
"Jangan-jangan kamu sudah ngasih tubuh kamu ya? sama pria ini agar dia memberikan segalanya bahkan menikahi mu--"
Jdugh ....
Tonjokan hangat dari kepalan tangan yang bulat yang pemiliknya adalah Malik, bersarang di dadanya Azam.
Hek! Tubuh Azam sempoyongan sembari memegangi dadanya yang terasa sangat sakit dan mengakibatkan rasa mual.
Tentunya Renita terkesiap dia kaget dan tidak menduga kalau Malik akan menyerang Azam, padahal Ia sendiri sudah bersiap ingin menampar pipinya Azam. Karena sudah lancang berkata demikian seolah-olah dirinya wanita murahan yang siap menggunakan segala cara untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan.
"Anda jangan kurang ajar ya? sama mantan istri anda ini, karena dia tidak seperti yang anda katakan. Dia bukan wanita murahan yang siap melakukan segalanya atau segala macam cara untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan! jahat banget pikiran dan mulut Anda itu." Kata Malik sembari bersiap menyerang kembali jika memang Azam melawan.
Tetapi Azam tidak melawan dia berdiri sedikit membungkuk sembari terus memegangi dadanya yang masih terasa sakit, wajahnya meringis.
"Anda tidak perlu membela dia karena anda baru saja mengenal wanita itu, tidak tahu gimana dan bagaimana dia sebenarnya--"
"Mas! tega banget kamu ngomong seperti itu, Mas. Kamu yang lama kenal aku kenapa kamu tega bicara seperti itu? kamu tahu gimana aku Mas, tapi mulutmu itu sangat lancang! bagaimanapun aku ibunya Anak kamu Mas!" Suara Renita bergetar. Dadanya semakin sesak tega-teganya Azam bicara seperti itu.
Malik menaikkan tangannya ke atas dan tidak lama kemudian datanglah security yang siap menyeret Azam dari tempat tersebut.
"Lepaskan saya? saya bukan penjahat, saya bukan maling dan tidak perlu kalian seret begini. Saya bisa jalan sendiri!" Azam melawan ketika dua security tersebut memegangi tangannya kanan dan kiri dan menyeretnya keluar dari tempat tersebut.
Dengan sulit dibendung, air mata Renita pun berjatuhan rasanya luka di dadanya jadi menganga kembali. Basah dan terluka lagi.
Malik menoleh ke Renita dengan tatapan yang haru, sedih dan kasihan. Ingin rasanya memeluk wanita itu memberi ketenangan, kenyamanan. Ketentraman hati. Namun rasanya itu tidak mungkin untuk saat ini. Renita nggak akan mau dia peluk apalagi di tempat umum seperti ini.
Orang-orang yang tengah menikmati makan siang pun sedikit terganggu dengan adanya kejadian ini. Malik mengedarkan pandangannya ke arah sekitar di mana staf dan karyawan yang tadi bersama Renita berangsur-angsur keluar meninggalkan tempat makan tersebut.
"Sebaiknya kita kembali ke ruangan kerja," ucapnya Malik seraya memberikan tisu kepada Renita.
__ADS_1
Renita pun menyambut tisu itu, lalu dia pakai untuk mengeringkan wajahnya terutama kedua sudut matanya.
Kemudian Malik menggiring Renita agar kembali ke ruangan kerjanya. "Kamu sudah belum makannya?" selidiknya Malik di saat-saat sedang berjalan.
Dan Renita hanya menggelengkan kepalanya saja. Memang dia tadi belum sempat makan baru mau mulai dan keburu datang Azam.
Selanjutnya Malik memanggil salah satu karyawan yang masih ada di kantin tersebut dan menyuruhnya memesankan dua porsi makan untuk dirinya dan Renita. Kebetulan ia pun belum makan siang, karena tadinya datang ke sana untuk makan siang ... tapi melihat Renita bersama Azam berada di sana dengan tampak tegang.
Renita tak kuasa menahan tangisnya sembari berjalan, berjalan pula dan berjatuhan air matanya, rasanya teramat sakit menerima tuduhan dan kata-kata yang menyakitkan dari Azam, mantan suaminya yang sesungguhnya tidak pernah seperti itu sebelum dia tergoda oleh wanita lain.
Setelah berada di ruangannya Renita, keduanya duduk di sofa dan kini Malik bersiap untuk bertanya.
"Kalau boleh tahu ... kenapa dia berada di sana? em ... Maksud aku, buat apa dia mendatangi mu?" selidiknya Malik sembari kembali menyodorkan tempat tisu ke dekatnya Renita.
Sementara waktu Renita hanya mengeringkan wajahnya yang banjir dengan air mata, dan sesekali mendengus dan juga membuang ingusnya.
Dan setelah merasa agak tenang dan Renita pun bercerita kalau Azam mendatanginya karena mungkin sudah terhasut omongan istrinya, yang mengaku-ngaku kalau wajah wanita itu lebam-lebam yang katanya ditampar oleh dirinya.
"Begitu ceritanya. Terserah kamu mau percaya atau enggak!" ucapnya Renita sembari mengeluarkan ingusnya bersama tisu.
Malik yang sedari tadi mendengarkan dan menganggukkan kepalanya seraya berkata dengan sangat percaya.
"Aku percaya kok sama kamu. Dan sudahlah ... tidak usah dipikirkan wanita itu maupun mantan suami mu, anggap saja omongannya angin lalu, toh semuanya tidak terbukti dan soal sumpah itu takkan pernah terjadi, karena kita berdua akan segera menikah. Jangan dijadikan paranoid! serahkan semuanya kepada yang maha kuasa dan mereka akan mendapatkan yang setimpal."
"Sebenarnya omongan yang kemarin dari sharon itu tidak terlalu aku pikirkan, tidak terlalu lekat dalam ingatan. Tapi barusan kamu dengar sendiri kata-kata Azam, gimana dia mengatakan kalau aku seolah-olah wanita murahan. Bersedia menggunakan segala cara demi mendapatkan semua yang aku mau." Hik-hik-hiks.
"Sudahlah ... jangan di sedih kan lagi ya ... apalagi dibuat menangis. Apa perlu aku peluk dirimu? agar kamu merasa nyaman dan tenang di dalam pelukan ku dan tidak menunjukkan lagi air mata mu di hadapanku!" Malik sedikit tersenyum, menggoda Renita dengan kedua tangan yang direntangkan, bersiap untuk memeluk Renita.
Namun Renita langsung mundur dari duduknya semula. Walaupun dia tahu kalau Malik tidak akan berani macam-macam pada dirinya.
__ADS_1
Di saat seperti itu, datanglah seorang karyawan yang tadi Malik suruh untuk membelikan makanan. Dan dia membawakannya dua porsi makan siang buat Malik dan wanita sesuai pesanan dari Malik tadi.
"Makasih ya, dan ini uangnya!" ucap Malik sembari memberikan uangnya kepada wanita tersebut.
"Tapi ini uangnya lebih!" wanita itu menatap uang yang kini berada di tangannya, pemberian dari Malik.
"Tidak apa-apa! ambil saja kembaliannya, sekali lagi Makasih ya?" sambung kembali Malik.
"Oh terima kasih juga Tuan terima kasih banyak!" Kemudian karyawan tersebut mengundur diri dari ruangan Renita.
"Mendingan sekarang kita makan ... karena menangis pun butuh tenaga apalagi untuk bertengkar, ha ha ha ..." Malik menyodorkan piring untuk makan siang Renita.
"Aku nggak lapar?" gumamnya Renita dengan nada dingin.
"Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus makan! bila perlu aku suapi, mau aku suapi?" Malik mendekat pada Renita.
Renita menggeleng dan pada akhirnya dia mau juga untuk menikmati makan siangnya. Walaupun mulanya tidak lapar, hilang selera! tapi lama-lama dinikmati juga.
"Nah ... gitu dong makan ... bila perlu tambah lagi, karena menangis juga butuh tenaga. Bukan cuman kerja saja yang butuh tenaga!" Ucapnya Malik Dia merasa senang karena Renita mau makan juga.
Renita hanya tersenyum tipis sembari menikmati makannya. Walaupun bila teringat kata-kata yang tadi, Tak ayal membuatnya ingin menangis kembali.
"Sesungguhnya aku paling tidak bisa melihat wanita menangis, apalagi orang yang aku sayang dan aku juga tidak mau kamu menjadi sakit," ucapnya Malik dengan lirih menatap lekat ke arah Renita.
Sejenak Renita terdiam, lalu dia berkata. "Makasih ya? atas perhatian mu dan Makasih juga ... mungkin tadi kamu datang tepat waktu, agar kamu tidak curiga tentang aku dan dia!"
"Sudah seharusnya. Aku menjaga mu bahkan lebih dari itu, dirimu itu menjadi kewajiban ku. Sudahlah ... sekarang habiskan dulu makannya." Malik pun mendekatkan segelas air minum kepada Renita.
Keduanya menghabiskan terlebih dahulu makan siangnya! sebelum melanjutkan aktivitas dia yang sudah tertunda .....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Terima kasih reader ku yang sudah meninggalkan jejaknya ... makasih banyak.