Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Semampu ku


__ADS_3

Dengan ragu-ragu Renita mengambil ponselnya entah siapa yang telepon! hatinya jadi tidak karuan jadi khawatir. Kalau yang telepon itu adalah Azam, karena rasanya dia tidak ingin biarpun hanya sekedar mendengar suaranya.


Tapi dada Renita langsung merasa lega, karena yang telepon ternyata sang adik ipar, yaitu Jefri. Mereka pun berbincang sebentar dan Jefri menanyakan soal persidangan besok yang termasuk mediasi pertama.


Kata Jefri kedua orang tuanya yaitu mertua Renita akan datang menemani Renita untuk persidangan besok.


Renita tertegun, mereka mau menemani dirinya? kan seharusnya yang mereka temani adalah Azam.


Namun kata Jefri buat apa mereka menemani Azam justru mereka mendukung perceraian Renita bersama Azam, lalu Jefri bercerita kalau setelah itu Azam tidak pernah menghubungi Jefri ataupun orang tuanya! bahkan sekarang katanya dari kabar yang Jefri dengar! Azam sudah menikah lagi tapi sama sekali Azam tidak bilang sama kedua orang tuanya apalagi memohon doa atau restu.


"Oh ... jadi mereka sudah menikah sekarang ini? baguslah berarti mereka menghindari zina." timpalnya Renita kepada Jefri di ujung telepon.


"Memang itu yang saya dengar! tapi entahlah bodo amat, Oh ya gitu aja, Mbak. Besok kita bertemu! kemudian Jefri pun menutup sambungan telepon.


Renita menyimpan ponselnya di atas nakas, dia sedikit melamun memang bagus juga kalau Azam langsung menikah dengan wanita itu. Hanya saja ... yang sangat disayangkan! kenapa Azam melupakan Rendy yang jelas-jelas darah dagingnya dari dirinya.


Sementara anak dari wanita itu diurus dan dibiayai, sedangkan Rendy jangankan dikirim uang ditanya kabar atau ketemu pun tidak, itu yang bikin hati Renita sangat Gedeg.


"Malang nian nasib mu Nak!" Renita mengusap kepalanya Rendy yang tampak lelap itu, hatinya benar-benar dibikin hancur dengan kelakuan Azam, tidak masalah jika dia tidak memberikan uang sepeser pun kepada mantan istri sebagai uang iddah, tapi Rendy itu anaknya,


"Tapi biarlah, apapun yang terjadi yang penting aku sehat bisa mencari rezeki dan keperluan Rendy pun akan aku tanggung semuanya! sebisa dan semampu ku!" Cuph kecupan hangat mendarat di kening putranya itu. Tidak terasa air bening pun menetes mengenai kening nya Rendy.


Yang buru-buru Renita hapus jangan sampai anaknya terganggu dengan tangisnya. Renita pun mengusap wajahnya dan juga setiap sudut matanya agar tidak mengeluarkan air bening. Dia benci harus menangisi semuanya.


Waktu pun sudah berganti hari dan pagi-pagi Renita sudah menyiapkan sarapan buat dirinya Rendy dan Feni, setelah sarapan barulah mereka bersiap untuk menjalankan aktivitasnya masing-masing! Renita pergi bekerja dan Feni mengantarkan Rendy ke sekolah.


"Ini buat ongkos dan ini buat Rendy bila dia mau jajan." Renita memberikan sejumlah uang kepada Feni buat keperluan ongkos pulang pergi dan buat jajan lainnya di kala dia mau.


"Oh baik," Feni menganggukkan kepalanya sembari mengambil uang dari tangan Renita.


Kemudian Renita berpamitan pada putranya kalau dia akan berangkat kerja terlebih dahulu.

__ADS_1


"Bunda berangkat dulu ya? Rendy mau perginya nanti sama Kak Feni atau mau dianterin Bunda sekarang? tapi masih pagi." Renita menatap lekat pada sang buah yang tampak sedih.


"Rendy, mau dianterin sama bunda aja sekarang! nggak apa-apa lebih pagi juga yang penting dianterin sama Bunda," jawaban anak itu yang keceriaannya berasa menghilang.


Renita menarik nafas dalam-dalam lalu melihat ke arah Feni seolah menyuruh agar Feni bersiap-siap, karena Renita akan mengantarkannya ke sekolah sekalian dia berangkat kerja.


"Nggak pa-pa kan lebih pagi? nanti di sekolahnya belum ada siapa-siapa gimana?" Renita menatap lekat ke arah Rendy yang memang tampak sangat murung.


"Tidak apa-apa Bunda, lebih pagi juga dari pada nanti berangkatnya pakai taksi dan berdua, mendingan diantar sama Bunda sekarang." Kata anak itu kembali.


Renita pun menuntun tangan Rendy yang keluar dari rumah, lalu mengambil motor dari garasi.


Kedua manik mata Rendy yang bening mendapatkan motor sang Bunda berasal baru.


"Bunda ... motornya ganti ban ya?" Kedua manik mata Rendy meneliti motor sang Bunda.


"Iya sayang, ban nya diganti! udah yuk? kita naik! berangkat sekarang, nanti Bunda kesiangan lho." Renita mengangkat tubuh Rendy lalu dia dudukan di depan.


Renita melajukan si roda dua, setelah Feni duduk di belakang. "Pintunya sudah dikunci kan?" tanya Renita kepada Feni.


Selang berapa puluh menit di jalanan, akhirnya Renita pun tiba di depan sekolahnya Rendy lalu dia langsung menurunkan putranya sembari berpesan. "Belajar yang baik, jangan nakal dan jadilah anak yang pintar! oke?"


"Iya Bunda!" Jawab anak itu seraya mencium punggung tangan sang Bunda.


Renita kemudian melajukan kembali motornya. Setelah dia bicara sedikit dengan Feni.


Motor kesayangan Renita meluncur menuju kantornya seorang Malik. Dan di kantor sudah ada orang-orang yang kemarin mau melamar kerjaan, kemudian Renita pun langsung menerima mereka di ruangannya dan mewawancarai ulang.


Setelah melewati wawancara ataupun testing yang sangat menegangkan, akhirnya mereka pun Renita terima dipekerjakan hari ini juga.


Membuat wajah-wajah yang tadi sangat menegang kini mencair dan tampak gembira, tidak lupa berterima kasih kepada Renita selaku HRD di sana.

__ADS_1


"Terima kasih, Bu ... terima kasih banyak kata sala seorang sembari mengulurkan tangan dan bersalaman dengan Renita.


"Sama-sama, semoga kalian semua betah bekerja di sini dan bekerjalah dengan baik, buktikan kualitas juga kuantitas kerja kalian semua pada perusahaan ini." Balasnya Renita dengan senyuman penuh penyemangat.


"Baik, Bu ... sekali lagi terima kasih karena kami sudah diterima dan dikasih semangat!" ucap orang-orang yang berwajah gembira tersebut.


"Huuh ..." Renita menghembuskan nafas dengan sangat panjang melalui mulutnya, setelah mereka keluar dari ruangannya.


Kemudian Renita mulai beraktivitas, atau mengurus pekerjaan yang ada di meja. Tenggorokannya yang terasa kering dan panas ... membuat Renita meminta office boy untuk membawakannya minum.


"Makasih Mas!" ucap Renita seraya tersenyum pada office boy yang mengantar minumnya.


Sesekali Renita melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Karena dia ingin menghadiri sidang pertamanya. "Ya Allah ... semoga lancar persidangannya nanti."


"Siang, kau masih di sini?" suara itu mengagetkan Renita yang sedang serius bekerja.


Kepala Renita menoleh ke sumber suara di mana pria itu berdiri di depan pintu lalu berjalan menghampirinya. "Sebentar lagi aku akan pulang dan aku akan langsung ke pengadilan karena lawyerku sudah ada di sana!"


"Ooh gitu! pergi saja bersama ku!" tawarnya Malik sembari mendudukan dirinya di hadapan Renita.


"Maaf, untuk kali ini aku nggak bisa. Karena khawatir akan menjadi fitnah dan menimbulkan pemikiran yang aneh-aneh, kalau mau ke sana datang saja dan aku akan pergi ke sana dengan motor ku, kuharap kau mengerti bukan aku menolak kebaikanmu!" ucapnya Renita sembari membereskan berkas yang berada di meja, kemudian dia berdiri berniat untuk menghadiri persidangan.


Malik sejenak terdiam sembari menetap ke arah Renita beserta pergerakannya dan dia cukup mengerti dengan alasan yang diberikan oleh Renita tersebut.


"Ya. Aku cukup mengerti dengan alasan mu itu, oke. Semoga semua berjalan dengan lancar dan nanti aku akan menyusul," kata Malik sembari menganggukan kepalanya.


"Oke, makasih atas pengertiannya dan permisi!" Renita berlalu dari pandangan Malik yang masih terduduk di tempat semula.


Beberapa saat kemudian Malik pun beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Renita.


Renita membawa langkahnya yang begitu cepat menuju sebuah parkiran staf dimana motornya pun berada di sana, tidak lupa dengan menggunakan helmnya Renita langsung menaiki dan menghidupkan si roda dua tersebut ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Like nya ya dan juga dukungan lainnya, agar aku tambah semangat nih ... makasih


__ADS_2