
"Bunda. Ada salam dari Mama, katanya lama kalian tidak bertemu!" ucapannya pada sang Bunda yang keluar dari kamarnya.
"Iya sih ... Bunda belum sempat ke sana, memang lama kami belum ketemu. Mungkin hari Minggu depan Bunda akan ke sana, main ke tempat mama. Tapi kabarnya, baikan anak-anak juga sehat?" tanya Renita pada sang buah hati yang kini sudah besar dan tingginya pun sudah melebihi dirinya.
"Sehat, alhamdulillah. Tetapi sama papa sering ketemu, kan Bun?" Rendy balik bertanya sembari berjalan sama bundanya menuruni anak tangga.
"Sama Papa Azam ... ketemu walau tidak setiap hari juga." Renita merangkul pinggang putra nya. "Oh, ya gimana kuliahnya! lancar hari ini?"
"Alhamdulillah lancar Bunda, Oya. Bukannya besok mau haul Oma?" Rendy kembali bertanya dengan rencana yang katanya hari besok akan memperingati haulnya oma Amelia, yang sudah meninggal dari beberapa tahun yang lalu.
Renita mengerutkan rekeningnya sejenak kemudian dia berkata. "Iya insya Allah dan akan dilaksanakan haul nya di rumah ini. Akan tetapi papa Malik mau berunding dulu sama Tante Yusna, karena tante Yusna pernah bilang kalau tahun ini ingin haul di rumahnya, sementara Sampai detik ini belum ada kesepakatan!"
"Oh, tapi 'kan ini waktunya sudah mepet, Bun ... kalau waktunya besok! seharusnya dari kemarin sudah sepakat dong ... maunya gimana, kalau memang tante Yusna maunya di rumah dia." Rendy memandang sang Bunda yang sedang meneguk minumnya lalu duduk dekat meja makan.
Sementara dekat kompor ada dua asisten yang sedang memasak buat makan malam nanti.
"Seharusnya memang seperti itu, makanya papa mau tanyain dulu sama Tante Yusna ... walaupun pada akhirnya pasti di rumah ini juga sih!" Renita sambil kembali meneguk minumnya.
Yusna setelah perceraian dari Anto memang lebih sibuk dan dia sendiri turun mengelola perusahaannya yang dulu dipegang oleh Anto. Kini Yusna lah yang memegang kendali. Dan setelah berjalan ataupun tidak mendapatkan apa-apa kecuali satu mobil kesayangannya.
Dengar-dengar, sekarang mobilnya pun sudah dijual dan dia tidak punya apa-apa lagi! bekerjanya pun menjadi seorang karyawan di perusahaan orang. kabarnya setelah Anto memang tidak mempunyai apa-apa lagi selingkuhannya pun menjauh dan meninggalkannya. Tinggallah rasa penyesalan yang memenuhi rongga dada Anto sehingga dia beberapa kali ingin rujuk kembali.
"Assalamu'alaikum!" suara Malik yang baru saja melintasi pintu dan menghampiri Renita juga Rendy yang berada di ruang tengah.
"Wa'alaikum salam ..." jawabnya Renita dan Rendy dengan serempak.
Kemudian Renita langsung beranjak untuk mengambil minum buat sang suami.
Yang detik kemudian. Renita kembali dengan gelas di tangan. "Minumnya."
Malik pun langsung menyeruput minumannya yang di sajikan oleh sang istri barusan.
__ADS_1
"Gimana, Rendy ... kuliahnya, lancar?" Malik memandangi Rendy yang sedang melihat ponsel yang menyala terang.
Rendy menoleh dan tersenyum. "Alhamdulillah ... Pa. Aku sangat happy dan teman-teman ku mengajak aku ke klub dan ada acara ulang tahun di sana, boleh gak, Pah?"
Malik mengernyitkan keningnya. "Ke klub malam?" dan Rendy langsung mengangguk.
"Jangan!" Renita langsung protes tidak setuju bila putra nya ke klub malam.
Rendy mengarahkan pandangannya pada sang bunda sambil nyengir menunjukan lesum pipi nya. "Bunda gak ngizinin. Mama juga gak ngizinin."
"Iya, lah ... gak bakal ngizinin. Takutnya Rendy belum bisa membawa diri." Tambahnya Malik.
"Hngah ..." Rendy nyengir. Ia sudah menduga kalau keluarganya nggak akan mengizinkan dia memenuhi undangan jika itu di sebuah klub malam.
"Sebenarnya sih, Papa nggak ada masalah seandainya Rendy bisa menjaga diri. Rendy sudah dewasa! tapi Papa tahu betul dari kecil sampai sekarang itu seperti apa dan bagaimana!" Malik menatap Rendy dengan sangat serius.
"Papa, memang benar. Bunda juga nggak ada masalah Rendy mau pergi atau bergaul sama siapa aja yang penting bisa membawa diri dan tahu mana jalan yang benar dan mana jangan salah. Cuman hati pun tetap tidak bisa dibohongi bunda was-was dan sangat khawatir aja, karena orang itu berbeda-beda ada yang amanah bisa dipercaya dan tidak." tambahnya sang Bunda.
"Papa mau mandi dulu, Oh ya Lena ke mana?" Malik mengusap lutut dan celingukan mencari putrinya yang belum kelihatan semenjak ia datang.
"Tadi sih ... aku lihat sedang bermain di taman!" jawabnya Rendy sambil clingak-celinguk.
"Oh ya, Bang ... gimana dengan mbak Yusna bisa dihubungi?" selidiknya Renita Ketika sang suami mau beranjak dari duduknya.
Malik menatap sang istri. "Barusan aku dari rumahnya dan dia nggak ada sedang di kantor, lalu aku hubungi kantor. Soal itu kan? katanya ya udahlah di rumah kita aja, dia gak ada waktu untuk membuat acara di rumahnya. Biar dia saja yang datang ke sini, dan untuk biayanya dia pun akan patungan dan transfer ke rekening kamu, sayang."
"Kita mencari dia, bukan untuk meminta biaya. Kita juga bisa kok cuman aku ingatnya waktu itu dia pengennya memperingati itu di rumahnya! makanya kita nyari dia bukan soal uang, kan Yank ..."
"Abang sudah bilang sama mbak, nggak ngasih pun nggak apa-apa kita juga masih mampu kok. Cuman dia masih keras untuk nambahin katanya. Lagian dia akan membawa para staf dan keluarganya ke sini, biar lebih banyak lagi yang mendoakan Mama!" tambahnya Malik.
"Oh ... gitu jadi ditambah atau diperbanyak kuotanya, boleh sih. Baiklah, aku akan pesan semua keperluan!" tambahnya Renita yang kemudian pengelurkan ponselnya dari saku.
__ADS_1
"Apa, Bunda perlu bantuan ku!" Rendy menatap sang Bunda yang menempelkan ponselnya ke dekat telinga yang ditutupi dengan jilbab pashmina nya.
Renita menggerakkan tangannya memberi kode cukup. "Untuk saat ini tidak ada. Sayang, besok ya harus bantu-bantu Bunda!"
Kemudian, Renita bicara di ditelpon dengan seseorang sambil berjalan menjauhi. Malik beranjak naik ke lantai atas.
Setelah di sana hanya ada Rendy sendiri. Pemuda itu pun berdiri sambil merapikan kaosnya lalu berjalan ke taman menghampiri sang adik.
------
Di rumah tampak ramai dengan banyak orang yang menghadiri acara haul nya Bu Amelia alm. Yusna pun sudah tampak hadir bersama bersama staf dan karyawannya.
Renita, Malik. Rendy dan bersama keluarga lainnya berjejer di antara para tamu yang mengikuti bacaan doa yang di pimpin oleh salah satu ustadz yang di tunjuk untuk memimpin doa.
Setelah acara selesai, tinggal keluarga saja yang ada di sana tampak diem-dieman. Lantas kemudian Renita mengarahkan pandangannya pada Yusna.
"Mbak, makasih transfer nya." ucap Renita pada Yusna.
"Nggak pa-pa, memang sudah kewajiban ku. Tadinya, kan mau di rumah ku! tapi aku sibuk dan gak sempat ini itunya." Kemudian Yusna mengenang sang bunda yang telah tiada.
Terbayang jelas di ingatan wajah sang bunda, membuat setetes air bening jatuh di pipi nya. Jarinya mengusap pipi menyeka air mata.
"Mbak ..." Renita merangkul bahu nya Yusna dan mengusap nya dengan lembut, seakan memberi kekuatan.
Yusna menatap ke arah Renita. "Aku minta maaf, dulu saya sering mengejek dan pada akhirnya saya juga yang kena. Suami saya selingkuh dengan sepupu sendiri. Sekali lagi saya minta maaf."
"Sudah lah ... Mbak ... aku tidak masalah dan Mbak harus yakin kalau apa yang sudah menimpa, Mbak itu akan ada hikmah nya." Ujar Renita dengan lirih sambil memeluk Yusna yang tampak sedih.
Dengan tulus hati Renita sudah memaafkan Yusna dari jauh-jauh waktu, Apalagi setelah kejadian itu Yusna memang sudah jarang ke rumah, tidak seperti sebelumnya kejadian suaminya selingkuh. Ke sininya Yusna lebih menjauh yang sudah bertahun-tahun ini ....
.
__ADS_1
Bersambung.