Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Calon istri


__ADS_3

Kini para wanita yang berada di kamar inap Renita tersebut, sudah di dandani dengan secantik mungkin oleh perias pengantin yang di datangkan ke tempat itu.


Terutama Renita sendiri yang akan menjadi mempelai wanitanya, dia sangat tampak cantik nan anggun. Dibalut dengan kebaya pengantinnya yang berwarna putih tulang, dengan warna senada. Kepalanya pun mengenakan kerudung ala pengantin berhiaskan bunga melati putih yang masih segar.


Biarpun Renita yang hanya duduk di atas tempat tidur, dia sangat cantik. Auranya sangat terpancar! raut wajahnya mengguratkan ke kebahagiaan dengan sangat sempurna.


Tapi tak dapat dipungkiri, biarpun ini bukan kali pertamanya buat Renita, melainkan yang kedua kalinya dia menikah dan tetap saja bikin jantungnya dag-dig-dug tidak menentu, rasa panik, gugup. Was-was! semuanya bercampur menjadi satu, namun ia berusaha untuk menyembunyikannya dalam-dalam.


Sheila pun tidak kalah cantiknya dengan sang kakak, dia begitu tampak sangat anggun.


"Lah aku kayak pengantin ya Mbak, kapan ya aku nikah?" Sheila melirik ke arah Renita dan juga ibunya.


"Menikah itu perlu kesiapan, ngomong-ngomong sudah ada calonnya belum?" ucap Renita diakhiri dengan nada pertanyaan.


"Justru itu, calonnya belum ada, cariin dong. Kok aku susah banget ya untuk dapatin cowok, Mbak aja yang sudah pernah menikah sekarang mau menikah lagi, emang dipancing apa sih biar cepet gitu?" balasnya Sheila sambil menatap penasaran pada kakaknya.


Renita tersenyum tipis. "Emangnya kamu pikir ikan, harus dipancing segala? mana ada lah, ya ... mungkin memang sudah jodohnya! tapi nggak usah khawatir dan nggak usah galau. Jodoh itu akan datang pada waktunya." Ungkap Renita seraya menenangkan hati sang adik yang sedang gusar belum mendapatkan jodoh.


"Jodoh mu akan datang pada masanya, jangan iri dengan jodoh orang. Karena buat apa kamu segera menikah? jika nantinya kamu mendapatkan kegagalan! mendingan terlambat tapi ketika menikah untuk satu kali dan selamanya, untuk seumur hidup. Untuk apa cepat-cepat tapi untuk sementara saja." Tambahnya sang ibu sembari menatap lekat ke arah putri bungsunya.


"Masalahnya ... belum ada yang cocok. Bu, sekalinya ada eh ... milik orang, masa aku harus rebut. Apa kata dunia kalau aku merebut milik orang lain? Hem ..." Sheila mengembangkan kedua pipinya.


Kemudian mereka menoleh ke arah pintu berbarengan seiring dengan suara seseorang yang berucap salam.


"Assalamu'alaikum, kalian sudah siap?" Malik berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut dan langsung menghampiri Rendy, yang sudah ganteng dengan setelannya.


Sembari menyimpan sebuah tas di atas meja. "Pangeran kecil Papa sudah ganteng banget nih, ada acara apa nih!" Malik mencubit pipinya Rendy.

__ADS_1


"Acara pernikahan Papa dan bunda dong, Rendy ganteng gak Pah? nanti foto-foto ya Pah ..." Rendy melihat penampilannya sendiri.


"Oh, tentu dong ... kita akan foto-foto dan yang cakep ya gayanya yang keren." Malik membingkai wajah nya Rendy.


"Yang lain mana, keluarga apa belum datang ke sini?" tanya sang ayah mertua.


"Mama sama yang lainnya nanti agak siangan ke sini nya, datang ke sini sekarang masih terlalu pagi. Lagian aku dari salon dulu, oya barusan aku ketemu perias pengantin di luar!" Malik langsung menolehkan pandangannya ke arah Renita yang sedari datang dia belum melihatnya.


Netra mata Malik seakan tidak berkedip melihat Renita yang sangat cantik dan anggun. Bibirnya bergerak dan di tarik ke samping. Dengan langkah yang mendekati ke arah Renita, sementara tidak menggunakan mata untuk melihat jalan sehingga kaki Sheila hampir saja ke injak kakinya Malik.


"Sorry aku nggak lihat!" ucapnya Malik kepada Sheila langsung memutuskan kembali langkahnya, mendekati Renita yang mengulum senyumnya karena Malik hampir saja menginjak kaki Sheila.


"Jalan itu pake mata dong!" Sheila menggerutu sambil mengangkat kakinya.


"Sayang, maaf aku baru menyapa mu. Aku pangling dengan dirimu yang seperti sekarang ini, bak bidadari dari surga." Malik berucap sambil terus memandangi wajahnya Renita yang tidak sedikitpun berpaling.


Renita tertunduk malu di pandangi seperti itu oleh Malik, lalu ia mengumpulkan keberanian untuk mengangkat wajahnya dan mengusap wajah Malik. "Jangan melihat ku begitu, malu!"


"Oo!" Renita seperti mengejek perkataan dari Malik yang berkata demikian, namun dari Sheila tidak terdengar oleh siapapun.


"Bukannya tidak boleh tapi akunya malu Oh ya Mama mana?" Renita bertanya sembari mengalahkan pandangan ke pintu.


"Mungkin mama sebentar lagi akan datang bersama keluarga yang lain." Jawabnya Malik sambil mendudukkan dirinya di samping Renita.


"Ooh ..." Renita membulatkan mulutnya.


"Assalamu'alaikum?" Suara beberapa orang dari luar ruang inap Renita dan masuk ke dalam ruangan tersebut, yang tiada lain adalah keluarganya dari Azam.

__ADS_1


Dengan wajah-wajah yang lesu dan sedih, mereka membawa langkahnya yang gontai berjalan menghampiri keluarga Renita. Entah apa yang diperbincangkan mereka dengan kedua orang tua Renita, yang jelas sangat serius dan memperlihatkan wajah yang sedih.


Karena Renita tidak mendengarnya begitupun dengan Malik. Sementara Rendy, dia mungkin sedang berada di luar bersama Sheila. Sebab anak itu tidak ada di ruangan tersebut.


Kemudian Jefri menghampiri Renita dengan wajah lusuhnya, dan dia bilang kalau dia baru saja melihat Azam yang tengah di rawat rumah sakit.


"Terus sekarang gimana keadaannya?" tanya Renita kepada Jefri tatapan yang sangat penasaran.


"Barusan dia masih koma, Mbak. Karena luka tusuk di perutnya itu," jawabnya Jefri dengan suara yang lemas, bagaimanapun dia merasa prihatin kasihan dengan nasib yang menimpa sang kakak.


"Mbak harap. Rendy jangan tahu dulu kondisi papanya yang di rumah sakit, Mbak tidak mau dia merasa sedih karena bundanya dan papanya berada di rumah sakit dalam waktu yang bersamaan. Biarkan dia bahagia dan biarkan dia tenang tanpa mengetahui kondisi papanya, kecuali nanti kalau Mbak sudah mampu keluar dari rumah sakit. Bahkan menjenguk Mas Azam dan bawa Rendy ke sana, itupun bila abang Malik mengijinkan!" Ujar Renita sembari melirik ke arah Malik.


Malik mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tentu saya akan mengizinkan sayang untuk menjenguknya, itu pun bila kamu sudah keluar dari rumah sakit ini."


"Memang di sisi lain Rendy harus tahu gimana keadaan papanya dia sekarang, tapi di sisi lain ya memang khawatirnya dia merasa sedih! di mana bundanya masih berada di rumah sakit ditambah lagi papanya juga masuk rumah sakit, masuk akal memang!" ucap Jefri sembari mengangguk-anggukkan kepala.


"Kalau soal Rendy, nanti abang ada waktu akan mengajaknya untuk menjenguk papanya. Sekalipun tidak sama bundanya. Biarkan dulu lah jangan kasih tahu dulu. Apalagi kita akan ada acara hari ini juga!" tambahnya Malik sembari melihat ke arah Jefri dan Renita silih berganti.


Ayah dan ibunya Jefri menghampiri Renita. Dan ibunya Jefri ataupun Azam langsung memeluk Renita sambil menangis, dia juga tak bisa berkata-kata. Seiring dengan perasaannya yang hancur lebur melihat kondisi putranya yang sedang dirawat di rumah sakit.


"Yang sabar ya Bu ya Semoga Mas Azzam cepet sembuh seperti dahulu kala lagi," ucapnya Renita dengan lirih dan dia tidak tahu harus berkata berapa lagi.


"Kami sebagai orang tua Azam minta maaf sebesar-besarnya kepada Renita. Mungkin ini semua karena dosa dia, dia sudah silap. Dia yang telah dia lakukan kepada anak dan istrinya, sekali lagi kami mohon maaf yang sebesar-besarnya!" ujar sang ayah mertua.


Renita dan ibu mertua saling melepaskan rangkulannya kemudian Renita berkata. "Tidak dipinta pun. Aku sudah memaafkan mas Azam, Ayah Ibu aku sudah mengikhlaskan apa yang telah terjadi padaku Dan sekarang aku hanya berharap saja segera sehat itu aja."


"Terima kasih banyak Reni ... terima kasih atas kebaikan dan ketulusan hati mu!" Timpalnya sang ibu mertua sambil mengusap punggungnya Renita dengan lembut ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Jangan lupa like dan komennya untuk penyemangat.


__ADS_2