Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Kenapa bunda


__ADS_3

"Aku sudah melihat jenazah Mas Azam tadi, dia tampak senyum padaku dan aku masih ingat kata-kata terakhir dia. Kalau dia mengatakan ... tenang saja tidak akan terjadi apa-apa, sementara dia membawa mobil begitu cepat, Mbak ... karena dia ingin sekali menyaksikan Rendy di wisuda sesuai dengan janjinya kepada Rendy waktu itu, kami terlambat sehubungan macet, lantas laju mobil pun begitu cepat. Aku sudah memperingatinya, aku takut dan aku khawatir! tapi dia tidak mau mendengarkan ku, Mbak." Rosita menggelengkan kepalanya sembari terus mengeluarkan air mata.


Renita pun terus mengusap air mata Rosita dengan tisu. "Aku mengerti, mungkin Mas Azam tadinya ingin segera sampai ke tempat wisuda Rendy, tapi karena salah perhitungan dan takdir mengatakan lain ... sehingga ini terjadi, ya Allah ..." kepala Ranita mendongak ke langit-langit seraya menghembuskan nafas yang terasa sangat berat di dadanya. "Aku mengerti dengan perasaan mu saat ini, sebagai seorang istri yang sampai akhir hidupnya bersama kamu. Pasti sangat kehilangan! aku pun yang sudah menjadi mantannya dan lama terpisah rasanya sangat kehilangan dia!"


"Aku sangat-sangat kehilangan, Mbak ... apalagi aku nggak punya siapa-siapa selain dia! adik aku pun jauh dan keluargaku pun entah ada dan entah gak ada. Mungkin ini yang dikatakan hidup sebatang kara--"


"Shuuut ... jangan bicara begitu, kamu tidak sebatang kara! masih ada aku. Keluarga aku dan juga anak-anak yang akan membutuhkan perhatian dan kasih sayang mu," Renita berusaha untuk menguatkan dan memberi pengertian kepada Rosita.


Renita menoleh ke arah pintu yang sebelumnya terdengar derap langkah yang mendekati dan ternyata itu orang tua Renita bersama Sheila dan juga Dion. Suaminya.


"Assalamu'alaikum, Mbak beneran Mas Azam?" Sheila menggantungkan perkataannya sembari menoleh ke arah Rosita yang sedang banjir dengan air mata.


"Wa'alaikum salam, Ibu. Ayah apa kabar, kalian kenapa tidak mau aku jemput untuk menghadiri Rendy wisuda?" Renita langsung menyalami dan mencium kedua tangan orang tuanya bergantian.


"Kami sedang sibuk di kebun, walaupun begitu doa kami terus menyertai kalian semua! tapi mendengar berita ini ... rasanya kami harus datang bagaimanapun Azam mantu kami," ucap bapak yang kemudian mendekati Rosita dan sedikit berbincang dengannya.


"Iya Ren ... kami sangat terpukul dengan adanya berita ini, terus di mana yang lain?" lirih ibu kepada Renita sembari mencari keberadaan yang lainnya.


"Mereka sedang berada di ruang jenazah. Bu, padahal kalau seandainya Ibu dan Ayah kemarin mau ke sini. Dijemput dari kemarin juga," balas Renita sembari menoleh ke arah Dion yang tampak bengong.


"Dion, apa kabar!" Sapa Ranita yang tertuju pada Dion.


"Baik mbak, Alhamdulillah!" Balasnya Dion sembari mengangguk.

__ADS_1


Kemudian ayah dan ibu, Sheila dan juga Dion keluar dari ruangan tersebut untuk mendatangi ruangan jenazah.


"Aku mau ke ruang jenazah dulu ya sebentar dan aku akan kembali, kamu yang sabar ya!" Renita berdiri dan mengusap punggung tangan Rosita. Rosita pun mengangguk pelan. Lalu kemudian dia membawa langkahnya keluar dari ruangan tersebut untuk menyusul keluarganya semua.


Setibanya di ruangan jenazah, tampak Rendy duduk bersimpuh di lantai sambil menangis. Wajahnya tampak lusuh dan di sampingnya berangkat jenazah yang terlihat wajahnya yang tiada lain adalah Azam dengan dada yang berdebar dan perasaan yang tidak karuan! perlahan Renita mendekat menatap wajah yang tampak tersenyum seperti yang dikatakan Rosita, jenazah Azam pun belum dimandikan.


Deraian demi deraian air mata pun terjatuh di wajah Renita, Ia pun menghela nafas dalam-dalam memundurkan langkahnya dan mendekati Rendy yang dikerumuni oleh yang lain termasuk Malik yang berusaha untuk menenangkan dan mengajaknya berdiri! namun Rendy sulit untuk di bujuk, dia terus meratapi kepergian sang ayah. Bagaimana Rendy tidak terpukul tidak shock, di hari wisudanya yang seharusnya dia bahagia malah mendapati musibah seperti ini. Bahkan sang ayah yang pergi meninggalkan untuk selama-lamanya.


Malik menoleh pada sang istri dan memberikan ruang untuknya, sehingga Renita bisa berjongkok di samping putranya. Memegangi kedua bahunya dengan tangan yang lembut dan mengecup pucuk kepalanya penuh kasih dan sayang.


"Rendy ... dengarkan Bunda, maut, rezeki. Jodoh, Allah yang mengaturnya dan kita hanya bisa menerima dengan ikhlas. Mungkin ini yang terbaik buat papa dan Allah sayang sama Papa! sehingga Allah lebih cepat memanggil papa--"


"Tapi kenapa harus secepat ini, Bun ... di saat Rendy sedang wisuda bahkan Papa nggak sempat menyaksikan Rendy wisuda, Bun. Karena dia masih diperjalanan, sehingga terjadinya kecelakaan dan sekarang Papa pergi untuk selama-lamanya meninggalkan Rendy, Bun. Rendy belum puas dengan kasih sayang yang Papa berikan pada Rendy, Bunda. Kenapa Papa secepat ini pergi, Bun? sejak bunda dan papa berpisah ... Rendy lebih banyak sama Bunda menerima kasih sayang dari bunda dan kecil kasih sayang dari papa, pas Papa kembali menyayangi Rendy, memperhatikan Rendy. Peduli sama Rendy! secepat ini Papa pergi! belum puas aku bersama papa, belum puas! aku belum menunjukan kalau aku bisa menjadi pilot sama papa, Bun!"


Begitupun dengan Renita yang tampak semakin tersedu dengan ucapan putranya barusan.


Rendy berdiri di dekat jenazah Azam, ditatapnya lekat lalu dia memeluk tubuh sang ayah sambil kembali menangis. "Kenapa Papa secepat ini pergi ... Papa belum melihat aku menjadi pilot dan Papa pun tidak hadir di wisuda nya Rendy!" terbayang ketika tadi dia sedang berbicara di mimbar dia seolah melihat kehadiran Azam tersenyum bahagia kepadanya, bayangan itu sangatlah lekat menari-nari di ingatan, membuat Rendy semakin sedih dan terpukul dengan kepergiannya! ternyata yang di tempat tadi itu hanya bayang-bayang saja.


Dengan cepat Renita mendekat, lantas merangkul putranya sambil menangis, dia mengecup kening dan pucuk kepala Rendy. "Rendy ... ini semua sudah takdir, tidak ada yang tahu satupun orang di dunia ini kapan dia akan berpulang. Semua itu rahasia ilahi, tolong! Bunda minta tolong sama Rendy janganlah seperti ini. Justru kalau Rendy sayang sama Papa ikhlaskan Papa pergi,"


Malik pun ikut memegangi kedua bahunya. "Rendy, ikhlaskan Papa pergi. Biarkan pihak rumah sakit memandikan dan membersihkannya dan kamu tidak boleh seperti ini, Rendy harus kuat. Jangan buat Papa Azam bersedih karena Rendy yang seperti ini, ikhlaskan dia!"


Mendengar ucapan dari Malik dan dia pun menoleh sambil terisak ... dia mengangguk, lalu menjauh dan memberikan jalan untuk brangkar yang ditempati oleh Azam di bawa keluar oleh para menteri untuk dimandikan.

__ADS_1


Malik dan Renita menggandeng tangan Rendy untuk keluar dari tempat tersebut, nenek. Kakek, Sheila. Memberi dukungan pada Rendy. Agar pemuda itu terus kuat dan tabah! merelakan kepergian sang ayah untuk selama-lamanya.


"Kamu harus tabah dan kuat. Semua yang ada di dunia sudah di atur oleh yang maha kholik." Kata sang kakek dari Azam sambil merangkul pundaknya Rendy.


"Kata opa mu benar ... kita semua sama-sama sangat kehilangan, tapi bukan berarti kita harus menentang kehendak Allah. Kita harus ikhlas menerima takdir yang Allah berikan kepada kita semua, di mana ada pertemuan ... pasti ada perpisahan! begitupun dengan Kakek ....siapa tahu besok atau lusa Kakek akan menyusulnya! dan usia bukan ukuran untuk Allah mengambil apa yang sudah menjadi miliknya," imbuh sang kakek yaitu ayahnya Renita.


Rendy menganggukkan kepalanya sembari terisak. "Iya, Kek. Opa!"


Kemudian Renita pun berniat kembali ke ruangannya Rosita untuk menemani wanita itu, kasihan dia tidak ada temannya. "Abang boleh kan kalau aku menemani Rosita! kasihan dia tidak punya siapa-siapa, adik satu-satunya yang sedang berada di luar Negeri, kerabatnya pun tidak tahu di mana."


Malik menoleh pada sang istri dengan bibir yang mengatup terdiam sesaat. "Ya baiklah nggak apa-apa, temani saja sampai dia pulih tapi bukan berarti 24 jam kamu di sini kamu juga harus pulang. Harus mengurus aku, apalagi di kala malam aku nggak bisa tidur sendiri!"


Renita menghembuskan nafasnya dari hidung dan tersenyum tipis ke arah suaminya. "Baiklah, aku nggak akan menemaninya 24 jam. Cuman setidaknya aku sering ke sini untuk menemani dia! terima kasih sayang atas izinnya," cuph. Renita mengecup kening Malik setelah menengok kanan dan kiri depan belakang, yang lain sedang sibuk berbincang dan tidak memperhatikan ke arah mereka.


Malik tersenyum tipis, menatap sendu pada sang istri. Kemudian meraih tangannya! menggandeng dan berjalan ke ruangan Rosita. Sampai diambang pintu! Malik menghentikan langkahnya. "Baiklah sayang, aku mau ikut mengurus Azam dulu ya! kamu temani saja Rosita!"


Renita mengangguk. "Oke bantu mereka ya sampai selesai dan juga aku titip Rendy. Dia sangat terpukul dengan kejadian ini!"


"Itu pasti, siapa pun akan terpukul dengan kepergian orang yang sangat disayang! baiklah aku pergi dulu Assalamu'alaikum!" Malik mengusap pipi Renita lantas dia pergi.


Setelah kepergian Malik, Renita pun langsung masuk ke dalam ruangan Rosita di rawat yang tampak sedang istirahat. Sepertinya dia merasa capek, lelah. Wajahnya pun tampak pucat dan sembab. Dan masih basah bekas air mata yang mengalir dari sudut matanya ....


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2