Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Gemas


__ADS_3

Setelah suami dan anak-anaknya pergi, Yusna mulai menyusun rencana kembali. Gimana caranya agar dia bisa memergoki sang suami bersama selingkuhannya, Yusna berdiri di dekat pintu utama sembari melipatkan tangan di dada tetap hanya kosong jauh ke depan.


Kemudian dia menerima telepon dari Bundanya, katanya dia harus datang saat ini juga.


"Ck, mama ada apa sih ... aach ..." gumamnya sambil mengambil tas nya di kamar beserta kunci mobil.


Tidak lama kemudian Yusna pun sudah berada di dalam mobilnya, melaju dengan sangat cepat menuju kediaman sang Bunda.


Selang sekitar 15 menit kemudian, dia pun sampai di depan kediaman sang Bunda yang tampak sepi. Kodenya memang ada di dalam.


"Mah-Mah ... ada apa sih?" suara Yusna sambil berjalan dan mengedarkan pandangannya di setiap ruangan yang dilewati. Karena sang Bunda tidak dia dapati sehingga langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Yusna ... kamu sudah datang!" suaranya sang Ibu setelah melihat Yusna masuk ke dalam kamarnya.


Yusna pun segera membawa langkahnya mendekati sang ibu yang tengah berbaring di atas tempat tidur. "Mama kenapa?" mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur sang Bunda.


"Mama nggak kenapa-napa, cuman kepala aja terasa pusing tadi juga Renita sudah memberi obat. Dan sekarang dia sedang mengurus Alena di atas.


"Terus sekarang, Mama menyuruh aku ke sini buat apa? kalau minum obat sudah, sekarang tinggal istirahat doang. Rumahku itu lumayan jauh lamanya 15 menit, itu pun jika kita ngebut!" Yusna menatap sang Bunda sembari menempelkan punggung tangannya di pelipis wanita sepuh tersebut.


"Ya ... Mama pengen ditemani aja sama kamu. Lagian di rumah juga kamu nggak ada kerjaan bukan! anak-anak sekolah, rumah ada yang ngurus!" lirihnya Ibu Amelia.


Sejenak Yusna terdiam sembari memandangi wajah sepuhnya sang ibu, dalam hatinya bergejolak. Tidak kah Mama tahu kalau saat ini aku sedang pusing, aku harus mencari tahu apa benar suamiku berselingkuh?


"Kamu kenapa melamun? tapi kalau kamu sibuk, ya udah nggak apa-apa pulang saja. Lagian Mama sudah ketemu sama kamu!" lirihnya Ibu Amelia sembari menarik selimutnya ke atas.


"Oh tidak apa-apa Mah. Aku tidak memikirkan apapun dan memang aku nggak ada kerjaan sih di rumah juga! tapi nanti siang aku ada urusan, Oh ya Mama sudah makan belum?" tanya Yusna.


"Sarapan, tadi sudah! makanya Renita ngasih Mamah obat!" jawab ibu Amelia sembari melihat ke arah pintu di mana Renita masuk membawa Alena.


"Gimana Mah. Semoga lebih baikan?" selidiknya Renita sambil berjalan memangku Alena mendekati Ibu Amelia.


"Sudah agak mendingan. Alhamdulillah tidak terlalu pusing seperti tadi, Alena sudah mandi ... sini bobo sama Oma!" Bu Amelia menepuk-nepuk tempat tidur di sebelahnya agar Alena disimpan di sana.


Renita langsung menurunkan Alena dan ditidurkan di samping sang ibu mertua. Dan Alena pun langsung berbalik tengkurep. "Bermain di sini sama Oma ya ... dan doakan biar omanya cepet sembuh!"

__ADS_1


Kali ini bibirnya Yusna seakan terkunci, yang biasanya suka nyerocos menyindir-nyindir. Sekarang lebih banyak terdiam sambil memainkan ponselnya.


"Hi ... cucu Oma yang semakin gendut ... sekarang makin pintar tengkurap, dan bermain." Kata Bu Amelia sembari mengerahkan pandangannya ke Alena yang sedang tengkurap dan meraih mainan.


"Haoooo, ooo. Mam-mam ..."


"Kalau Mama merasa pusing lagi, bilang saja! nanti aku panggil dokter agar datang ke sini!" ucapnya Renita sembari menatap ke arah sang ibu mertua.


Ibu Amelia menganggukkan kepalanya seakan menyetujui apa yang dikatakan oleh mantunya tersebut.


Lalu kemudian Ibu Amelia mengarahkan pandangannya pada Yusna, yang lebih banyak terdiam dan sibuk dengan gawainya. "Emangnya ada urusan apa nanti Yus ... arisan atau apa?"


"Ha. Nggak sih hari ini nggak ada acara arisan cuman em ... ada acara sama Mas Anto!" kilahnya Yusna.


"Oh ... ada urusan sama Anto ya udah nggak apa-apa!" Bu Amelia dengan lirih.


"Oh ya Ren ... Mbak titip mama ya? sebab bagaimanapun saya tidak bisa setiap detik ada di sini." Yusna mengalihkan tatapannya kepada Renita.


"Iya, Mbak. Nggak pa-pa. Lagian aku ada di rumah kok. Tenang aja nggak usah khawatir!" balasnya Renita sambil tersenyum dengan tulus.


Renita melamun dan sedikit heran kepada kakak iparnya tersebut, yang biasanya suka berkata yang sedikit nyelekit. Namun kali ini dia banyak diam saja seperti ada yang sedang dipikirkan dengan serius.


Lantas Renita mengingat suaminya Yusna yang bernama Anto sering jalan bersama Shopia. Yang entah ada hubungan khusus atau memang ada hubungan pekerjaan. Entahlah Renita tidak tahu itu.


"Assalamu'alaikum, bunda?" Rendy berjalan menghampiri sang Bunda yang berada di dapur sambil menggendong Alena yang kemudian dia cubit gemas kedua pipinya.


Sehingga Alena menangis, mungkin merasa sakit karena pipinya dicubit Rendy.


"Wa'alaikum salam ... kira-kira dong kalau cubit adiknya, jangan sampai menangis gitu! mencubit terlalu kenceng ya!" Renita sambil mengusap kedua pipi putri kecilnya.


"Maaf Bunda ... habis gemes bahkan pengen gigit--"


"Ooh jangan dong ... nggak boleh!" potong Renita sambil mengacak rambutnya Rendy lalu menyuruhnya untuk berganti pakaian dan setelah itu barulah makan siang.


"Oh ya, Oma di mana, Bunda?" selidiknya Rendy yang tidak melihat keberadaan Omanya.

__ADS_1


"Oma lagi kurang enak badan makanya dia istirahat di kamar, nanti Reni jenguk ya! sekarang ganti baju dulu terus makan!" jawabnya Renita sembari mengulang perkataannya.


"Oke Bunda, aku mau ganti baju dulu setelah itu makan. Tapi ... Rendy mau temui mama dulu ya bentar saja kok!" ucapnya Rendy penuh permohonan.


"Oh mau ketemu Oma, boleh. Tapi jangan lupa sama pesan bunda ya!" peringatan dari sang bunda.


Rendy pun langsung beranjak dari tempatnya dan sebelum ke kamar dia menemui dulu Oma di dalam kamarnya.


"Oma, Oma sakit apa?" selidiknya Rendy.


Bu Amelia menoleh kepada Rendy. "Oma hanya sakit kepala saja dan sudah agak mendingan kok ... dibandingkan pagi tadi."


"Oh ... syukurlah kalau oma sudah agak baikan sekarang, Rendy mau masuk kamar dulu ya. Mau ganti pakaian setelah itu makan, perut Rendy sangat lapar!" Rendy pun mengundurkan dirinya dari kamar Ibu Amelia.


Bu Amelia hanya mengangguk ke arahnya Rendy dan menatapnya yang keluar dari kamar tersebut.


Rendy berlari menuju kamarnya dan langsung menjalankan perintah bundanya, agar segera bisa makan siang.


Derap langkahnya Rendy begitu nyaring yang menapakkan telapak kakinya di anak tangga menuju ruang makan yang ada bibinya di sana.


"Bi, bunda mana?" Rendy sambil mendudukan dirinya di kursi meja makan dan mengambil piring yang dia tuangi nasi.


"Bunda sedang menidurkan Alena, Den." Sahutnya bibi yang menuangkan air minum untuk dirinya.


'Ooh." Rendy mengangguk sambil menikmati makannya.


Seusai makan. Rendy bersiap untuk les dan berpamitan pada sang bunda juga Oma.


"Hati-hati ya." Renita mencium pucuk kepala nya Rendy.


Renita menatap ke arah Rendy yang pergi bersama mobil yang mengantarnya ....


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2