Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Percaya


__ADS_3

Pricilia dibuat spot jantung dan dada berdebar kencang. Kalau saja tangan Rendy tidak dengan cepat meraih tangannya. Mungkin dia sudah tersambar sebuah motor yang melaju dengan sangat cepat.


Pricilia tampak shock dan Dia mematung, membisu tanpa kata. Dia tidak bisa membayangkan jika saja terjadi sesuatu yang tidak pernah diharapkan. Dadanya terus berdebar jantung pun berdegup, sangat kencang. Salat mata pun melotot ke arah jalan di mana barusan motor yang melesat begitu cepat melewatinya.


Begitupun dengan Rendy, dia sangat kaget dengan kejadian itu untungnya masih bisa terselamatkan dengan cepat.


Pricilia menoleh ke arah Rendy yang masih tampak bengong sambil menatap ke arah dirinya. "Makasih ya? kalau kamu nggak ada, mungkin aku nggak tahu lagi," dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Ya kalau aku nggak di sini. Mungkin kamu juga nggak di sini, kan aku yang mengajak kamu ke sini makan kebab," balas Rendy sambil mengangguk pelan, lalu kemudian dia mendekati motornya.


Rendy pun mengantarkan terlebih dahulu Pricilia ke depan suatu gerbang yang entah itu rumahnya atau entah bukan, yang jelas Pricilia tidak menunjukkan di mana dia tinggal kecuali tempat itu.


"Yakin, kamu nggak kenapa-napa?" Rendy tampak perhatian dan cemas sembari menatap ke arah Pricilia.


"Aku nggak kenapa-napa, terima kasih atas perhatian dan atas semuanya." Pricilia mengangguk pelan dan mengangkat tangannya ke udara dengan gerakan melambai.


Setelah itu barulah Rendy pun melajukan kembali motornya membelah jalanan yang tampak lenggang. Dan terdengar sayup-sayup suara adzan yang mengalun merdu, yang terdengar di telinga mengajak setiap umat Islam untuk lebih mendekatkan diri kepada sang maha Kholik.


Rendy pun terus melajukan motornya hingga berhenti di depan sebuah masjid, dia selalu ingat kata Bunda dan papa Malik. Sedang apapun dirimu, sedang sibuk seperti apapun kamu harus memenuhi undangan sang maha kuasa. Jangan pernah sampai meninggalkannya. Itu salah satu yang selalu terkenang perkataan dari orang tuanya.


Makanya Rendy selalu berusaha untuk menjalankannya dan dia di kampus pun, termasuk seorang pemuda yang alim gak banyak tingkah, dan sederhana! tidak banyak nongkrong dan lebih banyak belajar itulah sosok Rendy.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum ... aku pulang!" setibanya di rumah Rendy pun langsung memasuki kediamannya Bunda dan papa Malik, di sana tampak sepi mungkin masih berada di atas dan menunaikan salat, sebelum mereka berkumpul di meja makan untuk melaksanakan makan malam bersama.


"Wa'alaikum salam, Den baru pulang?" Bibi menolehkan kepalanya ke arah Rendy yang sedang berdiri, sedang membereskan piring.


"Belum, Bi ... aku masih di jalan tunggu ya 30 menit lagi aku sampai!" Jawabnya Rendy nyeleneh.


"Aden ini suka aneh-aneh!" Bibi menggeleng sambil tersenyum dan melanjutkan tugasnya.


"Bunda dan papa ada, kan Bi? mobilnya ada sih di depan, jadi kurang lebih papa dan bunda pasti ada di rumah. Dan bibi tidak pernah menjawab deh apa yang aku tanyakan he he he ... kemudian Rendy pun menarik kursinya untuk dia duduki, di depan meja makan yang sudah tersedia beberapa hidangan.


"Lagian siapa juga yang mau menjawab pertanyaan Aden, Aden kan suka gitu! bertanya tapi nggak perlu dijawab atau lagi ditanya jawabnya lain. Aden-Aden ..." Lagi-lagi Bibi menggelengkan kepalanya sembari mesem lalu menyuruh asistennya untuk mengerjakan sesuatu.


"Aden bisa aja, emangnya masakan itu ada tangannya melambai-lambai! lagian aden makan aja atuh nggak usah dipandangi kayak gitu--"


"Beneran nih boleh, duh rasanya sudah berada di tenggorokan nih!" Yang kemudian Rendy pun menyambar sepotong ayam goreng lalu dimasukkan ke dalam mulutnya. Dia kunyah sembari merem melek Merapi betapa enaknya ayam goreng yang sudah tersedia di meja dan kini tengah menjadi santapan di mulutnya.


"Aku harap kamu mengerti dan bisa memahami, intinya kamu percaya sama aku. Aku nggak pernah ada main dengan wanita lain--"


"Aku percaya banget, banget percaya kalau kamu orangnya setia. Kamu sayang keluarga ... aku percaya kok, cuman aku hanya tidak ingin orang lain memandang yang tidak-tidak sama kamu, itu aja!" lirih Renita yang masih memakai mukena.


"Iya sayang, masih percaya sama aku. Kalau aku suami yang setia?"

__ADS_1


"Aku percaya itu, cuman aku hanya tidak ingin aja orang lain menganggap kamu. Melakukan yang aneh-aneh di luaran sana, kan timbulnya fitnah. Mending kalau aku percaya sama kamu, kalau nggak! bukannya rumah tangga kita juga yang akan meradang!" Renita menatap lekat pada sang suami yang masih juga duduk bersila di hadapannya.


"Aku tidak peduli dengan omongan orang, Sayang yang aku pedulikan adalah kamu sendiri yang harus selalu percaya sama aku yang tidak pernah macam-macam di luaran. Apalagi kita bekerja satu kantor, kan aku juga sering ngomong sama kamu kalau seandainya keluar ikutlah denganku! temani aku urusan apapun itu." Malik menyentuh kedua tangan Renita dan dielusnya dengan lembut.


"Tapi kan ... ada kalanya aku lagi sibuk, masa aku harus ninggalin gitu aja tugasku! hanya demi untuk menemani kamu, kan nggak etis. Justru aku tidak boleh mentang-mentang aku istri bos dengan bebasnya permainkan waktu begitu saja, kerja ya kerja suami itu di rumah! kalau di kantor ya tetap aja atasan." Renita mesem-mesin dan merasakan getaran-getaran aneh di dadanya tatkala tangannya dikecup mesra oleh sang suami.


"Aku tidak akan pernah berpaling darimu, wanita yang sangat aku cintai. Kalau aku berniat macam-macam dengan wanita lain ... nggak usah sekarang setelah aku mendapatkan mu, tapi dari dulu aja ketika kita tidak pernah bertemu apalagi bersatu, kalau seandainya sekarang aku sia-siakan seperti itu, percuma aku menunggu kamu sampai aku mendapatkannya!"


"Beneran nih gak tertarik pada wanita lain, yang mungkin lebih cantik dari aku dan seksi--"


"Seksi itu relatif dan kamu juga seksi bila di mataku, kamu itu tertutup hanya di mata orang lain saja, bukannya begitu?" Malik mengulum senyumnya dengan tangan masih memegangi kedua tangan wanitanya yang ia tempelkan di bawah dagu. "Bukannya istriku juga selalu berpenampilan seksi jika sedang berdua saja dengan ku!" Malik mengedipkan sebelah matanya.


Renita tampak malu-malu dan menundukkan kepalanya mengalihkan pandangan ke arah samping. "Sudahlah nggak usah kasih bahas itu lagi, yang intinya aku percaya sama kamu, kalau kamu nggak mungkin macam-macam di belakang ku, biarlah orang mau mengirim aku gambar apa tentang kamu dengan wanita lain. Aku nggak peduli, karena di rumah ... kamu tetaplah suami aku dan di luar aku nggak tahu!"


"Aku berjanji, bahwa sejak menikah denganmu sampai kapanpun ... aku tidak akan tergoda dengan wanita lain dan istriku Hanya satu-satunya. Apapun dan bagaimanapun ... kita akan selalu bersama yang suka maupun duka, seperti setelah berapa tahun ini kita lewati bersama!" Pandangan Malik begitu lekat ke arah sang istri.


"Tidak perlu berjanji, cukup niatkan dalam hati, dan insya Allah aku pun akan menjadi istri yang baik untuk selama-lamanya buat kamu seorang. Aku sangat menyayangimu. Akan tetapi jika suatu saat nanti kamu berpaling ataupun benar tergoda wanita lain, sebesar apapun Rasa sayangku sama kamu! aku akan mundur--"


"Shuuuutttt ...."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2