
"Sebenarnya aku ingin minta maaf, ya ... sejak lama aku tahu bahwa kamu tidak mungkin mau memaafkan aku yang sudah lancang! nggak punya malu. Nggak punya hati, wanita mu-ra-han. Penggoda suami orang dan entah kata-kata apa lagi yang pantas buat aku, sebab aku mengakui dan aku menyadari kesalahan ku, dulu aku jadi wanita nakal sudah menggoda suami mu bahkan setelah menjadi istrinya aku sangat tidak tahu diri dan mengkhianati dia!" Sharon menunduk dalam, hatinya merasa teriris dan sedih mengenang masa lalu.
Tangan Renita bergerak mengaduk-aduk minuman dinginnya dan sorot mata pun bergerak beralih dari Sharon ke gelas minumnya. "Kamu nggak usah minta maaf ... karena sudah sejak lama aku maafkan kok ... aku terima dengan ikhlas semuanya mungkin sudah jadi takdir aku dan satu lagi yang menjadi pegangan aku, jika menerima kenyataan dengan ikhlas bahwa itu takdir yang memang harus kita terima akan berbuah baik. Intinya dibalik kesulitan akan ada kemudahan menanti, kesusahan diakhiri dengan kebahagiaan."
"Aku tahu kamu sangat sakit hati padaku, waktu itu di saat kalian sedang bahagia ... aku hadir diantara kalian sehingga rumah tangga kalian hancur dan Mas Azam menikahi ku, cuman aku juga yang bodoh, aku bodoh sekali. Aku nggak bersyukur mentang-mentang aku merebut dia darimu sehingga aku dengan mudahnya menghempaskan dia menyakiti dia, padahal aku tahu sebenarnya mas Azam sosok suami yang baik! kalau saja aku menurut. Tapi ...."
Terlihat tangan Sharon bergerak mengusap sudut matanya yang berair dan jatuh juga butiran bening yang mengkilat jatuh ke pipi.
Renita menghela nafas dalam-dalam, seraya mendekat dan mengusap punggungnya Sharon. "Jika itu sangat menyakitkan tidak perlu dikenang lagi lah, lupakan semua itu ... anggap saja tidak pernah ada dan jadikan itu sebuah pengalaman agar kita berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik, lebih baik dari sebelumnya! aku yakin sekarang kamu sudah tobat, kamu sudah menyadari setiap kesalahan yang pernah kamu lakukan baik terhadap aku maupun terhadap orang lain!"
Tiba-tiba Sharon memeluk Renita dan dia menangis tersedu dalam pelukannya wanita tersebut. Sharon benar-benar merasa menyesal karena sudah menghancurkan rumah tangga Renita bersama Azam, sehingga Azam pun menikahinya dan sementara dia pun dengan kurang ajarnya mengkhianati Azam, berselingkuh dengan laki-laki yang hanya lewat yang intinya hanya mengikuti nafsu saja.
Kedua bahu Sharon bergetar karena tangisnya yang terus tersedu di pelukan Renita. "Kadang-kadang aku terus-terusan dihantui dengan rasa bersalah, bersalah karena sudah merebut suami orang, menjandakan dirimu demi aku seorang janda anak dua dan pada akhirnya, aku juga yang sangat kurang ajar mengkhianati Mas Azam. Padahal dia sudah berusaha menjadi suami yang baik untuk ku, biarpun dia sudah menyia-nyiakan anaknya."
"Sudahlah, nggak usah dikenang lagi. Aku pun sudah melupakannya, dan ... dan kamu juga harus tahu kalau aku dan Mas Azam sampai detik ini berhubungan kami baik-baik saja, tidak ada masalah ataupun kekeliruan apalagi mengenang masa lalu yang sangat menyakitkan. Kita pandang saja ke depan membuka lembaran baru. Masa lalu tidak usah dikenang jika itu hanya menyakitkan, yang penting kita sudah saling memaafkan." Tangan Renita naik turun mengusap punggungnya Sharon.
Sharon menghela nafas dalam-dalam lalu ia menghembuskannya sangat panjang, dia mengusap kedua pipinya yang basah dan berusaha menghentikan tangisnya. "Terima kasih ya, kamu sudah mau baik hati memaafkan ku, orang yang sangat berdosa ini--"
"Tidak ada manusia yang sempurna, semuanya pasti memiliki dosa baik kecil maupun besar," sambungnya Renita.
.
__ADS_1
.
"Aw-aw, aw ... sumpah ini enak banget banget, banget-banget kebabnya enak banget. Apa mungkin karena makannya sama kamu kali ya, jadi rasanya lebih enak gitu sumpah deh." Ucapan Pricilia dengan sangat heboh dan melirik ke arah Rendy.
"Jangan lebay, biasa aja. Kebab ini emang enak kok--"
"Tapi beneran ini kebab lebih enak dari kebab-kebab yang pernah aku makan, dagingnya ... variannya, sumpah! sumpah banget enak sekali. Dan mungkin tak akan pernah aku temui di tempat lain selain di sini dan makannya sama kamu!" goda gadis cantik yang berambut pirang dan lurus panjang, wajahnya mungil tidak kalah cantik dengan Barbie. Ekspresi wajah sangat riang dan mengedipkan mata yang di arahkan pada lawan bicaranya itu.
Kepala Rendy terus menggeleng. "Jangan lebay deh, sudah makan aja ... nanti keselek tau rasa lho." Rendy pun menyiapkan kebabnya ke dalam mulut dan menikmati setiap kunyahannya.
Disertai minumannya, es tebu. Wih ... seger ... manis semuanya bercampur jadi satu di dalam mulut.
"Minumnya-minumnya wih ... seg--er, sungguh tiada duanya apalagi lihat wajah kamu yang tampan!" Pricilia terus aja mepet Rendy yang paling-paling tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"He he he ... habis aku bingung harus ngomong apa, jujur aku kehabisan kata karena kamu yang banyak bicara!"
"Ya sudah, aku nggak mau banyak ngomong ... aku akan banyak diam dan kamu aja yang banyak ngomong!" Pricilia mengunci bibirnya, terdiam dan menatap ke arah Rendy, membiarkan Rendy yang katanya mau banyak bicara.
Namun setelah ditunggu berapa saat lamanya ... sambil menikmati kebab dan minum es tebu, tetap aja yang terlihat Rendy hanya senyum-senyum. Lihat kanan kiri, ke depan! ke belakang dan nggak ada kata yang terucap dari bibir pemuda tersebut. Bikin Pricilia tambah jengkel.
"Buktinya aku diam, kamu juga diam. Nggak ada yang ngomong, yang terdengar hanya suara-suara orang yang sama-sama makan yang keluyuran, sendok dan garpu kamu nya diam mulu."
__ADS_1
"Em ... Kalau sudah makanya pulang yuk? sudah sore nih masih banyak tugas yang harus ku kerjakan di rumah." Kata Reny yang sama sekali tidak merespon perkataan dari Pricilia barusan.
"Oh my God ....kamu ini ya! aku ajak ngomong malah ngomong ke mana-mana, ya kalau ada tugas nanti aja malam kamu kerjain--"
"Iya nanti malam kerjain, kan sekarang udah sore bentar lagi magrib. Makanya kita harus pulang. Kan aku harus nganterin kamu dulu, jauh ... biarpun cuman 10 menit, tetap saja keburu maghrib!" Rendy menunjuk jam di tangannya yang melingkar.
"Ih ... kamu ini ... apa salahnya sih kita jalan sampai malam gitu? tugas kan bisa dikerjain besok. Masa sih nggak ada waktu buat aku?" Pricilia menuding ke arah dirinya sendiri dengan perkataan nada manja.
"Ups, siapa dirimu? kita cuman teman. Nggak lebih! jadi jangan meminta waktu lebih!" Rendy menatap ke arah Pricilia dengan perasaan yang tidak enak, takut perkataannya menyinggung perasaan Pricilia.
Sejenak Pricilia terdiam dan menggaruk tengkuknya. "He he he ... iya juga ya? kita kan cuman temen tapi ... apa salahnya sih? Kan kita sedang pendekatan," ucapnya sambil mengedipkan mata genit bikin Rendy ....
"Ha ha ha ....pendekatan! nggak ada pendekatan-pendekatan, teman ya teman. Lagian aku sudah bilang kuliah, belajar adalah nomor satu dan yang lainnya nomor sekian, udah ah aku sudah selesai makan dan semuanya biar aku yang bayar," Rendy berdiri dan merogoh sakunya untuk mengambil uang buat membayar kebab dan es tebu. Yang sudah dimakan oleh dirinya dan Pricilia.
"Ren? Rendy ... panggil Pricilia sembari menyusul langkah Rendy yang lebar menuju parkiran untuk mengambil motor. "Rendy, teman-teman yang lain khususnya cowok-cowok bilang kangen sama aku! kok kamu nggak gitu sih?" berjalan di hadapannya Rendy dan menghadap Pemuda tersebut seolah jalan mundur.
"Emangnya aku harus bilang gitu juga, emangnya harus sama gitu? bilang kangen, rindu dan semacamnya lah. Tidak semua perasaan itu harus diungkapkan dengan kata-kata! nggak. Ada kalanya kita simpan dalam hati dan tidak semua orang harus tahu itu," ujar Rendy sambil menatap ke arah gadis yang berjalan mundur di hadapannya.
"Awas!"
.
__ADS_1
Bersambung.