Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Sembarangan


__ADS_3

Malik memicingkan matanya sebelah pada Azam. "Jangan-jangan! kamu pernah melakukannya sama dia, mana tahu aja kamu juga kena. Tetapi amit-amit sih ... jangan sampai he he he ..."


"Ha! sembarangan, amit-amit. Lagian mana ada aku macam-macam sama dia! nggak pernah, pastinya kalau aku begitu, ya kemungkinan besar juga kena dong. Ini kan nggak, jadi aku bebas!" Azam menaikkan kedua bahunya.


"Ya baguslah! kalau begitu ya sudah kami mau pergi dulu, semoga istrimu cepat sembuh. Ros kami pergi dulu ya!" Malik kembali menoleh ke arah Rosita yang mengangguk.


"Sayang, Bunda mau ke tempat tante Shopia dulu ya? Rendy mau nginep di sini temenin Papa? apa mau pulang?" Renita menatap pada putranya sebelum melangkahkan kaki melintasi pintu.


"Sebentar lagi aku juga mau pulang! tapi pulangnya ke rumah Papa Azam ya! kasihan Poppy dan Syifa!" balasnya Rendy seakan-akan minta izin pada bundanya kalau dia akan pulang ke rumahnya Azam.


"Iya nggak apa-apa! bagus itu jagain adik-adiknya sekalian. Tapi jangan lupa besok kuliah ya!" Renita menepuk bahunya Rendy.


"Ya udah, Papa pergi dulu, Assalamu'alaikum semuanya!" Malik mengangkat tangannya dan mengedarkan pandangan ke arah Azam, Rendy dan Rosita.


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh," jawabnya serempak.


Malik dan Renita berjalan berbarengan! tangan Malik pun tidak lepas dari pinggangnya sang istri yang ditatap tanpa henti oleh pandangan mata Azam sampai hilang dari pandangan.


"Aduh, Mas ... tolong dong, aku mau ke toilet!" lirih Rosita yang ditujukan kepada Azam. Membuat Azam pun menoleh dan langsung membawa dirinya mendekati sang istri.


Azam menghela nafas dalam-dalam dan berusaha membuang bayangan yang barusan dia lihat. Pemandangan dimana kemesraan Renita dan Malik yang selalu mereka tunjukkan.


"Maunya gimana? mau pakai kursi roda atau mau aku gendong aja?" tawarnya Azam sambil berdiri di depan sang istri.

__ADS_1


Rosita hanya diam dan perlahan menggerakkan tubuhnya untuk duduk dan tanpa menunggu jawaban lagi Azam pun langsung menggendong tubuh sang istri dari samping dan di bawahnya ke dalam toilet.


Rendy yang duduk di sofa hanya memperhatikan kedua orang tuanya dan senyum-senyum sendiri. Di usianya yang sudah cukup dewasa dan mengenal lawan jenis! Rendy belum pernah pacaran, bukannya tidak ada yang mau atau bukan juga dia tidak menyukai seseorang! tapi dia punya niat dalam hati ... pengen sukses dulu dan menjadi pilot, setelah itu barulah dia akan memikirkan perasaannya ataupun membuka hati pada para gadis yang mungkin menyimpan perasaan kepadanya.


Malik dan Renita yang baru saja sampai di depan pintu ruangan di mana Shopia di rawat.


"Assalamu'alaikum ... permisi!" suara Renita sembari mendorong handle pintu yang kebetulan di sana Shopia ditemani oleh Genta.


"Wa'alaikumus salam ... Tante, Om. Silakan masuk?" sambut Genta sembari berjalan menyambut kedatangan Renita dan Malik. Dia menyalaminya dengan penuh hormat.


Sejak Genta ke rumah Renita waktu itu, Renita langsung memberikan bekal buat Genta sekolah! sehingga anak itu kembali masuk sekolah siangnya dan malam nya menemani sang mamah di rumah sakit.


"Apa kabar Genta? kemarin Om ke sini tapi Genta nya mungkin sedang sekolah jadi kita nggak ketemu!" ucapnya Malik sembari menepuk punggung Genta.


"Iya, sama-sama dan semoga bermanfaat!" balasnya Malik.


"Itu sangat-sangat bermanfaat! sumpah ... sangat bermanfaat di saat aku sedang membutuhkan ada tante dan Om yang sangat baik juga ... aku juga minta maaf jika banyak kesalahan Mama yang diperbuat kepada kalian berdua! yang sesungguhnya aku tidak mengerti kesalahan apa itu!" ucap Genta dengan sangat hati-hati dia menjadi kepikiran! mungkin mamanya banyak salah kepada om dan tentunya ini.


"Sudahlah! soal itu nggak usah diingat lagi ya! untuk sekarang ini ... yang penting mama mu sehat seperti biasa lagi, dapat bekerja menjalani kehidupan dengan baik!" Malik lalu menyusul sang istri yang mendekati Shopia.


"Shopia, apa kabar? gimana sekarang sudah agak lebih baik 'kan?" tanya Renita sambil menatap ke wajah Shopia yang tampak kurang bersahabat.


"Baik! ngapain ke sini, untuk mempertontonkan kemesraan kalian berdua?" tatapannya sangat tajam ke arah Renita dan Malik.

__ADS_1


Malik dan Renita saling tatap, saling bertukar pandangan satu sama lain mendengar perkataan dari Shopia barusan.


"Astaghfirullah, Shopia ... kenapa sih kamu selalu berpikir buruk? Abang ini sepupu kamu! saudara kamu. Bahkan dia menjadi wali jika kamu menikah! tapi kenapa pikiranmu selalu buruk? selalu berburuk sangka kepada kami berdua." Renita pun melirik pada sang suami yang tampak menggelengkan kepalanya.


Malik tidak habis pikir dengan pemikiran Shopia yang tidak pernah berubah yang tetap tidak suka dengan Renita dan juga dirinya setelah menikah.


"Renita benar! kalau aku ini sepupu kamu. Akan tetapi kenapa kamu selalu benci aku dan juga Renita. Sampai kiamat pun hubungan kita takkan berubah yaitu kita berdua sepupu. Kita tidak akan bisa memiliki hubungan yang lebih selain persaudaraan! buang semua kebencian mu itu, Shop. lapangkan hatimu apalagi di saat sekarang kamu sedang sakit, berpikir positif agar segera sembuh." Ujar Malik dengan sangat panjang lebar.


Sophia membuang mukanya ke lain arah, kemudian dia membaringkan tubuhnya ke atas bantal yang tertumpuk dan sesekali menggaruk bagian-bagian tubuhnya yang terasa gatal. Memang setelah dirawat dan ditangani oleh dokter ahli di sana! kondisi Renita lebih membaik apalagi di bagian tangan dan kaki sudah mulai memudar merahnya dan gatalnya pun berkurang kecuali di bagian-bagian lain dan bagian tertentu yang masih menyiksa dirinya.


Genta yang mengamati obrolan mereka mendapat sebuah kesimpulan! mungkin mamanya sangat menyukai Malik dan dia cemburu karena Om Malik lebih memilih tante Renita.


Genta pun mendekati sang mama. "Jangan bikin Genta malu, Ma. Genta bela-belain datang ke rumahnya tante dan om Malik untuk minta bantuan, dan mereka pun sudah welcome membantu kita dengan sangat banyak! sementara Mama jangan bersikap seperti itu dong ... sumpah, Mah aku malu!"


"Ngapain kamu malu, mereka wajar bila membantu kesusahan kita kalau memang mereka mengakui kalau kita saudaranya, apalagi mereka kan orang kaya wajar aja dong ... membantu kita! ngapain juga kita harus malu!" Shopia dengan nada dingin.


"Tapi, Mah ... bagaimanapun kita harus punya rasa terima kasih pada orang yang sudah menolong kita, masih mending mereka masih mau menolong kita, Mah. Rumah sudah berapa bulan nggak dibayar kontrakannya! sekarang sudah lunas. Mama dirawat di rumah sakit ini berapa biayanya? mahal, Mah. aku nggak ada ongkos buat sekolah. Buat makan sehari-hari dari mana? motor kan sudah lama kita jual uangnya sudah habis. Apa perlu aku menjual ginjal aku yang belum tentu laku!" Genta merepet ke mana-mana.


Mungkin Genta melihat sikap sang Bunda yang seakan-akan tidak punya rasa Terima kasih sama sekali kepada orang yang sudah ....


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2