Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Menenangkan diri


__ADS_3

Kini mereka sudah selesai makan malam dan Rendy tampak sangat kekenyangan sehingga berbaring di atas sofa sambil menonton televisi dengan acara kesukaannya.


Renita pun langsung membereskan bekas makan mereka bertiga dan mencucinya di wastafel.


"Sayang, aku ingin bicara sesuatu!" Malik menghampiri sang istri yang sedang mencuci perabotan.


"Emang mau bicara apa? serius amat," selidiknya Renita.


"Sayang, mungkin aku stress kali ya? pusing dengan semua permasalahan yang ada, sehingga dokter menyatakan kalau aku kurang subur! makanya aku kira buluk juga punya keturunan, program bayi tabung pun belum juga ada hasilnya." Ujarnya Malik kembali menatap ke arah sang istri.


Renita menyudahi aktivitasnya lalu berbalik melihat ke arah Malik. "Soal itu kan ... aku sudah tahu dari kemarin, memang kata dokter juga seperti itu kalau kamu kurang subur!"


"Tapi kan berapa waktu lalu hasil dokter aku normal saja, subur dan nggak ada masalah!" timpalnya Malik dengan nada lesu.


"Iya kan kita hanya bisa berusaha dan Tuhan juga yang menentukan, kenyataan itu tidak selalu sesuai dengan ekspektasi!" lirihnya Renita seraya melanjutkan kembali aktivitasnya, karena masih ada dua gelas yang tersisa yang belum dicuci.


"Em ... maksud aku jadi masalahnya ada di diriku. Bukan kamu!" tambahnya Malik dengan suara yang tetap lembut.


Renita mencuci tangannya lalu mengelap dan mengeringkannya, kemudian dia berbalik dan berhadapan dengan Malik yang berdiri dan menempelkan sedikit bokongnya di ujung meja makan.


"Terus? bukannya Mama ingin mencari wanita yang siap mengandung anak kita? atau bila perlu kamu menikahi wanita itu!" ungkapnya Renita dengan nada kesal dan cemburu.


"Kenapa bilang begitu sayang?" Malik menatap heran pada sang istri.


"Iya kan seperti itu kata Mama juga, dia akan mencarikan mu wanita yang siap mengandung anak kita berdua! yang siap ditanam benih kita berdua di rahimnya atau bila perlu wanita itu dinikahkan sama kamu jadi kalau dai hamil anak kamu dan dia!" sambungnya Renita kembali sambil melipat tangannya di dada serta tatapan yang tanpa ekspresi pada Malik.


"Itu tidak mungkin sayang, apalagi untuk menikahi wanita lain itu tidak mungkin, karena masalahnya tetap ada pada diriku!" Malik menimpali perkataan dari sang istri.


"Kalau menurut aku ya! kamu jangan banyak pikiran biar nggak stress dan lebih memenangkan diri. Sebab pada kenyataannya kita happy pun belum ada hasilnya Apalagi kita stress! mungkin hasilnya akan lebih nihil!" ujarnya kembali Renita dengan suara yang agak bergetar. Dia memang merasa kesal, marah dengan keadaan ini tapi Renita tidak ingin terlalu menunjukkannya pada sang suami.

__ADS_1


"Gimana nggak stress? gimana nggak pusing sayang? kalau setiap hari terus itu aja yang ditanyain! seakan-akan tidak ada kata-kata lain yang dapat aku dengar dan dibicarakan--"


"Kamu merasa pusing dan stress! apalagi aku yang mentalnya cuman perempuan yang lebih lemah! kamu aja yang laki-laki yang seharusnya lebih, kuat bisa terganggu seperti itu." Renita merasa ada jalan, untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan juga.


Sehingga akhirnya memilih untuk menangkan diri ke rumah ini, bukannya nggak betah di rumah suami! tapi nggak betah dengan suasananya yang terus itu-itu saja yang dibahas.


Malik menundukkan pandangannya, mengatupkan bibirnya. Dia terdiam seiring pikirannya yang berjalan dan berputar, ia baru menyadari kalau istrinya juga pasti merasakan hal-hal yang sama.


Lantas Malik mengangkat wajah, menatap wajah sang istri yang tanpa gelisah dan gusar! entah sedang melihat ke mana. "Aku minta maaf! mungkin aku baru menyadari kalau kamu juga pasti banyak pikiran dan stress! menghadapi mama yang terus menekan dan menyudutkan kalau kita harus mempunyai anak."


Renita menggerakan manik matanya melihat ke arah Malik. "Memangnya selama ini. Kamu nggak sadar! kalau di sana aku tertekan! tersudutkan seolah-olah aku ini yang paling bersalah, dianggap aku ini mandul. Terus kalau aku mandul, Rendy itu dari mana? dia dari rahimku lho ... bukan anak ngambil dari orang lain!"


Malik semakin mendekat dan mengeluh punggungnya sang istri. "Aku minta maaf sayang! aku minta maaf, jika selama ini kamu tertekan dengan omongan yang mama."


"Sebelumnya nggak ada masalah sih sama mama, mama juga sangat penyayang! cuman masalah itu dia ... kekeh inginkan cucu! sehingga terkadang tidak mengontrol cara bicaranya!" ungkapnya Renita sembari membalas pelukan dari sang suami.


"Aku sih pengen ngasih kamu keturunan, tapi gimana jika belum juga dikasihnya! sementara usaha pun sering kita lakukan, kan ..." Renita menggantung ucapannya.


"Sekali lagi aku minta maaf sayang, jika aku kurang pengertian. Sama istri ku ini. gimana kalau kita pergi aja yuk? bulan madu ke tempat yang jauh yang hanya ada kita berdua Dan juga Rendy!" seru nya Malik.


"Di sini juga tempatnya tenang, adem dan untuk saat ini hanya ada kita bertiga saja. Bulan madu itu kan ... membutuhkan waktu yang agak banyak! sementara di kantor sedang sibuk," balasnya Renita sambil mendongak menatap wajah sang suami.


"Hayo ... kalian lagi apa? pacaran ya? awas lho ... pacaran itu pihak ketiganya setan!" tiba-tiba suara itu muncul dari arah belakangnya Malik.


Membuat keduanya memudarkan rangkulan satu sama lain dan menoleh kepada Rendy yang sedang menatap dengan tatapan yang mengantuk beras menyunggingkan bibirnya sekilas.


"Rendy sepertinya Reni sangat ngantuk ngomong! kamarnya Sudah Bunda bereskan kok!" pinta Renita kepada anaknya agak segera tidur.


"Iya nih, Rendy ngantuk banget, pengen bobo. Ya lanjutin aja deh pacarannya!" detik kemudian Randy pun berjalan menuju kamarnya. Meninggalkan sang Bunda bersama suaminya.

__ADS_1


Malik menunya pasang istri sembari menginginkan senyuman bibirnya. "Putra kita aja ngerti kalau bunda sama papanya ingin berduaan saja."


Renita menggelengkan kepalanya, lalu dia membersihkan meja makan yang belum sempat dia bersihkan sebelumnya.


"Sayang yo kita bobo? kita lepaskan semua kebenaran dan juga rasa stress yang menyiksa di kepala ini. Kita akan menciptakan suasana yang begitu tenang ... nyaman. Kita akan membangun suasana yang lebih mengasyikkan Siapa tahu ada keajaiban!" ucap Malik sambil mulai tangannya wanita serta diajaknya masuk ke dalam kamar.


Setelah sebelumnya mematikan lampu terlebih dahulu, yang berada di ruang tengah tersebut.


Selanjutnya, Malik pun menciptakan suasana yang begitu tenang dan nyaman. Perlahan namun pasti, Malik memulai permainan dengan begitu santainya.


Keesokan harinya Renita menyiapkan sarapan dari Indomie alias seadanya! buat mereka bertiga sarapan sebelum memulai aktivitas pada hari ini.


"Sarapannya seadanya aja ya? nanti siang sebelum pulang baru mau belanja!" ucapnya Renita sembari menuang mie goreng ke dalam piringnya Malik dan juga Rendy.


"Memangnya mau pulang lagi ke sini?" Malik menatap wajah sang istri yang tampak mengangguk pelan.


Rasanya Renita ingin mengatakan kepada Malik, kalau dia ingin sementara waktu tinggal di rumah ini. Namun yang pemberani untuk mengatakannya pada sang suami.


Lagian Malik pasti berpikir ... seandainya orang tuanya ternyata kembali dari kampung, berarti di rumah itu berdesak-desakan sementara di rumah itu hanya ada tiga kamar saja.


Beda dengan rumahnya yang di sana besar dan luas!


"Aku sih tidak apa-apa, jika sayang ingin tinggal di sini untuk sementara waktu, ya anggap saja untuk menenangkan diri. Tapi ... jika sayang tinggal di sini aku pun pasti pulang ke sini." Tambahnya Malik sembari meneguk minumnya.


Renita menatap senang ke arah Malik, pria itu mengijinkan dirinya untuk tinggal di rumah tersebut. Walau untuk sementara waktu, sudah cukup membuat Renita bahagia ....


.


Jangan lupa meninggalkan jejaknya ya, agar aku tambah semangat ... terima kasih sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2