Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Membanggakan


__ADS_3

“Auwh!” desis Renita sambil mengangkat kaki nya sebelah yang terasa sakit karena tidak sengaja ke injak kaki sang suami yang tampak cemas dan merasa bersalah.


“Kenapa sayang? maaf!” Malik berjongkok dan mengecek kaki nya sang istri yang ke injak barusan yang tampak meringis kesakitan.


“Iih ... gak lihat-lihat apa ... kaki orang di injak!” Renita cemberut sambil berjinjit sebelah kakinya. Jarinya terlihat merah setelah melepas sepatunya.


“Iya sayang ... kan sudah aku minta maaf. Ya sudah aku gendong biar gak harus berjalan ke mobil.” Malik berdiri dan sedikit membungkuk menggendong tubuhnya Renita yang dengan refleks merangkul pundaknya takut jatuh di saat tubuhnya melayang di udara.


“Turun kan aku? malu di lihat orang lho ... aku masih bisa jalan sendiri kok, jari kaki Cuma merah saja, tapi sakit sih.” Renita minta di turunkan namun tidak di indahkan oleh sang suami. Dia terus saja membawa Renita sampai tiba di mobilnya.


Dari kejauhan terlihat Azam memperhatikan ke arah pasangan yang selalu mesra tersebut.  Hatinya terasa menghangat dan sedikit terbakar api cemburu yang harus dia pendam selama-lamanya, itu demi kebahagiaan masing-masing.


“Huuh ... aku harus bisa membuang perasaan ini yang tidak seharusnya ada dan bertahta dalam jiwa. Kami sudah punya pasangan masing-masing yang tentunya bahagia dengan jalannya sendiri-sendiri.” Azam bicara sendiri sambil membuang pandangan ke arah lain. Azam pun merogoh saku nya mengambil ponsel untuk menelpon ke rumah menanyakan kedua buah hati nya.


Azam berbicara di telepon dengan orang rumah yang mengasuh kedua buah hatinya dengan Rosita. Sekalian membuang pikiran yang tidak seharusnya ada.


Mobil Malik melaju dengan sangat cepat dan mereka memilih makan di tempat yang agak jauh dari kantor, dengan alasan bosan kalau yang dekat-dekat dan menu itu-itu saja. Padahal bukan itu saja alasannya, bagi Malik biar tidak terlalu atau selalu bertemu dengan mantan nya Renita yang bagaimana pun satu kantor dan menjadikannya sering bertemu.


“Oya, tadi lupa! tidak aku tanyakan kalau Rosita sudah pulang atau masih di rawat? pada mas Azam.” Renita sambil menoleh dan mengusap ibu jari kakinya yang terasa masih panas dan merah.


“Sudah, sudah ku tanyakan tadi. Katanya masih di rawat dan tidak tahu kapan bisa pulangnya sebab masih belum kering luka bakarnya.” Jawabnya sambil menyetir dan menepikannya di sebrang sebuah restoran terkenal.


“Ooh ... gitu ya, kasian ya? mana punya balita di rumah.” Renita pun turun sedikit merasa sakit, setelah dibukakan pintu nya oleh Malik.


Malik menggandeng pinggangnya Renita sambil berjalan menyebrang, lantas memasuki pintu kaca restoran tersebut. Mereka memilih meja yang tidak jauh dari pintu utama yang langsung di layani oleh pekerjanya.


Malik pun langsung pesan beberapa menu yang dia suka dan juga Renita. "Minumannya ... Jus dan air putih!"


"Baik, pak. Mohon di tunggu sebentar!" balas pelayan lalu mengundur diri.


Renita mengangguk sambil terus mengurut jari kakinya.

__ADS_1


"Masih sakit?" Malik mendekat dan mengelus bagian kaki Renita yang tadi ia injak.


Tidak lama menunggu, beberapa saat kemudian ... Pesana mereka pun datang dan lantas mereka berdua menikmati makanannya dengan lahap dan nikmat.


Pada sore hari jam pulang kantor, Renita langsung pulang ke rumah, dengan alasan kangen dengan Alena dan khawatir yang berlebihan gara-gara mimpi semalam. Keduanya langsung turun berbarengan dan Renita lebih dulu masuk ke dalam rumah, biarpun seharusnya berbelanja dulu keperluan bulanan.


“Bi ... Alena di mana, Bi ... sudah pulang dari lesnya bukan?” tanya Renita pada bibi yang sedang menyiapkan masakan buat makan malam nanti.


“Ada Bu ... di kamar nya dan sudah pulang dari satu jam yang lalu.” Jawab bibi sambil menatap pada Renita yang menjinjing tas kerjanya dan bersiap untuk mengayunkan langkahnya menaiki anak tangga.


“Oh, bagus lah kalau sudah pulang dan makasih ya, Bi ...” gumamnya sambil membawa langkahnya ke lantai atas. Dan ingin menemui Alena lebih cepat di kamarnya sebelum ke kamar pribadi.


Tok!


Tok!


Tok!


“Sayang. Alena sedang apa?” Renita langsung saja mendorong handle pintu dan membukanya, masuk dan mendapatkan Alena tengah asih menggambar.


“Sama-sama sayang ... suka gak?” Renita duduk lesehan di lantai. Mengikuti Alena yang duduk di lantai juga.


“Suka dong Bun ... aku suka sekali dan sekali lagi makasih ya ...” Alena memeluk bunda nya dengan sangat erat. "Aku sayang Bunda!"


“Iya sama-sama sayang .. Bunda juga sayang sama putri kecil Bunda ini, senang kalau Alena suka dengan barangnya. Lebih giat belajar nya ya? Bunda sama Papa bangga sama kalian semua.” Tambahnya sang bunda sambil membalas pelukannya Alena.


Senyuman Renita tampak sangat mengembang dan raut wajahnya sangat berseri, mengingat putra dan putrinya pintar-pintar dan menurut pada orang tua.


“Baiklah ... lanjutkan kembali menggambarnya ya. Bunda mau ke kamar dan mau mandi dulu,” ucap Renita sambil beranjak dan mengacak rambutnya Alena dan membalikan badannya.


"Oke, Bunda ... Selamat beristirahat." Alena melambaikan tangannya pada sang bunda.

__ADS_1


Malik tampak tersenyum melihat istri dan putrinya tampak sekali dekat dan saling menyayangi. Ia pun bersyukur kalau kedua buah hatinya sudah terlihat akan membanggakan kedua orang tua nya kelak.


“Hem ... sedang apa di situ. Ngintip ya?” Renita mengulum senyumnya sambil berjalan mendekati pintu, dimana Malik berdiri di ambang pitu kamar tersebut.


“He’em ... mengintip ... boleh dong, semoga anak-anak kita akan membanggakan kita semua ya?” malik merangkul bahu nya sang istri sambil berjalan dengan langkah yang teratur menuju kamar pribadi mereka.


“Aamiin ... semoga saja ya,” Renita tersenyum pada sang suami yang selalu lembut memperlakukannya.


Setelah berada di dalam kamar, Renita lebih dulu menghampiri kamar mandi untuk membersihkan diri yang terasa lengket sekali karena keringat yang seharian ini beraktifitas.


Malik melepas jam yang melingkar di tangan kirinya dan lalu membuka dasi juga kemeja nya, celana panjang juga! yang hanya menyisakan celana pendek saja. Menoleh pada sang istri yang sudah keluar dan dibalut kimono handuk yang putih bersih.


“Kenapa melihat ku seperti itu? jadi ngeri iih ...” Renita sambil bergidik namun bibirnya tersenyum mengejek sambil memberi ekspresi geli.


Malik mendekat sambil menatap lekat pada sang istri yang masih juga berdiri menatap heran.  “Emangnya tidak boleh menatap istri ku sendiri? yang cantik ini.”


“Em ... boleh sih,” gumam Renita sambil hendak mengambil  sisir dari atas nakas. Namun Malik memeluknya erat, seolah sudah lama tidak bertemu dan ingin melepas rindu.


“Kamu kenapa sih ... seperti orang yang jarang ketemu saja, hi hi hi ...” Renita dalam pelukannya.


“Aku sangat kangen sama kamu,” ucapnya Malik sambil mengeratkan pelukannya dan membawa ke atas tempat tidur.


“Katanya mau mandi. Mandi sana?” Renita mendorong dada sang suami, namun dia bukannya pergi malah semakin menguatkan rangkulannya serta membaringkan tubuhnya.


“Nanti, am. Aku mau kita melepas rindu terlebih dulu, sebentar! setelah itu barulah aku mau mandi.” Malik kini berada di atas sang istri yang menatap sendu serta senyuman yang menenangkan dari bibirnya Renita.


Keduanya melanjutkan kegiatan melepas rindu seperti yang Malik maksudkan. Di balik selimut tebal mereka melepaskan semua kerinduan yang mendalam di dada satu sama lain. Bertraveling ke tempat yang indah dan membawa kebahagiaan yang sangat hakiki, membuai jiwa yang bergelora terlepaskan.


.


.

__ADS_1


Dalam beberapa hari Rendy pun pulang ke rumah papanya untuk menemani kedua adiknya yang masih kecil, sebab Rosita masih di rawat di rumah sakit sehingga Azam pun menemani istrinya di rumah sakit dan menitipkan Popi dan Syifa ke asisten dan putra sulungnya ....


Bersambung.


__ADS_2