
Rendy masuk ke dalam setelah bibi membukakan pintu. "Bunda belum bangun ya Bi?"
"Den Rendy baru pulang, sama papa nggak?" bibi balik bertanya.
"Rendy pulang sama papa! ya udah Rendy masuk dulu ya Bi," anak itu langsung menaiki anak tangga dan menuju kamar pribadinya.
Malik dan Renita sebenarnya sudah bangun sedari tadi. Namun ketika Renita mau turun untuk menyiapkan sarapan! Malik malah mengajak olahraga pagi yang pada akhirnya mereka melaksanakan ritual tersebut lebih dulu.
Setelah keduanya berkeringat juga merasa puas dengan ritualnya barusan. Mereka pun langsung membersihkan dirinya.
Setelah sekitar 15 menit kemudian bersih-bersih, mereka pun bersiap-siap untuk mengawaki aktifitasnya.
"Kok Rendy belum pulang ya sayang? dia kan harus sekolah!" ucapnya Malik sambil mengenakan pakaian formalnya.
"Mungkin masih di perjalanan, pasti dianterin buat sekolah kok." jawabnya Renita sembari mengeringkan rambutnya yang lalu di tutupi dengan kerudung.
"Aku berharap dan sangat berharap kalau mereka bisa hidup bahagia bersama ya! antara Shopia dan Azam. Mereka pun berhak bahagia seperti bahagianya kita." Ungkap Malik sambil memeluk dari belakang.
"Iya tapi kembali lagi dengan kecocokan mereka, karena kalau seandainya cocok hanya disaat sekarang aja terus nantinya nggak tahu gimana-gimana! yang intinya kalau belum yakin ya udah! tahan dulu jangan terburu-buru untuk menikah. Begitu sih kalau menurut aku." Ujarnya Renita dengan tangan mengurai pelukan dari Malik.
"Kok kamu berpikir begitu sayang Malik mengerutkan keningnya.
"Bukan apa-apa yank ... semuanya butuh keyakinan dan kita mencari pasangan bukan untuk sesaat. Bukan, tapi untuk selamanya!" Renita menaikkan kedua alisnya dan di tunjukkannya kepada Malik.
Dan pria itu pun tersenyum. "Iya juga sih ... tapi kita kembali lagi bahwa manusia hanya bisa berencana dan Tuhan juga yang menentukan!"
"Itu benar, justru itu harus lebih hati-hati apakah benar pasangan yang akan kita pilih itu adalah yang terbaik, sebab keberuntungan manusia itu berbeda-beda!" tambahnya Renita.
Malik terdiam sembari mengenakan jam di tangan kirinya.
Kemudian Renita pun ngeloyor keluar dari kamarnya dengan niat mau menyiapkan sarapan yang mungkin sudah disiapkan sama bibi. Karena sekarang aja waktu sudah menunjukkan pukul 06.15 menit.
__ADS_1
Namun sebelum melanjutkan langkahnya untuk turun ke lantai dasar wanita berkerudung biru langit itu mampir dulu ke kamarnya Rendy dan ternyata anak itu sudah berada di dalam! tampaknya" sudah mandi dan tinggal mengenakan seragamnya saja.
"Sayang kapan pulang? kok Bunda nggak tahu," Renita menghampiri putranya.
"Sudah dari tiga puluh menit yang lalu." Jawabnya anak itu seraya menyiapkan buku-buku tulisnya yang dia masukkan ke dalam tas.
"Oh ... kirain Bunda sama papa, Rendy belum pulang mau nelpon nanyain sama Papa Azam kalau Rendy dah pulang apa belum." sambungnya Renita dengan lembut.
"Sudah kok!" gumamnya yang tampak serius dengan peralatan sekolahnya.
"Gimana jalan-jalannya kemarin asik nggak?" selidik sang Bunda. "Sama siapa jalannya tante Shopia?"
Sejenak Rendy terdiam lalu menoleh pada sang Bunda. "Asik kok Bunda ... menyenangkan, tapi sepertinya tante Shopia tetap tidak suka sama Rendy, Bun!"
Renita berjalan mendekati putranya lalu duduk di dekat anak tersebut. "Kenapa Rendy bilang seperti itu? emangnya tante bilang apa saja sama Rendy hem?"
"Apa ya, banyak sih ... tapi intinya dia nggak suka sama Rendy, dia juga benci sama Bunda! katanya Rendy sama Bunda sudah merebut Papa Malik tadi dia--"
"Astaghfirullah ... kenapa Tante bilang seperti itu? papa Malik kan kakak sepupunya tante!" Renita menatap cemas pada putranya dan membelai rambutnya dengan halus.
Renita menghela nafas dalam-dalam lalu dihembuskan dengan panjang. "Sudahlah ... nggak usah dipikirkan, suatu saat nanti tante Shopia pasti baik dan menyadari kalau kita ini adalah saudara apalagi tante Shopia sebentar akan menikah sama papa, jadi mamanya Rendy juga--"
"Nggak mau ah, Bun ... rasanya Rendy nggak mau Papa menikah sama tante Shopia, mendingan cari lagi aja deh yang lebih baik dan lembut. Jangan Tante Shopia." kepalanya Rendy menggeleng dalam hati yang paling dalam dia tidak setuju kalau papanya menikah dengan Shopia.
"Ya ampun sayang ... nggak boleh gitu, kasihan juga papanya bagaimanapun ... papa butuh teman untuk menemani kesehariannya, waktunya dikala dia sudah selesai dari bekerja, kan Rendy juga nggak bisa nemenin papa." Renita terus berkata lembut.
"Tapi kan, Bun ... buat apa kalau Tante Shopia nya nggak baik, nanti ujung-ujungnya seperti dulu Papa ditinggalin di saat susah-susahnya. Seperti sama istrinya itu," mata bening dan polos itu menatap ke arah Renita.
"Rendy ... dengerin Bunda ya sayang! yang kita anggap tidak baik belum tentu di mata orang lain. Siapa tahu di mata orang lain dia memang baik dan yang paling baik walaupun di mata kita terlihat kekurangannya, menganggap diri kita baik, belum tentu di mata orang lain kita ini baik!" Renita mengusap-ngusap punggungnya Rendy.
"Tapi Bunda ... pokoknya Rendy nggak setuju kalau Papa menikah sama tante Shopia, tapi Rendy juga nggak bilang sih sama papa! biar aja!" wajah anak itu tampak sedih.
__ADS_1
"Lho-lho, kok ... pangeran Papa Malik sedih sih? harusnya kan bahagia, semangat katanya mau jadi pilot apa nggak jadi nih mau jadi pilotnya?" Renita mencubit kedua pipi putranya gemes.
"Ya Bunda ... jadi dong. Bun, itu kan cita-cita Rendy untuk jadi seorang pilot dan Rendy juga sudah bilang kok sama Papa Azam! kata Papa Azam boleh. Papa Azam juga mendukung seperti papa Malik juga Bunda!" anak itu kembali ceria dan bercerita dengan antusiasnya.
Membuat bibir Renita kembali tersenyum melihat wajah gembiranya sang buah hati yang pertama.
"Oh ya, Papa Azam setuju ya, kalau Rendy mau jadi pilot? baguslah kalau begitu jadi Rendy banyak dukungannya, Semoga semuanya lancar dan Rendy dapat menggapai cita-citanya dengan mudah dan baik, berguna buat orang lain! keluarga dan juga buat Rendy sendiri!" Renita menarik kepalanya Rendy ke dalam pelukan.
"Makasih ya bun Makasih juga buat Papa Malik yang selalu menyayangi Rendy dan selalu mendukung kemauan Rendy! Rendy berjanji akan menjadi anak yang baik, yang sholeh yang bertanggung jawab! yang berguna untuk diri sendiri maupun orang lain." Timpal nya anak tersebut.
"Iya sayang Rendy kan anak hebat. Bunda kan bangga sekali sama Rendy." lalu Renita memudarkan rangkulannya.
Selanjutnya Renita meneruskan kembali niatnya untuk ke lantai dasar, melihat apa sudah ada sarapan atau belum dan mau ikut menyiapkannya.
Sementara Rendy segera mengenakan seragamnya biar nanti tinggal berangkat saja.
"Bi sudah bikin sarapan apa? aku kesiangan deh, barusan aku ngobrol dulu sama Rendy aku pikir dia belum pulang!" Renita menghampiri Bibi di dapur.
"Oh ini Neng Bibi bikin sarapan nasi goreng aja sama roti bakar!" Bibi menunjuk apa yang sudah dia kerjakan.
"Oh iya! telur ceploknya biar aku aja yang bikin, Bi." Renita langsung mengambil beberapa telur untuk membuat telur ceplok mata sapi.
"Ada daging rebus nggak Bi? maksudku ayam rebus buat topping nasi goreng!" tanya kembali Renita kepada Bibi yang tengah mencuci perabotan.
"Ada, Neng sebentar Bibi ambilkan," Bibi mencuci tangannya segera.
"Nggak pa-pa Bi. Biar aku yang ambil sendiri, ya udah Bibi lanjutin aja kerjaannya itu!" Renita langsung mencegah bibi untuk meninggalkan kerjaannya sementara dia juga bisa mengambil sendiri barang yang dia pinta dari lemari pendingin.
Akhirnya sarapannya sudah siap dan tertata di meja dan sebelum Renita memanggil suami juga putranya, sudah muncul duluan.
Rendy dengan tas punggungnya, Malik pun siap dengan tas kerjanya! 2 pangeran nya Renita turun dengan teratur mengarahkan pandangan pada Renita yang tampak menunggu kedua pangeran dalam hidupnya itu ....
__ADS_1
.
Bersambung.