Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Demam


__ADS_3

Setelah beberapa saat menyudahi ritualnya lalu Sharon buru-buru mengenakan semua pakaiannya, dan mengambil sang buah hati yang terdengar menangis di kamar utama.


Meninggalkan Azam dengan tubuh polosnya di sofa. Menikmati rasa lelah dan capeknya sehabis ritual barusan.


Beberapa saat kemudian Sharon kembali sambil menggendong putranya. Melihat suaminya sedang memakai sabuk di pinggangnya.


"Terus kapan kita akan pindah Mas? aku sudah nggak sabar lho! ingin segera pindah dan kita akan hidup bahagia di sini dan asisten kita pun tidak harus pulang pergi karena ada tempat tinggal." Kata Sharon sembari menatap ke arah suaminya.


"Tunggu saja akan secepatnya, tapi tidak hari ini. Besok atau mungkin lusa karena untuk hari ini aku sibuk!" jawabnya Azam sembari mengancingkan kemejanya.


"Mas, rumah kan udah kebeli, nanti beli mobil dong ... kalau aku mau jalan kan nggak harus nunggu kamu dulu, gak harus naik taksi atau go-jek!" Sharon sudah mulai merajuk pengen mobil.


Azam sejenak terdiam. "Rumah ini aja baru setengahnya dibayar! sekarang sudah minta mobil. Emangnya uang tinggal ngambil apa? emang tinggal ngambil di bank, uang orang he he he!" suara Azam dalam hati.


"Iya sayang, sabar aja!" sahutnya Azam sambil berjalan ke arah jendela.


"Makasih Sayang, dan belinya jangan kredit ya? biar nggak mikirin cicilan, pusing. Terus atas nama aku ya sayang ya suratnya." Sharon berjalan maju menghampiri suaminya.


"Papa-Papa?" suara cadelnya Denis sambil merentangkan tangan. Minta digendong sama Azam.


Azam pun langsung menggendong Denis dan di bawa nya ke lantai bawah.


Kemudian mereka pun pulang kebetulan hari sudah sore dqran bentar lagi Maghrib.


...-------------...


Suatu hari, Rendy demam tinggi dan semalaman demamnya tidak mau turun-turun, hingga membuat sang bunda panik dan khawatir. Pada akhirnya Renita berinisiatif membawanya ke rumah sakit terdekat.


Sekuat apapun seorang ibu, kalau melihat pasti panik dengan keadaan putranya yang panas tinggi. Mana dia sendiri gak ada laki-laki yang bisa dia andalkan. Terpaksa dia pun menelpon Jefri sebagai om nya Rendy.


"Dari kapan panas gini, Mbak?" selidiknya Jefri sembari melihat keponakannya yang sedang terbaring lemah di ranjang pasien dengan mata terpejam.


"Dari sore. Mbak sudah beri obat penurun panas, tapi panasnya tidak turun-turun!" balasnya Renita sambil menghela nafas dalam-dalam. "Alhamdulillah sekarang dah turun !"


"Apa kata dokter Mbak?" tanya lagi Jefri.

__ADS_1


"Katanya tipes, Mbak sangat khawatir! panik. Cemas dan sekarang alhamdulillah merasa lebih lega." Kata Renita sembari mengusap dada nya.


"Yang sabar ya Mbak, Rendy anak yang kuat kok." Jefri mengusap pucuk kepala keponakan nya tersebut.


"Mbak sangat panik, malam tadi Mbak sangat khawatir, baru kali ini Rendy mengalami panas tinggi Jefri ..." tambahnya Renita.


"Mbak jangan khawatir, Rendy sudah lewat masa kritisnya kan? tinggal menunggu dia lebih pulih." Tambahnya Jefri sambil menatap pada sang kakak ipar dan Rendy bergantian.


Renita mengangguk pelan sambil menatap putranya dengan tatapan lekat.


Kini Renita sudah melewati masa-masa menegangkan. Di mana Rendy sekarang sudah lebih baik dari sebelumnya.


Terdengar suara igauan dari Rendy yang memanggil manggil papa-papa. Menjadikan hati Renita semakin mencelos, mungkin ... Anak itu sakit karena memang pikiran juga! dia ingin bertemu sama papanya, tapi papanya sampai detik ini juga belum menemui Rendy.


"Sayang ... ini Bunda. Bunda akan terus menemanimu! cepet sembuh agar kita bisa jalan-jalan lagi, sekolah ... bermain, kita makan es krim di luar lagi yuk? Rendy nya cepat sembuh!" gumamnya Renita yang sedang berlutut dan mendekatkan wajahnya pada sang buah hati.


Tangannya terus mengelus rambut anak itu yang mata terkejam, terus bergumam memanggil papanya.


"Mbak, papanya tahu nggak? kalau Rendy sakit?" Jefri menyelidik pada sang kakak iparnya.


"Kenapa nggak dikasih tahu, Mbak ... seharusnya kasih tahu dia, kalau anaknya sakit! hasilnya nanti gimana? ya terserah, yang penting Mbak kasih tahu dulu, siapa tahu aja dia emang kepikiran ingin ketemu papanya. Makanya dia sampai sakit begini!" tambahnya Jefri.


"Waktu di pengadilan itu ... dia bilang mau datang, tapi kenyataannya sampai sekarang nggak ada. Dan berapa hari yang lalu Mbak ketemu dia di supermarket! tapi dia sama sekali tidak nanyain putranya yang tidak Mbak bawa." Ujar Renita dengan tatapan kosong.


"Biar aku yang telepon dia. Bila perlu ku susul ke rumahnya, Rendy putra nya yang harus dia perhatikan. Bukan anak wanita itu terus." Jefri merasa geram pada sang kakak.


Kemudian Jefri keluar tanpa menunggu dulu perkataan dari Renita. Dia langsung menelpon Azam! namun tidak di angkat-angkat.


"Sial, nih orang kenapa sih gak di angkat-angkat. Gak tau apa anaknya sakit!" gerutunya Jefri sembari menulis pesan kepada sang kakak, kalau putra nya Rendy sedang sakit dan sedang dirawat di rumah sakit.


Malik sedang berjalan di sebuah koridor rumah sakit, dia datang untuk menjenguk Rendy karena hari ini Renita tidak masuk kerja. dengan alasan putranya sedang sakit dan rawat di rumah sakit ini. Makanya dia pun datang untuk menjenguk anak itu.


"Rani. Gimana keadaan Rendy?" suara Malik ketika berada di depan pintu ruangan di mana Rendy dirawat dan dia melihat wanita sedang berada di samping anak itu yang sedang terbaring lemah.


Renita langsung menoleh ke arah sumber suara. "Alhamdulillah agak mendingan tidak seperti semalam atau sebelum dibawa ke rumah sakit yang bikin aku panik!"

__ADS_1


"Kenapa kamu nggak telepon aku? dan minta bantuan ku. Siapa yang bawa ke rumah sakitnya?" tanya Malik sembari menghampiri.


"Aku sendiri yang membawanya ke rumah sakit ini, dengan menggunakan taksi kan aku nggak tahu harus minta bantuan sama siapa? Jefri terlalu jauh dan dia datang setelah kami berada di sini," jawabnya Renita.


"Lain kali ... kalau ada apa-apa! telepon saja aku, insya Allah aku siap membantu." Kata Malik sembari mengusap kepala Rendy yang kini terbangun dan dia meminta minum kepada bundanya.


"Rendy makan bubur ya? soalnya kan Rendy belum makan!" tawar bundanya setelah menyimpan botol gelas minum.


"Nggak mau jadi nggak mau makan nggak lapar!" anak itu menggeleng lemah! menolak untuk suapi sang Bunda.


"Ehem." Malik duduk di sisi ranjang pasien di sampingnya Rendy.


"Rendy kan sekarang sedang sakit, tentunya Rendy sayang Bunda kan? kalau Rendy sayang sama Bunda, Rendy harus cepat sembuh berarti dan Reny harus makan biar cepat pulih kesehatannya! sini bun Biar Om Malik yang nyuapi Rendy." Malik meminta mangkok kumpul dari wanita.


Tanpa dibujuk beberapa kali, Rendy pun mau disuapi oleh Malik. dengan santai dan sabar Malik menyuapi Rendy sambil terus bicara hingga tanpa terasa bubur yang di mangkok pun habis.


"Tuh kan, Bun ... kalau di suapi sama Om Malik dia mau, dan Rendy akan cepat sembuh Bun ... karena makannya banyak, iya nggak?" Malik menarik dua sudut bibirnya untuk membentuk senyuman kepada Renita dan Rendy bergantian.


Renita pun tersenyum gembira melihat putra nya mau makan disuapin oleh Malik.


Wajah anak itu Alhamdulillah sekarang tidak pucat seperti semula, lebih segar dan ceria.


"Terima kasih ya?" Renita menunjukan. Senyumnya pada Malik.


Malik hanya membalas senyuman serta mengangguk pelan.


Kemudian Jefri masuk sambil menggerutu, yang isinya dia kesal sama sang kakak. Karena teleponnya nggak diangkat chat nya pun nggak dibalas.


Tanpa bertanya Renita pun sudah tahu. Jawaban apa yang akan diberikan oleh Jefri. "Sudahlah, Jefri ... itu yang buat Mbak malas!"


"Aku akan tunggu sampai sore, Mbak kalau sampai sore nggak ada jawaban juga ... atau tidak datang, aku akan susul ke rumahnya," suara Jefri menggebu-gebu.


Malik hanya mendengarkan Terus kapan dari Jefri dan Renita. Dan kini Malik menggendong Rendy dipeluknya penuh hangat, anak itu tampak nyaman sekali dalam pelukan Malik ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Makasih rider ku semua yang sampai detik ini masih mengikuti tulisan recehan ku ini.


__ADS_2