Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Mungkin


__ADS_3

Karena Malik sedang sibuk mengurus jenazah Alena di rumah Sakit.


Sedangkan Renita sendiri boro-boro bisa diajak bicara atau ditanyai. Dia sendiri pun payah dan terus menangisi putrinya yang telah tiada.


"Bun, ada apa bun?" Rendy dengan suara baritonnya membangunkan sang Bunda yang sudah jam 06.00 ini belum bangun juga padahal biasanya dia yang suka bangunin anak-anak.


Renita menoleh ke arah Rendi yang duduk di hadapannya dengan pandangan yang remang-remang kurang jelas Renita memeluk Rendy dengan sangat erat lalu terisak.


"Alena Rendy ... Alena meninggal." suara Renita sambil terisak membuat Rendy dan yang lainnya yang berada di kamar tersebut saling bersitatap merasa heran dan tidak mengerti.


"Apa maksudnya, Bunda? ini sudah jam berapa Bunda ... kenapa belum bangun juga? dan ini juga bukan hari libur! biasanya Bunda paling rajin bangun pagi, tapi ini malah sebaliknya atau Bunda kurang sehat ya!" ujar Rendy sembari mengusap-ngusap punggung bundanya.


"Bunda tidak sakit, Bunda tidak rela kehilangan Alena, adikmu Rendy adikmu!" dengan suara masih terisak kecil dan memeluk putranya dengan sangat erat.


"Sayang, kamu mimpi atau gimana sih? sudah siang nih nggak apa-apa kalau kamu nggak mau masuk kerja juga, cuman 'kan kamu belum sarapan! Belum subuh juga," suara bariton itu membuat Renita menoleh ke arah belakang.


"Abang, Abang sudah pulang dari rumah sakit?" Renita mengerutkan keningnya sembari mengusap hidungnya yang berair.


"Pulang, rumah sakit. Maksud kamu apa sih sayang, dan siapa yang ke rumah sakit?" Malik menatap heran kepada sang istri.


Renita mengedarkan pandangannya ke arah sekitar dan di kamar itu terdapat Malik, Rendy dan juga dari arah pintu muncullah Alena dengan menggunakan seragam sekolahnya yang sudah siap.


Mulut wanita menganga dan dia berapa kali menggosok kedua matanya, siapa tahu aja penglihatannya salah! bisa saja yang dia lihat itu bukan Alena yang sebenarnya. Tapi orang lain namun setelah beberapa kali menggosok dua matanya, tetap saja yang berada dekat pintu itu adalah Alena yang tengah tersenyum padanya.


"Alena?" gumamnya Renita lanjut menoleh ke arah sang suami yang tersenyum heran.


"Kamu itu kenapa sih Sayang? sudah sulit dibangunkan! bangun-bangun omongan nya ngelantur. Kamu mimpi apa?" Malik mendekat dan duduk di sampingnya sang istri sementara Rendy perlahan berdiri.


"Ini jam berapa emang? aku sulit dibangunkan. Emangnya aku tidur ya? kan aku nggak tidur! semalaman aku nangis, kamu ke rumah sakit bawa jenazahnya Ale--" Renita menggantungkan perkataannya lantas menoleh ke arah Alena yang berjalan mendekatinya.


"Emangnya Bunda mimpi apa sih? sampai nyenyak banget gitu tidurnya, sampai lupa waktu! tidak mencerminkan sesuatu yang harus dicontoh sama anak-anak, seharusnya 'kan Bunda itu menjadi contoh yang baik untuk anak-anak!" Alena begitu kritis melihat ke arah sang Bunda.

__ADS_1


Wanita cantik itu menggaruk kepalanya dia tidak mengerti dan menjadi bingung seingat dia malam itu kedatangan pencuri, terus tidak lama kemudian dia mendatangi kamar Alena dan Alena sudah kaku bersimbah da-ra-h diyakini meninggal terus dibawa ke rumah sakit oleh papanya.


Sekarang tiba-tiba mereka semua ada di kamar tersebut dan mereka katakan kalau Renita itu susah dibangunkan tidurnya terlalu nyenyak. Membuat Renita terus menggelengkan kepalanya yang terasa pusing juga.


"Aku menjadi bingung. Sebenarnya apa yang terjadi sama aku? bukannya semalam sudah terjadi sesuatu di rumah ini?" Renita mengerutkan keningnya dan menatap pada sang suami.


"Emangnya semalam ada apa, Pa? bukannya semalam kalian dari rumah sakit ya? bertemu dengan mama Rosita terus menemui tante Shopia." Suara Rendy dengan nada bertanya kepada Malik.


"Semalam tidak ada terjadi apa-apa! kita pulang dari rumah sakit langsung tidur!" ucap Malik sembari menoleh pada sang istri.


"Em ... Alena ... kamu tidak kenapa-napa Nak?" Renita mengedarkan pandangan kepada Alena.


Anak itu menggeleng sembari memperhatikan penampilannya sendiri dengan seksama, yang dia rasa tidak terjadi apa-apa sama dirinya! dia cukup baik-baik saja. Terus ada apa dengan bundanya. Gadis cantik yang mulai ABG itu pun lebih mendekati pada sang Bunda.


"Bunda, seperti yang Bunda lihat aku ini tidak apa-apa kok baik-baik saja, sehat walafiat tidak kurang suatu apapun! kenapa Bunda tanya seperti itu? seolah-olah sudah terjadi suatu hal yang besar yang terjadi terhadap diriku!" Alena membuka kedua tangannya membentuk sesuatu yang besar.


Renita kembali menoleh pada sang suami. "Beneran semalam tidak ada terjadi apa-apa di rumah ini?"


"Rendy, beneran semalam tidak terjadi apa-apa?" Renita masih ragu lantas bertanya kepada putranya yang kini berdiri sambil melipatkan tangan di dada.


"Sepertinya nggak ada apa-apa pun. Lagian aku baru pulang dari rumahnya papa Azam 'kan semalam aku bilang kalau aku menginap di rumahnya Papa Azam!" Rendy menaikan kedua bahunya.


"Aku tahu, Bunda pasti bermimpi. Ya, kan ... mimpi bertemu pangeran dan pangerannya mengambil aku, membawa Putri Bunda yang cantik ini!" Timpalnya Alena sembari menggerakkan kedua telunjuk menuding pipi, sembari mengedipkan kedua matanya genit.


"Wiuhh ... ge'er, sok cantik, Lo ..." Rendy menuding ke arah sang adik.


Renita mengungkapkan kedua tangannya di wajah Malik, pria itu sudah tampak rapi dengan setelan formalnya yang mau berangkat kerja. "Sekali lagi aku mau bertanya, beneran semalam nggak ada terjadi apapun di rumah ini, maling atau apa gitu?"


"Ha ha ha ..." Malik tertawa lepas melihat ekspresi wajah sang istri yang tetap menanyakan apa yang terjadi semalam. "Aduh Sayang ... harus berapa kali aku bilang, nggak ada yang terjadi di rumah ini, ataupun maling datang nggak. Nggak ada! yang ada itu kamu tidur nyenyak, nggak bisa aku bangunkan. Sudah dengan bermacam cara pun kamu nggak bangun-bangun."


Sejenak Renita terdiam seraya mengedarkan pandangannya bergantian pada Malik, Rendy dan Alena. Lalu kemudian dia menghela nafas dengan lega. "Berarti semalam aku cuman mimpi, ya Allah ... Alhamdulillah itu cuman mimpi, aku nggak bisa membayangkan kalau itu memang terjadi!"

__ADS_1


Lantas Renita menggerakkan tubuhnya bersujud syukur, dia bermunajat pada yang maha kuasa, atas semua yang terjadi. Sementara mimpi itu pada kenyataannya putri kecilnya masih baik-baik saja! tidak kurang suatu apapun dan di rumah itu tak ada yang terjadi yang signifikan, semuanya hanyalah mimpi.


Membuat orang-orang yang berada di situ merasa heran. Sebenarnya apa yang terjadi pada Renita namun sebelum salah satunya bertanya kepada wanita tersebut, dia langsung membawa langkahnya menuju ke kamar mandi. Dia sedar betul kalau dia sudah kesiangan


"Pa, sepertinya ... Bunda sudah mimpi sesuatu yang bikin dia shock kali, sehingga sikapnya seperti itu!" gumamnya Alena sembari menoleh pada sang ayah.


Malik mengangguk. "Mungkin juga benar, kalau bunda itu semalam bermimpi yang tidak-tidak! tapi kok mimpinya anteng banget ya. Sehingga sampai pagi dan sangat sulit untuk dibangunkan."


"He he he ... mungkin bunda mimpi ke luar Negeri kali, terbang. Tenang ... nanti kalau Rendy sudah menjadi pilot, kita jalan-jalan ke luar Negeri pulang pergi," ucap Rendy dengan sangat percaya diri kalau suatu saat dia dia akan menjadi seorang pilot.


"Aamiin ... Belajarlah yang baik dan serius, gapai sampai cita-citamu sampai terlaksana dan jangan sia-siakan di saat kamu sudah mendapatkannya!" Malik mengusap pundak putra nya Rendy.


"Iya. Pa, tenang saja kalau aku sudah mendapatkannya tidak mungkin aku menyia-nyiakannya. Aku akan berusaha untuk mempertahankan apa yang sudah aku dapatkan!" kepala Randy manggut-manggut.


"Ya sudah. Lena, perlengkapan sekolahnya sudah tidak ada yang ketinggalan?" tanya Malik pada putrinya.


"Semuanya sudah siap, Pa. Belikan kampas lukisan ya, Pa? maksud aku semua keperluan lukisan mulai dari kertas ... chat dan lainnya, aku sudah bilang sama Bunda, takutnya Bunda lupa." Alena kembali mengecek isi tasnya.


"Kalau sudah bilang sama Bunda ... Bunda nggak akan lupa, pasti dibelikan nanti!" lirihnya sang ayah.


Kring ....


Kring ....


Kring ....


Ponsel miliknya Malik beberapa kali berdering dengan suara yang begitu ....


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2