
"Maaf beribu-ribu maaf, bukan maksud ku untuk menolak kebaikan mu, tapi aku khawatir kebaikan mu itu akan menimbulkan sesuatu yang kurang baik! menimbulkan fitnah atau gimana. Jadi ... biarkan aku pergi bersama motorku! takutnya kebaikan mu di anggap segelintir orang." Ujar Renita.
Malik terdiam sejenak mencerna maksud dan tujuan dari omongan Renita barusan, dan dia pun mengerti. "Baiklah kalau begitu kalau mau kamu, padahal aku mau mengantarmu! kasihan Rendy."
"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa kok!" ucapkan Renita sambil mengambil tas dan barang lainnya dari mobilnya malik.
"Bunda, kenapa nggak ikut sama om aja ya? kita naik mobil biar tidak kehujanan dan kepanasan, kan masih jauh!" ucap anak itu sembari mendongak pada sang bunda.
"Nggak Rendy, om nya kan masih banyak urusan!" kilahnya sang Bunda sembari mendudukkan Rendy di depan jok. Setelah mengenakan helm nya.
Malik terdiam, dia bukannya tega membiarkan Renita dan putranya naik motor. Sementara perjalanan masih jauh, tapi bagaimana? dia pun mengerti dengan alasan Renita. Mungkin dia takut menimbulkan fitnah orang! yang akhirnya dia hanya bisa pasrah dan membiarkan Renita pergi bersama motor dan putranya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang ... pada akhirnya Renita tiba juga di kediaman mertua yaitu orang tuanya Azam yang bernama Ibu Dewi dan bapak Sukma! kedatangan Renita disambut begitu hangat, apalagi dengan cucu nya Rendy.
"Assalamu'alaikum ... Ibu apa kabar? bapak," Renita mencium tangan keduanya penuh hormat.
"Wa'alaikum salam ... Alhamdulillah ... kabar kami baik! gimana kabar kamu, Masya Allah ... cucu Oma dah besar." kata Ibu Dewi sembari menciumi pucuk kepala sang cucu.
"Alhamdulillah ... Ibu kabar kami baik semua!" jawabnya Renata.
Kemudian mereka pun masuk ke dalam rumah yang lumayan besar dan suasana di sana sudah tampak ramai dengan keluarga yang sudah mulai berkumpul walaupun acaranya besok.
"Kalian berdua saja, Azam mana?" tanya sang ayah mertua.
"Nanti, mas Azam masih bekerja paling sore dia akan datang!" jawabnya Renita sembari mendudukkan bokongnya di atas sofa.
"Jadi kalian ke sini naik motor berdua? Masya Allah ... kenapa nggak nanti aja barengan biar di mobil sama-sama! ya ampun ... capek dan panas, perjalanan jauh juga, hei tolong ambilkan minum buat Renita dan cucu ku ini!" kata Bu Dewi sembari menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, Bu kami di jalanan bawa dengan sudah biasa, ya kan sayang?" ucapnya Renita sembari menoleh pada putranya.
__ADS_1
"Iya, Bunda. Setiap hari juga kita ke sekolah berdua! Papa nggak pernah nganterin lagi, Papa jahat nggak sayang lagi sama Rendy dia nggak mau anterin sekolah ataupun menemani bermain, Papa sibuk!" jawabnya anak itu dengan polosnya.
"Iya, kan Papa sibuk mencari duit ya buat Rendy beli mainan dan juga keperluan lainnya.
Lalu mereka pun dipersilahkan istirahat di sebuah kamar yang dulunya kamar Azam.
"Rendy kan capek, jadi nanti bobo dulu atau mau mandi dulu!" tanya Bundanya menatap ke arah Rendy yang sedang baringan di atas tempat tidur.
"Rendy mau bobo dulu. Nanti kalau udah bobo baru mandi boleh ya Bun?" kata anak itu sembari memejamkan kedua matanya.
"Iya boleh." Renita mengangguk lalu dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Saat ini waktu menunjukkan sekitar pukul 09.00 malam dan Rendy karena banyak temannya belum tidur, dia bermain sama anak-anak yang lain yang termasuk keluarganya juga yaitu cucu Pak Sukma dan Bu Dewi.
"Kok Azam belum sampai juga? dia sudah berangkat belum dari rumah?" tanya sang ibu mertua kepada Renita.
"Entah, aku belum nanya, dia juga nggak ada kabar berangkat atau tidak! mungkin sedang asyik dengan kesibukannya itu!" jawabnya Renita dengan nada dingin.
"Ya ... tanyain dong, dia di jalan atau gimana? biar kita nggak cemas, seandainya nggak pergi kenapa? terus kalau di jalan berarti nanti juga nyampe!" kata sang ibu mertua kembali.
Renita merasa malas untuk menelpon Azam. Walaupun sekedar menanyakan keberadaannya di mana.
"Apakah ... kalian sedang ada masalah?" tanya sang ayah mertua menatap ke arah Renita dan dia merasa ada kejanggalan.
Renita mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Dimana mereka sedang berkumpul dan rasanya nggak mungkin kalau Renita berkata yang sebenarnya.
"Tidak ada apa-apa, Pak ... kami baik-baik saja kok!" jawabnya Renita sebagai menunjukkan senyumnya.
"Tapi kenapa, datangnya nggak barengan saja? kan kasihan Rendy panas-panasan kalau pakai motor!" tambahnya sang ibu mertua.
__ADS_1
Renita terdiam rasanya belum waktunya untuk bercerita, apalagi depan orang banyak seperti ini biarpun hubungannya keluarga! tapi mungkin ini terlalu pribadi.
"Sebenarnya Renita pun ingin bercerita sama ibu dan bapak, tapi ini bukan waktu yang tepat. Jadi lain kali saja Reni berceritanya!" ucapnya Renita lalu dia beranjak dan berpamitan.
Tidak lupa mengajak putranya untuk istirahat, karena tubuhnya terlalu capek habis perjalanan jauh tadi.
"Sepertinya mereka lagi ada masalah deh korslet atau gimana mungkin, apalagi tadi Rendy juga bilang kayak gitu. Seolah-olah Azam sedang tidak memperhatikan mereka!" Ibu Dewi menatap ke arah suaminya.
Lalu ditimpali oleh yang lain. "Kemungkinan seperti itu."
Malam berlalu berganti dengan pagi dan waktu sudah menunjukkan pukul 08.00. Namun Azam belum juga terlihat batang hidungnya.
Membuat sang Bunda khawatir, lalu menelepon dia langsung. Tapi nggak ada jawaban! yang pada akhirnya sang ibu mertua kembali bertanya kepada Renita.
"Kenapa Azam nggak datang juga? bilang apa sama kamu! Ibu telepon pun nggak diangkat berkali-kali!" selidik sang ibu mertua menatap ke arah Renita yang sedang turut membantu menyiapkan makanan.
Renita menoleh kan kepalanya seraya berkata. "Dia tidak ada bilang apa-apa, Bu ... kemarin cuman bilang seperti itu saja, kalau dia akan menyusul!"
"Iya ... tapi kenyataannya sampai sekarang nggak datang-datang, tolonglah tanyakan kenapa nggak bisa datang? biar jelas ... masa di perjalanan semalaman!" sang ibu mertua tampak sangat cemas karena putra kesayangannya gak datang juga bahkan di telepon pun tak diangkat.
Renita menghela nafasnya dalam-dalam juga menelan Saliva nya yang terasa tersekat di tenggorokan. "Bu ... kalau dia nggak datang, berarti dia ngantor! maafkan dia kalau sibuk jadi nggak bisa datang ke sini!"
"Tidak biasanya Azam seperti ini, dia selalu perhatian dan menyempatkan waktunya untuk ibu. Kenapa sekarang begini?" Bu Dewi terlihat lesu.
Renita hanya terdiam ....
...🌼---🌼...
Jangan lupa dukungannya ya, makasih
__ADS_1