
Renita berjalan menuju kamar putrinya yang terhalang beberapa ruangan. Namun pintu kamar Alena tampak terbuka.
"Lho kok nggak ditutup rapat sih pintunya, apa anaknya keluar atau mungkin lupa? ach ada-ada saja nih anak." Renita menggeleng sambil lebih mempercepat langkahnya menuju pintu kamar Alena.
"Sayang, kok gak di tutup rapat sih pintu--" perkataan Renita tergantung dengan tubuhnya yang mematung, kaku serta sorot mata yang melotot mengarah ke dalam kamar dimana putrinya terbaring di atas tempat tidur bersimbah da-ra-h.
Mulut Renita menganga tak bersuara. Tubuhnya bergetar dan lutut pun lemas tak sanggup mendekat. Deg-deg, deg-deg, jantung Renita berdebar kencang. Dengan tubuh luruh ke lantai, Renita barulah bisa mengeluarkan suaranya meminta tolong.
"To-long ..." jerit Renita sekencangnya. "Tolong ... Abang ...."
Renita tidak kuasa menahan lagi tangis yang sulit ia bendung. "Alena ... tolong ... tolong ... Abang ... tolong!"
Renita menangis histeris di lantai. Sambil memanggil-manggil nama Alena yang sepertinya sudah terbujur kaku dan Renita tidak berani mendekat atau menyentuhnya.
Tidak lama kemudian Malik datang dengan tergopoh menghampiri sang istri yang sedang bersimpuh di lantai sambil menangis histeris.
"Alena, Bang Alena kenapa?" jerit Renita sambil menuding ke arah Alena di tempat tidur.
Malik yang datang tergopoh hanya fokus pandangannya ke arah Renita yang sedang menangis duduk di lantai, pandangannya tidak sedikitpun ke arah tempat tidur di mana Alena berbaring.
Setelah Renita menuding ke arah tempat tersebut, barulah Malik menoleh dan alangkah terkejutnya dan langsung lemas tubuhnya. Memaksa menyeret tempat tidur Alena. Menghampiri dan menggoyangkan tubuh yang bergeming dengan kedua mata melotot, mulut terbuka dan bersimbah da-ra-h.
"Astagfirullah ... Alena, Alena bangun, Nak. Bangun? ini Papa." Tetapi anak itu tetap bergeming tidak bergerak. Malik terus menggoyangkan tubuh putrinya.
Lalu kemudian Malik menjerit minta tolong beriringan dengan kedatangan beberapa asisten, security dan juga sopir.
"Tolong telepon polisi secepatnya?" pinta Malik sembari menoleh ke arah security yang kebingungan dan merasa heran. Dan yang lain pun pada kaget dengan kejadian ini, bahkan tidak menyangka kalau Putri sang majikan kondisinya menyedihkan di atas tempat tidur.
__ADS_1
Setelah mendengar perintah dari Malik seperti itu, security langsung menelpon kepolisian. Dengan terburu-buru lantas memberikan alamat.
Malik yang panik, gugup. Shock! terpukul dengan kondisi putrinya mencoba untuk tegar. Tangan yang digerakkan ke depan hidung Alena yang memang sudah tidak bernapas lagi. Yang akhirnya Malik mematung.
Dan dia meyakini bahwa ini dilakukan oleh orang yang jahat yang tidak punya rasa kemanusiaan. Akhirnya Malik murka kepada security dan pekerja rumah lainnya yang dianggap lalai sehingga bisa kedatangan orang yang tidak diharapkan.
Matanya melotot dan mengedarkan ke arah orang-orang yang bekerja di sana. "Ini ulahnya orang jahat yang tadi yang kalian bilang masuk rumah ini. Masih mending kalau kehilangan harta! ini apa yang terjadi? saya kehilangan putri saya dan ini semua akibat kelalaian kalian semua!"
Semua orang yang kena marah hanya bisa menunduk sekaligus sedih. Dan mereka tak dapat berkata-kata sepatah pun! mengakui kesalahan mereka yang lalai juga mereka sangat sedih melihat kondisi Alena yang mengharukan di atas tempat tidur.
"Kalau sudah begini saya harus menyalahkan siapa? ha! menyalahkan siapa? kalau bukan kalian semua, karena kalian semua saya kehilangan putri saya. Coba kalau kalian tidak lalai, mungkin tidak akan kejadian seperti ini. Alarm juga ada! kenapa harus begini? di saat dia sudah pergi bukannya ketika dia datang berbunyi? Ini sungguh-sungguh tidak masuk diakal!" Sergah kembali Malik sembari berdiri bertolak pinggang, dia benar-benar merasa marah sekaligus menyesal tidak bisa menjaga putrinya.
Suasana di rumah mewah itu terasa sangat mencekam, suara tangis Renita yang terus-terusan histeris dan juga suara Malik yang marah-marah, semuanya bercampur menjadi satu.
Ditambah lagi suara sirine dari mobil polisi yang mendatangi membuat suasana semakin menakutkan! apalagi di saat-saat seperti ini waktu sudah menunjukkan pukul 02.20 menit. Benar-benar menjelang pagi.
Polisi berdatangan ke rumahnya Malik dan langsung mendatangi TKP. Dan selang beberapa menit terdengar juga sirine ambulance yang datang ke TKP untuk membawa jenazah Alena untuk di autopsi.
"Ibu pingsan, Ibu pingsan! gimana ini?" ucap asisten yang masih muda dan dia memegangi kedua bahu Renita yang terguling ke lantai.
"Ya udah, kita bawa aja ke kamarnya yuk? kita gotong ramai-ramai." Kata bibi sembari berlutut mengangkat kepala Renita, sehingga Renita diboyong ke dalam kamarnya oleh berapa asisten wanita dan juga sang supir. Yang lainnya pada sibuk dengan usahanya masing-masing.
"Ambilkan minyak angin dan juga air hangat buat minum cepetan!" perintah Bibi kepada asistennya yang langsung jalan terburu-buru meninggalkan kamar tersebut.
Bibi pun tidak lupa memberi tahukan kejadian ini kepada Rendy yang kebetulan sedang tidak berada di rumah tersebut, melainkan sedang menginap di rumahnya Azam menemani kedua adiknya. Disebabkan Mama Rosita sedang dirawat di rumah sakit.
"Apa, Bi, bunda pingsan? pingsan kenapa, Bi. Dan Papa ke mana?" Suara Rendy di ujung telepon terdengar begitu cemas mendengar Bundanya pingsan.
__ADS_1
"Papa ada, sedang bersama polisi sedang sibuk!" Jawabnya Bibi dengan suara yang bergetar.
"Apa, polisi? sibuk ... emang kenapa di sana, ada polisi di rumah bukan? ada polisi sedang apa jam segini? ada polisi di rumah?" Rendy malah mengutarakan rentetan pertanyaan kepada bibi hingga berulang.
"Aduh, Den ... pulang aja ya? Bibi mohon pulang aja secepatnya! jangan menunggu pagi, ini sangat penting Den dan Bibi nggak bisa cerita dengan detail!" pintanya Bibi lalu kemudian mematikan teleponnya.
Detik kemudian ponsel baby pun kembali berbunyi dan tampak di layar kontaknya Rendy! namun tak satupun yang sempat mengangkatnya. Ketiga asisten tersebut mengurus Renita yang masih pingsan.
Detik kemudian ponsel bibi pun kembali berdering, karena dibiarkan tidak di angkat, ponselnya terus berdering dan berdering, lagi dan lagi hingga pada akhirnya Bibi menjawabnya karena itu kontak dari Malik yang sedang membawa Alena ke rumah sakit.
"Bi, gimana Ibu? sudah sadar belum?" tanya Malik dengan suara yang sangat khawatir terhadap istrinya, tadi saja ketika memindahkan ke kamar pribadinya dia nggak sempat membantu sebab mengurus putrinya ke dalam ambulance. Bukannya tega dan membiarkan istrinya pingsan begitu saja.
"Masih, Tuan Ibu masih pingsan eh tidak. Tuan dia sudah mulai siuman Ibu sudah mulai siuman, Tuan." Jawabnya Bibi meyakinkan.
"Alhamdulillah ... kalau begitu saya titip istri saya ya, Bi tolong tenangkan dia dan juga tolong kasih kabar yang lain seperti Rendy dan keluarga yang lain, tolong ya Bi?" ucap Malik yang mewanti-wanti menitipkan istrinya kepada mereka. Lalu kemudian setelah itu sambungan telepon pun terputus.
"Alhamdulillah ... Ibu sudah siuman!" lirihnya bibi sembari mengangkat kepala Renita dan diberinya minum air hangat.
"Alena mana, Bi Alena?" Suaranya begitu pelan yang nyaris tak terdengar, Renita tampak lemah. Wajahnya kusut dan semraut juga banjir dengan air mata dan Bibi berusaha mengeringkannya dengan tisu.
"Non Alena dibawa ke rumah sakit sama Tuan dan pihak kepolisian. Bu ..." Balasnya bibi. "Ibu harus sabar dan kuat!"
"Alena, Bi ... Alena. Kenapa harus Alena yang mengalaminya kenapa bukan saya saja, Bi? membuat Alena pergi dari saya! orang itu benar-benar jahat sudah menghilangkan nyawa putri saya, putih saya satu-satunya. Bi ... seharusnya dia mengambil nyawa saya saja bukan Alena anak yang tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa. Hik-hik-hiks." Renita kembali menangis terisak-isak. Kedua tangannya menangkap menutup wajah yang kembali banjir dengan air mata yang begitu deras berjatuhan.
Kejadian ini sangat menggemparkan warga sekitar, para tetangga pun tak ayal mulai berdatangan ke rumahnya Malik dan Renita
Semua mempertanyakan. Apa sebab kejadian ini terjadi, namun para pekerja di sana tidak memberi jawaban yang pasti! karena mereka merasa ini bukan ramah mereka! sementara Malik Dia sedang mengurus-ngurus di rumah ....
__ADS_1
.
Bersambung.