Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Di kunci


__ADS_3

"Gila, ponselnya dikunci, padahal dulu nggak pernah dikunci dan rasanya emang udah lama, aku nggak pegang ponsel mas Azam. Lebih dari satu bulan! setelah dia sibuk aku nggak pernah pegang ponsel nya." Gumamnya Renita sambil melihat ke arah tasnya Azam.


Kemudian, Renita menolehkan kepalanya ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup dan terdengar suara air yang masih mengalir, Renita buru-buru naik ke atas tempat tidur.


Namun detik kemudian Dia turun kembali dan mengambil pakaian ganti buat Azam, setelah itu ... dia merangkak naik lagi dan berbaring, menarik selimutnya sampai menutupi dada.


"Bener, aku baru ingat selama dia bulannya sibuk, jarang di rumah! aku nggak pernah pegang ponsel nya mas Azam. Padahal dulu aku sering memakainya malah! eh ... sekarang dikunci pula, berarti bener nih. Ada udang dibalik kuali." Monolognya Renita dalam hati sembari mencoba memejamkan kedua manik matanya.


Suasana begitu hening yang terdengar hanya suara air dari balik pintu kamar mandi.


Retttttt ....


Retttttt ....


Retttttt ....


Terdengar suara getaran ponsel miliknya Azam dari dalam tasnya. Renita mengangkat kepalanya melihat ke sumber suara tersebut dan juga pintu kamar mandi, mau diambil takut orangnya keluar. tidak di ambil penasaran. Siapa yang manggil dan akhirnya Renita buru-buru bangkit dari tidurnya, mengambil ponsel Azam dari tas kerjanya tersebut.


Dan ternyata ada sebuah panggilan dari kontak yang bernama, Say. Dengan profil wajah wanita cantik, yang Renita ingat dengan jelas kalau gambar wajah itu wanita yang selalu dengan Azam.


Degh ....


Bikin hati Renita bergetar tak karuan dan dia sudah berpikir buruk! pasti wanita itu yang menelpon suaminya malam begini.


Renita tampak gelisah dan menggigit bibir bawahnya. Lalu kepalanya celingukan, khawatir di saat-saat seperti itu Azam keluar. kemudian Renita memberanikan diri untuk menekan ikon ijo. Dan menerima telepon tersebut namun tanpa memberikan suara sedikitpun.

__ADS_1


"Halo sayang ... belum tidur kan?Besok tolong belanjakan susu ya? susu formula baby udah habis dan tadi aku lupa bilang sama kamu. Love you baby!"


Hampir saja Renita menjatuhkan ponsel miliknya Azam saking dia benar-benar merasa shock, terpukul dengan suara wanita itu yang bernada mesra! bahkan lebih mesra dari dirinya dan suami.


Bibir Renita bergetar, kedua menik matanya pun berkaca-kaca menahan tangis yang ingin segera membludak dari bendungannya.


"Benar-benar wanita itu tidak punya malu dan tidak punya perasaan, seharusnya dia tahu kalau pria yang dia panggil sayang itu sedang bersama istrinya."


"Dasar wanita yang nggak tahu malu. Lagian mau apa sih? bukannya baru saja ketemu! dan nggak ada waktu apa, untuk mengatakan itu disaat yang lebih tepat, bukan seperti saat ini!" Suara hati Renita sembari memegangi dada yang terasa sesak bagai tertimpa benda yang begitu berat.


Takut tak kuasa menahan tangisnya Renita buru-buru naik Kembali ke tempat tidur! dan selimutan sampai menutupi kepalanya di sanalah Renita menangis tanpa suara.


Luapan dari hancurnya perasaan dia sebagai seorang istri, mendengar suami dipanggil sayang oleh wanita lain yang sudah jelas-jelas! dikala berdua mungkin mereka lebih mesra dari ini. Ditelepon pun dia begitu mesra memanggil suaminya dengan panggilan sayang, baby.


Sesaat kemudian Azam pun keluar dari kamar mandi berjalan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil dan mendapati istrinya sudah di berselimut, dia merasa kalau istrinya sudah tidur lelap.


Azam buru-buru keluar dari kamar tersebut, yaitu ke teras kamar dan dia menerima telepon di sana.


"Ada apa? bukannya tadi ketemu!" suara Azam yang begitu pelan.


"Sayang tadi aku lupa bilang, kalau susu formula si baby sudah habis, tadi aku lupa bilang sama kamu. Tolong besok belikan ya? bisa kan? tapi kalau nggak bisa juga nggak apa-apa sih ... terpaksa aku ngasih susu jatah kamu saja! aku berikan sama Deris." Suara Sharon dari ujung telepon.


"Iya, besok aku belikan sepulang kerja, aku ke sana membawanya. Tenang saja. Jangan telepon. Aku kan lagi di rumah, nggak enak di dengar orang" jawabnya Azam.


"Iya maaf, abis perlu banget. Kalau nggak perlu banget juga nggak bakalan nelpon." Sambungnya dari ujung telepon tersebut, kemudian sambungan telepon pun terputus.

__ADS_1


Azam termenung sejenak di teras kamar, lalu kemudian dia masuk kembali ke dalam kamarnya! tidak lupa mengunci pintu dan mengarahkan pandangan ke arah Renita yang masih di posisi yang sama.


Sementara, Renita yang berada dalam selimut. Memasang pendengaran dengan tajam agar dapat mendengar gerak-gerik sang suami yang menerima telepon yang pastinya dari wanita tersebut.


Namun biarpun sudah menajamkan pendengarannya, Renita tak dapat mendengar apa-apa yang diobrolkan Azam yang berada di ujung telepon tersebut. Karena mungkin suaranya terlalu pelan dan berada di luar kamar.


"Aku yakin yang nelpon itu pasti wanita yang tadi, dan dia bilang nggak ya? kalau sebelumnya dia nelpon dan nggak ada suaranya, jangan-jangan dia bilang kalau tadi dia nelpon! diangkat!" gumamnya Renita dalam hati, tetap bergeming di tempat semula tanpa bergerak sedikit pun. Biar Azam mengiranya sudah tidur.


Tidak lama kemudian Renita mendapat pergerakan dari tempat tidur, mungkin Azam bersiap untuk membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang sama.


Azam tidak peduli sang istri sudah tidur atau belum, biasanya kalau mau tidur! Azam pasti memeluk tubuh sang istri mencium lebih dulu di kening dan di pipi, tapi semakin ke sini jarang bahkan tidak sama sekali.


Membuat Renita semakin sakit mengingatnya, benar-benar dirinya sudah tergantikan oleh wanita lain yang entah sudah memberi apa pada Azam sehingga pria itu dengan mudahnya melupakan keluarganya sendiri.


Seperti biasa, pagi-pagi sekali Renita sudah menyiapkan sarapan, sudah membereskan rumah yang khusus yang membuka-buka gorden walaupun belum nyapu dan ngepel.


Sebelum sarapan, dia memandikan dulu putranya, agar nanti tinggal bersiap-siap untuk sekolah.


"Met pagi Mas ... semalam pulang jam berapa?" sapanya Sheila kepada kakak iparnya dan Sheila pun berusaha untuk pandai menyimpan rahasia dimana dia mengetahui kalau kakak iparnya tersebut sudah mengkhianati sang kakak.


"Ooh ... Mas. Pulang malam, sekitar 10-an! apa kabar kamu?" ucapnya Azam sambil menatap ke arah Sheila.


"Aku ... baik, Mas. Nggak pa-pa kan kalau aku nginep di sini?" tanya Sheila kepada sang kakak ipar.


Azam menaikkan kedua bahunya serta mengangkat kedua tangannya, seolah mengatakan kalau dia nggak ada masalah seandainya Sheila menginap di rumah tersebut ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Makasih ya sudah membaca.


__ADS_2