
Malik berbaring di samping sang istri sembari terus mengusap perutnya yang memang Renita merasa lebih nyaman jika disentuh oleh suaminya itu.
Sesekali wajah Renita tampak meringis menahan rasa sakit dan yang mulai menyerang dan kontraksi.
"Apa kita harus kembali ke rumah sakit?" Malik bertanya dengan penuh rasa cemas pada sang istri.
Renita menggelengkan kepalanya seraya berkata. "Jangan dulu lah, nanti-nanti aja bila perlu ... Aku ingin lahiran di rumah saja, suruh aja lah bidan yang sering menangani ku untuk datang ke rumah ini. Bilang juga sama dokter kalau aku pengen lahiran di rumah saja! aku tidak mau sesar!"
Malik terdiam dirinya tidak ingin memaksakan kehendak kalau istrinya merasa nyaman begitu, ya terserah dia nyamannya gimana. Dia hanya bisa berharap semuanya berjalan dengan lancar.
Renita membuka sebelah matanya melihat ke arah Malik yang tertegun.
"Tapi tidak usah bilang sama dokter lah! karena dokter pasti akan menyuruh aku untuk lahiran di rumah sakit. Sudahlah suruh bidan aja biar bisa membantu ku lahiran di rumah." Tambahnya Renita.
"Tapi sayang ... kalau lahiran di rumah lahirannya di mana?" Malik malah bertanya mukanya tampak kebingungan dengan tempatnya.
Renita membuka kedua matanya lalu mengedarkan pandangannya ke sekitaran kamar. "Sofanya bisa digeser ke sisi. Maksud ku di beresin ke dekat dinding beserta mejanya, nah di situ cukup luas kok untuk aku lahiran. Tolong lah Yank ... jangan biarkan aku sesar dan doakan semoga lahiran aku lancar dengan normal saja!"
Pada akhirnya Malik pun menganggukkan kepala, kemudian dia turun dari tempat tidur untuk membersihkan sofa dan dia melakukannya sendiri saja sehingga tampaklah tempat itu yang lumayan luas.
Setelah itu Malik menghubungi bidan yang direkomendasikan oleh sang istri. Agar dia datang ke rumah tersebut.
"Ada apa ini kenapa mau lahiran di rumah? kan Rumah sakit ada. Klinik juga banyak! kok lahiran di rumah sih? kayak orang miskin aja!" suara Yusna yang nyelong masuk ke dalam kamarnya Malik dan Renita.
Renita yang masih baringan di atas tempat tidurnya menoleh pada Yusna. "Emangnya kenapa Mbak ... dan apa masalahnya? di manapun sama aja yang penting lancar dan selamat!"
"Iya memang, tapi kan masalahnya, masa lahiran di rumah. Malik itu banyak duit masa nggak bisa ngebiayain istrinya lahiran di rumah sakit. Dengan obat-obatan yang lebih bagus--"
"Mbak ... kalau obat-obatan nanti gampang lah! tinggal beli. Di rumah sakit aku semakin stress Mbak di sini aja aku pusing dengan omongan Mbak!" potongnya Renita dengan nada agak dingin.
Yusna memajukan bibirnya ke depan sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar tersebut kemudian ke arah pintu, dimana bidan datang bersama Malik dan di belakangnya terdapat Ibu Amelia.
"Aduh ... tadinya aku ingin lahiran dengan tenang tidak ada banyak orang apalagi omongan yang bikin aku stress!" gamamnya Renita dalam hati.
Renita pun semakin ke sini kontraksinya semakin sering, kemudian Renita itu berpindah posisi menjadi di bawah, atas hamparan karpet.
__ADS_1
"Sayang tadi ibu sama papa nelpon katanya mau ke sini nggak apa-apa kan?" Malik bersuara pelan yang ditujukan pada sang istri yang tengah ditangani oleh bidan.
Renita mengangguk. "Tapi aku mohon ya? aku ingin tempat ini lebih tenang dan tidak terlalu ramai jadi yang tidak berkepentingan tolonglah keluar aja kecuali kamu yank," lirihnya Renita pada Malik.
Bidan dan Malik pun setuju dan meminta Yusna dan sang ibu untuk keluar saja, biar menjalankan tugasnya dengan tenang. Ibu yang mau melahirkan pun merasa nyaman.
"Heran ya Mah, Rumah sakit ada klinik banyak! ngapain coba melahirkan di rumah segala? kayak orang gak punya duit aja!" ucap nya Yusna sambil duduk dan memeluk bantal sofa.
"Iya sih ... emang bener, tapi tidak apalah yang penting cucu Mama selamat, mau di mana juga terserah yang penting lancar!" timpalnya sang ibunda yang sebenarnya menyimpan kecemasan, was-was dan khawatir dalam menghadapi lahirannya cucu ia dari Malik.
"Assalamu'alaikum ... gimana keadaannya Renita?" suara ibunya Renita yang baru masuki ruang keluarga menemui besannya Ibu Amelia dan Yusna.
"Dia ada di kamarnya, katanya pengen lahiran di rumah saja. Bukannya di rumah sakit!" jawab Yusna dengan ketusnya.
Kedua orang tua Renita saling berpandangan satu sama lain mendengar ucapan Yusna yang terdengar ketus.
"Kita hanya bisa mendoakan semoga lahirannya lancar!" ucap lirihnya Ibu Amelia.
"Tapi saya pengen lihat, pengen menemani putri saya melahirkan!" kata ibunda nya Renita sambil ngeloyor ke lantai atas.
"Reni ... gimana. Nak?" ibunda nya menghampiri Renita setelah menutup kembali pintunya tersebut.
"Bu ..." Renita meringis sambil memegangi pinggangnya dan yang satu memegang tangan Malik yang memapahnya untuk berjalan kecil agar banyak pergerakan. Bidan pun dengan setia menemani di ruang kamar yang cukup luas tersebut.
"Yang kuat dan sabar ya ..." sang ibu mengusap kepala Renita dan menciumnya.
"Bu ... Reni mohon maaf atas segala kesalahan Reni pada Ibu dan bapak." Ungkap Renita sambil mengatur nafasnya yang terasa berat.
"Sudahlah ... jangan banyak pikiran!" ucapnya sang ibunda.
Renita sejenak berdiri dan memeluk Malik yang tampak tidak tega melihat kondisi sang istri yang kesakitan.
Malik memeluk Renita yang menyembunyikan wajah di dada bidangnya. Lengan satunya pun mengusap-ngusap pinggang sang istri dengan lembut! kalau saja bisa digantikan rasa sakitnya dengan orang lain pasti Malik akan sanggup menggantikannya.
"Sayang, jika saja aku bisa menggantikan rasa sakit mu itu ... aku akan sanggup menggantikannya." Malik memeluk sang istri dengan erat.
__ADS_1
"Huuh ..." Renita menarik nafas dan buangnya dengan teratur.
Sang ibu dan bidan juga asisten bidan tetap stand by di tempat, menunggu bilakah Renita siap untuk melahirkan.
"Aduduh .... acwh ... sakit!" cicitnya Renita sambil memejamkan kedua netra matanya merasakan betapa nikmatnya dalam menyambut proses melahirkan yang penuh pengorbanan.
Sementara bu Amelia dan Yusna tampak gelisah menunggu kelahiran baby dari Malik dan Renita yang juga belum kunjung, di lantai bawah.
"Semoga lahirannya lancar dan cucu ku selamat." Gumamnya Bu Amelia sambil mengusap wajahnya.
"Hem, apa sih yang membuat lahirannya susah! apa itu bukan anaknya Malik? atau ..." gumam ya Yusna dalam hati.
Sedangkan ayahnya Renita mondar-mandir di luar dengan perasaan yang gusar dan gundah gulana. Dalam hati terus berdoa atas keselamatan Renita dan cucu nya.
"Mah, gimana kalau yang di kandung itu bukan--" Yusna menggantung kan perkataannya.
"Bukan apa? kamu ini suka bikin orang penasaran saja." Bu Amelia menatap Yusna penuh dengan rasa penasaran.
"Ach nggak, Mah ... jangan di pikirkan. Aku hanya menduga saja!" gumamnya Yusna dengan menggerakan keduanya netra matanya.
"Jangan menduga yang aneh-aneh, jangan memperkeruh keadaan! Mama percaya itu cucu Mama, jangan punya pikiran yang jelek. Mama sudah bisa membaca pikiran kamu!" Bu Amelia menjadikan mata pada Yusna yang sudah terbaca jalan pikirannya.
"Kalau sekedar menduga-duga, kan wajar saja. Mah ... mengingat dia itu dekat sama mantannya!" Yusna tidak kira-kira berkata demikian pada ibunya.
"Huusss ... Jangan bicara yang macam-macam nanti menjadi fitnah. Mama percaya kok kalau yang kamu pikirkan itu salah. Tidak mungkin, yang dikandung sama Renita itu cuma Mama jangan berkata yang aneh-aneh ya, nanti menjadi fitnah!" Bu Amelia menunjuk pada Yusna.
"Kalian berkata apa? kalian menganggap kalau Renita hamil bukan anaknya Malik gitu?" tiba-tiba suara itu sedikit menggelegar di ruangan keluarga tersebut.
Rupanya ayah Renita mendengar obrolan mereka berdua. "Saya tidak menyangka kalau Mbak tega menuduh putri saya mengandung anak orang lain, bukan dari suaminya!" pria tua itu menatap tajam ke arah Yusna.
Ibu Amelia terutama Yusna sangat kaget melihat keberadaan ayahnya Renita di ruangan tersebut. Padahal tadi mereka melihat pria itu ada di depan rumah ....
.
Bersambung.
__ADS_1