
Di dalam mobil wajah Rendy tampak murung, yang biasanya ceria namum sekarang berubah 90 derajat, dia menjadi sendu tampak sedih tatapannya pun kosong mengarah keluar jendela.
Azam yang sedang menyetir pun sesekali memperhatikan sikap putranya, kemudian menoleh ke arah Sophia yang tampak happy begitupun dengan Genta yang duduk di samping nya Rendy, asik bermain games.
"Mah, kita pulang ke apartemen papa kan?" tanya Genta dari jok belakang.
"Em ... gimana Papa aja!" Shopia melirik pada calon suaminya sambil merangkul tangan bagian atasnya.
Azam hanya terdiam sambil tetap fokus menyetir dan dan membiarkan tangan Shopia yang mendekati benda keramat Azam, lalu di elusnya membuat Azam merasa panas dingin. Shopia begitu berani melakukan itu seolah memberi kode kalau dia ingin segera mendapatkannya.
Dengan perlahan tangan Sophia Azam singkirkan dari tempat benda keramat miliknya. Bukannya suka, Azam malah merasa muak dibuatnya sekarang ini.
Sophia tidak berkata-kata, dia hanya menatap sendu ke arah wajah Azam dengan tampak serius melepas pandangan ke depan. Kemudian Sophia mundur duduk di tempat semula menjauhkan dirinya dari Azam dengan rasa sedikit kecewa.
Akan tetapi bagaimanapun Sofia menyadari kalau di belakang mereka berdua ada dua anak-anak. Azam menghindar mungkin takut kebablasan dan kelihatan oleh kedua anak-anak tersebut.
Setelah sekitar 1 jam sepuluh menit, mobil Azam tiba di depan rumah kontrakannya Shopia lalu mobil Azam pun berhenti.
"Lho ... kok, mengantar ku pulang Sayang?" dia pikir akan diajak ke apartemennya tetapi ternyata malah di antar pulang ke kontrakannya.
"Aku mu pulang ke sini. Dan aku pun akan langsung mengantar Rendy ke rumah Malik." Jawabnya Azam sembari menatap ke arah Shopia.
"Aku kira kau akan mengajak kami ke apartemen dan menginap di sana--"
"Iya Pah ... Padahal aku ingin sekali ke apartemen biar bisa mandi air hangat di sana Dan juga bisa berenang di kolam renang yang luas." Timpalnya Genta.
Azam menoleh ke arah belakang yaitu ditujukannya pandangan ke arah Genta. "Lain kali aja ya? sekarang Papa mau mengantar Kak Rendy pulang.
Sementara Rendy sendiri tampak tertidur pulas dengan wajah yang mendongak.
"Yah ... papa aku pengen ke apartemen menginap di sana!" Genta menggerutu sampai turun dari mobil tersebut.
__ADS_1
Shopia menatap lekat ke arah Azam yang terdiam dan melihat geraknya Genta yang turun dari mobilnya. Kemudian wajah Shopia mendekat untuk mencium bagian wajah Azam namun Azam segera menghindar sambil mendorong pintu buat Shopia keluar.
Tentunya membuat Shopia semakin heran dan aneh! tiba-tiba aja Azam tampak dingin padanya, biasanya juga suka kalau dirinya nyosor. Namun lain dengan kali ini.
"Kamu kenapa sih sayang? jutek banget gitu, biasanya juga suka kalau aku bermanja," Shopia mengerucutkan bibirnya.
"Ehem. Besok aku akan menjemput mu, sore pulang dari kerja!" ucapnya Azam lirih sambil memeluk kemudi.
"Oh jadi besok akan menjemput ku lagi ya, sudahlah kalau begitu!" wajah Shopia kembali sumringah. Dia pikir Besok pasti Azam akan menjemputnya untuk jalan-jalan kembali dan mengajaknya ke apartemen.
"Oke, turunlah aku harus segera mengantarkan Rendy!" titahnya Azam agar Shopia segera turun.
Setelah Shopia turun dari mobil tersebut, Azam langsung melarikan mobilnya dan membawa Rendy ke apartemen.
Shopia melambaikan tangan ke arah mobilnya Azam dengan senyuman yang merekah di bibirnya. Tidak lama lagi dia akan menikah dengan Azam.
Azam tidak tega melihat Rendy yang tampak pulas sekali. Tadinya dia akan mengantarkan Rendy ke rumahnya Malik, tapi mengingat waktu sudah menunjukan pikul 10 malam! jadinya mendingan dia bawa aja ke apartemen saja, takut mengganggu pasangan suami istri tersebut. Kalau diantarkan pulang ke sana.
Randy langsung digendong oleh papanya. Setelah tiba di apartemen yang lalu dibaringkan di atas tempat tidurnya! ditatap dengan lembut dan penuh rasa penyesalan di saat dulu dia sia-siakan, bahkan termasuk bundanya yang dia sakiti sehingga sekarang Renita bahagia dengan pria lain.
Setelah itu Azam pun membaringkan tubuhnya di samping sang anak. Sambil tetap ditatapnya beserta segala gejolak yang ada dalam hati juga mengingat sikapnya tadi di mobil yang tampak sedih dan kecewa.
"Maafkan Papa yang belum bisa membahagiakan mu, Nak! maafkan Papa yang masih egois dan memikirkan diri sendiri, selama ini kau lebih banyak tinggal sama Bunda dan disaat-saat sama papa kamu tidak mendapatkan kebahagiaan." Azam membelai kepala putranya tersebut.
Malam terus beranjak dan menjelang pagi yang cerah, walau suasana masih gelap gulita namun di langit! cakrawala menampakan seberkas sinar matahari yang mulai menampakkan dirinya.
Azam sudah bersiap di dalam mobil untuk mengantarkan Rendy pulang ke tempat Malik dan Renita, anak itu pun masih tampak mengantuk terlihat dari beberapa kali dia menguap.
"Kalau saja sekolahnya libur, Papa nggak akan nganterin Rendy pulang pagi-pagi buta begini. Tetapi karena mau sekolah ... dengan terpaksa hari ini harus papa antar pulang! tidak apa-apa kan?" Azam melirik pada putranya.
"Tidak apa-apa! karena memang sudah waktunya sekolah dan Rendy nggak mau bolos juga! kata Papa Malik juga Rendy harus mampu mengejar cita-cita dan tidak boleh bolos sekolah, kecuali benar-benar sakit!"
__ADS_1
Kemudian Azam menoleh pada putranya yang duduk bersandar di samping dia. "Emangnya Rendy cita-cita mau menjadi apa? dokter ya?"
"Bukan Pah, bukan menjadi dokter!" anak itu menggeleng keras.
"Terus maunya jadi apa? apakah mau menjadi pengusaha seperti papa Malik?" selidiknya Azam kembali, sekilas melirik dan pada akhirnya kembali memfokuskan pandangan ke depan.
Cuaca masih terasa sangat dingin dan sejuknya hingga menembus ke dalam tulang, menjalar ke dalam kantung sehingga tubuh berasa beku.
"Bukan Pah ... tapi Rendy ingin jadi seorang pilot yang akan membawa pesawat terbang ke luar kota bahkan ke luar Negeri!" jelas anak itu mengutarakan cita-citanya.
"Wow! beneran pengen jadi pilot?" tanya sang ayah sembari terus memutar kemudinya.
"Beneran Pah, Rendy pengen jadi seorang pilot. Dan papa Malik siap untuk membantu ku menyekolahkan ku untuk menggapai cita-cita, asalkan Rendy rajin sekolah. Belajar yang giat dan lainnya. Bunda juga mendukung ku." Anak itu tampak bahagia karena sudah mendapatkan dukungan dari papanya yang bernama Malik.
"Oh iya, Papa Malik dan Bunda sudah setuju dan mendukung cita-cita Rendy tersebut. Papa juga dukung aja deh! sekolah yang rajin belajar yang pintar biar menjadi seorang pilot, seperti yang Rendy cita-citakan!" Azam mengusap kepalanya Rendy sbil tersenyum.
"Makasih Pah, kalau Papa juga mendukung kemauan Rendy," Rendy menunjukkan senyumnya kepada sang Papa dan tambah lagi dukungan untuknya.
Tidak terasa dengan obrolan yang membuat tiba-tiba mobilnya tersebut sudah berada di depan kediamannya Malik dan Renita.
"Papa nggak mau masuk dulu?" Rendy menunjuk ke arah rumahnya.
"Nggak, makasih Papa harus kembali ke apartemen! nanti kan Papa harus ngantor ketemu juga sama papa Malik dan Bunda." jawabnya Azam sembari melihat-lihat ke arah bangunan rumah mewah bercat kuning keemasan yang berada di samping mobilnya tersebut.
"Oh iya ya, nanti kalian bertemu juga di kantor. Ya udah Pah Aku pergi dulu ya?" Rendy langsung mencium punggung tangan papa nya lalu keluar dari mobil.
Sesaat berdiri melambaikan tangan ke arah Azam lalu kemudian dia berlari memasuki pintu gerbang. Setelah itu Azam pun langsung memutar kemudinya dengan cepat, meninggalkan tempat tersebut untuk kembali ke apartemen karena berapa waktu kemudian harus ngantor juga.
Sejenak Rendy berdiri di atas teras di dekat daun pintu yang masih tertutup rapat, lalu kemudian terdengar sayup-sayup derap langkah yang mendekati daun pintu ....
.
__ADS_1
Bersambung.