Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Bicara sama teman


__ADS_3

"Kakak ... pinjem penggaris dong ... punya ku patah nih!" Pekik Alena dari balik pintu.


Rendy menoleh pada daun pintu. "Buka saja pintunya ... tidak dikunci." Suara Rendy sambil sedikit memekik juga.


Blak ... pintu terbuka dan masuklah Alena berjalan menghampiri. Memperhatikan sang kakak yang tampak sedang bicara di telepon. "Dimana? hayo ... pacaran ya ... aku bilangin bunda lho!"


"Apaan sih ... sotoy banget jadi orang. Aku tuh lagi bicara sama teman, bukannya pacaran! enak saja ya. Kalau mau ngomong pikir dulu!" Elaknya Rendy sambil mengerling.


"Alah ... bohong. Bilang aja pacaran diam-diam 'kan ... ayo ngaku. Bunda ... Kakak nih ... pacaran." Teriak Alena lagi yang tertahan di bekap tangan Rendy.


"Ngapain sih ... teriak-teriak, berisik banget." Kata Rendy pada sang adik.


"Kakak tuh pacaran mulu--"


"Siapa yang pacaran? sudah dibilang itu teman." Rendy membela diri.


(Halo, halo ... Rendy. Apa kau masih ada di sana?)


Lalu Rendy menempelkan kembali benda pipih ke dekat telinganya. "Sorry. Sudah dulu ya! ada mak lampir nih ... sesuai suaranya yang cempreng."


Toot ... toot-toot. Sambungan telepon pun terputus.


Alena menatap pada sang kakak, yang menoleh setelah menyimpan ponsel di saku nya.


"Kamu ini mau minjem penggaris bukan? kanapa masih mematung di sana?" selidik Rendy sambil mendekati meja belajarnya dan lalu membuka laptop.


"Oh, iya. Lupa!" Alena menepuk jidatnya lalu mengambil penggaris dari tempatnya dan pergi dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.


Rendy menggeleng sambil mengayunkan langkahnya untuk menutupi pintu yang dilintasi oleh Alena sambil menggeleng. Lantas kembali ke tempat semula, sesekali bibirnya menerbitkan senyuman dan entah memikirkan apa.


.


.


"Maaf ya saya risih dengan sikap kamu seperti ini, apalagi Saya sudah punya istri." Malik menatap seorang wanita yang akhir-akhir ini terlalu menunjukkan sikap yang agresif.


Saya tidak peduli kamu sudah punya istri punya anak, yang jelas saya suka sama kamu semenjak dulu. Semenjak kita kuliah bersama dan kamu pun tahu aku sangat suka sama kamu, tapi kamu tidak pernah merespon!" ucap si wanita itu yang berpenampilan elegan nan cantik.. Dan usianya tidak jauh dari Malik.

__ADS_1


Malik menatap ke arah wanita tersebut yang bernama Via, dia memang teman kuliahnya dulu dan dia sebenarnya sudah pernah menikah dan punya anak satu, sekarang sudah beberapa tahun ini menjadi janda berpisah dari suaminya entah masalah apa.


Dan akhir-akhir ini mereka kembali bertemu kebetulan ada bisnis bersama sehingga menjadikan mereka sering bertemu lagi.


"Sudahlah, kamu jangan gila seperti itu. Aku sudah punya pasangan yang bahagia, kamu pun kenapa tidak mencari yang lain yang lebih baik dari aku! lagian kenapa sih yang kemarin?"


Wanita itu menghela nafas dalam-dalam. "Memangnya aku harus mempertahankan rumah tangga yang penuh dengan KDRT. Sudah cukup tahun-tahun. Aku bertahan aku bersabar aku terima apa adanya. Aku ikhlas menerima takdir tapi mantan suamiku nggak ada berubah-ubahnya hingga akhirnya aku menemukan dan aku menyerah."


Terlihat Malik pun menghembuskan nafas secara kasar dari hidung dan kepalanya pun akhirnya manggut-manggut. "Oh ya, kabar anak mu sekarang di mana?"


"Baik, dan dia sudah kuliah," balas wanita itu sembari menyesap minumnya dan mengedarkan pandangan ke arah sekitar.


"Baiklah, kita kembali ke kantor lagi!" Malik beranjak dari duduknya sembari memanggil pelayan restoran dan membayar apa yang sudah mereka makan.


Via pun berdiri dan meraih tas branded nya. "Baiklah sampai ketemu lagi, aduh. Aku pusing banget nih," Via memegangi pelipisnya dan tangan satunya memegangi tangan Malik.


"Kamu kenapa?" dengan cepat Malik bertanya dan menatap serta merasa heran.


"Kepala ku tiba-tiba pusing, tolong antarkan aku ke mobil ya!" Via setengah memohon dan memegang tangan Malik lebih kuat. Dia berharap Malik mau mengantarkan nya sampai mobil saja, karena di sana juga ada sopir yang akan mengantarkannya kemanapun pergi.


"Oh, baiklah aku antar kamu ke mobil," sembari mengangguk lalu melingkarkan tangan ke pinggang Via yang menggandengnya, berjalan dengan tujuan sampai ke mobil saja.


"Berobat ke dokter lain, cari tahu sampai ketahuan apa penyakitnya!" kata Malik sambil terus berjalan berbarengan dengan Via yang juga melingkarkan tangan di pinggang Malik.


Langkah mereka terhenti di saat sudah berada dekat dengan mobilnya Via.


"Makasih ya. Mal, terima kasih banyak." Seru Via sambil memasuki mobilnya.


"Iya sama-sama, ya udah, semoga cepat sembuh dan istirahat yang cuku, Pak sopir hati-hati ya!" Tangannya ke arah sopir yang dibalas dengan anggukan.


Malik menghampiri mobilnya lalu kemudian ia mengajukannya dengan kecepatan sedang menuju kantor.


Setibanya di kantor kembali, Malik langsung ke ruang kerjanya yang sudah ada sang istri di sana.


"Dari mana dulu? Kok baru pulang," Renita menatap tajam pada sang suami.


"Habis makan dengan Klein. Langsung pulang ke sini." Kata Malik sambil mendudukan dirinya.

__ADS_1


Renita menatap dalam pada sang suami, entah apa yang dirasakan. Sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang tidak bisa diajukan, bibirnya terasa kelu berat untuk berkata-kata.


"Kenapa?"


"Tidak, tidak kenapa-napa!" Renita menggelengkan kepala seraya menyodorkan beberapa berkas ke hadapannya Malik Untuk ditandatangani.


.


.


Kini Renita sedang berada di pusat perbelanjaan, belanja keperluan bulanan. Di saat sedang asik berbelanja. Manik mata Renita menemukan seseorang yang berada sudah tidak asing lagi baginya, setelah menajamkan pandangannya. Ternyata dia sosok Sharon yang berjalan menghampirinya.


"Apa kabar?" Renita yang lebih dulu menyapa sembari mengulas senyuman yang ramah kepadanya, kini penampilan Sharon jauh berbeda dari sebelumnya terutama dari dulu ketika dia dekat dengan Azam.


"Alhamdulillah ... kabar aku baik, setelah sekian lama ... kita tidak bertemu dan ketemu lagi di sini," balasnya Sharon sembari mengulurkan tangannya dengan ramah kepada Renita.


"Iya sangat kebetulan sekali, sekarang kau tinggal di mana?" tanya Renita sembari mengambil sabun cuci dan memasukkannya ke rak belanjaan.


"Aku masih di kota ini tidak jauh-jauh," jawabnya Sharon dengan tangan mengambil sabun mandi cair.


"Gimana kabar kedua anakmu apa sudah bertambah dan mereka pasti sudah sudah besar-besar bukan!" Renita basa-basi menanyakan kabar kedua buah hatinya Sharon yang mungkin sekarang sudah pada dewasa.


"Ooh, anak-anakku sudah besar dan yang sulung sudah aku nikah kan, tinggal yang satu aja masih sekolah SMA. Kamu masih terlihat awet muda, bahkan lebih cantik dari dulu, aku dengar rumah tangga mu dengan suami mu itu awet sampai sekarang." Sharon menatap ke arah Renita penuh selidik.


Wajah Renita menerbitkan sebuah senyuman yang penuh syukur. "Alhamdulillah ... mungkin ini jodoh yang tertunda. Kamu sendiri gimana?"


"Alhamdulillah ... aku juga sudah lama menikah lagi, cuman belum juga dikasih momongan. Mungkin akunya sudah tua kali ya!"


"Siapa bilang? kamu masih muda kok, ya mungkin ... Allah belum memberi kepercayaan lagi." Timpalnya Renita.


"Tapi ... di usiaku yang sekarang, rasanya tipis kemungkinan untuk bisa punya anak lagi. Sementara mertua ku sudah dulunya nggak ... nggak terlalu setuju anaknya nikah sama aku, ditambah lagi sampai sekarang aku nggak punya anak. Tambah benci aja dia tuh, he he he ... tiap hari ketemu aku kayaknya bikin naik darah mulu."


"Tentunya Allah itu lebih mengetahui apa yang terbaik untuk umatnya, kita hanya bisa mensyukuri apa yang sudah kita terima. Bukankah jodoh rezeki maut Allah yang mengatur. Lagi pula bagaimanapun kamu sudah punya dua anak ya anggap saja itu anak bersama," tambahnya Renita kembali.


"Em ... Boleh, kita ngobrol sebentar! ya ngobrol-ngobrol aja gitu ... sambil minum es mungkin." Sharon memandangi ke arah Renita penuh harap.


Sejenak Renita terdiam memandangi ke arah Sharon yang tampak serius ingin mengajaknya ....

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2