
"Terkadang aku bingung! Shopia ini emang orangnya seperti itu? apa memang dia nggak suka sama aku ya?" Renita bertanya-tanya dalam hati melihat ekspresi wajah Shopia kepada dirinya yang setiap bertemu begitu jutek.
"Pangeran kecil Papa, ini ada Genta datang ajak main ya!" Malik menurunkan Genta agar bermain bersama Rendy yang langsung disambut bahagia, karena Genta memang ditunggu dari tadi.
Rendy dan Genta pun bermain begitu anteng, sementara Renita. Malik dan juga bundanya mengobrol di dalam gazebo tersebut.
Sophia hanya terdiam dan menyimak obrolan mereka bertiga, Rasanya tak ada kata-kata yang ingin diucapkan selain sesekali melihat ke arah Malik dan Renita.
Dengan posisinya yang duduk miring, lebih mengamati putranya Genta yang sedang bermain dengan Rendy.
"Sudah terdengar suara adzan maghrib, bagaimana kalau kita salat bersama ya!" ucapnya ibu nya Malik sembari beranjak dari posisi duduknya.
Tubuhnya yang lebih gempal alias gemuk membuat agak kesusahan untuk beranjak, sehingga dibantu oleh Malik dan juga Renita.
"Hati-hati ya Mah ..." Renita menggandeng pinggang dan tangan sang calon ibu mertua.
"Rendy ... ayo masuk sayang! Maghrib nih." Malik pun menggendong Genta yang hanya di lihatin sama Shopia. Malik pun mengajak mereka masuk ke area ruang tengah.
Setelah berjamaah Maghrib. Lanjut makan malam dengan jamuan yang begitu banyak.
"Masya Allah ... banyak banget nih makanan. Siapa yang akan makan? sementara orang di sini hanya kita saja bukan?" gumamnya Renita mengarahkan pandangan ke arah meja makan yang begitu banyak menu masakannya.
"Tidak apa-apa. Bila perlu dibawa sebagian!" ucap calon sang ibu mertua.
"Waduh Mama ... di bawa juga siapa yang mau makan?" Renita menggelengkan kepalanya lalu dia mengambil piring sebelum calon ibu mertua dan calon suami mengambilnya sendiri dan kemudian barulah untuk Rendy.
Mereka pun mulai menikmati makan malamnya dengan sangat lahap.
Rendy yang makannya agak belepotan, membuat Shopia merasa jijik. "Makannya kok belepotan gitu ich jijik. Bisa bikin selera makan ku ini turun!"
Renita terdiam dari mengunyah. melihat ke arah Rendy yang kena teguran dari Shopia. Lalu berkata dengan lembut. "Sayang, jangan belepotan ya makan nya."
"Tidak apa Reni, namanya juga anak-anak. Nanti juga dengan seiringnya waktu dan dia mengerti tidak akan berantakan begitu!" ucap ibunya Malik dengan lirih dan beliau pun merasa tidak enak dengan perkataan Shopia.
"Sudah kok, Bun ... sudah Rendy bersihkan nih." Rendy membuang tisu ke tempat sampah setelah membersihkan bekas makanan yang berantakan.
"Pinter deh sayang, Rendy pintar. Hebat!" Malik mengacungkan jempol nya pada Rendy yang kembali menikmati makannya.
__ADS_1
"Jangan gitu juga Shop ... namanya juga anak-anak nanti juga anak kamu belum tentu serapi dia!" kini ibunya Malik mengarahkan pandangannya kepada Shopia.
Shopia menunduk dan terdiam. Tidak berkata-kata setelah di omongin sang Tante. Wajahnya bersemu merah, malu dan dalam hati menggerutu.
Setelah selesai makan. Mereka berpindah duduk ke ruang tengah, melanjutkan obrolan di sana.
Rendy yang ingin bermain dengan Genta namun segera Shopia bawa ke dalam. Sehingga Rendy bengong melihat Genta yang di bawa mama nya.
"Papa, kok Genta di bawa sama tante ya! Genta kan masih pengen main sama Rendy." Rendy menatap sendu pada Malik yang juga bengong.
"Ehem ... Rendy ... mau di tidurkan kali. Kan sudah malam, mungkin dia capek, Rendy main sendiri aja ya! lagian kan sebentar lagi kita mau pulang." Renita membujuk Rendy yang merajuk ingin bermain bersama Genta.
Ibunya Malik menggeleng, ketika melihat Shopia melengos membawa putranya! namun dia malas untuk bicara lagi, percuma.
"Rendy ... mungkin Genta nya ngantuk jadi mamanya bawa masuk, mendingan Rendy nginep aja ya di sini sama Oma! bobonya sama Oma. Mau nggak?" tawar sang ibu Malik.
"Tidak mau Oma, Rendy mau pulang aja." Anak itu menggeleng lalu berjalan sambil memegangi mobil-mobilan.
"Maafkan bila Shopia bersikap begitu ya? dia memang seperti itu orang nya," ucapnya dengan lirih ibu malik pada Renita yang tampak merasa gak enak hati.
"Tidak apa-apa, Mah ... aku maklum kok!" balasnya Renita yang berusaha menetralkan perasaannya.
"Tapi Mah!" Renita menoleh pada sang calon suaminya, yaitu Malik.
"Mama tahu di sana rumah mu, tapi kan suamimu di sini Dan ini juga rumah Malik warisan dari Mama dan papa dan kebetulan rumah ini di renop oleh malik. Sayang, kalau nggak ada yang ngerawat!" tambah nya wanita sepuh tersebut.
"Di sini juga ada Sophia dan kalau aku tinggalkan rumah di sana ... kan sayang apalagi di sana nggak ada yang nempatin sama sekali!" kata Renita.
"Anggap saja ini permintaan dari Mama, setelah menikah ... kalian tinggal di sini dan rumah di sana mendingan di kontrakan saja kalau nggak mau kosong. Itu permintaan mama!" lirih ibunya Malik.
Renita dan Malik saling bertukar pandangan, kemudian Malik berkata. "Iya sayang ... kita tinggal di sini saja, apalagi permintaan Mama seperti itu!"
Ibunya Malik mengangguk setuju dengan omongan putranya tersebut dan Renita tidak bisa berkata apapun, apalagi nanti setelah menikah berarti dia harus tunduk pada perkataan sang suami.
"Iya insya Allah, gimana besok," pada akhirnya Renita mengangguk juga.
"Ya ampun ... lupa deh Mama, kalian kapan mau belanja buat seserahan? waktu semakin mendekat, seserahan itu kan harus dikemas dengan rapi bukan sekedar belanja. Sebaiknya secepatnya deh kalian belanja atau besok aja ya sama Mama belanjanya, sore pulang dari kerja atau Renita nggak usah kerja besok. Kita belanja seharian!"
__ADS_1
Malik tersenyum kepada Renita. "Iya baiklah, besok kamu libur kerja dan aku paling setengah hari kerjanya. Oke besok kita belanja untuk seserahan."
Renita menghela nafas dalam-dalam seraya berkata. "Jadi besok aku libur," tanya Renita kepada Malik.
"Iya Sayang, besok libur dan besok kamu akan dijemput sama sopir untuk berbelanja sama mama, iya kan Mah?" Malik mengalihkan pandangannya kepada sang Bunda yang langsung merespon dengan anggukan.
Hening ... yang terdengar hanya suara dari televisi.
Kemudian Renita merubah posisi duduknya dan mengajak Malik untuk mengantarkan pulang.
"Sudah malam, ntar aku pulang ya nanti kemalaman!" ajak Renita kepada Malik.
"Baiklah. Mah aku mengantar Renita pulang dulu ya!" Malik beranjak dari duduknya sambil merapikan kaos panjang yang berwarna coklat.
Renita pun meraih tangan ibunya Malik. "Mah, aku pulang dulu ya dan besok ketemu lagi!"
"Iya hati-hati ya? eh Randy nya mana? kok dari tadi nggak ada!" ibu nya Malik melihat-lihat mencari keberadaan Rendy yang tidak ada.
"Sepertinya Rendy ada di belakang sama Bibi!" Renita pun berjalan ke belakang mencari Rendy yang suaranya terdengar dari sana sama Bibi.
"Rendy pulang yok? udah malam dan besok ketemu lagi sama oma, oma akan menjemput kita untuk berbelanja." Suara Renita, setelah menemukan Rendy yang sedang bermain bersama bibi.
"Pulang sekarang ya Bun? terus besok Oma mau ke tempat kita ya Bun?" anak itu beranjak dan menghampiri sang Bunda.
"Iya besok Oma ke rumah kita, jemput buat belanja. Rendy mau ikut? atau mau sekolah? tapi ... ikut aja lah, soalnya takut Bunda lama belanja sama Omanya--"
"Iya diajak saja Rendy nya, soalnya takut lama, lagian biar nggak khawatir mending diajak saja! mau kan Rendy ikut sama Oma dan bunda? kita belanja-belanja!" ajak ibunya Malik sambil menyentuh pipi Rendy.
"Mau, Oma ... mau-mau!" Rendy sangat antusias menyambut ajakan ibunya Malik.
Setelah itu Renita dan Malik sambil berjalan! menuntun Rendy menuju mobilnya Malik. Rendy melambaikan tangan pada sang omah.
"Dadah Oma ... sampai ketemu lagi besok ya?" Rendy melambaikan tangan.
Mobil Malik melesat dengan cepat mengantar calon keluarga nya pulang.
...-----------...
__ADS_1
Suatu hari Azam di buat tercengang dengan tagihan kartu kreditnya yang sangat membengkak ....