
"Keputusan saya tidak akan berubah, Bu ... aku akan tetap menikah dengannya." Jono kekeh.
"Terserah. Tapi Ibu sampai kapan pun tidak akan pernah merestui kalian berdua," ibunya Jono beranjak dari duduknya melengos pergi dari ruangan itu dengan perasaan yang kesal juga marah.
Sharon menghela nafas dalam-dalam sambil memandangi ke arah ibunya Jono yang tidak menoleh lagi.
"Gimana ini! ibu mu tidak merestui kita?" ucap nya Sharon sambil menatap cemas pada Jono yang terdiam dan tangan masih menggenggam tangan Sharon.
"Biar saja. Aku tidak akan mengikuti kata dia, dan ... saya akan tetap menikahi mu! jangan khawatir." Jono meyakinkan Sharon yang tampak sedih itu.
"Ooh ... makasih sayang!" Sharon tersenyum bahagia dan dia berniat untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
“Aku sudah bertekad untuk menikahi mu apapun seperti apapun masa lalu mu dan aku akan menjadi suami yang baik untuk mu.” Ungkap Jono sambil mencium pipi Sharon dengan mesra.
“Aku sangat mencintai mu Baby ... semoga kita bisa hidup bahagia dan tidak ada yang usil dengan kehidupan kita.” Tambahnya Sharon kembali sambil mengedarkan pandangan ke arah sekitar dan mendapatkan sosok wanita yang melihat mereka berdua dan itu adalah ibunya Jono.
Sharon memeluk bahunya Jono dengan mesra dan di tunjukan pada wanita paruh baya tersebut.
“Ya sudah kita pulang, maksud ku aku antar kamu pulang.” Jono berdiri dan menarik tangannya Sharon.
Sharon dan Jono berjalan berbarengan meninggalkan rumah tersebut tanpa berpamitan pada sang ibu. Jono pergi begitu saja bersama Sharon si wanita pujaan hatinya selama ini.
...----------------...
Renita setelah kejadian mulas saat itu, dia masuk rumah sakit dan diperkirakan akan segera melahirkan karena ternyata sudah waktunya, begitu kata dokter, sehingga Renita harus di rawat di Rumah sakit.
Malik dengan sabar menemani sang istri walau Renita meminta pulang terlebih dahulu. Sebab kalau dia merasa belum ingin melahirkan, mules nya pun menghilang sudah.
“Yank, kita pulang saja Yok? mules nya pun berasa hilang boro-boro mau ngeden Yank ...” Ajak Renita pada sang suami.
“Tapi kata dokter begitu sayang, masa mau pulang. nanti kalau terasa lagi gimana?” balasnya Malik sambil menatap lekat pada sang istri yang kini tampak baik-baik saja tersebut.
“Ya kalau kerasa lagi ya ... balik lagi yank ... lagian kalau mau lahiran di rumah pun tidak apa-apa yang penting lancar sehat dan selamat.” Renita kekeh ingin pulang.
__ADS_1
Malik pun terdiam sambil menatap lekat pada sang istri dan mengusap perutnya yang buncit yang kata dokter sebentar lagi lahiran, tapi sudah dua hari ini belum ada tanda-tanda mau keluar.
“Terus gimana dong sayang? kita sudah dua hari di rumah sakit ini. Aku sih tidak masalah menemani kamu di sini dan pekerjaan pun bisa di handle kok dimana pun.”
“Em ... bilang saja sama dokter kalau aku minta pulang dan aku baik-baik saja kok dan belum ingin melahirkan biarpun sudah suntik perangsang buktinya tidak ada reaksi sedikitpun. Pasti akan di ijinkan kok.” Renita penuh harap.
“Baiklah kalau begitu, aku akan menemui dokter nya dan semoga di ijinkan.” Malik pun beranjak dari duduknya dan hendak berjalan menuju ruang dokter.
“Kok belum lahiran juga sih ... Mama sudah tidak sabar untuk melihat cucu Mama dan menggendongnya.” Suara bu Amelia yang baru saja datang ke ruangan tersebut sambil menjinjing tas branded nya.
Renita menatap datar pada sang ibu mertua yang baru saja datang ke ruangan tersebut sehingga Malik pun menghentikan langkahnya melihat kedatangan mamanya di tempat tersebut.
“Mungkin belum waktunya Mah ...” ucap Renita dengan lirih sambil mengusap perutnya.
“Tapi bukannya kata dokter itu sekarang sudah waktunya? berarti harusnya dalam beberapa hari ini lho.” Sambungnya bu Amelia sambil mendudukan dirinya di sofa yang ada di tempat tersebut.
“Tapi kenyataannya belum mau keluar, Mah ... gimana? lagian kalau allah berkata belum waktunya ya belum,” timpalnya kembali Renita sambil menggeleng.
Bu Amelia menatap ke arah perutnya Renita dengan intens. “Sudah suntik perangsang bukan?”
Sementara Renita menggelengkan kepalanya, kedatangan sang ibu mertua bikin repot dan menambah pusing kepala.
Ibunya Renita pun mau datang. Tapi Renita cegah sebab Renita merasa mau pulang saja dan belum ingin melahirkan.
“Yank ... sudah lah ... sana temui dokter nya.” Pinta Renita pada sang suami.
“Malik mau kemana?” selidiknya bu Amelia tatkala melihat Malik meninggalkan tempat tersebut.
“Abang mau temui dokter dan meminta ijin aku mau pulang saja ... karena aku merasa belum ingin melahirkan kok Mah.” Jawabnya Renita sambil menurunkan kakinya ke lantai untuk ke kamar mandi.
“Aneh, waktunya melahirkan kok bisa gak jadi segala?” gumamnya bu Amelia tidak habis pikir.
Beberapa saat kemudian. Malik kembali dengan dokter kandungan yang sengaja datang untuk menemui Renita yang meminta pulang.
__ADS_1
“Ibu ... kenapa minta pulang? Ibu itu sudah telat dua hari lho lahirannya ... dan Ibu harus Of kalau beberapa hari ini belum lahiran juga, karena akan sangat beresiko lho, sudah lebih dari waktunya.” Kata dokter bikin Renita merasa shock, was-was dan khawatir.
Namun Renita tidak ingin sasar, dan dia merasa kalau belum waktunya lahiran gimana? buktinya sudah suntik rangsangan pun belum juga ada perubahan.
“Nah kan ... kata dokter apa? sudah lebih kan harinya, sudah melebihi waktunya.” Timpal bu Amelia bikin kepala Renita tambah panas.
“Saya ingin normal saja Dok lahirannya dan tidak ingin sesar. Aku rasa ... mungkin hitungan kita terlalu cepat. Buktinya banyak orang yang lahirannya diperkirakan tgl sekian, banyak ko yang lebih cepat atau sebaliknya. Jadi apa bedanya dengan saya dok?”
“Tapi saya khawatir ada masalah di dalam kandungannya, Bu ... sebaiknya ibu banyak pikiran dan jangan stres bu ... yang tenang dan happy saja,” kata dokter kembali.
“Bukan kah sudah terbukti kalau kandungan saya baik-baik saja Dok. Pokoknya saya ingin pulang Dok ... justru di sini bikin hati dan pikiran saya merasa tidak tenang.” Renita kekej ingin pulang saja, gimana nanti saja bila harus lahiran di mana pun pasrah asalkan lancar dan tunggu beberapa hari lagi, bila memang pada waktunya belum lahir juga barulah dia pasrah bila harus sesar.
“Dok, mungkin ini yang terbaik bagi istri saya dan ... akan membuat nya lebih tenang bila pulang saja. Saya akan segera membawanya ke sini lagi bila istri saya merasa kontraksi lagi.” Tambahnya Malik yang ingin menuruti sang istri yang mau pulang.
Pada akhirnya dokter pun mengijinkan Renita untuk pulang dari rumah sakit dan mewanti-wanti agar malik menjaga Renita, juga menjadi suami siaga bergerak cepat bila sang istri merasakan kontraksi kembali.
Malik pun mengangguk dan akhirnya membawa Renita pulang dan meninggalkan rumah sakit. bu Amelia pun mengikuti dari belakang Malik yang mendorong kursi roda Renita.
“Apa kamu ada merasa bersalah atau dosa apa gitu? siapa tau itu yang menjadi penghambat lahiran mu Ren ... kata orang tau kalau mau lahiran itu harus meminta maaf pada orang tua dan orang-orang sekitar yang mungkin kamu sakiti.” Celetuk bu Amelia.
Malik hanya melirik pada sang ibunda. Dan Renita terdiam mendengar uraian dari sang ibu mertua. Perasaan sudah meminta maaf deh sama beliau juga. Ataupun pada kedua orang tua nya Renita. Ach bikin stres saja dan bikin was-was. Bikin hati gusar dan gelisah juga banyak pikiran kalau kaya gini.
Kini mereka berpisah di area parkiran, bu Amelia masuk ke dalam mobil yang di bawa sama supir dan malik ke mobilnya bersama sang istri.
“Yank ... aku ingin makan sate kayanya enak deh, sate kambing.” Pinta Renita pada suaminya setelah berada di dalam mobil.
“Emangnya tidak akan apa-apa kalau makan sate kambing sayang? tidak akan bermasalah pada perut mu itu?” Malik menatap intens ke arah sang istri.
“Aku rasa tidak dan aku pengen banget makan sate kambing. Selama ini aku tidak pernah meminta apa-apa sama kamu dan tidak pernah ngidam yang aneh-aneh bukan?” Renita setengah memohon dan berharap di kabulkan oleh sang suami.
Sehingga pada akhirnya mereka mereka sebelum pulang keliling dulu mencari sate kambing ....
.
__ADS_1
Bersambung.