Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Brondong


__ADS_3

"Kalau kita ... Mau makan malam dulu atau pesan aja? biar Makan malam di rumah!" Malik melirik ke arah calon istrinya setelah berapa km keluar dari area butik.


"Em ... Kalau makan di luar kasihan Rendy, kita makan di rumah aja ya? bila perlu aku masakan deh ... di rumah," kata Renita sembari merubah posisi duduknya sedikit menghadap ke arah Malik.


"Begitu juga oke, tapi ... kasihan juga kamu nya. Capek! jadi kita beli aja ya di jalan, biar makan di rumah," sambungnya Malik. Dia merasa nggak tega kalau Renita harus masak dulu setibanya di rumah nanti.


Renita mengulas senyumnya menatap ke arah Malik yang juga melirik dirinya. "Makasih kalau kamu nggak tega lihat aku masak, setelah pulang kerja ini!"


"Ya ... nggaklah, orang kita sekarang aja masih di jalan. Kapan mau masaknya? nanti keburu lapar, mending kalau nggak pingsan he he he ..." Kata Malik sambil terkekeh.


"Em ... Oh ya Emang kamu nggak apa-apa ya? mau nikahin aku, seorang janda yang beranak satu! jadi kamu menikah itu bukan cuman sama aku aja. Tetapi sama buntutnya juga!" kini Renita menatap lekat kepada Malik, dalam hati kecilnya khawatir kalau nanti Malik menyesal karena sudah menikahinya yang bukan Renita yang dulu lagi.


Sesaat Malik melirik lalu dia kembali mengarahkan pandangan ke depan. "Emangnya kenapa? dulu dan sekarang ... bagi aku sama aja, karena perasaan aku sama kamu tidak menuntut lebih atau mengharuskan kamu seperti dulu!"


Renita mengatupkan bibirnya rapat-rapat, terdiam dengan pandangan ke luar jendela.


"Insya Allah aku bisa menyayangi Rendy dan seperti aku menyayangi istri ku sendiri, yaitu kamu. Dalam hati kecil mu itu pasti ada rasa was-was dan ... percayalah kalau aku akan berusaha untuk membahagiakan kalian berdua!" tambahnya Malik dengan serius.


...-------------...


Di suatu hari, di kediamannya Azam dan Sharon, Azam baru saja pulang dari kantor. Dan dia tidak mendapati istrinya di rumah.


Yang ada hanya asisten dan anak-anak saja, tentu saja Azam bertanya-tanya. Ke mana istrinya pergi?


"Kurang tahu Tuan, yang jelas dari pagi dia pergi nya. Eh bukan dari pagi sih ... Tapi dari jam 09.00." Jawabnya asisten rumah yang menjawab pertanyaan dari sang majikan.


"Dari jam 09.00 pagi dia pergi, sampai sekarang belum kembali?" selidiknya Azam.


Bibi mengangguk dan membenarkan karena itu emang adanya seperti itu. "Benar Tuan ... Nyonya pergi dari jam 09.00 pagi dan sampai sekarang belum pulang."


Azam menoleh ke arah Deris yang berada dalam pangkuan bibi, kemudian kepada Vera yang sedang bermain boneka. "Vera. Mama ke mana?" tanya Azam kepada anak sambungnya.


Sejenak Vera terdiam sembari menatap ke arah Azam, lalu anak itu menggeleng seraya berkata. "Vera tidak tahu Pah ... pulang sekolah sampai sekarang Vera belum ketemu mama!"


"Ck, kemana dia?" Azam berdecak kesal sambil bolak-balik menelpon nomor ponselnya Sharon yang tidak dapat dihubungi.


"Kemana dia?" kemudian Azam menoleh ke arah Bibi lagi. "Apa dia tidak ada ngasih kabar sama sekali?"

__ADS_1


"Tidak, Tuan. Sama sekali tidak ada!" Jawabnya kembali Bibi sembari ngeloyor ke dalam membawa Deris yang tampak ngantuk.


Kemudian Azam mengayunkan langkah kakinya berniat untuk ke lantai atas, untuk ke kamar sambil menarik dasinya dan baru berapa langkah. Belum juga menapakkan kakinya di tangga, terdengar suara motor Sharon yang memasuki pekarangan rumah.


Membuat Azam berbalik dan memutar langkahnya keluar. Melihat istrinya membuka helm dan memasukan motornya ke garasi. "Dari mana seharian kok baru pulang?"


Sharon tampak kaget, dia pikir Azam belum pulang padahal dia sudah cepat-cepat agar pulang lebih dulu. "Eh ... Mas Azam sayang sudah pulang, aku habis reunian sama temen-temen!"


Azam mengerutkan keningnya. "Reunian, kenapa nggak bilang? terus kenapa nomor telepon mu tidak dapat di hubungi?" kini Azam menatap curiga kepada istrinya yang baru datang itu, dia menatap sangat lekat dan Intens dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Kali ini penampilan Sharon memang tampak sangat cantik dan seksi. Sementara Sharon melihat ke arah dirinya sendiri yang di tatap Intens oleh suaminya tersebut.


"Kamu dari salon ya? nggak usah bohong, ngaku habis reunian segala?" Azam mencurigai kalau Sharon itu bukan dari reunian tapi bisa jadi dari salon atau tempat lain.


Sharon menghampiri suami tersebut sambil cengengesan dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Mas gak marah kan kalau aku tadi dari salon? lagian kan buat Mas juga, emangnya Mas nggak malu kalau istrinya berantakan. Kucel bin dekil!"


"Sebenarnya sih ... nggak jadi masalah kalau soal ke salonnya sesekali aja, cuman yang jadi masalah itu kalau keseringan kan uangnya jebol juga. Jangan terlalu boros juga, untuk masa depan kita juga!" Azam ngeloyor lebih dulu ke dalam.


Dan Sharon pun menyusul dari belakang, dengan bibir yang kumat kamit entah apa yang dia ucapkan. Azam pun tidak peduli kepada istrinya yang sedang menggerutu sambil berjalan mengikutinya.


"Sebentar lah. Mas ... aku tuh kan baru datang juga, mau ganti baju dulu sayang lah. Bajuku nanti kotor!" Jawabnya Sharon sembari mendekati lemarinya mengambil bajunya saja lalu menggantinya di kamar mandi, tanpa menyiapkan pakaian untuk Azam.


Sebentar Azam hanya melihat saja istrinya itu, masuk ke dalam kamar mandi sambil menenteng pakaiannya.


Dan berapa saat kemudian Sharon pun muncul dari kamar mandi, melirik pada suaminya yang bertelanjang dada. Menatap lekat ke arah dirinya.


"Aku mau ambil minum dulu, Mas. Dan aku belum lihat Denis juga Vera!" Sharon berjalan mendekati pintu.


"Vera tadi sedang bermain boneka dan Denis tidur kayaknya!" gumamnya Azam.


"Oh gitu ya, ya sudah aku ambilkan minum aja dulu. Sebentar aku kembali!" sambungnya Sharon sambil berjalan melintasi pintu.


"Semoga Azam tidak tahu kalau aku habis jalan-jalan sama seseorang, seseorang yang lebih muda darinya ternyata! aku bisa juga dapat brondong. Oho ..." gumamnya Sharon dalam hati sembari melirik pada pintu kamar yang di mana suaminya berada di sana.


Bibirnya Sharon tersenyum lebar, entah memikirkan apa dia. "Apa dia belum curiga kali ya? kalau hari ini aku ambil uang dia melalui kartu kredit! tidak apalah jalan sama si brondong dan aku shopping membayar nya dengan uang suami ku oo! yang penting hatiku senang!"


Sekitar 2 menit kemudian Sharon kembali dan membawa gelas air minum dingin untuk suaminya. Dan setibanya di kamar, Azam masih di posisi yang sama duduk-duduk dengan bertelanjang dada di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Lho, kok kamu belum mandi Mas?" ucap Sharon sembari menyimpan gelas air minum di atas nakas dekat suaminya tersebut.


Azam menarik tangan Sharon agar dia duduk bersamanya. Lalu memeluknya dengan erat, menghujaninya dengan ciuman.


Sharon sedikit memberi penolakan. "Mas ... Mandi dulu sana, biar wangi. Masa aku wangi gini dan kamu bau sih?" Perlahan mendorong dada Azam.


"Kenapa? biasanya juga kayak gini. Sebelum mandi kamu mandiin dulu aku dengan keringat, gak ada yang aneh kan!" Jawabnya Azam yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Tapi Mas ... kali ini aku pengen kamu wangi dulu! agar lebih menggairahkan gitu." Elaknya Sharon.


Padahal saat ini dia sedang malas untuk melayani suaminya. Karena hari ini dia sudah melayani service yang lebih hot, gimana tidak pria itu lebih muda dan bertenaga tinggi.


Namun siapa yang bisa menolak kemauan pria yang bernama Azam tersebut, kalau ada maunya pasti dan harus waktu itu juga. Nggak bisa dinanti-nanti, begitupun saat ini, biarpun Sharon menolak. Dia paksa.


Membuat Sharon merasa sakit atau tidak nyaman, karena kurang nya mood dari dirinya sendiri. Sebab merasa kesal Sharon agak menolak, menjadikan Azam sedikit memaksa dan tanpa memberikan pemanasan yang lebih cukup. Dia langsung saja tancap gas! tidak peduli istrinya meringis ataupun kesakitan.


...----------...


"Ya sudah, aku pulang dulu ya?" ucapnya Malik setelah selesai makan malam bersama Renita dan Rendy.


"Oke hati-hati ya? dan jangan lupa besok jemput aku! kan motor di kantor!" pintanya Renita Setelah meneguk minumnya.


"Iya sayang, besok aku jemput pagi-pagi. Oh ya Rendy Papa pulang dulu ya? selesai makan cepat bobo. Biar nggak kesiangan besok, mau sekolah kan?" Malik mengacak rambut Rendy yang masih menikmati makan malamnya itu.


"Iya Papa, hati-hati ya? biar besok bisa ketemu lagi! Oh ya Pah besok boleh nggak minta dianterin ke sekolah? nggak apa-apa perginya lebih pagi juga!" Rendy menatap penuh harap kepada Malik.


Renita pun menatap ke arah Malik, penasaran dengan jawabannya pria tersebut.


"Em ... Besok ... Boleh kalau masih pagi, ya ... kecuali kalau agak siangan Papa nggak bisa! soalnya ke kantor gimana?" Balasnya Malik yang menyetujui keinginan Rendy.


"Iya Pah, nggak apa-apa kok ... pergi sekolahnya lebih pagi juga, makasih ya Pah. Aku sayang Papa!" Anak itu tampak senang sekali.


Setelah itu Malik pun keluar dari rumah tersebut dan diantar sama Renita sampai teras, tangannya melambai ke arah Malik yang mulai melajukan mobilnya ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa like komennya, makasih ...

__ADS_1


__ADS_2