
Renita pun mengangguk membenarkan kau memang namanya adalah Renita dan teman sekolahnya Malik ketika SMA biarpun tidak lama.
"Ayo silakan duduk? ini putra mu ya? ganteng dan sepertinya pintar!" wanita sepuh itu menatap ke arah Rendy yang langsung Renita suruh untuk mencium tangannya.
"Pintarnya ... sudah kelas berapa? apa masih duduk di TK?" ibundanya Malik mengusap kepala Rendy sembari bertanya.
"Aku masih di TK omah kelas berapa teh Bun?" Rendy menoleh pada sang Bunda bertanya kelasnya.
"Rendy baru kelas TK b, Oma ..." Jawabnya Renita sambil memandangi ke arah ibundanya Malik Rendy.
"Oh iya baru TK B," Rendy mengganggu kemudian dia duduk di sofa yang kosong dan membawa kantong buah pir dan lengkeng nya kemudian dia menikmatinya sendiri.
"Baru 5 tahun usianya?" tanya kembali wanita sepuh tersebut kepada Renita yang duduknya tidak jauh dari beliau.
"Bener Bu baru 5 tahun usianya!" Renita pun menganggukan kepalanya.
"Oh iya, Ren kenalkan dia sepupu aku namanya Sophia." Malik mengenalkan wanita pada Sophia sepupunya yaitu wanita yang waktu itu di supermarket.
Wanita pun menoleh kepada Malik dan juga kepada Sophia seraya berkata serta mengeluarkan tangannya. "Halo senang berkenalan dengan mu!"
"Hi ..." balasnya Sophia sambil tersenyum tipis.
"Sekarang coba kamu tanyakan sama mama. Apakah benar aku sudah menikah dan istri aku adalah dia?" ucap Malik kepada Renita dan menyuruhnya untuk bertanya kepada sang bunda tentang dirinya.
__ADS_1
Renita melirik ke arah Malik, lala dia menunduk dengan kedua tangan yang saling bertaut di atas pangkuan dan keringat dingin pun keluar di telapak tangan. Dia merasa nggak berani untuk pertanyaan langsung.
Ibunda nya Malik tersenyum sembari melepas tatapannya ke arah Renita kemudian wanita berumur tersebut berkata. "Malik ini belum pernah menikah dan wanita ini adalah sepupunya! saya dan almarhum suami sudah sering menyuruh dia sebagai anak bungsu segera menikah, apa sih yang harus dipikirkan? secara finansial dan usia dia sudah siap. Namun entah kenapa setiap wanita yang Saya tawarkan pun tidak pernah dia mau! dengan alasan takut mengecewakan. Karena dia belum tentu bisa mencintai."
Renita mengangkat wajahnya lalu memandangi wanita sepuh tersebut dan mendengarkan baik-baik setiap perkataan yang terucap dari bibirnya.
"Kalau saya terus membujuk Malik, dia malah semakin merajuk! dia selalu bilang dia sangat mencintai seorang wanita yang bernama Renita dan dia sangat yakin kalau suatu saat nanti ... dia akan menemuinya dan hidup bersama dengan wanita tersebut. Terkadang saya ragu, buat apa sih menunggu sesuatu yang belum tentu? apalagi dia sudah bahagia bersama orang lain. Kamu jahat sekali jika kamu berharap kehancuran dari kebahagiaan mereka. Tapi Malik selalu bilang aku tidak pernah mendoakan yang buruk-buruk tentang dia, justru aku berdoa agar dia bahagia! itu saja!" Ibundanya Malik kembali menjeda ucapannya seraya menghela nafas dalam-dalam.
Renita kembali menundukkan kepalanya dengan dalam, serta perasaan yang tidak menentu ternyata memang benar sekiranya Malik dari dulu memang menyukainya. sehingga bercerita seperti itu segala kepada ibundanya sendiri.
Kemudian Renita menolehkan kepalanya ke arah Malik yang lantas naik turunkan alisnya.
"Dan baru-baru ini Malik bercerita kepada saya, kalau dia sudah bertemu dengan wanita pujaannya dan dia status janda. Karena dia sudah bercerai dengan suaminya terdahulu. Tentunya Saya khawatir, saya takut kalau putra saya yang menghancurkan rumah tangga orang lain. Karena bagi saya sebesar apapun cinta dan perasaan. Jangan sampai menghancurkan kebahagiaan orang lain!" Lagi-lagi ibundanya Malik menggantung perkataannya dan dia lebih memilih meneguk lebih dulu minumnya.
Untuk mengusir rasa dahaga yang menyelimuti tenggorokannya dan dia pun menyuruh Renita untuk menikmati minum dan cemilan yang sudah tersedia di meja.
"Ketika saya marahi Malik, tentunya Malik membela diri. Dia bilang demi Allah Mah aku tidak pernah menghancurkan rumah tangga orang, sedikitpun tidak, karena yang kuharapkan hanya satu! dia bahagia. Tentunya saya bertanya lagi, terus kenapa sampai-sampai dia bercerai, apa yang menjadi alasan dan gimana dengan anak-anaknya? Malik bilang itu kesalahan lakinya yang telah menyia-nyiakan sang istri demi wanita lain. Dari situ saya beristighfar dan berdoa kepada yang maha kuasa! bila benar wanita itu adalah jodoh Malik. Putra saya, dekatkan! tapi jika sebaliknya jauhkanlah!" ujar ibundanya Malik dengan panjang lebar.
Renita pun kembali mengangkat wajahnya lalu menoleh ke arah Malik.
"Sekarang kamu tahu kan ceritanya gimana. Dan aku nggak perlu bicara panjang lebar lagi! aku rasa apa yang sudah diucapkan oleh mama ku ... sudah lebih dari cukup dan sekarang Saya hanya butuh satu jawaban iya atau tidak?" Malik menatap lekat ke arah Renita dan meminta jawaban dihadapan mamanya sendiri.
Renita terdiam mengatupkan bibirnya dari seribu bahasa, tangannya terus menautkan jari jemari yang lentik yang kemudian dia menoleh ke arah Rendy yang tampak asik memainkan mainan yang entah dari mana dia dapatkan. Lalu menoleh ke arah Malik sesaat lalu menanduk kembali.
__ADS_1
Renita ingin menjawab iya, namun entah kenapa lidahnya terasa begitu kelu berat untuk digerakkan.
Sophia yang sedari tadi duduk diantara dia dan ibundanya Malik, hanya terdiam saja mendengarkan obrolan mereka. Namun tiba-tiba terdengar suara tangisan balita yang membuatnya langsung beranjak.
"Kau tidak usah takut ataupun ragu ... kalau putra saya ini tidak mempunyai istri dia belum pernah menikah sama sekali, dan dia sangat mencintai mu dan saya sebagai Bundanya menjamin kalau putra saya tidak akan berbuat yang tidak-tidak! karena sebelum orang lain ... tentu saya yang lebih dulu akan menghakiminya, bila berbuat yang macam-macam!" Ibundanya Malik kembali berujar dan meyakinkan kalau putranya tidak akan berbuat yang aneh-aneh setelah menjalin hubungan nanti.
"Em ... Sebagai seorang ibu ... tentu aku tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri, karena ada yang lebih penting adalah putra ku. Aku ingin putra ku bahagia! apalagi di posisinya sekarang ... dia jauh dari papanya dan dia membutuhkan sosok papa yang menyayangi dan perhatian sama dia, aku tidak perlu egois memikirkan kebahagiaan diri sendiri!" lirihnya Renita dengan nada yang hati-hati.
Balik belanja dari duduknya semua, lalu dia mendekati Rendy yang tengah bermain di lantai bersama banyak mainan yang tadi dia ambilkan.
"Rendy sayang, happy gak?" tanya Malik sambil berjongkok di dekat Rendy.
"Happy kok, Pah ..." jawabnya Rendy.
"Bagus lah, Papa senang kalau Rendy happy. Oya Papa mau tanya sama Rendy ... kalau Papa jadi Papa Rendy beneran gimana, boleh gak?"
Rendy menoleh dan menatap ke arah Malik. "Papa ... maksudnya satu rumah sama aku? seperti papa aku dulu dan kita tinggal bersama gitu?"
Malik mengangguk dan menatap lekat ke arah anak itu.
"Em boleh ... tapi harus janji, kalau Papa akan bahagiakan bunda juga. Jangan nyakitin bunda dan jangan buat bunda menangis. Papa boleh dan mau Papa Malik jadi Papanya Rendy!"
Malik tersenyum mengembang lalu melihat ke arah Renita dan bundanya ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Jangan lupa like komen dan dukungan lainnya ya, makasih