Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Baik


__ADS_3

Kini Azam dan Rendy tengah menikmati mie rebus buatan Rosita, dan mereka sangat menikmati masakan Rosita.


"Em ... nyamy ... enak sekali masakan Tante! aku suka," gumamnya Rendy seraya menoleh ke arah Rosita dengan tangan yang mengaduk-aduk mie rebus yang ada di hadapannya.


"Gimana tidak enak, 'kan bumbu sudah ada takaran dari sananya!" jawabnya Rosita sembari dia pun menyuapkan mie nya ke dalam mulut.


"He he he ... iya sih, tapi tetap aja beda! Oh ya Tante ... boleh aku bertanya?" anak itu tampak serius sembari mengunyah mie di mulutnya.


Rosita menoleh pada Azam yang merasa heran apakah gerangan yang akan menjadi pertanyaannya Rendy.


"Apa itu, emang mau bertanya apa?" selidiknya Rosita yang menatap lekat wajah pria kecil tersebut.


"Kalau boleh tahu ... Tante sejak kapan sudah di kursi roda? dari kecil kah atau masih baru-baru ini kah?" Rendy dengan polosnya menanyakan hal itu kepada Rosita.


Lagi-lagi Rosita menoleh ke arah Azam yang seakan berhenti mengunyah, mendengar pertanyaan dari putranya tersebut yang takutnya Rosita merasa tidak nyaman ataupun tidak enak hati.


"Ooh Tante mulanya ... duduk di kursi roda ini dari berapa tahun silam setelah Tante kecelakaan, jadi ketika Tante masih kecil tidak seperti ini!" Rosita menjawab dengan santai.


"Oh ... oh gitu ya, karena kecelakaan! apa Tante nya sudah berobat?" selidiknya Rendy sambil terus menikmati mie rebus nya.


"Sudah. Tante sudah berobat tapi hasilnya tetap seperti ini dan ... Tante rasa ... mungkin sudah takdir Tante yang harus seperti ini, Tante terima dengan lapang dada, dengan ikhlas. Karena kita tidak tahu rencana Allah Seperti apa? manusia hanya bisa menjalaninya saja!" ungkap Rosita kembali.


"Kasihan sekali ya Tante! terus tante bekerja juga dengan menggunakan kursi roda! seperti barusan masak mie!" Rendy kembali menyelidiki.


"Ho'oh. Seperti yang kamu lihat! Tante mengerjakan semua pekerjaan dengan memakai kursi roda 'kan Tante tidak kuat lama berdiri dan juga tidak bisa berjalan." Tambahnya Rosita dengan tetap menunjukan wajahnya yang ramah.


"Kasihan banget. Tante, tapi Tante sangat bersemangat ya? untuk menjalani hidup bahkan Tante mau bekerja di warung kopi--"


"Tante bukan cuma kerja di warung kopi lho. Warung kopi kan sore bukanya! jadi ketika pagi sampai siang tante bekerja mencuci juga menyetrika pakaian punya orang, ya ... lumayan lah buat kebutuhan sehari-hari!" ceritanya Rosita.

__ADS_1


Azam yang sedang makan hanya mendengarkan, menyimak obrolan dari Rosita dan Rendy yang terus mengobrol dan tampak nyambung. Azam pun menyudahi makannya karena memang sudah tinggal mangkuknya saja! lalu kemudian dia melihat ke arah jarum jam yang berada di tangannya. Jarumnya sudah menunjukkan setengah sepuluh malam, tidak terasa juga berada di sana berasa sangat sekejap.


"Rendy ... sudah malam, Nak. Kita pulang yuk? lain kali kita main lagi, habiskan dulu makannya. Itu telornya belum di makan, kata Papa Malik juga jangan terlalu malam istirahatnya! terus Rendy mau pulang ke tempat Bunda atau ke apartemen Papa?" Azam menatap ke arah putranya.


Rosita yang mendengar perkataan dari Azam jadi bertanya-tanya. Dia tahu Rendy adalah putranya Azam tapi kenapa menyebut-nyebut nama papa yang lain dan juga bunda, Rosita menjadi sedikit kebingungan.


Rendy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Em ... pulang ke tempat Bunda aja lah!" anak itu pun menghabiskan sisa mie dalam mangkoknya.


Lalu Rendy menoleh ke arah Rosita. "Tante. Makasih ya atas hidangannya?"


"Kok Makasih sih! semua yang Tante masak 'kan yang bawa kalian berdua! Tante cuman masakin doang!" Rosita sembari menunjukan tersenyum.


"Iya sih ... tapi kan Tante sudah repot-repot masakan untuk kita, ya udah Rendy mau nyuci dulu!" anak itu bangkit lalu membawa mangkok bekasnya dan papanya ke wastafel dan langsung mencucinya.


"Ja-jangan. Biar Tante saja nanti yang mencuci!" Rosita merasa tidak enak. Namun tangan Azam memberi isyarat agar membiarkan Rendy untuk mengerjakannya.


"Ta-tapi," gumamnya Rosita kembali.


"Aku jadi tidak enak!" Rosita menatap Rendy.


"Tidak apa-apa! dia sudah biasa!" timpalnya Azam kembali.


"Oh ya, aku penasaran. Emang Rendy tinggal sama siapa? bukannya Rendy putranya, Mas?" Rosita memberanikan diri untuk bertanya daripada semua pertanyaan membludak di dadanya.


"Iya benar, Rendy putraku! tapi dia tinggal sama bundanya dan papa sambungnya! aku paling mengajaknya sekedar bermain atau jalan-jalan." Azam menjawab pertanyaan dari Rosita.


"Mak-maksudnya, Mas. Sudah pisah dengan istri Mas dan dia sudah menikah lagi gitu?" Rosita kembali menyelidiki dan hatinya terus dibuat penasaran.


"Itu betul sekali. Dia sudah menikah lagi dan Rendy memang tinggal bersamanya, Aku juga pernah menikah lagi tapi nggak lama!" akunya Azam.

__ADS_1


Rosita menganggukkan kepalanya, dia mulai mengerti kalau Azam itu seorang duda punya anak yaitu Rendy dan Rendy sendiri tinggalnya sama bundanya.


Kemudian mereka pun berpamitan setelah Rendy selesai mencuci bekas makannya.


"Makasih ya Ren ... sudah sedih mencuci piringnya! padahal Tante sudah bilang biar aja nanti tata yang cuci--"


"Tidak apa-apa, Tante. Lagian cuman sedikit. Aku pulang dulu ya lain kali kita ketemu lagi." Reni berpamitan kepada Rosita yang lalu kemudian menyusul sang ayah yang sudah berada di teras.


Rosita pun menjalankan kursi rodanya untuk mengantar mereka ke teras. Tangannya pun melambai ke arah mereka berdua.


"Assalamu'alaikum ... cepet sembuh ya? biar dapat bekerja kembali!" ucapnya Azam tersenyum ke arah Rosita.


"Wa'alaikum salam ... makasih ya Mas ... atas kehadirannya dan juga oleh-olehnya! yang ada hanya merepotkan!" Ungkapnya Rosita.


Lalu kemudian mereka pun berjalan meninggalkan tempat tersebut. Rosita tetap berdiri di tempat sampai hilangnya Azam dan Rendy dibalik kegelapan dan jalan yang belok.


Azam dan Rendy semakin mempercepat langkahnya agar segera sampai di mobil mereka. Dan malam semakin larut! Azam harus mengantarkan Rendy ke rumah Renita dengan lebih cepat.


Sesaat kemudian Azam pun melarikan roda empatnya itu setelah keduanya duduk di dalam mobil yang tidak lupa mengenakan sabuk pengaman.


"Tante Rosita baik ya? Pah, ramah. Dan dia sangat gigih menghadapi kehidupan, sangat tinggi. pokoknya Rendy suka deh, Oh ya dia nggak punya Putra ya?" Rendy menoleh pada sang ayah.


Azam menggelengkan kepalanya seraya berkata. "Setahu papa sih ... nggak! dia menikah sebentar saja. Belum sempat punya anak lalu kecelakaan dan suaminya meninggalkan."


"Oh begitu ya!" gumamnya Rendy sembari menyandarkan punggungnya ke jok belakang. kedua matanya terasa sepet ngantuk ditambah lagi perut kenyang.


Azam menoleh sesaat ke arah Rendi yang terdiam dan tidak lagi mengeluarkan suaranya. Kedua netra mata anak itu tampak terpejam. Mungkin dia kecapean. Kedua sudut mata Azam melengkung membentuk senyuman, lalu kembali fokus menyetir dengan tujuan ke kediamannya Renita dan Malik.


Cekittttt ....

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2