Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Gak perduli


__ADS_3

Renita dan Malik kini bertatapan penuh penasaran karena mendengar suara ribut dari dalam rumah, yang entah apa yang sudah terjadi. Sehingga mereka pun bergegas untuk masuk dan melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam.


"Terus kenapa kamu teledor? sampai anak mu jatuh begitu?" itu yang terdengar suara sang ibunda nya Malik, ketika Malik dan Renita sampai ke dalam ruangan tengah.


"Namanya juga kecelakaan, Tante ... siapa yang menyangka! kebetulan aku tadi lagi mandi dan tadi dia sedang tidur, makanya aku tinggalin!" timpalnya Shopia sembari menggendong putranya yang sedang menangis kejer.


Rendy mendongak pada sang Bunda. "Bun, Genta kenapa?"


Renita memegang kedua bahunya Rendy seraya berkata. "Bunda belum tahu sayang, Genta kenapa."


"Ada apa ini? ribut-ribut dan itu Genta kenapa?" Malik langsung menghampiri di mana Shopia, ibunda dan juga Yusnawati yang sebentar lagi mau pulang ke habitat asal.


"Ini Genta, katanya dia turun dari tempat tidur! terus karena pintunya mungkin tidak tertutup rapat sehingga dia keluar dan turun tangga, jatuh! masih untung tuh nggak kenapa-napa!" jawab Yusna menunjuk ke arah genta yang berada dalam pangkuan ibunya.


"Biarpun nggak kenapa-napa, itu badannya pasti pada sakit! orang dari atas sampai tengah tangga!" timpalnya sang ibunda.


"Ya ampun ... hidungnya mimisan!" Shopia tampak panik melihat dari hidung putranya keluar darah.


"Buruan bawa ke dokter, ayo jangan biang waktu. Mumpung supir nya masih ada!" kata ibunda Malik ikutan panik.


"Iya beneran cepetan mau ke dokter takut kenapa-napa. Lagian tuh keningnya merah-merah, lecet juga buruan!" Yusni juga ikutan panik menambah kepanikan Shopia.


"Kamu aja yang menemani Shopia pergi ke dokter! ayo buruan!" titah sang ibunda melihat ke arah Yusna dan Shopia.


Lantas Yusna mendorong bahunya Shopia diajaknya pergi untuk ke dokter.


Shopia melihat ke arah Malik berharap dia mau mengantar. Tetapi dia malah terdiam saja sambil menghampiri istrinya, bikin hati Shopia gendok.


Kemudian. Malik mengajak Renita dan Rendy sarapan sebelum bersiap untuk memulai aktifitasnya.


"Heran deh. Anak satu aja gak bisa ngurus, sampai terjatuh segala." Ibunda nya Malik menggeleng pelan.


"Namanya juga celaka, Mah ..." ucap Renita dengan lirih.


"Hooh, tidak bilang-bilang dulu!" tambah sang ibu mertua.


"Kalau bilang-bilang dulu, itu namanya minta izin Mah!" timpalnya Malik.

__ADS_1


Kini Malik sudah siap untuk pergi ke kantor. "Sayang, Rendy biar aku yang antar ke sekolah sebelum berangkat kerja dan nanti pulangnya dijemput sopir aja!"


Renita yang sedang memasangkan dasinya dan juga memakaikan jas sembari duduk di tempat tidur. "Gak akan terlambat kan kantornya?"


"Nggak Sayang, aku gak akan terlambat. Lagian kasihan mau berangkat sama siapa? kan sopir mengantar shopia." Tambahnya Malik.


"Oke, Oya nanti biar ibu saja yang antar Rendi pulang ke sini. Lagian aku dah rindu sama ibu." Renita menatap suaminya yang kini memasang jam tangan.


"Boleh, tapi tetap di jemput supir." Malik mengecup kening Renita dengan sangat lembut dan membelai rambutnya. "Ok, aku pergi dulu!"


Malik meraih tas kerja setelah Renita mencium tangannya.


"Bunda, aku berangkat sekolah dulu ya!" tiba-tiba suara anak itu menggelegar dari balik pintu yang dia buka sedikit.


"Oh, iya sayang, sini salam dulu sama Bunda dan jangan lupa salam juga sama oma ya?" Renita melambaikan tangannya ke arah anak itu yang langsung menghampiri dan mencium tangannya.


"Tapi Bunda ... aku berangkat sekolah sama siapa? kan pak sopir nya gak ada mengantar Genta ke dokter!" anak itu tampak kebingungan.


Bibir Malik tersenyum lebar. "Rendy jalan kaki aja lah ke sekolahnya ya? soalnya nggak ada yang nganterin!"


"He he he ... bohong sayang, masa sih Papa biarkan pangeran kecil Papa ini berjalan kaki untuk menuju sekolah, ya nggak mungkin lah. Perginya sama Papa," ucap Malik sambil tertawa dengan tangan mengusap pipinya Rendy.


"Nggak mau, nggak. Rendy nggak mau sekolah Papa jahat!" anak itu menggeleng dengan manik mata yang berkabut dan tangan memegangi tangan bundanya.


"Rendy sayang, papa itu cuman bercanda. Lagian Papa tadi sudah bilang sama Bunda! kalau Papa yang akan mengantar Rendy ke sekolah, karena pak sopirnya nggak ada." Renita membingkai wajah putranya.


Lantas Renita menoleh pada sang suami, berharap agar dia bisa membujuk Rendy yang merajuk dan mengusap air matanya.


Kemudian Malik berjongkok yang mensejajarkan dirinya dengan anak itu, memegangi kedua bahunya serta ditetapkan dengan sangat lekat. "Papa cuman bercanda kok, maafin Papa ya? nggak mungkin kan Papa membiarkan Rendy jalan kaki ke sekolah! setidaknya Papa menyuruh orang untuk mengantar jemput Rendy."


"Jadi Papa beneran mau mengantar Rendy ..." anak itu menatap nanar pada Malik.


"Tentu dong ... yo kita berangkat!" Malik menuntun tangannya Rendy keluar dari kamar nya itu. Setelah mengucap salam pada sang istri.


"Wa'alaikum salam hati-hati!" balasnya Renita sambil melambaikan tangan.


Malik dan Rendy terus berjalan mendatangi mobilnya. Di teras, mereka berpapasan dengan Sophia, Mbak Yusna yang menggendong Genta. Mereka baru saja pulang dari dokter.

__ADS_1


"Gimana keadaan Genta?" tanya Malik sebelum memasuki mobilnya.


"Alhamdulillah tidak apa-apa! makanya dibawa pulang lagi," jawabnya Yusna.


"Oh ... syukurlah kalau begitu," lalu Malik melanjutkan niatnya untuk memasuki mobil kesayangannya tersebut.


Sementara Shopia menatap dingin ke arah Malik dan juga Rendy yang sudah berada dalam mobil. "Gara-gara anak itu. Anak ku menjadi seolah-olah tidak dipedulikan oleh Malik!" batinnya Shopia.


"Dulu apa-apa Genta, Genta yang menjadi prioritas buat Malik, tapi setelah ada anak sambungnya itu dia nggak peduli lagi sama anak ku!" gumamnya Shopia setelah mobil Malik berjalan menjauhi pekarangan rumah.


Yusna yang menggendong Genta menoleh pada Shopia. "Ya ... bukan gitu juga kali, lagian kan ada masanya. Terus yang ngasih biaya kehidupan kamu dan juga anak kamu ini siapa sekarang?"


"Yang membiayai semua ... ya Malik lah, siapa lagi? orang mantan suamiku nggak peduli kok! jangankan sama aku. Sama anaknya aja nggak peduli." Ketusnya Shopia.


"Terus, kenapa kamu bilang dia nggak peduli? itu buktinya dia masih peduli sama kamu. membiayai hidup mu, anak mu! ya kalau soal perhatian kecil atau prioritas lainnya sih ya ... wajarlah sekarang kan anakmu sudah agak besar, kamu sendiri juga gak punya kesibukan! masa nggak bisa ngurus sendiri!" Yusna menggelengkan kepalanya sambil berjalan memasuki rumah mewah tersebut.


Shopia hanya menatap tidak suka pada Yusna. Tanpa mengatakan sesuatu.


Disambut oleh sang Bunda, yang langsung menanyakan kabarnya Genta, yang tampak pulas dalam pangkuannya Yusna.


"Tidak ada yang serius kok Mah, dan dokter sudah memberikan obat kepadanya!" jelas Yusna sembari memberikan anak itu kepada Shopia.


"Lain kali hati-hati, harus lebih jeli lagi dalam menjaga anak!" kata Yusna yang ditunjukkan kepada Shopia yang berjalan menuju kamarnya.


Setelah itu Yusna pun pamitan kepada bundanya, dia akan pulang ke rumah suaminya. Setelah beberapa hari menginap di situ.


"Baiklah, hati-hati ya! Mama akan merindukan mu." Mereka berdua saling berpelukan.


...------...


Di dalam sebuah gedung pencakar langit. Malik sudah berada di ruang kerjanya duduk di kursi kebesaran, sembari menyiapkan menyambungkan CCTV dengan ponselnya. Dia ingin tahu kejadian apa saja yang sudah terjadi di rumah dalam rumah tanpa sepengetahuan dia tentunya.


Apalagi setelah adanya Renita dan Rendy di sana. Apakah ada kejanggalan atau mulus-mulus aja rukun aman dan terkendali ataukah sebaliknya ....


,


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2