
Sebelum melajukan mobilnya. Renita menatap ke arah putrinya yang berpenampilan biasa saja. Namun ada yang aneh dengan gayanya yang membuat Renita merasa aneh sendiri. Sambil mengernyitkan keningnya, wanita cantik itu berkata. “Sayang ... bisa gak, itu kalung sebesar sebesar rantai itu di lepas."
"Ih, Bunda ini kenapa sih? ini gaul lho, Bun ... teman-teman ku juga seperti ini kok. Bunda gak tahu ya, ini tren.” Alena menyentuh rantai yang ia kenakan sebagai kalung itu. Yang seperti tali tas.
“Itu, seperti tali tas Bunda, Nak ... Bunda tidak suka. Lagian kamu punya kalung dari emas. Kenapa mesti pakai yang seperti itu segala?” renita menggeleng dan melajukan mobilnya.
“Bunda ... kan sudah ku bilang ... ini gaul namanya dan trend. Iih ... Bunda gak gaul.” Alena mencabik kan bibirnya ke depan.
“Oke. Bunda ngerti ... tapi bila kamu neko-neko lebih dai itu ... Bunda akan tegur kamu, termasuk dalam berpakaian, harus sopan.” Tegas Renita sambil melirik sekilas pada celana jins yang Alena kenakan sekarang.
“Iya Bun ... mana berani aku pakai baju pendek seperti teman-teman rok mini yang kalau nungging itu kelihatan semuanya ... boleh gak, Bun. Aku pakai yang seperti itu? bagus tuh, Bun ... seksi—“
“Tidak, tidak boleh.” Renita menggeleng dan menentang bila putrinya ini macam-macam.
“Ha ha ha ...bisa-bisa aku di gantung juga sama papa. Iiy.” Alena bergidik dan senyum-senyum sendiri, membayangkan kalau dia memakai pakaian seksi seperti teman sebayanya. “Lagian nih ya Bun ... aku beli baju sama Bunda, gak pernah aku membeli baju sendiri, apalagi mengikuti trend teman sebaya ku.”
“Iya, Bunda takut saja ... bila putri Bunda yang cantik ini ikut-ikutan dengan temannya memakai gaun kurang bahan, kan bisa dibelakang Bunda pakai baju gituan. Iiy ... Bunda gak mau ahc, malu.” Renita ketakutan sendiri.
“Ahc, Bunda ... gak mungkin aku seperti itu lah ... aku akan selalu mengingat semua pesan yang bunda berikan dan juga papa. Tidak boleh yang aneh-aneh, tidak boleh pacaran. Bergaul dengan anak-anak yang baik, setidaknya pilih-pilih teman. Begitu kan?”
Renita mengangguk pelan sambil membelokan mobilnya dan memasuki pusat pembelanjaan. Kebetulan hari ini dia sedang ambil cuti. Jadi bisa belanja di pagi ini dan akan bersantai di rumah nantinya.
Alena dan Renita turun berbarengan, memasuki pusat perbelanjaan. Alena sambil mendengarkan musik mengambil apa yang sekiranya di perlukan di rumah dan juga keperluan pribadinya.
“Hi ... adek cantik kamu di sini dna tidak sekolah ya!” suara itu mengagetkan Alena yang tengah asik berbelanja.
“Hei, Kakak cantik.” Alena langsung menoleh pada sumber suara yang tiada lain adalah Pricilia yang mengenali Alena dan langsung menghampirinya.
Keduanya saling pelukan dan saling sapa tampak akrab sekali, padahal baru beberapa hari bertemu. Renita yang tidak jauh dari mereka hanya terdiam dna mengingat gadis itu siapa.
__ADS_1
“Oh iya, gadis itu yang datang di hari wisuda nya Renita waktu itu.” batinnya sambil terus melanjutkan belanja bulanan nya.
“Oya, Kak, gimana sudah ketemu dengan kak Rendy nya?” selidik Alena sambil berjalan pelan di antara etalase yang berjejer semua keperluan.
Pricilia menggeleng dengan ekspresi wajah yang sedih. “Belum aku belum ketemu dia. Bahkan nomor aku pun ... sepertinya di blok. Sehingga tidak bisa menghubungi dia lagi.”
“Hooh ... kacian ... buanget sih ... tapi biarlah, masih banyak cowok ganteng buat Kakak. Percaya deh ...” Alena nyengir.
Dari kejauhan Renita hanya memperhatikan mereka berdua. Sampai akhirnya dia membayar semua belanjaannya dan menjinjingnya ke dalam bagasi mobil. Lalu dia kembali lagi mengambil sempat ia tutup di dekat kasir, karena belanjaan nya banyak juga. sekilas manik matanya melihat sosok seseorang yang setidaknya ia kenali. “Dia!”
“Mama. Bukannya kerja, tapi kok ada di sini sih?” Pricilia menatap heran pada mamanya yang berada di sini padahal jadwal bekerja.
“Mama mau membeli cemilan dulu, sebab Mama mau ke luar kota dan butuh cemilan buat di jalan.” Sahutnya sambil terus berjalan.
Alena hanya melihat ke arah wanita yang dipanggil mama oleh Pricilia itu. Dia sudah menduga kalau wanita itu adalah mamanya.
“Mau ke luar kota sama siapa Ma?” tanya Pricilia penuh penasaran.
Renita yang berada terhadap etalase merasa spot jantung dan langsung berpikiran buruk, mengingat dia pernah mepet suaminya. Malik.
“Om Reno? yakin ... Mama mau menikah dengan dia?” selidik lagi Pricilia dan Alena mengundur diri dari gadis itu mendatangi bunda nya. Pricilia hanya mengangguk yang diarahkan pada Alena.
Mama nya menatap tidak suka di tanya seperti demikian. “Emangnya kamu tidak mau kalau Mama bahagia? Setelah sekian tahun menjadi singgel pern, membesarkan kamu. Mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan dari papa mu dahulu,” suaranya bergetar.
“Bukan begitu Ma ... aku hanya tidak mau kalau tau-tau om Reno itu berkeluarga dan yang rugi Mama juga kan ...”
“Tidak. Tidak berkeluarga atau beristri. Dia masih singgel, percaya deh sama Mama. Mama sudah beberapa kali ke rumah orang tua nya.”
Itu yang di dengar oleh Renita yang membuat lega, kirain dia mau menikah dengan ....
__ADS_1
“Ayo pulang Bun ... aku mau masuk sekolah kan siang.” Alena menarik tangan bunda nya yang tampak bengong melihat bandrol sabun.
“Oh iya, ayo pulang dan Bunda juga sudah ingin segera istirahat di rumah.” kedua nya berjalan menjauhi perbelanjaan.
.
.
.
“Assalamualaikum ... Bunda ... Bun? Dimana?” suara Rendy sambil menjinjing tas nya dan sedikit tergesa-gesa mencari bunda nya.
“Wa’alaikum salam ... Aden, sudah pulang?” jawab bibi sambil menoleh pada Rendy yang celingukan.
“Belum, Bi ... masih di jalan nih. Bunda mana nih?” Rendy menatap pada bibi menunggu jawaban.
“Ibu ada di kamar nya mungkin. Tadi sih ada di atas.” Sahutnya sambil membelikan badan dan melanjutkan bersih-bersih lantainya.
Rendy setengah berlari menaiki anak tangga. “Terima kasih, Bi.” Pemuda tampan itu mendorong pintu diiringi dengan ucapan salam.
”Assalamu alaikum, Bun ... aku membawa kabar baik nih,” suara nya sambil menatap bund nya yang sedang duduk dan membaca buku di sofa.
Wajah Renita langsung membuat ekspresi yang tampak senang menyambut kedatangan putranya dan, dia sudah merasa deg-deg gan dengan kabar yang akan dia terima, ia mencoba menduga kalau putranya itu diterima kerja di salah satu maskapai sesuai yang direncanakan.
“Ahc gak seru, Bunda pasti sudah menduga kalau aku diterima bekerja di perusahaan yang itu,” Rendy mendudukan dirinya di dekat sang bunda yang menyimpan bukunya di meja dan menyentuh tangannya.
Bibir Renita tersenyum mengembang. “ Alhamdulillah Nak ... akhirnya kamu menjadi pilot juga.” Memeluk putranya dengan sangat erat, air mata bahagia pun menetes menghiasi ujung mata.
Begitupun dengan Rendy menjadi terharu dan bahagia juga, kini dia mulai menapaki cita-citanya untuk bisa terbang membawa si burung besi, dan mulai minggu depan dia akan bertugas bersama pembimbingnya juga ....
__ADS_1
.
Bersambung.