
Malik menggelinjang, begitupun dengan Renita sangat kaget ketika terlihat kenop pintu itu bergerak, pertanda ada yang mendorong dan ingin membukanya mana pintunya nggak dikunci lagi.
Mereka tidak sempat untuk mengunci pintu, dikarenakan Malik terus merengek dan sulit Renita kendalikan. Oleh karena itu Renita berusaha untuk mencari cara untuk membuatnya tenang.
Untung saja Malik sudah mulai tenang dan hasrat nya yang meronta sudah tersalurkan. Dia buru-buru mengenakan pakaian dalam nya dan segera berlari ke kamar mandi.
Sementara Renita merapikan pakaiannya. Pas ada yang masuk. dia sudah rapi.
Yang datang adalah ibu mertuanya yang tiada lain adalah Bu Amelia dan di belakangnya orang tua Azam dan dia mau berpamitan.
"Ibu mau pulang dulu ya, yang anteng bayinya dan sehat juga baik dan ibunya! maaf ya Ibu nggak bawa oleh-oleh ke sini nya juga!" ucap ibunya Azam.
"Ya ampun Bu ... makasih atas kedatangannya juga, aku nggak berharap ibu membawa oleh-oleh apapun! Ibu ke sini aja aku sudah senang!" Renita memeluk wanita sepuh tersebut.
"Maksud Ibu ... tidak seperti orang lain bawa sesuatu yang mahal atau apa--"
"Dengan datang saja, aku sudah senang. Bahagia! apalagi dengan doanya yang Ibu berikan, makasih banyak," ucap kembali Renita pada sang ibu mertua.
Setelah itu ibunya Azam pun kembali keluar setelah memandangi sang baby dengan senyuman bahagianya.
Bu Amelia yang tidak jauh-jauh dari baby Alena terus saja memandangi wajahnya yang semakin mirip dengan Malik, putranya. Tampak sekali dia merasa gemas.
Malik baru saja keluar dari kamar mandi dan mendapati di kamar itu ada ibunya dan juga sang istri yang tengah menyiapkan pakaiannya, Ia berjalan mendekati sang istri.
Dan setelah berpakaian ... Malik tampak rapi dan juga segar. Dia keluar dari kamar itu yang entah mau kemana.
Tinggallah Renita dan ibu mertua yang menunggui baby Alena bangun.
...----------------...
Azam sedang nongkrong di sebuah warung kopi. Dan sering kalai kedua netra matanya menemukan sebuah pemandangan yang bikin dia terharu dan juga terpesona. kagum dengan kegigihannya dan semangat yang dimiliki.
Seorang wanita yang duduk di kursi roda namun dengan penuh semangat dia menjadi pelayan warung kopi tersebut. Demi melanjutkan hidup katanya dia yang tidak ingin tergantung sama siapapun.
Namanya Rosita! wanita cantik yang mengalami kelumpuhan dari beberapa tahun silam dan dia ditinggalkan oleh suaminya karena kondisinya tersebut. Karena dia tidak ingin menyusahkan orang lain ataupun orang tuanya dia lebih memilih bekerja apapun. Demi melanjutkan kehidupannya yang harus tetap berjalan.
"Maaf Mas, warungnya mau tutup, sudah pukul 09.00 malam!" kata Rosita kepada Azam yang masih betah juga di sana sambil menikmati secangkir kopinya.
"Oh iya, sebentar saya habiskan dulu ya?" lalu Azam meneguk kopinya sampai habis. "Berapa Neng kopinya dengan cemilannya juga!"
__ADS_1
Setelah menghitung nominalnya, pun diucapkan oleh Rosita kepada Azam. "Semuanya rp20.000 Mas."
Kemudian Azam pun merogoh sakunya mengambil dompet dan mengeluarkan uang sebesar rp50.000.
Rosita pun langsung mengambil kembaliannya. "Ini kembaliannya, Mas rp30.000!"
"Kembaliannya ambil saja, Neng. Lagian Mas juga sering ke sini!" ucapnya Azam sambil tersenyum tulus.
"Oh tidak usah, Mas. Ambil saja kembaliannya! dengan l membayar pokoknya saja sudah Alhamdulillah kok." Tolaknya Rosita.
"Tidak apa-apa, itu kembaliannya buat Neng aja, kan yang pokoknya milik warung!" Azam tetap tidak mau mengambil kembaliannya yang sudah dia niatkan untuk wanita cantik itu.
"Beneran Mas ikhlas, tidak apa-apa kan?" Rosita meyakinkan dirinya.
"Tentu saya ikhlas, kalau nggak ikhlas ya nggak akan diberikannya." Timpalnya Azam sembari berdiri hendak keluar dari orang tersebut.
Yang kebetulan tempat tersebut sudah sepi dan tinggal Azam saja yang belum keluar.
"Neng Rosita, yang tutup warung nya biar Ibu saja! Neng silakan pulang, nanti pulang nya keburu malam!" kata si ibu warung kepada Rosita.
Azam yang baru saja berapa langkahnya dari area tersebut membalikan tubuhnya dan melihat ke arah Rosita.
"Neng, mau pulang ke mana? jauh ya dari sini!" tanya Azam yang masih berdiri di luar warung.
Rosita menoleh dan menatap Azam dengan intens. "Tempat tinggal ku tidak jauh kok dari sini, hanya beberapa rumah saja dari warung ini!"
"Em ... tidak harus naik kendaraan gitu?" selidik kembali Azam sembari menoleh ke arah tempat yang ditunjuk oleh Rosita.
"Oo ... tidak Mas, cuman berapa rumah kok yang harus aku lewati!" jawabnya wanita cantik tersebut.
"Oh, boleh saya temani?" ucap Azam kembali sembari mengayunkan langkahnya seiring dengan wanita yang masih muda tersebut memutar roda kursinya.
Melewati sebuah jalan gang yang tidak terlalu luas. Dan Rosita hanya tersenyum sembari terus memajukan kursi rodanya.
"Kalau boleh tahu usia kamu berapa tahun?" Azam mulai menyelidiki.
"Usiaku 25 tahun, Mas. Emangnya kenapa?" Rosita balik bertanya.
"Nggak ... cuma nanya doang dan sejak kapan kamu seperti ini?" tanya ajam kembali.
__ADS_1
Rosita sejenak menghentikan kursi rodanya dan menolehkan kepala yang sedikit mendongak ke arah Azam yang berjalan di sampingnya. "Sekitar 8 tahun sih Mas ... akibat kecelakaan!"
Azam semakin tertantang untuk menyelidiki kisah hidup wanita muda dan cantik tersebut. "Apa tidak diobati! maksud saya apa tidak ada harapan kembali sembuh?"
Kepala Rosita menggeleng seraya berkata. "Sepertinya nggak ada harapan lagi Mas. Sudah tapi karena mungkin ... sudah takdirnya seperti ini! dan saya masih bersyukur! bahwa saya masih diberi kesempatan untuk hidup."
Azam memandangi wanita tersebut yang tampak pasrah dengan kondisinya sekarang dan juga bersyukur dengan apa yang di dapatkan. "Apa kamu bersuami?"
"Suami saya menceraikan saya di saat tahu kondisi saya yang menjadi lumpuh seperti ini, Mas. Itu bertepatan dengan setelah berapa bulan menikah!" ungkap Rosita sambil menerbitkan senyuman di wajahnya.
"Punya anak?" tanya Azam kembali.
Lagi-lagi Rosita menggeleng. "Tidak, kami belum punya anak. Dan saya bersyukur dengan cepat Tuhan menunjukkan siapa dia yang ternyata bukan jodoh yang terbaik buat saya! sebab jika memang terbaik dia tidak mungkin meninggalkan saya di saat saya terpuruk dan kecelakaannya pun sama dia! cuma saya yang mengalami kepatalan."
Azam menggelengkan kepalanya, tidak menyangka kalau wanita cantik seperti dia mengalami sesuatu yang buruk dan nasibnya tidak sebaik dengan wajah yang dia miliki.
"Saya tidak ingin tergantung hidup sama keluarga ataupun siapapun, makanya saya lebih memilih untuk bekerja apapun yang bisa saya lakukan yang penting saya tidak merepotkan orang tua khususnya!" tambahnya Rosita sambil melajukan kembali kursi rodanya.
Dan kini kedua tangan Azam mulai sedikit mendorong kursi roda Rosita dari belakang. "Jujur saya salut dengan kamu, dengan keadaan apapun kamu sangat bersemangat untuk berjuang. Untuk melanjutkan hidup!"
"Hem ... apa yang pantas disalut kan Mas? saya hanya berusaha untuk meneruskan hidup tanpa harus menyusahkan orang lain, karena suami yang semulanya saya harapkan bisa menemani hidup saya dalam keadaan apapun ... ternyata meninggalkan," sambungnya Rosita.
"Ya salut aja, kamu seorang wanita yang kuat ... yang hebat mampu melewati ini semua dan kamu sangat semangat untuk menjalani hidup, sebenarnya dari agak lama sih saya memperhatikan kamu!" ungkapnya Azam.
"Sudah sampai, Mas. Terima kasih Mas sudah menemani saya!" ucapnya Rosita sembari menghentikan laju kursi rodanya tersebut.
"Emang tempat tinggal mu yang mana?" Azam menatap jajaran rumah petak yang ada di hadapan mereka berdua.
"Yang ini. Mas, tempat tinggalku sama keluarga yang terdiri dari ibu aku yang sudah sepuh dan adik aku!" Rosita menunjuk pintu yang berwarna cat kayu.
"Ini kontrakan bukan?" selidiknya Azam sambil menatap daun pintu tersebut.
"Iya benar memang ini kontrakan, tapi sudah belasan tahun aku tinggal di sini," Rosita mengangguk.
"Ros, masuk? ngapain kamu mengobrol di luar tidak baik!" seorang ibu dari balik jendela. Yaitu di dalam rumah yang katanya kediaman Rosita.
Azam menoleh kepada Rosita yang terdiam menatap ke arah daun pintu ....
.
__ADS_1
Bersambung.