Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Beda faham


__ADS_3

Setibanya di rumah, Rendy langsung beristirahat dan Malik kembali ke kamarnya setelah barusan menemui Azam yang mengantarkan Rendy pulang.


Keesokan hari nya. Renita sedang menyiapkan sarapan buat suami dan putranya.


"Neng, Bibi mau bicara sesuatu!" suara Bibi yang tidak jauh dari Renita.


"Hem ... emangnya mau bicara apa Bi? ya bicara aja lah," Renita menoleh sekilas lalu kembali berkutat dengan tugasnya.


"Kemarin, waktu Bibi ke pasar. Dan Bibi melihat sesuatu!" Bibi menggantungkan perkataannya sembari celingukan seolah tidak ingin dengan orang lain.


Renita kembali menoleh pada bibi. "Melihat apa Bi?"


"Bibi, melihat Mbak Shopia sedang jalan dengan laki-laki--"


"Ya nggak apa-apalah Bibi ... normal lah!" potongnya Renita sambil tersenyum.


"Bukan begitu, Neng ... laki-lakinya itu suaminya Mbak Yusna!" Bibi setengah berbisik pada Renita.


Renita melongo mendengar bibi bicara demikian. Bertambah lah orang yang menjadi saksi kecurangan Anto sebagai suami nya Yusna.


"Kalau saya lihatnya selewat sih. Bibi juga nggak percaya kalau itu mas Anto suaminya Mbak Yusna. Akan tetapi karena Bibi mempertajam pandangan! tetap aja dan akhirnya yakin kau itu mas Anto!" tambahnya bibi.


"Em, Bi ... jangan bilang dulu sama siapa-siapa ya. Takutnya menjadi fitnah." Ungkap Renita sambil menuangkan nasi goreng ke dalam piring.


"Iya, Neng ..." bibi mengangguk pelan.


Renita menghela nafas dalam-dalam mengingat suaminya Yusna yang dekat dengan Shopia.


Lalu kemudian Renita naik ke lantai atas untuk melihat suaminya dan putra nya. Namun Rendy sudah muncul dengan membawa tas punggungnya.


"Sudah siap ya?" sapa Renita pada putranya.


"Aku sudah siap." Rendy mengangguk sambil berjalan turun untuk sarapan.


Langkah Renita dilanjutkan ke dalam kamarnya dimana sang suami belum juga keluar.


"Lho, kok belum siap sih, kan sudah siang!" Renita menatap heran pada suaminya yang masih menggendong baby Alena.


"Sudah mandi kok, cuman belum siap-siap saja! karena kan belum di siapkan juga pakaiannya." Balasnya Malik.

__ADS_1


Renita melihat ke tempat biasa dia menyimpan pakaian Malik yang dia siapkan, kosong. "Ya ampun ... aku lupa." Renita menepuk jidatnya sambil gegas berjalan mendekati lemari lalu mengambil pakaian buat suaminya.


"Kok bisa lupa sih? biasanya nggak pernah lupa!" Malik menggeleng sambil berjalan mendekati sang istri yang kini berdiri di tepi tempat tidur menyimpan semua keperluannya.


"Iya maaf aku lupa! bener deh, ya udah sini? Alena sini sama Bunda ..." Renita mengambil alih Alena dari tangan Malik.


Setelah beberapa saat menyiapkan diri akhirnya Malik tampak rapi, tidak lupa menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya sehingga wanginya memenuhi ruangan kamar tersebut.


Dan Renita yang memperhatikan dari jarak beberapa langkah dari Malik, sambil memangku putrinya yang mulai tidur.


"Sudah ganteng kok ... dan wangi, itu mau ngantor apa mau ngedate? hi hi hi ..." Renita melihat Malik yang tampak rapi lalu wangi.


Malik menatap Renita dari pantulan cermin dan menarik bibirnya untuk menunjukan senyumnya. "Kenapa, cemburu? ikut yo ngantor lagi. Alena bawa saja mumpung jabatan itu belum ada yang ngisi."


"Ha? serius! aku boleh ngantor lagi dan mengajak Alena, kebetulan kan dia anteng!" Renita menanggapi dengan serius dan antusias.


"Iya, boleh. Biar aku bisa ketemu tiap waktu dengan kalian. Tapi ini bukan karena kamu kekurangan uang ya ... tapi apa salahnya kita mengelola perusahaan dengan sama-sama! asal anak kita tidak terlantar," Malik menempelkan bokongnya di ujung meja rias.


"Em ... kalau gitu minggu depan deh aku masuk kantor sambil mempersiapkan dan kondisinya Alena." Renita menerbitkan senyuman manisnya. Merasa senang di 8ninkan ngantor lagi.


Kini di meja makan, Malik dan keluarga tengah asik sarapan.


Sang ibu mertua menatap heran. "Kamu mau ngantor, emangnya kurang uang dari Malik? Alena ini masih kecil lho. Dan kamu akan bawa ke kantor?"


Renita mengangguk pelan sambil menikmati sarapannya. "Iya Alena akan aku bawa ke kantor daripada aku tinggalkan di rumah dan menyewa baby sitter. Dan ... ada Mama pun tidak boleh capek, juga gak mau merepotkan Mama. Jadi mendingan Alena ku bawa saja!"


"Tapi buat apa kamu bekerja ... emangnya kamu Malik gak kasih dia uang?" Bu Amelia menatap mantu dan putranya bergantian.


"Aku kasih kok, kan memang Reni juga yang ingin bekerja dan mandiri. Aku sih cuman kasih ijin doang!" balasnya Malik.


"Masa sih ... Alena kamu ajak ke kantor?" kaya orang susah saja, ha ha ha ..." suara Yusna, dia baru saja datang.


"Yus, ada apa? tumben pagi-pagi sudah datang?" sang Ibu menatap heran pada putrinya.


"Lah Mah ... lupa, Mamah 'kan mau periksakan kesehatan ke rumah sakit dan aku yang mengantarnya." Yusna balik menatap tajam pada sang Bunda.


"Oh iya Mama lupa, iya bener-bener! hari ini Mama mau check up, ya Allah sudah tua jadi pelupa." Bu Amelia menggelengkan kepalanya! dia benar-benar lupa kalau hari ini ada jadwal check up kesehatan.


"Kalau gak mau nganterin Mamah, ngapain aku datang ke sini pagi-pagi, nggak ada kerjaan apa! orang di rumah juga anak-anak masih belum berangkat sekolah, cepetan siap-siap!" Yusna sambil menundukkan bokongnya di kursi meja makan yang kosong dan mengedarkan pandangannya pada isi meja.

__ADS_1


"Mama, baiknya habiskan dulu sarapannya jangan terburu-buru juga nggak baik," lirihnya Renita sambil menyodorkan minum pada sang ibu mertua.


"Masalahnya ... nanti keburu siang. Lagian kalau berangkatnya siang ngapain aku buru-buru ke sini? udah aja ngurus rumahku sendiri!" ucapnya Yusna yang ditujukan kepada Renita.


"Ya bukannya nyuruh siang juga Mbak ... Mama kan masih sarapan! ya dihabisin dulu sarapannya baru siap-siap bukannya berarti aku nyuruh siang berangkatnya, lagian ... sebenarnya aku juga bisa mengantar mama kalau seandainya Mbak Yusna sibuk!" timpalnya Renita.


"Kalau emang siap ngantar, ya udah ngapain ku ke sini!" Tambahnya Yusna sambil menggoyangkan kedua bahunya.


"Aku juga sudah berniat kok untuk mengantar mama!" lanjut Renita.


"Ehem. Ngapain sih pagi-pagi udah debat. Lagian kamu juga Mbak sabar dikit! namanya juga mama sudah tua, makannya nggak bisa cepat-cepat! apa-apa nggak bisa diburu-buru!" Malik menengahi antara Yusna dan Renita.


"Iya-iya ... aku salah iya." Yusna mengaku salah kemudian dia menatap ke arah Rendi yang menyudahi sarapannya.


"Kamu pergi sekolah sama siapa?" tanya Yusna kepada Rendy.


"Em, di antar sama supir Tante." Jawabnya Rendy singkat.


"Kenapa masih diantar sopir? kamu kan sudah besar masa nggak bisa bawa motor! mintalah motor sama bunda mu 'kan wanita mandiri, kerja yang punya penghasilan tinggi dan juga papa mu 'kan nggak kurang dengan uang setelah bekerja dengan Papa mu Malik, biar bisa berangkat sendiri! pulang juga sendiri," tambahnya Yusna.


"Maaf, maaf ... ya Mbak! Rendy itu masih di bawah umur, belum boleh mengendarai kendaraan dan aku ... biarpun dia bisa! nggak akan ku kasih, jangankan membelikan untuk dia pribadi, meminjamkannya aku nggak izinkan!" celetuk nya Renita yang berbeda faham dengan sang kakak ipar.


"Istriku benar, Rendy belum pas untuk membawa kendaraan sendiri. Bukannya saya tidak ingin memanjakan Rendy tapi memang ada peraturannya!" tambahnya Malik sembari menoleh pada sang kakak lalu kemudian kepada Rendy yang terbengong-bengong.


"Lagian Rendy juga tidak ingin kok membawa kendaraan sendiri, enakan dianterin sama Pak sopir, ya sudah Rendy berangkat dulu ya? Pah, Bunda, Oma ... Tante assalamualaikum." Rendy menyalami semua orang yang berada di sana.


Rendy pun berangkat ke sekolah bersama sopir, dan kini Malik juga bersiap untuk pergi ke kantor. setelah berpamitan kepada sang Bunda dan istrinya.


Renita berdiri di teras sambil melambaikan tangan ke arah mobil sang suami.


"Apa benar kata Mama! kamu mau ngantor dan Alena mau diajak segala!" tanya Yusna setelah Renita kembali ke dalam rumah.


"Iya mbak aku akan bawa Alena agar tidak harus merepotkan orang lain di rumah. Lagi pula Alena anteng kok seandainya diajak aku bekerja pun!" jawabnya Renita dan membenarkan.


"Apakah nggak cukup kamu bertemu sama Azam bukankah diam di rumah pun kamu sering ketemu sama Azam? dengan alasan bolak-balik menemui Rendy?" ucapnya Yusna dengan tatapan yang kurang bersahabat ....


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2