikan lagi kalau itu mungkin bukan rezeki. Aku minta pun percuma biarpun buat Rendy, menuntut pun percuma kan pengadilan memang di tuntut kan dan dia pun setuju untuk memberi nafkah, tapi pada kenyataannya nggak ada! jadi aku bisa apa?" Renita menggoyangkan kedua bahunya.
"Kamu memang wanita hebat, kuat dan sabar dan ... tidak menyerah dengan keadaan! tidak apalah Rizki itu kadang datangnya bukan dari yang kita sangka-sangka tapi sering kali sebaliknya. Sesuatu yang tidak pernah diduga," ucapnya Malik kembali.
"Aku hanya tidak ingin terpuruk dengan keadaan, apalagi meratapi nasib, sementara aku harus mampu menjaga Rendi dan pada akhirnya aku bukan hanya menjadi seorang ibu tapi juga Ayah untuknya." Renita menarik nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan sangat panjang.
"Ya aku mengerti, tapi tenang ... sebentar lagi kamu hanya sebagai seorang ibu saja karena kan seorang ayah akan pindah ke bunda ku. Dan aku tidak akan membiarkan mu susah, insya Allah." Jelasnya Malik sembari menepikan mobilnya ke salah satu tempat parkir.
"Kok berhenti di sini?" tanya Renita sambil celingukan melihat-lihat gedung apa saja yang ada di sana.
"Itu butiknya di depan sayang!" Malik menunjuk ke arah butik yang berapa meter dari tempat parkir.
__ADS_1
"Oh ... yang itu," Renita pun turun setelah dibukakan pintunya oleh Malik.
Mereka berdua berjalan beriringan memasuki butik tersebut yang langsung disambut oleh desainernya.
"Selamat sore Tuan Malik juga Nyonya Renita. Selamat datang di butik kami Dan semoga menjadi langganan kami di sini?" sambut sang desainer dengan sangat ramah dan hormat kepada tamunya.
"Selamat sore juga ... terima kasih atas sambutannya dan tentunya kami datang kemari untuk minta bantuan!" Malik mengulurkan tangan kepada desainer tersebut yaitu seorang wanita cantik, elegan yang namanya cukup terkenal di kota tersebut, desainer gaun pengantin.
"Oke, silakan kalian duduk-duduk dulu dan lihat-lihat dulu contohnya gaun tersebut menyilakan Renita dan Malik untuk duduk dan langsung disodorkan dengan koleksi gambar-gambar pakaian pengantin.
Dalam waktu beberapa saat Malik dan Renita pun membahas dan memilih contoh gaun pengantin yang ada di gambar dan sedikit debat dengan warna, Renita ingin warna dominan putih sementara Malik menyukai warna biru langit.
"Biru langit itu terlalu cerah daripada dengan yang putih--"
"Nggak-nggak, aku nggak suka dengan warna putih. Sebenarnya aku suka dengan warna putih seperti itu, aku banyak kemeja kerja banyak yang putih tapi untuk gaun pengantin jangan deh yang putih ini warna lain lah!" Malik tidak setuju dengan warna putih, bukan tidak suka tapi untuk gaun pengantin janganlah warna putih katanya.
"Warna apa dong ... kalau warna biru langit aku nggak suka, itu terlalu mencolok. Kecuali warna-warna pastel!" tambah Renita.
"Gimana kalau saya rekomendasikan warna putih tulang jadi nggak terlalu mencolok, putih tulang terus dikombinasikan dengan biru pastel gimana?" desainernya menawarkan warna demikian pada keduanya agar tidak lagi debat soal warna.
"Em ... Gini aja deh ... kebayanya warna putih tulang begitupun dengan setelan pengantin pria kan? Gaun pestanya berwarna biru pastel pria dan wanita sama warnanya, udah gitu aja!" tegasnya Malik dan Renita tidak kembali membantah.
Sekarang Renita setuju-setuju aja dengan yang menjadi pilihan Malik. Kemudian Malik pun meminta setelan jas dengan ukuran anak sekitar 5 tahun. Lalu Malik bertanya kepada Renita ukurannya Rendy.
Dan wanita pun menjelaskan ukuran tubuh putranya. Selanjutnya mereka berdua diukur untuk ukuran pengantin yang harus selesai sekitar berapa minggu kemudian.
"Kalian tidak usah khawatir, seminggu ke depan pun kalian bisa datang untuk fitting, karena apa yang nanti kalian merasa kurang atau kelebihan, bisa diperbaiki secepatnya." Jelas sang desainer.
"Oh ya, makasih sebelumnya. Makasih atas bantuannya dan Semoga semuanya lancar kembali," Malik kembali berjabat tangan dengan wanita desainer tersebut begitupun dengan Renita.
Tidak lupa mengucapkan banyak-banyak terima kasih karena desainer tersebut bisa membantu dan menyanggupi waktunya yang lebih cepat. "Sekali lagi Makasih ya Mbak!"
"Iya sama-sama Nyonya. Dan semoga nanti kalian bakal cocok dengan pesanannya sehingga kalian berdua menjadi langganan tetap butik kami." Wanita itu begitu ramahnya dan kemudian mengantar sendiri Malik dan Renita keluar dari butiknya.
"Oke, sampai jumpa kembali dan sekarang kami permisi," ucap Malik kepada desainer tersebut.
Kini keduanya berjalan menuju mobil mereka yang terparkir di depan ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Bersambung