
"Bunda-Bunda ... aku mau makannya sama telur aja gak mau sama ayam!" Rendy malah menukarkan ayam dengan telur miliknya sang bunda.
Kemudian mereka pun mulai menikmati makan siangnya dengan sangat lahap biarpun hati dan pikiran Renita sedang kacau karena suaminya tidak ada kabar sama sekali jangankan datang kasih kabar pun tidak.
"Jadi Mas Azam tidak ngasih kabar sama Mbak soal dia tidak datang, dengan alasannya apa gitu?" tanya Jefri sambil makan.
Renita melirik ke arah Rendy yang mendongak, dan Renita memberi kode kepada Jefri kalau dia nggak mau membicarakan Azam di hadapan putranya.
Azam mengerti dan dia tidak meneruskan pembicaraannya tersebut, dia kembali meneruskan makannya sampai tandas.
Setelah merasa istirahat nya cukup, akhirnya Jefri bersiap kembali menjalankan motor Renita dan memulai perjalanannya untuk menghantarkan sang kakak ipar dan keponakan ke rumahnya.
Setelah melakukan perjalanan yang lumayan panjang, akhirnya mereka tiba juga di kediaman Renita yang tampak sepi sunyi bagai tak ada penghuninya.
Renita membuka helmnya lalu memandangi ke arah rumah tersebut, jendela yang masih tertutup dan tentukan pintu masih dikunci, soal kunci dia punya kunci cadangan.
Kedai manik mata Renita melihat ada tetangga yang keluar dari rumahnya, dan langsung menyapa pada Renita.
"Eeh Jeung Renita baru pulang?" sapa seorang tetangga dengan ramahnya.
"Iya mbak baru pulang, kok ini masih ditutup jendelanya kayak nggak ada orang saja di dalam!" Renita menunjuk ke arah jendela rumahnya.
"Lho, bukannya Mas Azam juga ikut ke sana, makanya rumah ini pintunya juga nggak pernah terbuka, jendelanya dari kemarin lusa itu. Di kira mas Azam menyusul jenuh Renita, makanya rumah ini sepi, kosong tak ada penghuninya."
"Ha? dari kemarin lusa tidak ada, emangnya mas Azam gak pulang?" tanya Renita.
"Ya ... kayaknya ada pulang hari Sabtu sore kalau gak salah, lalu dia pergi lagi kenapa gak barengan ya pulangnya? pergi berdua pulang juga berdua gimana sih?"
Renita sejenak terdiam sembari menoleh ke arah Jefri yang juga menatap ke arah dirinya, lalu kemudian Renita pun membuka kunci pintu dan mereka masuk Segera. tidak lupa Renita berpamitan dan terima kasih kepada Ibu tetangga.
__ADS_1
"Terus Mas Azam ke mana, Mbak kalau dia gak ada di rumah ini?" tanyanya Jefri sembari mendudukan dirinya di atas sofa.
Sementara Rendy berlari ke dalam kamarnya. Membuat Renita merasa leluasa untuk mengobrol dengan Jefri.
"Kayaknya ... dia pulangnya hari Sabtu saja dan hari Minggu sampai sekarang dia tidak pulang!" Gumamnya Renita dengan pandangan yang menerawang.
Pikiran Renita tertuju pada suatu tempat, pasti suaminya pulang ke rumah si janda itu.
"Terus dia pulang ke mana? ke tempat kita nggak ada, di rumah sini juga nggak ada!" Jefri menatap penasaran pada sang kakak ipar.
"Entahlah. Em ... gimana kalau sebentar lagi Jefri antar Mbak! kita melihat dan cari informasi ke rumah janda tersebut yang namanya Sharon."
"Ceweknya namanya Sharon, Mbak?" tanya Jefri yang langsung di respon oleh Renita dengan anggukan.
"Tapi kita jangan bertindak dulu, kita ke sana hanya untuk melihat-lihat aja atau cari informasi sedikit demi sedikit, nanti bila sudah pasti ... baru kita akan memikirkan tindakan apa yang harus kita ambil." Jelasnya Renita. Kemudian dia beranjak membuatkan minuman untuk dirinya dan Jefri.
"Baik mbak aku akan menuruti kata-kata Mbak. Aku juga penasaran, apa benar semua itu. kalau memang iya ... sungguh kurang ajar mas Azam. Emangnya dia mencari yang gimana lagi sih?" terlihat rahang Jefri mengerat dia merasa geram kalau memang sang kakak mempunyai wanita lain.
"Tapi Mbak bingung--"
"Bingung kenapa, Mbak?" tanya Jefri menatap heran ke arah Renita.
Apa Rendy harus kita bawa? karena selama ini kalau Mbak jalan, Mbak biarkan Rendy sama adik Mbak. Nggak pernah dibawa sekarang gimana?"
"Ya ... kalau nggak memungkinkan untuk dititipkan, ya bawa aja nggak kenapa-napa, Mbak. Lagian anak itu nggak akan ngerti juga!" Jefri memberi solusi kepada sang kakak ipar yang merasa kebingungan soal putranya, Rendy.
"Em ... baiklah kalau begitu, hari ini kita ajak saja." Renita pun mengangguk kemudian dia membawa tas dan barang-barang nya ke dalam kamar.
"Oh iya, Jefri kalau kamu mau istirahat dulu istirahatlah di sofa. Mungkin kamu mau tidur dulu biar nanti kalau sudah nggak capek kita berangkat ke sana!" ucapnya Renita sembari menoleh kepada sang adik ipar yang wajahnya lumayan rupawan dan manis.
__ADS_1
Setelah beberapa waktu kemudian Renita dan Jefri pun bersiap untuk pergi. Tentunya Rendy pun diajak! nggak mungkin ditinggalin apalagi sama tetangga, nggak enak juga.
"Emang kita mau ke mana sih?" tanya Rendy sambil mendongak ke arah Om dan bundanya.
"Kita mau jalan-jalan!" jawabnya Jefri sembari mengenakan helmnya.
"Oh ... kita mau jalan-jalan katanya om Jefri mau ke rumah temennya, Rendy mau ikut? apa mau bermain di tempatnya Shila?" sang Bunda menatap ke arah Rendy yang menawarkan kalau anak itu bermain saja di tempat Shila anak tetangga.
Namun Rendy menggeleng, dia tidak mau apalagi takut Bundanya lama katanya. "Wah ... Rendy mau ikut sama Bunda sama Om, takut lama-lama!"
"Ya sudah, kalau begitu ikut saja!" Renita pun menuntun tangan Rendy ke teras mendekati motornya yang sudah mulai dipanaskan oleh Jefri.
Setelah memastikan pintu rumah dikunci. Mereka pun berangkat menuju suatu tempat yang menjadi petunjuknya adalah Renita.
"Mbak yakin dan masih ingat dengan alamatnya?" selidiknya Jefri sembari melajukan motornya.
"Mbak tau dan yakin, kalau Mbak masih ingat kok alamatnya. Dan juga ingat rumahnya kan ciri-cirinya ada juga di foto." jawabnya Renita.
Namun dipertengahan jalan ada sedikit drama, yaitu Rendy minta ke toilet sebentar. Dengan terpaksa ya ... berhenti dulu mencari toilet umum.
Setelah itu barulah mereka melanjutkan kembali perjalanannya! tidak lama kemudian sampailah di alamat yang dituju namun mereka berhenti di beberapa puluh meter dari lokasi.
"Nah ... itu rumahnya sama Kan dengan yang foto!" ucapan Renita kepada Jefri.
"Terus sekarang ... Mas Azam kira-kira dimana ya Mbak? di kantor apa di sana?" tanya Jefri sambil melihat ke arah Renita dan tempat Renita tunjuk pergantian.
"Kalau menurut Mbak sih ... Mas Azam lagi ngantor. Lagian mobilnya nggak ada, kalau seandainya orangnya ada pasti mobilnya pun ada di sana," jawabnya Renita dengan yakin.
Dari rumah tersebut terlihat keluar seorang ibu-ibu yang memangku seorang balita, yang jelas balitanya sering dipangku oleh Azam ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Mohon dukungannya ya. Makasih