
Saat ini Renita tengah berada di pusat pembelanjaan, setelah dari kantor mampir dulu melihat-lihat peralatan bayi dan tentunya bersama Malik. Suaminya.
“Wah ... itu bagus-bagus deh peralatan baby nya kan?” Gumamnya Renita dengan bibir mengulas senyuman.
“Beli saja, lagian kalau masih bayi kan bisa masuk cowok atau cewek bukan?” ucap pria yang mengenakan kemeja peace mengkilat tersebut.
“Iya juga sih ... tapi bagus-bagus semuanya ... jadi bingung,” sahutnya Renita sambil tersenyum sumringah dengan tatapan yang terus memandangi keperluan bayi tersebut.
Namun pada akhirnya Renita hanya melihat-lihat saja kerena katanya sebelum enam bulan jangan dulu membeli kebutuhan bayi, jadi Renita harus bisa menahan diri untuk berbelanja sekarang dan harus sabar hingga beberapa bulan lagi setidaknya sampai sudah ketahuan jenis kelaminnya.
Keduanya berjalan ke tempat lain yang sebenarnya sih mau membeli ranjang bayi buat sheila sebagai hadiah. Kebetulan Sheila sudah lahiran seperti yang mereka mau dengan cara sesar, dan baby nya perempuan. Sementara yang sangat diinginkan bayi laki-laki.
Di saat-saat berjalan ... Renita dan Malik berpapasan dengan Azam yang langsung menyapa Renita dan Malik yang tiada lain adalah bos nya juga. Dari masuk sampai sekarang Azam masih betah bekerja bersama Malik dan kinerja nya pun lumayan cemerlang bagi perusahaan.
“Hi, kalian di sini juga? berdua saja, mana Rendy?” sapa Azam sambil menunjukan senyumnya yang ramah.
“Iya kami sedang jalan-jalan, sementara Rendy di rumah karena kami belum pulang ke rumah.” Jawab Malik sambil melihat ke arah Azam yang tampak segar dan sumringah.
“Ooh ... belum pulang ya, pamtas.” Azam lagi sambil celingukan ke kanan dan kiri.
Di saat bersaman manik matanya Renita mendapatkan sosok Shopia yang berjalan menuju arah mereka.Tegh, hati Renita langsung curiga saja kalau Azam dan wanita itu ada kaitannya kendati belum terlihat mereka barengan dan entah kenapa Renita curiga saja jika memang seperti itu. Jangan-jangan calon Azam adalah Shopia.
“Apa mungkin mereka ada kaitannya?” batin nya Renita sambil menunduk dalam.
Tangannya Azam melambai ke arah Shopia, dan mencoba membawa langkahnya menyambut wanitanya hingga beberapa langkah.
Sementara tangannya Renita menggoyang tangan Malik seraya menunjuk pada Shopia. Dan Malik langsung menoleh pada yang Renita tunjukan, membuat Malik tersentak ketika melihat Shopia berpelukan dengan Azam. Seperti ada hubungan khusus saja.
Malik dan Renita saling pandang dan saling menerka dalam hati kalau mereka itu ada sesuatu.
Begitupun dengan Shopia merasa sangat kaget melihat keberadaan nya Malik dan Renita yang kalau tidak salah tadi berdiri dengan Azam.
Sampai akhirnya Azam kembali mendekati mereka berdua dan mengenalkan Shopia sebagai calon istrinya.
__ADS_1
Malik dan Renita sejenak saling bertatapan lalu mereka berdua bersikap tenang sambil menatap keduanya.
“Shopia. Kenalkan ini bos aku dan sekaligus papanya dari anak ku. Dan ... ini mama putra ku alias mantan istri ku.” Ucap nya Azam pada Shopia.
Shopia menatap tajam pada Renita yang tidak pernah dia duga sebelumnya kalau wanita itu mantan istrinya Azam, berarti Rendy adalah putra nya Azam. Terasa sempit juga dunia ini yang menemukan lagi orang-orang yang di kenal bahkan yang dia anggap adalah musuhnya.
Lain dengan Renita, dia tersenyum manis pada Shopia yang rupanya akan menjadi istrinya Azam alias mama sambungnya Rendy. Tapi ia tak akan khawatir karena Rendy akan tetap berada di sampingnya bukan dengan Azam atau bersama mama sambungnya nanti.
Azam bengong melihat ke arah Renita dan Shopia yang malah saling tatap bukan saling jabat tangan apalagi saling sapa.
“Ehem, Shopia ini adalah ... adik sepupu ku, Zam. Dia pun ... pernah tinggal bersama kami. Iya kan sayang?” Malik akhirnya bersuara di antara keramaian orang-orang yang berada di area lantai mall tersebut. Seraya melirik pada sang istrinya, Renita.
Renita pun mengangguk pelan seraya berkata yang di tujukan pada Azam. “Benar, Mas. Oh ini ya calon istri kamu Mas?”
Azam semakin bengong mendengar kalau Shopia itu adalah saudara nya Malik dan dan pernah satu rumah dengan mereka.
“Jadi kalian saudara? serius? saya tidak menyangka lho.” Azam menatap setengah percaya.
“Ooh ... berarti tidak harus saling berkenalan lagi.” Azam mengangguk dan tersenyum. Lalu melihat ke arah Renita yang menatap dirinya dengan bibir yang tersenyum tipis. “Oya. Reni ... iya benar, ini calon istri ku.”
“Selamat ya? semoga langgeng dan menjadi persinggahan terakhir, menjadi rumah tangga sakinah mawadah dan warahmah. Aku doa kan deh,” ucap Renita pada Azam dan melirik pada Shopia juga.
Shopia hanya tersenyum tipis dan tanpa berkata-kata sepatah pun. Dalam hatinya masih bergejolak. Antara Azam dan Renita yang ternyata adalah mantan mantan suami istri.
“Shopia, kenapa tidak pernah ke rumah? tante mu menanyakan mu dan kangen sama kalian berdua. Datang lah ke rumah kami dan pintu rumah selalu terbuka untuk kalian.” Malik mengarahkan pandangannya pada Shopia.
Dalam hati Azam merasa heran pada sikapnya Shopia yang sepertinya ada masalah dengan Malik. Sehingga dia lebih bersikap dingin pada Malik maupun pada Renita. “Saya akan main ke sana dan mengajak dia juga.”
“Bagus, mainlah ke rumah. Oya, kami mau melanjutkan perjalanan kami lagi.” Pamit Malik pada Azam dan Shopia.
Renita pun mengangguk pada Azam dan Shopia sebelumnya membalikan dan melanjutkan langkahnya untuk membeli barang untuk keponakannya.
Malik dan Renita membawa langkahnya berjalan meninggalkan Azam dan Shopia yang tampak terdiam mematung.
__ADS_1
“Kenapa kamu tidak bilang kalau Malik itu sepupu mu dan mereka itu saudara mu?” ucapnya Azam sambil menolehkan kepalanya ke arah Shopia.
“Tanpa ku bilang pun kamu tahu kan sekarang! jadi buat apa aku cerita dan pada akhirnya pun kamu pasti tahu.” Jawabnya Shopia sambil berjalan.
Azam mengikuti langkahnya sang kekasih hati dan mengajaknya untuk makan di salah satu restoran. Yang ada di dalam Mall tersebut.
"Ternyata calon istrinya mas Azam Shopia ya!" gumamnya Renita sambil berjalan di samping sang suami.
"Hooh, hanya dia uang terbaik saja lah untuk mereka berdua. Mereka juga berhak bahagia." Timpalnya Malik.
Renita menganggukan kepalanya. Dengan tangan menggandeng tangan suaminya. Masuk ke sebuah toko dan mencari barang yang dia cari.
Setelah mendapatkan yang di butuhkan, mereka pun langsung pulang. Dan tidak lupa membelikan oleh-oleh buat uang di rumah yaitu Rendy dan Bu Amelia.
"Sayang. Besok aku berangkat, yakin gak mau nemenin?" Malik melirik pada sang istri sambil tetap fokus menyetir.
Renita menoleh. "Mengingat kerjaan ku banyak ... jadinya nggak deh, lagian gak lama juga. Paling 3-4 hari di luar kota--"
"Kalau kangen gimana?" potongnya Malik sambil melirik sekilas.
"Telepon, kan bisa ... Vic bisa. Kenapa mesti bingung?" Renita memainkan mata nya.
"Minta bekal ya nanti malam!" Malik menaik turunkan alisnya.
"Bekal apaan? uang? dia sendiri yang pegang. Atau mau ku transfer, boleh ... nanti--"
"Bukan itu sayang ..." Malik memotong dan sembari mesem-mesem.
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang, dan selang beberapa waktu mereka pun sampai di rumah mewah mereka yang tampak sepi.
Malik membuka kan pintu buat sang istri. "Yok sayang!" namun Renita malah sibuk membuka ponselnya.
Kepala Malik menggeleng melihat sang istri yang sibuk dengan ponselnya. Sehingga dia langsung membungkuk dan memangku tubuhnya sang istri ke dalam rumah, membuat Renita terkesiap. Dengan refleks merangkul pundaknya sang suami ....
__ADS_1