Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Mati kutu


__ADS_3

"Hem, baru gitu aja sombong!" ucap wanita tersebut.


Membuat Renita kembali menoleh dan urungkan niatnya untuk melakukan motornya. "Maksud anda apa ya? sebenarnya di sini siapa sih yang sombong? saya atau mbak ya."


Wanita itu tersenyum jahat sembari membuka helm nya. Renita terkejut, ternyata wanita yang beradu mulut dengan nya itu adalah madu nya.


"Hem, jadi janda saja sok. Punya apa sih ha? Punya suami di tinggal, jadi gak punya tempat mengadu. Bercengkrama dengan suami, karena suaminya lebih memilih wanita lain yang lebih fresh ketimbang dirimu yang penampilannya seperti itu!" ucap wanita tersebut yang ternyata adalah Sharon.


"Hoo ... begitu ya? siapa bilang saya tidak ynya tempat mengadu? saya masih punya Tuhan, dan saya juga masih punya keluarga yang menyayangi saya dan putra saya, termasuk ibu mertua yang lebih welcome terhadap saya. Dan ... Saya juga tidak kesepian kok, sebab siapa tahu saja ada suami orang yang ke cantol sama saya," Renita sambil tersenyum tipis.


"Dasar, wanita tidak laku! Tak berkelas--"


"Astagfirullah ... saya tidak menyangka ya, ternyata mulut mu itu pedas melebihi cabek kriting. Tapi terima kasih lah, atas ucapannya dan semoga kebalikannya. Nyonya Sharon yang terhormat." Renita menatap tajam ke arah Sharon yang tampak sekali kalau dia marah.


"Dasar! kau?" Sharon menunjuk hidungnya Renita.


"Nggak usah menunjuk-nunjuk, karena saya tahu siapa saya. Sekarang anda bahagia bersama suami mu yang tercinta itu kan, apa tidak kepiran kalau suatu saat nanti dia akan meninggalkan mu demi wanita yang mungkin lebih dari anda atau di bawah anda yang mampu menggaet harinya, kan siapa tahu!" Renita dengan jelas berkata demikian.


Yang membuat Sharon mati kutu. Di berikan perkataan demikian dari Renita.


"Sekarang gimana, mau saya ganti kaca spionnya yang lecet dikit itu?" Renita menatap penuh kemenangan pada Sharon.


Wajahnya Sharon semakin di tekuk dan menunjukan ekspresi yang sangat marah. "Tidak usah!"


Sharon naik lagi ke motornya. Sambil mengenakan helm nya. "Ay sumpahin gak laku lagi kau. Biar jadi janda selamanya."


"Katanya mau minta ganti ... saya mampu gantiin. Jangankan kaca spion. Semuanya juga bisa!" Renita mengulum senyumnya.


Wanita yang menjadi madunya itu pergi memutar balik, meninggalkan Renita yang masih berdiri di dekat motornya.


Renita menggeleng sambil tersenyum. Lalu mengenakan helm dan bersiap untuk pulang. Dia tidak menyangka kalau akan bertemu dengan Sharon di jalan.


"Aku sama sekali tidak menyangka akan bertemu dia, kalau tau begitu tidak akan mau aku bertemu dia." Gumamnya Renita dalam hati.


Motor Renita terus melaju dengan kecepatan sedang dan selang beberapa waktu ... akhirnya Renita tiba juga di kediamannya, langsung membawa semua belanjaannya dan mengeksekusi. membuat keu memotong sayuran dan daging.

__ADS_1


"Feni ... tolong bikinkan bumbu ya, saya mau bikin tendang." Titah Renita pada Feni yang sedang memotong sayuran.


"Baik, Bu ..." Feni langsung beralih tugasnya untuk membuat bumbu rendang sesuai permintaan Renita.


"Bun ... aku mau rendang telor ya!" suara Rendy dari ruang tengah yang sedang bermain robot-robotan.


"Oke sayang, nanti Bunda bikinkan. Buat makan siang atau makan malam ya?" tanya Renita sambil menoleh ke arah Rendy.


"Buat makan siang dan makan malam. Bun ... jangan pedas-pedas ya." Balas nya Rendy.


"Oke, Bunda bikinkan nanti ya! sekarang Bunda mau potong daging dulu." Renita melanjutkan aktivitasnya.


Di saat Renita sedang berp


kutatdi dapur, datang sebuah taksi dan berhenti di depan rumah, tiada lain dan tiada bukan taksi itu yang membawa keluarganya Renita.


Tampak Sheila dan kedua orang tuanya Renita, turun dari taksi tersebut langsung memasuki kediaman Renita dan disambut oleh Rendy.


"Nenek, Kakek ... Tante, kalian datang ke sini lagi. Emang Tante nggak kerja? anak itu menatap heran karena dalam ingatannya Rasanya baru kemarin mereka dari rumah tersebut.


"Boleh, boleh saja ... cuman aneh aja biasanya kalian suka lama ... datang ke sini, tapi sekarang baru berapa hari nggak datang lagi!" anak itu mengerutkan keningnya.


"Nenek dan kakek kan disuruh bunda untuk datang katanya, mau ada tamu. Tamunya siapa ya kira-kira?" sang nenek menuntun tangan Rendy dan di bawanya masuk ke dalam.


"Ooh ... paling tamunya Papa Malik sama oma, katanya Mereka akan datang ke rumah ini dan ingin bertemu sama Nenek dan Kakek!" ungkapnya Rendy.


"Oh ya, kok Rendy tahu kalau Papa Malik udah punya akan datang tanya sang kakek yang menuntun tangan Rendy yang sebelah lagi.


"Ya tahu dong, Rendy gitu ... Rendy kan harus tahu Bunda ke mana? sama siapa dan tamu siapa juga yang akan datang he he he ...."


Kemudian Rendy pun melanjutkan bermain, biarpun sendiri dia anteng dengan semua mainannya.


Sheila yang langsung berjalan menghampiri sang kakak yang berada di dapur, dia langsung mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya. "Mbak, Malik itu mau apa sih datang ke sini? sama keluarga segala! mau melamar Mbak? sudah ada izin itu gitu dari istrinya?"


Renita menatap datar karena sang adik. "Setahu aku ... dia tidak punya istri. Dia belum menikah! dan aku udah dapat informasi langsung dari bundanya."

__ADS_1


"Mbak yakin? kalau dia nggak punya istri? siapa tahu ibunya menutup-nutupi. Hanya untuk menutupi keburukan putranya." Ungkapnya Sheila sembari menatap tajam ke arah sang kakak.


"Kok kamu bilang begitu, ada masalah apa? kamu nggak setuju Mbak dekat sama dia?" Renita mengerutkan keningnya seraya menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah Sheila.


"Ya-ya ... bukan, bukan nggak setuju cu-cuman ... aku nggak mau aja gitu ya ... kalau dia sebenarnya punya istri tapi deketin Mbak, apalagi sekarang mau melamar Mbak segala. jangan sampai deh ... kemarin Mbak kehilangan suami dan sekarang Mbak mau merebut suami orang!" Jelasnya Sheila dengan sedikit terbata-bata.


"Astagfirullah ... kok kamu bilang gitu! mana ada Mbak seperti itu, dan Mbak gak kan mau kok kalau dia mempunyai istri, Mbak mau ... karena Mbak yakin dia nggak punya istri!" Renita menggelengkan kepalanya lalu menempelkan kedua telapak tangan di meja.


"Ibu juga percaya, kalau Malik itu orangnya jujur. nggak mungkin dia berbohong ya? gak mungkin ya bilang gak punya istri kalau seandainya memang punya istri," suara sang ibunda dari arah belakang Sheila.


"Kok Ibu percaya sama dia sih? hanya gara-gara dia kelihatannya baik?" Sheila tampak sinis.


"Coba kamu tunjukkan keburukannya nak Malik kepada kami, kalau memang kamu ragu!" kata sang ayah kepada Sheila.


"Ayah kenapa bilang seperti itu? aku bukan apa-apa ya, aku cuman nggak mau seandainya dia punya istri tapi dia menikah sama Mbak Renita, gimana jadinya? kemarin Mbak diambil suaminya sama orang lain dan sekarang dia mau dikatakan balas dendam gitu? mengambil suami orang, kan gak etis Yah ..." Sheila tidak mau di protes.


"Kamu tahu ... kamu sangat khawatir tapi bukan berarti seperti itu juga sikap kamu nya, mendingan kita doain aja semoga dia memang jodohnya dan dia memang jujur, dia nggak punya istri!" tutur sang ibunda dengan lirih.


Sheila mulia nafas dalam-dalam lalu melirik ke arah Renita yang tampak kebingungan. "Sesungguhnya aku hanya ingin yang terbaik buat Mbak, itu aja ... bukan niat menghalangi atau gimana-gimana!"


Renita menghembuskan nafasnya dengan kasar saya berkata. "Ya Mbak tahu, paham. Dan terima kasih atas kekhawatiran mu tapi biarkan Mbak mengambil jalan mbak sendiri."


Kemudian wanita melanjutkan aktivitasnya. "Oh ya kalian pasti belum makan siang kan sudah siap kok, buat makan siang!" Renita menoleh ke arah kedua orang tuanya dan juga Sheila.


Dan ketiganya langsung menghampiri meja makan, yang memang sudah tersedia untuk makan siang.


"kamu sendiri masih apa Ren karena masih sibuk begitu tanya sama ibunda sembari menoleh kalah Renita yang memang tampak sibuk dekat kompornya.


"Aku sedang menyiapkan untuk makan malam, Bu ... membuat rendang daging, kue puding. Kue cake, sup ayam! gurame goreng. Aku ingin menjamu mereka dengan hasil tangan ku sendiri." jawabnya Renita.


Kemudian mereka pun menikmati makan siang dan juga Renita meninggalkan sejenak aktivitasnya, untuk makan siang bersama ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya terima kasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2