
Sang ibu mertua langsung memeluk Renita sambil menangis, dia menangis kecewa! menyesali apa yang sudah terjadi, kecewa dengan kelakuan putranya kepada Renita.
"Maafkan Azam Ren ... Maafkan dia, maafkan atas kesalahan dan kekurangan kami yang kurang bisa mendidik Azam dengan baik!" Ucap sang ibu mertua sambil memeluk Renita dengan sangat erat.
Renita hanya mengangguk sembari dengan tatapan yang berkaca-kaca, namun dia tidak mampu berkata-kata dan berusaha agar terlihat tegar.
Setelah itu Malik berpamitan untuk pulang, begitupun dengan Sarita dia akan kembali ke kantornya.
"Oke, saya akan pulang dulu sampai ketemu di lain kesempatan atau di persidangan nanti selanjutnya. Tapi kalau seandainya saya butuh sesuatu untuk lebih melengkapi dokumen saya akan datang saja ke rumah," ucapnya sarita sembari mengulurkan tangan kepada Renita.
"Oh, iya makasih ya? makasih atas segala bantuannya, kalau ada apa-apa datang saja ke rumah, sekali lagi makasih!" Renita mengangguk hormat kepada Sarita sebagai lawyer nya yang telah mendampingi dia sehingga persidangan pertama pun lancar.
Kemudian Sarita pun memasuki mobilnya kemudian melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan area tersebut.
Sementara Renita pun akan langsung pulang bersama kedua keluarga yang akan berkumpul di rumah bersama Rendy juga.
Sedangkan motornya Renita akan dibawa oleh Jefri dan Sheila berboncengan.
Selang berapa puluh menit di jalan, akhirnya mereka pun tiba di kediaman Renita yang langsung disambut oleh Rendi yang berlari dari dalam rumah. Menyambut kedatangan Bundanya dan juga nenek dan kakeknya.
"Om Jefri, tante Sheila! ayo ... berduaan aja nanti ketiganya setan lho ... nanti ketahuan istrinya Om!" ucap Rendy sembari menunjuk ke arah Jefri dan Sheila yang lebih dulu turun dari motor.
"Eh ... Rendy ada saja orang kita nggak ada apa-apa ya? Tante ya? kita kan cuman bonceng motornya Bunda ya kan?" timpalnya Jefri sambil menoleh pada Sheila, wanita cantik itu mengangguk sembari tertawa.
"Beneran kok ... kita cuman bawa motor Bunda aja ya, Mas ya." Tambahnya Sheila.
"Awas ya! kalau pacaran! nanti kalau pacaran ada yang marah dan pacaran itu yang ketiganya setan," ucap anak itu sembari berjalan menghampiri sang Bunda.
"Idih ... anak kecil tahu apa sih ... pacaran? terus siapa itu, kayak gimana juga yang ketiganya setan, tahu dari mana coba? dasar bocah!" Sheila menggelengkan kepalanya sembari tertawa.
__ADS_1
Begitupun dengan Jefri yang tertawa dan langsung memasukkan motor milik Renita ke dalam garasi.
"Hai Rendy ... Oma dan opa datang buat Rendi. Tidak lupa bawakan buah Lho buat Rendy, Rendy kan suka anggur. Jadi kami bawakan!" ucapkan Oma sembari memeluk Rendy.
Begitupun dengan suaminya yaitu opanya Rendy, langsung memangku anak itu setelah dipeluk oleh sang istri. "Opa kangen sama Rendy tapi Rendy nya nggak kangen sama Opa, jadi nggak ke sana-sana deh, akhirnya Opa yang datang ke sini."
"Makasih Oma dan Opa, makasih banyak Rendy suka sekali sama anggur!" balasnya anak itu sembari mencium tangan keduanya.
"Sama-sama anak ganteng!" Balasnya sang oma.
Kemudian Rendy minta diturunkan, lanjut menyambut nenek dan kakeknya.
"Eeh ... cucu Nenek dan Kakek makin ganteng dan makin pinter," ucapnya sang nenek setelah dicium tangannya oleh Rendy.
"Tapi nenek dan Kakek ke sini nggak membawa apa-apa selain kue dodol kesukaan Rendy! semoga Rendy senang." Ujar sangka kakek sembari menyerahkan sebuah paper bag kepada anak itu.
"Wah ... dodol, kue dodol Rendy suka. Makasih ya nenek ... kakek?" lagi-lagi anak itu mengucapkan terima kasih yang saat ini diucapkan kepada nenek dan kakeknya dari sang bunda.
"Ehem. Sebaiknya kita masuk dan kita mengobrol di dalam saja apalagi hari sudah semakin sore." Ajaknya Renita sembari dia sendiri lebih dulu masuk ke dalam rumahnya dengan melintasi pintu yang sudah terbuka lebar.
"Feni, tolong ya belanja samua keperluan memasak, nanti saya akan masak untuk kita semua makan bersama.
"Baik, Bu ..." Balasnya Feni sembari mengambil beberapa lembar uang dari Renita.
Kemudian gadis itu pun pergi menuju warung untuk berbelanja semua keperluan yang renita butuhkan untuk memasak.
Semua berkumpul di ruang tengah, sambil menikmati hidangan yang kebetulan ada di dalam lemari pendingin! sementara Renita membersihkan diri terlebih dahulu sebelum nanti memasak buat makan malam.
Rendy yang sedang bermain di lantai dengan banyak mainannya. mendongak melihat ke arah Oma da opa nya yaitu orang tua nya dari Azam, sang ayah.
__ADS_1
"Apa Papa suka ke tempat oma? Rendy kangen sama papa, tapi papa nggak pernah datang. Telepon pun nggak pernah!" Membuat suasana yang mulanya hangat, ramai.
Berubah drastis menjadi tegang dan hening! setelah terdengar suara anak itu yang menanyakan keberadaan ayahnya yang mungkin bagi dia tidak ada kabar.
Jefri mendekat dan duduk di dekatnya Rendy, memeluk anak itu dan mengusap kepalanya. "Rendy kangen ya sama papa? tapi sepertinya Papa masih sibuk, nanti kalau Papa sudah nggak sibuk ... Papa pasti datang, nanti bilang sama papa kalau Rendy sangat kangen ... sekali sama papa dan nanti papa akan sering datang menemui Rendy! mengajak jalan-jalan dan bermain sepuasnya." Ungkap Jefri berusaha untuk membujuk di saat dia merajuk.
"Tapi om, selama ini papa nggak pernah datang ke sini! ke sekolah pun nggak ada, telepon pun nggak ada. Apakah papa itu sudah lupa ya sama Rendy?" tatapan anak itu sangat lekat ke arah Jefri.
"Ehem, papa itu bukannya lupa sayang ... cuman dia itu sedang sibuk dengan pekerjaannya! dengan semua urusannya, nanti juga kalau sudah selesai ... dia pasti akan menemui Rendy bukannya lupa," Jefri terus memberi alasan tentang Azam kepada Rendy dan semua orang yang ada di sana terdiam tidak tahu harus berkata apa.
"Tapi sampai kapan Om?" tanya anak itu sembari menatap kosong ke arah Jefri dan yang lainnya.
"Gimana ... kalau Om yang telepon Papa, nanti Reny bilang sama papa. Pah ... Rendy tuh kangen, datang ya? bilang gitu ya!" Jefri mengambil ponselnya namun tangan Rendy menyuruh menyimpan kembali ponsel tersebut.
"Jangan om, Rendy tidak mau kalau kita duluan yang telepon Papa, Rendy maunya Papa yang ingat sendiri yang menanyakan lebih dulu kabarnya Rendy! ya sudah, biarkan sajalah mending Rendy bermain lagi!" ucap anak itu dengan nada yang cukup membuat hati tergores pedih.
Jefri pun terdiam, rasanya dia sudah kehabisan kata, untuk memberi alasan lagi pada anak itu, dan terlihat beberapa kali Jefri menelan Saliva nya yang terasa sakit di tenggorokan, sedih! sedih melihat keadaan anak itu yang tidak meminta lebih, selain hanya ingin bertemu dengan papanya.
Rendy terlihat kembali bermain di lantai bersama banyak mainannya, kemudian Jefri pergi dari tempat tersebut menuju teras. Dan di sana dia menelepon Azam.
"Aku hanya ingin bilang sama kamu Mas, Rendy sangat rindu sama kamu! temui lah dia ... jangan sampai dia merasa kamu itu melupakannya! apalagi tidak sayang lagi sama dia, dia darah daging kamu Mas! nggak etis apabila anak orang lain kamu urus, kamu biayai. Sedangkan anaknkamu sendiri tidak peduli sama sekali. Jangan sampai suatu saat nanti kamu menyesal karena telah menyia-nyiakan anak mu sudah jelas istri mu, dan kamu udah kehilangannya! jangan ditambah lagi dengan kehilangan putra mu!" Ungkap Jefri di penghujung telepon. Kemudian menyimpan lagi ponselnya.
"Kamu telepon mas Azam ya? jujur aku sedih mendengarnya, kasihan anak itu. Padahal dia hanya ingin bertemu kali ya, sama bapaknya! aku nggak habis pikir jadinya, dulu saja Mas Azam begitu perhatian, sayang sama anak istrinya! tapi kenapa sekarang kebalikannya?" suara itu membuat Jefri menoleh ke arah sumber suara di mana Sheila berdiri di belakangnya.
"Justru itu, aku gak tega mendengarnya dan dia bagai orang yang sudah dewasa saja. Sehingga tidak ingin telepon lebih dulu segala, dia ingin Papa nya Riel lebih dulu mengingat dirinya tanpa suruhan ataupun paksaan." Kata Jefri.
Sheila mengangguk-anggukkan kepalanya dengan perasaan mencelos sambil menoleh ke arah dalam rumah dimana sang keponakan sedang bermain bersama kedua Oma dan opa nya ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Bersambung