Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Jogging


__ADS_3

Azam hanya bisa menatap ke lantai atas melihat istrinya yang menghilang di sana.


Sementara Sharon membanting pintu kamar dan bergegas naik ke dalam kamar mandi yang ingin segera membersihkan diri.


Azam pun segera menyusul Sharon ke kamar nya dan menemukan kamar kosong, tetapi dari kamar mandi terdengar suara kucuran air yang menandakan di dalamnya ada seorang. Yaitu Sharon.


Pria itu duduk di atas sofa sembari membuka laptopnya, menunggu saat istri keluar dari kamar mandi.


Setelah beberapa saat menghabiskan waktunya di kamar mandi, Sharon pun keluar dengan sudah menggunakan lingerie warna kesukaannya yaitu merah marun.


Ujung mata Azam memperhatikan ke arah Sharon yang mengenakan lingerie merah marun, dan sontak menggugah hasratnya sebagai laki-laki normal.


Setelah mengenakan wewangian di tubuhnya, Sharon pun berjalan menghampiri tempat tidur. Lalu melangkahkan kaki mendekati tempat tidur lantas berbaring tanpa menutupi tubuhnya dengan selimut.


Azam langsung menutup laptopnya, kemudian dia menghampiri sang istri dengan gaya yang tampak tergoda. Bak singa lapar menghadap korban.


"Sana Mas jangan dekat-dekat aku capek. Lagian kamu kan habis marah-marah, ngapain kamu deketin aku? sana jauh-jauh!" Sharon mendorong dadanya Azam yang sudah memposisikan tubuhnya berada di atas Sharon.


Namun Azam tidak mengindahkan perkataan dari Sharon, dan tidak bergerak sama sekali. Tidak menjauh dari Sharon yang ada di malah semakin mendekat pada istrinya itu.


"Jamu ini aneh, Mas baru saja kamu marah-marah sama aku! tapi sekarang malah kamu dekat-dekat dan minta jatah sama aku. Aneh sekali kami ini." Ketusnya Sharon sembari terus mendorong-dorong dadanya Azam.


"Rrrgghh, ach ... turunkan saja mau karena aku suami mu atas dirimu!" suara Azam dengan parau dan nafasnya terengah-engah. Lalu tidak dia membuang-buang waktu dan langsung saja menyerang mangsanya.


Mulanya Sharon terus meronta dia tidak mau melayani Azam, karena dia merasa capek! apalagi tadi dia sudah melakukan itu bersama pria baru yang bernama Darwan itu, dan lumayan dia mendapatkan uang sekian juta dari pria tersebut. Lumayan lah untuk senang-senang, nyalon merawat diri dan membeli yang dia mau.


Tetapi lama-lama Sharon pasrah juga, apalagi Azam itu tenaganya sangat bagus dan memuaskan. Dan Sharon mencari kepuasan di luar pun hanya sebuah kenakalan yang sudah mendarah daging di tubuhnya.


Di ruang itu hanya terdengar suara nafas saja dari keduanya yang memburu bagai orang yang sedang berlari maraton.


...-----------...


Saat ini keluarganya sudah berada di rumahnya Renita untuk persiapan pernikahannya dengan Malik.


Renita pun sudah cuti dari beberapa hari lalu dan lebih menyiapkan diri di rumah, ke salon dan merawat mempercantik diri.

__ADS_1


"Ren, apa lah orang tua Azam sudah di kasih tahu?" tanya sang ibu pada Renita.


Renita yang sambil luluran menoleh pada sang ibu. "Sudah, dan mereka akan datang kok!"


"Baguslah, kalau begitu ibu senang di antara kita tetap terjalin silaturahmi yang baik. Dengan begitu ... hubungan dengan Rendy pun cukup baik." Sambungnya sang ibu.


"Iya, Bu ... aku juga akan selalu mendekatkan Rendy dengan keluarganya! sekalipun papanya sendiri yang menjauhi Rendy." Renita menghela nafas dalam-dalam dadanya begitu terasa sesak jika mengingat hal itu.


Tanpa nafkah, tanpa perhatian! Azam lepas dari tanggung jawabnya sebagai ayah. Sungguh menyakitkan memang.


"Biarlah, jangan bikin sakit hati apa yang kita tanam suatu saat nanti akan kita semai juga." tambahnya sang ayah sembari melihat ke arah Rendi yang tengah bermain bersama teman-temannya di teras.


"Iya, Yah ... itu benar dan semoga aja Rendy ada rejekinya. Walau tanpa perhatian dari papanya." Balas Renita sambil mengangguk kecil.


Saat ini Renita sedang berada di teras depan kamar, sedang melamun dan memikirkan bahwa besok lusa dia akan menikah, dan pindah status dari janda menjadi seorang istri kembali. Seorang Istri seorang Malik, pria yang termasuk teman lama tidak termasuk orang baru dalam hidupnya.


Kadang kepikiran, benarkah Malik adalah jodohnya? jodoh yang terbaik menurut Allah yang Maha kuasa, karena sesungguhnya apa yang menurut kita baik belum tentu yang terbaik bagi Allah! dan yang kita anggap buruk bisa saja itu adalah yang terbaik yang Allah berikan kepada umatnya.


Renita hanya bisa berharap kehidupan yang akan datang adalah lebih baik dari sebelumnya, dan jangan pernah menemukan kembali penghianatan yang pernah dia dapatkan dari suami sebelumnya. Juga mendapat seorang sok suami yang sayang istri dan juga anak! sekalipun itu anak sambung.


"Mbak, sedang apa di sini? kok melamun sendiri lagi." Suara Sheila yang baru saja masuk dan menghampiri sang kakak.


"Mbak bisa aja. Oh ya Mbak, ya anggap saja lah tinggal menghitung waktu gitu, ya pernikahan Mbak sama abang Malik. Apakah mbak yakin akan menikah dengan laki-laki itu?" selidiknya Sheila sembari menatap dengan lekat kepada sang kakak.


"Emangnya kenapa, kok kamu nanya seperti itu? tentu Mbak yakin seyakin-yakinnya kalau Mbak akan menikah dengan Malik." Renita malah balik bertanya.


"Ya ... nggak apa-apa sih ... Mbak kan pernah bilang pernikahan itu harus benar-benar matang, dalam segala hal, jadi ya wajar kalau aku bertanya. Juga buat pelajaran aku sendiri nantinya, kalau menikah waktunya nanti agar tidak menyesal di kemudian hari bukan.


"Ya, itu benar." Renita tampak melamun dengan anteng.


"Aku ingin Mbak bahagia di kehidupan yang akan datang. Rendy juga mendapat sosok ayah yang sudah hilang." Sheila memeluk sang kakak.


"Terima kasih ya Shela. Semoga kamu juga secepatnya dapat suami yang seperti yang kamu harapkan yang intinya satang san bertanggung jawab pada keluarga." Balas Renita sembari memeluk sang adik.


Malam semakin larut dan membawa ke sebuah pagi yang indah, langit melukiskan awan yang terkena cahaya matahari yang masih malu-malu untuk menampakan sinarnya.

__ADS_1


Rasa hangat pun mulai menyapa kulit yang menggantikan rasa sejuk mengusir rasa dingin yang menempel di tubuh.


Seorang wanita yang mengenakan kerudung hitam samar itu dengan berlari kecil di depan komplek. Menggerakan semua anggota tubuhnya meregangkan otot-otot yang kaku.


Dari jauh terlihat seorang pria yang tengah berlari kecil dan menghampiri Renita.


"Eitsh ... joging kok di sini sih? kok bisa! hi hi hi ..." Renita menatap ke arah pria itu yang berlari kecil mendekatinya.


"Pagi sayang! sendiri aja nih. Kalau gak kerja rajin olah raga, tapi kalau kerja ... mana ada berolah raga kan?" balas pria itu sambil mesem.


Pria itu adalah Malik yang sengaja ke tempat tersebut untuk jogging bersama calon istri.


"Pura-puranya jogging, padahal bawa mobil. Di mana mobilnya?" tanya Renita sembari tersenyum dan menatap ke arah Malik yang menggunakan celana pendek dan kaos singlet berwana hitam.


"Ada di sana, ngintip ya? kok kerudung sama hitam dengan kaos ku sih!" Malik melihat kaos yang melekat di tubuhnya.


"Ngintip apaan? sembarangan. Kebetulan saja kali ach ..." Renita menggeleng.


"Kok sama sih ..." Malik mesem sambil menggerakan kepalanya kanan dan kiri.


"Kebetulan saja." Kata Renita.


"Ya sudah, jangan kerja lagi lah. Biar banyak di rumah." Saran Malik.


"Nggak mau ah, aku ingin terus berkarir dan aku tidak mau terlalu menggantungkan kehidupan ku kepada suami. Aku ingin punya penghasilan sendiri. Biar tidak terlalu menjadi bebannya!" Renita menggeleng. Dia tidak setuju jika harus berdiam diri di rumah.


"Oke lah, kalau begitu ... kita bicarakan nanti saja! ayo jalan?" Malik bersiap berjalan cepat.


Lalu mereka berlari kecil bersama, keluar dari area komplek. "Sayang, aku beli minum dulu ya!" Malik berlari ke arah warung dan Renita berjalan di tempat.


"Auwwhhh ..." jerit suara Renita.


Brok-brek, brak ....


Malik yang baru saja keluar dari warung. Langsung menoleh ke arah sumber suara ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Apa kabar reader ku semua ... semoga hari ini kalian berada dalam lindungan Allah subhanahu Wa ta'ala, diberi kemudahan, kelancaran di setiap urusannya. Aamiin.


__ADS_2