Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Jangan bilang


__ADS_3

Terdengar suara mobil Malik yang hendak menjemput Renita untuk ke kantor.


"Itu mobil Papa Malik!" Kata Rendy yang hapal dengan suara mobil Malik sambil langsung melompat keluar menghampiri mobil tersebut.


Renita mengenakan kepalanya sambil menenteng tas ia dan tas sekolah Rendy.


"Papa-Papa ... Aku sekolahnya sendiri tidak di temenin kak Feni lagi." Rendy langsung laporan pada Malik yang baru saja turun dari mobil nya.


"Kenapa dan kemana kak Feni nya?" Tanya Malik sambil menoleh pada wanita yang mengenakan kerudung batik biru samar yang baru keluar dari pintu utama rumahnya.


"Katanya libur dulu 3 hari. Dan setelah itu barulah akan kembali ke sini." Jawabnya anak itu.


"Apa benar itu? Yang di ceritakan oleh Rendy." Tanya Malik pada Renita yang menghampiri mereka.


"Benar, dia minta pulang. Mintanya sih seminggu gitu, tapi aku ijinkan nya tiga hari saja. Oya. Nanti jam pulang sekolah aku akan menjemput Rendy dan ku ajak ke kantor saja, kan di rumah juga tidak ada siapa-siapa." Ujar Renita sambil memasukan tas sekolah Rendy.


Sementara Rendy pun sudah masuk lebih dulu. Ke dalam mobil Malik.


"Aku sih tidak masalah Rendy mau di ajak ke kantor juga. Cuma yang jadi pertanyaan ku adalah ... Kan di sini juga Feni cuma fokus ke Rendy saja sementara pekerjaan yang lain kamu yang banyak handle paling kerjakan bersama kan?" ucap nya Malik sambil mengitari mobilnya setelah menutup pintu buat Renita


"Em ... Katanya pacar nya baru datang dari luar kota. Biar lah aku kasih waktu tiga hari kok ..." Renita melihat ke arah Malik yang mendudukan dirinya di belakang kemudi.


"Ooh, oke nanti aku yang suruh office untuk menjemputnya Rendy sepulang sekolah nanti." Ungkapnya Malik sambil memutar kemudinya.


Renita menoleh pada Malik yang tampak serius. "Makasih ya!"


"Hem ..." Malik sambil mengangguk.


Malik menolehkan kepalanya pada Rendy yang sedang anteng bermain dengan robotnya. "Rendy ... Nanti kalau gak di jemput sama Papa. Di jemputan sama suruhan Papa ya!"


"Siapa Pah? Kan aku gak kenal, takut! Kalau aku di culik gimana?" anak itu menatap cemas. Dalam bayangannya terbayang cerita penculikan anak.


Renita dan Malik saling bertukar pandangan. "Biar aku aja yang jemput nanti."


"Nggak sayang, biar aku saja nanti yang jemput. Baiklah kalau begitu nanti Papa saja yang jemput. Tunggu saja jangan kemana-mana sebelum Papa datang ya, oke?"


Rendy mengangguk. "Oke. Papa."


Kini mereka sudah tiba di depan sekolahnya Rendy dan Renita langsung turun menuntun Rendy ke kelas dan juga menitipkan guru pembimbing.


"Sayang, ingat ya? jangan kemana-mana sebelum Bunda atau papa Malik yang datang ya!" pesan Renita pada sang buah hati sambil berjongkok.

__ADS_1


"Iya Bun ... Aku takut kalau sama orang lain, kecuali sama bunda dan Papa Malik.


"Iya, nanti kalau tidak Papa pasti Bunda kok. Oke, Bunda pergi dulu ya, sama main dulu sama temennya! Nanti belajar yang pintar ya, cuph! kecupan mendarat di pipi Rendy kanan dan kiri.


"Dah ... Bunda ..." anak itu melambai kan tangan lalu berbaur dengan temannya yang kebetulan sudah datang.


Renita pun tidak lupa pamitan pada guru Rendy lalu gegas meninggalkan tempat tersebut.


Malik langsung melajukan mobilnya setelah Renita masuk dan duduk dengan santainya di dalam mobil.


Di sepanjang perjalanan mereka berdua mengobrol dan dihiasi canda tawa. Hingga tidak terasa tiba di kantor dengan segera, keduanya masuk ke dalam ruangan kerjanya masing-masing memulai aktifitas seperti biasanya.


Renita pun setelah berapa saat dia ke lapangan dan juga ada pertemuan dengan beberapa staf. Sehingga waktu jemput Rendy pun Renita tidak sempat.


"Ya ampun ... Rendy!" Wanita cantik dan berjilbab itu gegas berjalan bersama perasaan yang khawatir lalu menelpon guru nya yang tidak di angkat.


Renita baru saja melangkah masuk ke dalam ruangan kerjanya dengan niat menyimpan berkas dan mengambil tas nya mau menjemput Rendy.


"Bunda ... Aku datang!" Rendy berlari mendatangi Renita dengan tas sekolah di punggung.


Renita menoleh dan juga merasa senang melihat putranya ada di sana, Renita langsung memeluk putranya tersebut. "Tadinya Bunda mau jemput Rendy sekarang ini, syukurlah kalau Rendy sudah berada di sini."


'Bunda tadi sibuk sayang." Renita melihat ke arah belakang Rendy dimana Malik berdiri dan mengulas senyumnya.


Renita berdiri dan menatap ke arah Malik. "Makasih ya sudah jemput Rendy, padahal kita sama-sama sibuk."


"Iya sayang, no problem. Oke aku balik kerja dulu, Rendy ... Papa kembali bekerja ya? nanti sore kita main ke Timezone oke?" Malik melihat Renita dan putranya bergantian.


"Oke Papa ..." balasnya Rendy sambil melambaikan tangan.


Renita tersenyum pada keduanya lalu masuk ke dalam ruangan kerja, menyuruh Endy bermain di sana setelah melepas tas punggungnya.


"Rendy main di sini ya dan jangan keluar, bila mau sesuatu bilang saja sama Bunda. Oke!" Renita menyimpan tas Rendy di meja.


"Oke," Rendy mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan tersebut.


Renita memulai kembali aktifitas nya, berkutat di meja kerja sambil mengawasi Rendy yang bermain di sofa.


Waktu makan siang Malik pun kembali dengan membawa makan siang untuk bertiga. Renita, Rendy dan dirinya.


"Kita makan siang dulu ..." suara Malik sambil masuk ke ruangan Renita.

__ADS_1


"Hore ... Kebetulan Rendy lapar nih." Sambut Rendy sambil berjingkrak-jingkrak dan bertepuk tangan.


"Tadinya aku baru mau keluar beli makan, garcep banget sih." Renita tersenyum pada Malik kang kini duduk di sofa bersama Rendy.


"Sudah, ini saja ngapain repot-repot keluar bila ada yang ini. Yo kita makan." Kata Malik.


Lalu mereka pun menikmati makannya bertiga dengan rendy.


...----------------...


"Mbak, saya mau ke salon dulu ya dan kalau sore saya belum pulang, jangan bilang sama suami saya kalau pergi ya jam segini. Bilang saja saya perginya Dzuhur." Pintanya Sharon pada mbak tang sedang menggendong Denis.


"Baik, Nyonya ..." Mbak mengangguk lalu menunduk.


"Ingat jangan salah, bilang saya dari pagi. Kalau salah kamu akan tau akibatnya." Kata Sharon di akhiri dengan kalimat mengancam.


"Mama-Mama ... Itu Mama. Mayu itut Mama." Denis merajuk dan merengek melihat mamanya yang sudah rapi. Merentangkan tangannya, minta di gendong.


"Mama mau pergi dan Denis gak boleh ikut, tunggu sama mbak aja." Sharon memangku putranya sebentar yang terus merengek.


"Mayu itut, itut ... hik-hik-hiks. Itut ..." Anak itu terus merengek dan menangis.


"Ck. Jangan menangis ach ... Mama pusing kalau mendengar Denis menangis. Denis main bersama Mbak ya ... nanti Mama pulang bawa eskrim." Bujuk Sharon sambil memberikan lagi Denis pada pengasuhnya.


Anak itu terus menangis ingin ikut mamanya yang tidak mau mengajaknya pergi dengan alasan repot mana bawa motor lagi.


Kemudian Sharon pun memaksa pergi meninggalkan putranya yang menangis sejadi-jadinya di pangkuan mbak.


Sharon melajukan motornya dengan kecepatan tinggi yang sebenarnya entah mau kemana. Bilangnya sih mau ke salon namun entah salon apa dan yang mana.


Di suatu tempat, motor Sharon berhenti dan tersenyum pada pria muda nan tampan. Lalu Sharon menitipkan motornya yang kemudian beralih pada motor pemuda tersebut.


"Ayo beb ...kita jalan, mau kemana kita?" Sharon menepuk bahunya pemudanya.


"Oke baby ... Kira pergi sekarang." Sahutnya si pemuda sembari menerima kecupan di pipi dari Sharon.


Motor nmax yang di bawa oleh pria muda itu melaju dengan sangat pesat meninggalkan tempat, dimana Sharon meninggalkan motornya ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa dukungannya ya ... makasih

__ADS_1


__ADS_2