
Sharon merapikan pakaian bagian atasnya. Setelah memberi service kecil-kecilan pada salah satu pria yang tadi ketemu di pos ronda. Dan dia pun mendapat bayaran sebesar rp200.000.
"Lumayanlah untuk menyambung hidup, lagian aku nggak ngasih apem ku, cuman atas doang he he he ...dapat segini, yang penting dia banjir ha ha ha." Sharon kembali ke jalan sambil menenteng tempat gorengannya.
Setibanya di rumah, Sharon langsung menyerahkan dagangannya pada yang punya dan hari ini dia cuma dapat bagian lima puluh ribu, mana gak habis jualannya! sisa banyak. Di kasih segitu juga sudah lebih dengan alasan kedua anaknya.
Kedua anaknya merengek minta makan, si Vera sudah bisa masak, namun apa yang harus di masak bila tidak ada bahannya.
"Mah, kami lapar! apa Mama tidak membawakan kami gorengan?" Vera menatap ibunya yang tampak lelah dan hanya membawa tangan kosong.
"Iya, Mah ... Denis lapar sekali," Denis memegangi perutnya.
Sharon menatap kedua anaknya dengan tatapan haru. "Beli saja nasi bungkus tiga. Ini uangnya, nanti Mama belanja bahan-bahan buat masak."
"Pengen jajan ya Mah?" Denis membuka kedua tangannya meminta jajan.
"Jangan jajan dong ... kan mau beli nasi bungkus." Sharon memberikan uang pada Vera.
"Tapi pengen jajan, dari pagi aku gak di kasih uang jajan sama Mama. Dari pagi aku cuma makan angin saja!" Denis terus merengek sama mamanya yang akhirnya di perbolehkan juga untuk jajan.
Anak itu merasa senang dan lantas dia lompat menyusul sang kakak yang mau ke warung membeli nasi bungkus.
"Huuh ..." Sharon menjatuhkan bokongnya di kursi yang ada di dalam kontrakannya tersebut.
"Sudah waktunya bayar kontrakan, mana yang kemarin juga menggantung. Gimana ini? kalau gak mampu bayar pergi saja dari sini!" tiba-tiba suara itu mengagetkan Sharon yang baru saja mau memejamkan mata dan menyandarkan kepala di bahu kursi.
Sharon langsung banyak melihat keberadaan Ibu kontrakan yang berdiri tegak dan menatap tajam ke arah dirinya yang berasa gugup. "Saya. Belum ada uang Bu ... tolong kasih waktu beberapa hari lagi!"
"Apa? kasih waktu berapa hari lagi? yang kemarin aja masih menggantung 200.000, sekarang masih juga minta dikasih tangguhan gimana sih? kau pikir ini kontrakan nenek moyang mu?" bentak ibu kontrakan.
__ADS_1
"Ta-tapi saya belum ada uang, Bu ... ini juga buat belanja beras dan lauk, tolong Bu ... saya janji akan melumasi secepatnya Bu." Sharon memohon-mohon mengingat di dompet hanya ada uang 200rb dan itu pun buat beli beras dan lauk pauk.
"Saya tidak perduli dan saya ingin kamu membayar sekarang juga, setidaknya gantungan bulan kemarin kamu lunasi. Dan bulan ini harus ada sekitar tiga hari lagi." bentak ibu kontrakan dengan manik mata yang setengah ingin melompat dari tempatnya.
"Tapi, Bu ... emangnya cari uang itu gampang apa? kan nggak--"
"Heh ... emangnya saya pikirin ha? kalau gak mampu bayar kontrakan tidur saja di kolong jembatan dan di jamin tidak akan di tagih bayaran." Sergah wanita berambut di sanggul tersebut dengan nada raut wajah yang menakutkan.
"Kasihan kami lah Bu ... aku punya anak yatim Bu ... hitung-hitung bersedekah lah Bu ... saya pasti bayar kok ... paling telat seminggu! jangan 3 hari Bu ... saya mohon kebaikan ibu demi anak yatim Bu!" Sharon terus memohon untuk di kasihani.
"Jangan banyak omong ya, mana saya perduli, mau anak yatim mau bukan kek, pokonya bayar! tidak ada kaitannya dengan anak yatim sama kontrakan. Kurang apa saya setiap bulan suka nunggak, buruan bayar gantungan yang bulan kemarin! kalau tidak angkat kaki sekarang juga--"
"Jangan-jangan Bu ... saya mohon! kontrakan banyak tapi kan di sekitar sini yang dekat sekolah Vera tidak ada lagi. Saya bayar cepek aja dulu ya Bu ... nanti sekalian saja saya bayar kok!" potong Sharon sambil mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang tapi langsung di sambar ibu kontrakan dompetnya dan di ambil uang yang 200rb dan di tinggalkan uang yang berwarna coklat alias lima ribu.
Sharon bengong dan ingin mengambil kembali, akan tetapi uang yang 200rb sudah pindah tangan ke tangan wanita tersebut dan tidak mungkin kembali lagi dengan alasan apapun.
"Bu, jangan semuanya lah. Bu ... saya belum punya beras dan semacamnya." Sharon menelan Saliva nya, uang itu pun hasil sampingan sebab kalau mengandalkan jualan gak bakalan dapat uang yang 200rb itu.
Sharon terdiam, mengatupkan bibirnya dengan perasaan yang campur aduk. Kecewa, sedih. Bingung dan dadanya terasa sesak sehingga dia mencari udara yang akan memberinya oksigen. Lalu dia membuang nafasnya kasar melalui mulut.
Tidak kuasa buliran-buliran air bening menggenang di sudut matanya dan jatuh juga ke atas punggung tangan.
Yang yang segitu-gitu nya di ambil juga semuanya dan hanya tersisa 5rb saja, belum punya beras dan semacamnya. Untungnya tadi sudah dia berikan pada Vera buat beli nasi bungkus dan setidaknya sekarang mereka bisa makan.
Terdengar suara anak-anak nya datang, sehingga Sharon segera mengusap air matanya dan menghapus jejaknya dari wajah ia yang sendu. Mendongak serta menghirup udara yang sebanyak-banyaknya nya.
"Mah, ini nasi nya, kembaliannya cuma 10rb, Denis jajan tuh!" Vera langsung memberikan kembaliannya pada sang mama.
"Ya sudah, kalian makan saja, setelah itu kalian mandi jangan kucel begitu. Mama tidak suka! Mama mau mandi dulu," Sharon beranjak dari duduknya. Yang tadinya sangat lapar seketika menghilang begitu saja.
__ADS_1
"Iya, Mah ... nanti kita mandi setelah makan." Jawabnya Vera sambil membuka nasi bungkusnya.
Sementara Denis memakan jajanan terlebih dahulu sebelum makan nasi yang lauknya telur dan tahu, tempe!
Sharon berjalan dengan gontai ke dalam kamarnya dan lanjut ke kamar mandi. Dengan perasaan yang sedih dan menangis, tidak tahu harus cari kemana uang untuk melanjutkan hidup? jangankan buat bayar kontrakan buat makan nanti malam aja nggak ada!
Tidak terasa wajahnya pun banjir dengan air mata, tidak tahu harus minta tolong sama siapa? Sharon menangis tersedu di dalam kamar mandi tanpa mengeluarkan suara.
"Aku tidak tahu harus minta tolong sama siapa? Ibu, saudara tidak mungkin dapat aku mintai pertolongan. Buat mereka pun sudah pas-pasan." Gumamnya Sharon sambil mengusap kasar wajahnya yang basah dengan air mata.
Sekitar pukul tujuh, Sharon bengong melihat nasi bungkus di meja. Perutnya terus bersuara berdemo! cacing-cacing yang belum di kasih makan, akan tetapi mau dimakan ... gimana dengan anak-anak bila lapar lagi. Sharon hanya bisa meminum beberapa gelas air minum.
Lalu melihat ke arah Vera dan Denis yang sedang bermain. "Vera, Denis Mama mau keluar dulu ya! Ada urusan sebentar, kalian jangan keluar! ini kan sudah malam dan Mama bawa kunci sendiri."
"Itu Mama tahu sudah malam, tapi Mama mau ke mana!" kritis Denis menatap mamanya.
"Hooh, Mah ... mau ke mana? nggak lama-lama kan!" tambahnya Vera sama menatap wajah sang mama yang tampak cantik.
"Kan sudah Mama bilang ... Mama ada urusan! kalian jangan khawatir Mama pasti pulang kok, Pesan Mama kalian jangan kemana-mana ya? langsung bobo!" Sharon memakai sendal dan merapikan pakaiannya yang menampakan lekuk tubuhnya.
"Huuh ... Sharon harus segera beraksi demi anak-anak juga!" gumamnya Sharon dalam hati sebelum membawa langkahnya keluar pintu rumah.
"Oya, kalian kalau lapar ... kan ada nasi bagian Mama, makan saja ya." Sharon menoleh kembali pada kedua anaknya.
"Iya Mah, katanya tadi mama mau belanja beras sama lauknya kok nggak jadi?" Selidiknya Vera sambil mengalihkan pandangannya ke arah dapur.
"Iya, gak jadi. Uangnya belum ada, tadi ada ibu kontrakan yang meminta uang dan Mama kasih saja, sudah lah ... kalian nggak usah pikirkan soalan itu." Sharon gegas keluar rumah dan langkahnya berhenti sesaat mendengar suara tokan yang sudah berbunyi nat-nit-nut.
Hati kian Sharon menjerit, tak ada lagi yang bisa di jual. perhiasan dan ponsel pun sudah tidak punya lagi ....
__ADS_1
.
Bersambung