Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Pacaran mulu


__ADS_3

"Rendy. Jangan lari-lari ..." pekik nya Renita tatkala Rendy lari-larian di mall.


Malik menggandeng tangan Renita sambil berjalan. "Biar saja, yang penting tidak kenapa-napa!"


"Iya sih ..." Renita tersenyum manis.


"Kita mau makan dulu gak?" Malik melirik sambil mengalihkan tangan ke pinggang wanitanya tersebut.


"Iya, tapi makan apa ya? bingung. tapi makan bakso kayaknya enak deh," sambutnya Renita sambil hentikan langkahnya.


"Mau makan bakso, boleh ... kita cari, pasti ada kok di sini!" Malik menyetujui keinginan sang istri yang pengen makan bakso.


"Iih ... Rendy sudah ke mana, nyampe ke mana! papa sama Bunda masih aja di sini pacaran mulu lagi." Anak itu berkata dengan polos menatap ke arah papa dan bundanya.


Malik mengulum senyumnya dan mengeluarkan tangan kepada. "Mendingan kita cari makan dulu yo? lapar nih ... Papa pengen makan!"


"Boleh, Rendy juga lapar kok. Ini cacing-cacing di perut ku sudah pada demo pengen dikasih makan, kalau gak kasih makan! nanti cacing-cacingnya merusak perut Rendy. Gimana?" sambutnya anak itu dengan polosnya.


"Iya makanya kita makan dulu ya katanya Bunda mau makan bakso!" kini ketiganya berjalan beriringan mencari konter bakso seperti yang Renita mau.


Tidak lama kemudian, tempat yang dicari pun sudah ditemukan dan mereka langsung memesan bakso. Minuman dan juga makanan lainnya.


"Rendy mau beli es krim ih, rasanya udah lama deh nggak beli es krim di mall, masak Rendy nggak dibeliin." anak itu manyun, memajukan bibirnya ke depan.


"Ya ampun ... pangeran kecil Papa udah lama nggak makan es krim di mall, kan emang lama kita nggak ke mall. Baru kali ini kan ... setelah Bunda sakit. Kalau Rendy mau eskrim, silakan beli aja. Emangnya Papa larang? kan nggak." Kata Malik sambil ngajak rambutnya Rendy.


Renita hanya tersenyum melihat kedekatan antara Malik dan Rendy dan itu yang memang diharapkan.


"Hore ... nanti mau beli es krim! tapi yang di wadah ya Pah? biar banyak!" Rendy kembali menoleh pada Sang papa sambungnya.


"Boleh, mau dua juga boleh? asal dimakan aja. No mubazir-mebazor, no dibuang-buang." Jawabnya Malik, sembari tersenyum! membuat Rendy semakin girang, dia merasa senang karena diperbolehkan membeli es krim lebih dari satu.

__ADS_1


"Yang rasa strawberry dan banana ya Pah?" tambahnya anak itu sembari bertepuk tangan.


"Mau rasa apa terserah Rendy!" Malik mengangguk.


"Tapi belinya. Nanti aja kalau mau pulang ya? biar nggak terlalu lama dan akhirnya mencair!" kata sang Bunda.


Rendy pun setuju. Dian mereka menghabiskan makannya dengan lahap dan nikmat.


Selesai makan, mereka pun meneruskan bermain di Timezone karena itu yang menjadi janji Malik kepada Rendy.


...----------------...


Di suatu hari, Malik sedang dalam perjalanan menuju kantor sehabis ada urusan di luar. Dengan tidak sengaja dia menemukan sosok Azam sedang bekerja menjadi kuli bangunan.


Membuat dengan refleks Malik menghentikan mobilnya, menepi di pinggir jalan. Memperhatikan sosok pria yang tiada lain mantan nya sang istri.


Malik turun dari mobilnya dan membeli minuman mineral botol juga makanannya. kemudian dia bawa ke arah aja nggak kebetulan sedang beristirahat.


Di tengah teriknya matahari. Dia bekerja sebagai kuli bangunan, padahal sebelumnya dia bekerja kantoran dengan jabatan yang cukup mempereng. Justru sekarang kebalikannya bukan suatu pekerjaan yang di bidangnya dulu.


Azam bengong tidak serta merta mengambil pemberian dari Malik. Dia hanya merasa heran kenapa Malik ada di situ? Azam menatap ke arah Malik yang tampak tulus memberikan sebuah kantong padanya.


"Ambillah, saya ikhlas kok. Anda pasti lapar dan kehausan, saya membeli ini dari warung itu! sengaja untuk anda!" Malik menunjuk ke arah warung yang tidak jauh dari tempat tersebut.


Pada akhirnya Azam pun menerima dan mengambilnya. "Terima kasih banyak."


Sesungguhnya Azzam merasa malu di hadapan Malik saat ini, dulu dirinya bekerja di kantor penampilan rapi bersih selalu dibawa dengan pekan formal, namun sekarang lusuh. Bukan kucel lagi tapi kotor, penampilan berantakan! kerja di bawah terik matahari. Panas-panasan dan menjadi kuli bangunan.


Malu bercampur sedih dan dalam hatinya yang paling dalam, mengakui dan menyesali apa yang sudah dilakukan kepada anak dan istrinya! mungkin ini sebuah balasan atas semua yang dia perbuat. Karma berlaku! mungkin ini sebutan yang tepat untuk Azam saat ini.


Dulu dirinya kemana-mana naik mobil turun mobil, tapi sekarang motor pun tidak punya tabungan apalagi, yang ada dikejar-kejar kolektor karena hutangnya membengkak.

__ADS_1


"Sama-sama. Kalau boleh tahu ... apa sudah lama kerja di sini?" selidiknya Malik sembari duduk di sampingnya Azam.


Sebelum menjawab, Azam meneguk dulu minuman pemberian dari Malik barusan yang kemudian dia berkata. "Kurang lebih seminggu, siap terpaksa ikutan kerja seperti ini daripada saya nganggur dan hanya menggantungkan hidup kepada orang tua!"


Azam mengarahkan pandangannya ke lain tempat, sebuah bangunan yang sedang direnovasi dan ada beberapa teman kerjanya di sana yang sama! sedang beristirahat.


Kepala Malik beberapa kali megangguk. Ia salut juga kepada Azam dengan pemikirannya, daripada nganggur dan menggantungkan hidup kepada orang tua mending bekerja menjadi dan itu ... memang apa salahnya sih? kita nggak akan menempati sebuah bangunan kalau nggak ada yang bangun, kalau ada yang mengerjakannya.


"Saya rasa ... apapun pekerjaannya, yang penting halal. Nggak ada yang rendah. Biarpun kita kerja di kantoran dan sesekali kita harus melihat ke belakang! karena itu pasti ada yang bangun dan siapa yang membangunnya? pasti pekerja-pekerja yang siap mengerjakan tugas berat, sehingga terbangunnya sebuah gedung yang kokoh dan kuat." Ujar Malik.


"Oh ya. Gimana kabarnya Rendy?" tanya aja sembari mengunyah roti di mulutnya.


"Eh, Randy baik. Dia tumbuh menjadi anak yang pintar, cerdas dan ceria!" jawabnya Malik.


"Terima kasih ya! kau sudah menyayanginya seperti anak sendiri dan saya sendiri merasa malu, kalau saya bukan ayah yang baik untuknya. Saya sudah menyia-nyiakan Putra saya! sehingga pada akhirnya dia begitu cuek, dingin. Seolah-olah tidak mengenali saya sebagai ayahnya!" kini suara Azam terdengar bergetar, bagaimanapun dia merasa sedih mengingat putra semata wayangnya. Rendy.


Malik menepuk punggungnya Azam. "Ehem. Semua orang pasti punya masa lalu dan kesalahan dan ... itu bisa diperbaiki, apa salahnya Anda mendekati lagi Rendy! karena bagaimanapun dia putra anda, seringlah temui dia ... ajak dia bermain, bercerita. Dengan cara itu ... insya Allah dia akan dekat kembali dengan anda sebagai ayah kandungnya!"


Azam menghela nafas dalam-dalam sembari mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua siku di atas lututnya.


"Maunya sih seperti itu. Tapi saya sangat malu dan tidak punya keberanian untuk melakukannya, yang ada ... saya sedih jika melihat anak itu yang rasanya jarak antara kami begitu jauh dan berasa ada dinding tebal yang jadi penghalangnya. Membuat saya tidak punya keberanian untuk itu." kepalanya menggeleng kecil.


"Tapi kalau anda merasa seperti itu ... bagaimana anda bisa memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada anak? bukankah sesungguhnya pun butuh usaha!" sambungnya Malik.


"Saya tahu itu," lagi-lagi Azam menggelengkan kepalanya. "Saya malu, kemarin ketika saya punya harta! saya lupa dengan kewajiban saya kepada Rendy, dan sekarang saya sudah tidak punya apa-apa! saya benar-benar menjadi Ayah yang tidak bertanggung jawab dan mangkir dari perjanjian!" Lirihnya Azam dengan pasang mata yang berkaca-kaca kita berusaha untuk menyembunyikan nya dari Malik.


Malik mengembuskan nafasnya melalui mulut sehingga kedua pipinya menggembung. "Namanya juga hidup yang ada kalanya berputar. Terkadang di atas dan juga kebalikannya! mungkin anda mau melanjutkan lagi kerjaan, begitupun dengan saya harus melanjutkan tugas kebali. Sampai ketemu lagi di lain kesempatan!"


Malik beranjak dari duduknya. kemudian berjalan mendekati mobilnya, menyalakan mesin. Setelah dia duduk di belakang.


Azam yang kini sudah berdiri dan bersiap untuk bekerja lagi, menatap ke arah Malik dengan tatapan yang tanpa ekspresi ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Masih bersambung ya.


__ADS_2