Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Melamar.


__ADS_3

Hari sudah mulai sore dan hidangan buat makan malam pun sudah siap dan tertata rapi di atas meja makan. Kuenya, masakannya semuanya sudah tersedia.


Dan Renita kini dia sedang mempersiapkan dirinya di kamar, untuk menyambut kedatangan tamunya nanti. Yang sebelumnya ia sudah memandikan Rendy dan mendandaninya agar tampak rapi ganteng dan wangi.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Suara ketukan pintu dari luar kamar Renita dan terdengar suara ibunda yang memanggil namanya. "Reni boleh ibu masuk?"


"Masuk saja Bu ... enggak dikunci kok!" pekiknya Renita dari dalam kamar dengan suara yang ada keras.


Rkettt ....


Sang ibunda pun masuk dan menghampiri Putri sulungnya Renita yang sedang duduk di depan cermin, menggunakan kerudungnya yang berwarna peach coral senada dengan pakaian yang dia kenakan saat ini.


"Ren ... Ibu dan Ayah hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mu dan kami berdua tidak ada hak menolak atas lamaran mereka nantinya. Karena semuanya terletak di tangan mu sendiri. Ibu percaya kalau Nak Malik baik dan jujur, ikuti saja kata hati mu jangan mendengar kata orang! yang penting kamu tidak merugikan orang lain!" lirihnya sang ibu sambil memandangi putrinya dari pantulan cermin.


"Iya Bu ... aku nggak akan dengarkan kata orang lain, aku akan mendengar kata hatiku sendiri dan yang terpenting ... aku ingin bahagiakan Rendy yang butuh seorang ayah, yang menyayangi dia yang memperhatikan dia, saat ini Rendy mendapatkannya dari Malik. Jadi aku menerimanya bukan semata-mata karena diriku sendiri, tapi juga untuk anak ku! uang bisa kucari untuk menghidupinya, tapi kasih sayang seorang ayah tidak dapat aku berikan sendiri." Ujarnya Renita sembari membalas tatapan sang ibunda.


"Ibu paham dan ibu mendukung dengan pemikiran mu dan semoga semuanya seperti apa yang kita harapkan!" sang ibunda mengangguk sambil mengulas senyumnya.


Renita pun menggerakan Manik matanya seraya tersenyum dan penuh keyakinan, sekilas dan terdengar kata-kata Sharon tadi pagi, kalau dirinya di sumpahi tidak laku dan menjadi janda selamanya. "Huuh!" Renita mengembuskan nafasnya melalui mulut.


"Kenapa, apa ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya sang ibunda sembari menyentuh kedua bahunya Renita.


"Ach tidak, Bu ... aku tidak memikirkan apapun, aku Minta doanya saja dari ibu dan juga Ayah. Semoga aku mendapatkan yang terbaik," jawabnya Renita sambil menyentuh tangan sang bunda lalu menciumnya.

__ADS_1


"Tentu Ren ... jangankan dipinta, gak di pinta pun orang tua itu akan selalu mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya dan insyaallah ... Allah akan ijabah doa orang tua untuk anak-anaknya." Lalu mereka berdua kini saling berpelukan.


Sheila dan sang ayah menyambut kedatangan Malik bersama keluarganya, Mereka pun langsung duduk di tengah.


Sedari tadi Malik turun dari mobil. Pandangan Sheila seolah-olah tidak berkedip, terus memperhatikan Malik yang tampak sangat tampan, penampilannya yang rapi. Wangi dan juga murah senyum.


Sesungguhnya Sheila itu terpesona dengan ketampanan Malik, dan suka sama pria tampan dan bersahaja tersebut. Makanya dia jealous pada sang kakak yang justru dekat dengan Malik bahkan sekarang aja mau melamar sang kakak.


"Seandainya dia itu mau melamar ku, alangkah bahagianya hati ku, bukan melamar Mbak Renita. Mendingan aku saja yang jelas-jelas masih disegel." Batinnya Sheila sambil terus memandangi ke arah Malik.


"Saya sebagai ayahnya Renita, sangat merasa tidak enak hati dengan kedatangan kalian ke sini, dan kami cukup menyadari siapa kami ini. Jujur kamu merasa kaget mendengar kalau nak Malik serta keluarga mau datang dan bertemu." Kata ayahnya Renita sembari menunduk.


"Kenapa harus merasa tidak enak hati segala! toh kita sama aja manusia biasa yang tidak pernah luput di salah dan dosa, saya senang dapat bertemu dengan keluarganya Renita dan saya juga senang, bahagia dapat mengenalnya," ucap ibundanya Malik yang duduk tidak jauh dari Malik sendiri dan juga Sophia, dia pun datang tapi tidak membawa Genta.


"Sungguh suatu kebanggaan buat kami yang mendapatkan perhatian dari keluarga anda!" Kata sang ayah Renita kembali.


Kemudian Renita datang sekalian membawa sebuah nampan yang berisi berapa gelas yang berisi minuman buah, tidak ketinggalan juga cemilannya. Seperti puding dan kue cake.


"Nggak pa-pa, nggak repot kok!" balasnya Renita sembari berdiri dan duduk di sampingnya sang ibu juga ayahnya, setelah sebelumnya menyimpan nampan dia bawah meja.


"Ngomong-ngomong ... Rendy mana? kok nggak ada!" tanya Malik sambil celingukan mencari Rendy.


"Iya nih, mana anak itu! kok nggak ada?" timpalnya ibunda Malik yang juga menanyakan Rendy yang tidak nampak di tempat tersebut.


"Em ... sepertinya dia sedang bermain di belakang, dia itu sangat anteng biarpun main sendirian saja!" jawabnya Renita sembari melirik ke arah belakang rumah.


Namun detik kemudian Rendy pun muncul sembari memeluk mainannya, dan dia langsung menghampiri Malik dan juga ibundanya dari Malik. "Eh ... Papa dan Oma sudah datang dan Rendy kira kalian berdua nggak jadi datang! makanya Rendy main di belakang!"


"Eh si pangeran kecil dari mana, Papa pasti datang dong ... kan sudah sering bilang, kalau janji itu adalah hutang dan hutang itu harus dibayar! makanya janji pun harus ditepati." Malik mengusap pipinya Rendy lalu mengusap kepalanya mengacak-acak rambut anak itu.

__ADS_1


"Emangnya Rendy bermain sama siapa di belakang?" tanya Bundanya Malik sembari sedikit mencubit pipinya Rendy yang tampak chubby.


"Aku sendiri aja, nggak ada temen lain, dan aku lagi males main sama yang lain Oma ... masalahnya suka rebutan mainan dan aku nggak mau rebutan-rebutan kayak begitu, masih mending kalau mainannya dipinjam doang lalu dikembalikan. Ada kalanya kalau sudah pinjam malah dimiliki nggak mau balikin. Aku nggak suka kayak gitu!" Celoteh anak itu sembari menggerakkan tangannya.


Hampir semua yang ada di sana ikut tersenyum melihat ke arah Rendy, begitupun dengan ibundanya Malik. "Oh gitu ya tapi kalau hari ini dikasihkan nggak apa-apa kan?"


"Kalau dikasih sih ... itu lain cerita Omah ... bukan ngambil sendiri!" tambahnya Rendy yang kini duduk diantara Malik dan ibunya.


"Ya sudahlah, tidak apa-apa ... nanti saja sama papa Malik minta dibeliin. Biar mainan Rendy nggak berkurang bahkan bertambah banyak!" sambung sang ibunya Malik.


Rendy mengangkat wajahnya melihat ke arah ibunya dan Malik bergantian. "Tapi untuk sekarang ini ... mainan Rendy masih banyak kok dan tidak perlu ditambah lagi, nanti saja kalau udah bosan dikasih sama orang, baru akan minta dibeliin yang baru!"


"Oh ya, gitu juga nggak apa-apa. Nanti aja kalau Rendy mau ... minta sama papa Malik ya? jangan sungkan-sungkan, kalau nggak dibelikan, bilang sama oma biar Oma yang beliin!" Tambah ibunya Malik.


"Makasih ya Oma ... sebelumnya, makasih banyak!" Anak itu tampak senang sekali.


Kemudian mereka pun masing-masing mengambil gelasnya, minumnya sebelum melanjutkan pembicaraan.


"Keluarga di sini, tentunya ... pasti sudah tahu apa maksud dan tujuannya kami datang ke sini, yaitu untuk melamar Renita menjadi istri putra saya Malik!" ucapnya sang ibunda dari Malik.


Ayahnya Renita mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian dia berkata. "Kya kami pun sudah mendengar dari Renita. Kalau kedatangan kalian memang seperti itu dan kami sebagai orang tua, hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya."


"Jadi ... kalian sebagai orang tuanya Renita, setuju kalau Renita menikah dengan putra saya yang bernama Malik ini?" sang ibu menatap ke arah keluarganya Renita dan juga Malik bergantian.


"Kami sebagai orang tua tidak ada hak untuk menolak ataupun menerima, karena keputusan ada di tangannya Renita! Renita menerima ya kami pun menerima, dan mendoakan yang terbaik. Tapi jika sebaliknya ... kami pun meminta maaf yang sebesar-besarnya." Sambungnya Ayah Renita.


Hening ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2