
Renita masuk ke dalam rumah dan mengajak putranya untuk tidur lebih awal. “Sayang kita bobo lebih awal yo? biar besok tidak kesiangan.”
“Baik Bunda ... aku juga dah ngantuk nih ...” jawabnya Rendy sambil berjalan mengikuti langkah nya sang bunda.
Renita memasangkan Rendy selimut setelah anak itu berbaring. “Met bobo sayang! semoga mimpi indah.”
“Bun ... papa nya Rendy kok tidak sayang ya sama Rendy? kan Rendy ini putranya, tapi papa kok gak sayang sih.” Gumamnya Rendy dengan ekspresi wajah yang sedih, tiba-tiba dia mengingat sang ayah yaitu Azam.
Membuat hati Renita mencelos. Mendengar perkataan dari Rendy yang ingat sama papanya. Renita menatap dalam Rendy yang kini sudah berada di atas bantal. Renita genggam tangan dan di ciumnya. “Sayang, doa kan saja. Semoga Papa segera mengingat Randy ya, Papa itu sayang kok sama Rendy.”
Renita berusaha menyembunyikan perasaannya yang sedih, mengingat Azam yang lupa pada anaknya sendiri.
“Tapi tidak apa sih ... papa lupa sama aku juga, kan sekarang ada papa Malik yang sayang sama Rendy dan bunda.” Ekspresi anak itu kembali berubah.
Renita kembali tersenyum dan mencium keningnya Rendy. “Iya, jangan sedih ya dan jangan di ingat-ingat lagi. Nanti juga papa pasti ingat kok sama Rendy dan sekarang Rendy bobo ya.”
Anak itu memejamkan matanya, cuph Renita mengecup kening putranya tersebut. Mematikan lampu nya dan meninggalkan nya sendiri. Renita kembali ke dapur untuk mengambil air minum, dan di sana bertemu dengan Feni.
“Em ... maff Bu ... ada yang ingin Feni bicarakan.” Feni tampak ragu-ragu untuk bicara.
Renita terdiam dan menatap ke arah Feni yang tampak serius. “Ada apa Feni ... apa yang ingin kamu katakan pada ku? gak mungkin kan soal gaji ... alnya baru satu minggu kemarin kamu menerima gaji dari ku.”
“Bukan, Bu ... bukan soal itu! yang ingin aku katakan, aku mau ... minta libur barang seminggu Bu ...” kata Feni sambil menunduk.
“Apa? kamu mau libur? emang kerja di sini capek ya?” Renita menatap datar pada pengasuh putranya tersebut.
“Eh ... tidak Bu .. tidak capek dan di sini aku juga betah, aku hanya pengen main saja barang seminggu. Nanti aku balik lagi kok ... bila Ibu menghendaki.” Tambahnya Feni.
‘Tapi kan seharusnya nanti saja kalau kamu mau libur di saat Rendy pun libur sekolah. Sementara sekarang ini kan Rendy masih sekolah dan kamu seharusnya jangan libur dulu sebelum rendy libur Fen ...” Renita kurang setuju kalau Feni mau mengambil libur di saat Rendy masih masuk sekolah.
“Tapi Bu ... kalau gak di ijinkan satu mingu juga tidak apa-apa kok ... tiga-empat hari juga boleh,” Feni sepertinya kekeh ingin libur.
__ADS_1
Renita menghela nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan panjang. “Aku ingin bertanya sama kamu ya Fen ... emang nya kamu di sini itu sibuk apa saja? sehingga kamu ingin libur segala di saat saya membutuhkan mu. Kamu itu di sini kan saya fokuskan menemani Rendy saja yang paling penting! sementara pekerjaan lain saya bisa handle sendiri atau kita kerjakan bersama.”
“Sebenarnya aku memang tidak capek di sini, hanya aku ingin libur karena mau ... mau jalan-jalan dengan kekasih ku, dia baru pulang kerja dari luar kota.” Feni menunduk dan menautkan jari jemarinya.
Renita menggeleng. “Ya sudah, kalau begitu ... saya kasih libur tiga hari saja, dan bila kalian mau jalan ... kenapa tidak jemput saja kamu ke sini biar tidak mengganggu tugas kamu di sini.”
Feni tidak menjawab dan dia tetap kekeh ngin pulang dulu dari sini.
“Baik lah. Kapan kamu akan pulang? tiga hari ya?” Renita memberi waktu pada Feni hanya tiga hari saja.
“Baik Bu, besok siang Feni mau pulang setelah mengantar Rendy sekolah,” ucapnya Feni.
Renita terdiam dan memikirkan kalau besok pulang sekolah Feni pulang, Rendy mau sama siapa di rumah?
“Em ... kalau kamu mau pulang pagi ... boleh kok biar Rendy saya yang mengantar dan pulangnya saya ajak ke kantor. Jadi kamu terhitung libur dari hari esok.” Kata Renita yang berniat untuk membawa Rendy ke kantor nantinya.
“Maaf, Bu ... tidak marah kan saya minta pulang dulu?” Feni merasa tidak enak hati.
“Baik bu makasih ya makasih banyak.” Feni tampak gembira mendapat kan ijin dari Renita yang sebenarnya Renita terpaksa mengijin Feni pulang.
“Iya, oke, aku masuk dulu dan sudah malam dan waktunya istirahat.” Renita ngeloyor ke kamarnya.
Feni pun senyum-senyum sendiri setelah Renita pergi ke kamarnya. “Akhirnya aku bisa pulang dan mau ketemu kamu.”
Keesokan hari nya Renita seperti biasa menyiapkan sarapan dan bersih-bersih rumah dan sebagainya. Setelah itu barulah mempersiapkan dirinya untuk ke kantor dan Rendy pun sudah mandi sendri, tinggal di dandani oleh sang bunda.
Kini Renita sudah siap dan tinggal mendandani Rendy dengan pakaian seragamnya. “Sayang sudah mandi belum?” Renita berdiri di depan pintu kamar sang buah hati yang tampak sedang main buku gambar.
Rendy menoleh pada sang bunda. “Sudah dong Bun ...”
“Bagus lah ... putra Bunda pintar dan pandai. Hari ini sekolah nya sendiri ya dan sepulang sekolah nanti Bunda jemput ikut ke kantor ya?” Renita menghampiri sambil mengambil seragam Rendy.
__ADS_1
“Lho, Bun ... kenapa harus ikut dengan Bunda ke kantor? Kan ada kak Feni.” Pria kecil itu mengerutkan keningnya.
“Kak Feni mau pulang dulu dalam beberapa hari ini dan Rendy akan seperti itu setiap harinya, antar jemput sama Bunda. Ngak pa-pa kan?” Renita memakaikan baju seragam Rendy.
“Oh Gitu ya, gak apa-apa sih ... asik mau ikut ke kantornya Bunda, kantor papa Malik ya Bunda?” anak itu malah tampak senang.
“Ho’oh, itu kantornya papa Malik. Bunda kan Cuma bawahan papa Malik di sana.” Jawabnya Renita.
“Oh iya ... hore ...” Rendy tampak gembira walau mau di ajak ke kantor.
Setelah rapi dan keperluan sekolah pun siap, Renita pun mengajak Rendy keluar dari kamarnya dan langsung ke meja makan. “Sekarang kita sarapan dulu ya.” Renita mengambilkan sarapan buat Rendy.
Feni muncul dengan menjinjing tas di tangan, menghampiri Renita dan Rendy. “Bu ... aku mau pulang dulu, Rendy ... Kak Feni pulang dulu ya ... tiga hari lagi Kak Feni kembali. Dan kita akan sekolah bareng lagi.”
“Iya, baiknya sarapan dulu Fen. Saya sudah siapkan buat sarapan.” Renita menunjuk sarapan Feni di meja.
“Kak Feni kenapa pulang?” Rendy menatap lekat ke arah Feni yang tampak rapi.
“Em ... Kak feni kangen saja sama ibu Kak Feni,” jawabnya Feni sambil melihat sarapan yang di meja, sedari bangun tidur. Feni tiduran dan rasanya mager banget dan merasa gak enak juga pada Renita yang sudah baik dan dan menganggapnya keluarga sendiri di tambah memang ada pertalian keluarga di antara mereka.
“Kok bengong Fen. Ayo sarapan dulu sebelum pulang nanti kamu masuk angin,” lagi-lagi Renita menyuruh Feni untuk makan.
Pada akhirnya Feni pun duduk dan lalu makan yang sudah di siapkan oleh Renita.
Kemudian setelah sarapan, Feni pun pamit kembali dan pulang yang akan kembali tiga hari lagi kemudian itu.
Renita bersiap untuk mengantarkan Rendy ke sekolah dan menitipkannya pada guru pembimbing sampai Renita nanti jemput lagi ....
...🌼---🌼...
Terima kasih pada yang masih menunggu setiap karya ku.
__ADS_1